Home / Genre / Chicklit / 25. Terluka

25. Terluka

MERAJUT MASA SILAM
This entry is part 27 of 34 in the series Merajut Masa Silam

“Kangmas,” Ghea berkata. “Aku datang ke sini untuk memperbaiki kesalahannya, tetapi, tidak mungkin aku bisa melakukan itu tanpa memperbaiki keadaan denganmu. Dengan kita. Aku tidak merencanakannya. Itu terjadi begitu saja. Namun kalau tidak berhasil, itu tidak masalah, kita akan menunggu dan melihat apa yang terjadi.”

“Jadi, apakah kau baik-baik saja kalau pernikahan kita tidak berhasil?”

“Maksudku, aku tidak akan memaksamu melakukan apa pun yang tidak kamu inginkan. Aku tahu kamu tidak percaya padaku. Begitu banyak yang telah terjadi dan kamu ingin pernikahan ini berakhir. Kalau itu membuatmu bahagia, aku rasa aku tak apa-apa. Aku akan menerima kegagalan itu dan melanjutkan hidupku, kapan pun itu, aku akan bahagia karena tahu aku telah melakukan semua yang aku bisa.”

Arya Daringin mengangguk. 

“Tentu.”

Ghea merasakan hatinya terluka dengan satu kata dari Arya Daringin itu. Seharusnya segala sesuatu membaik sekarang. 

Apa lagi yang harus dia lakukan? Dia telah menyatakan perasaannya kepada pria itu. Kesalahan yang sangat bodoh. Jelas Arya Daringin tidak mencintainya seperti Ghea mencintainya. 

Lagipula, untuk apa dia mencintaiku? Aku hanyalah versi lain wanita yang dia dibenci!

Ini membuang-buang waktu, lebih baik aku pulang saja. 

Tepat saat dia berbalik, sesuatu menabraknya dan dia terjatuh dalam gerak lambat. Baru kemudian terdengar suara letusan. 

Pasti ada pemburu yang membawa senjata tajam, pikirnya.

Lalu dia melihat Yusuf dan yang lainnya berlari keluar dari hutan ke arahnya. 

Suaminya pasti menangkapnya, karena wajahnya yang tampan adalah yang terakhir dilihatnya ketika dia melayang ke dalam kegelapan.

***

Arya Daringin belum pernah sekhawatir ini karena seseorang seperti ini seumur hidupnya. 

Semua orang berkumpul di tenda mereka, tetapi dia harus duduk menunggu di luar. Dia tidak sanggup  melihat Ghea terbaring seperti itu dengan mata tertutup.

Dia sangat gelisah dan merasa tidak berdaya, makanya Yusuf menyuruhnya menunggu di luar.

Bagaimana mungkin seseorang bisa begitu buta dan tidak melihat babi hutan datang menyerbu? 

Bahkan ketika Ghea terbaring tak bergerak, dia membuat Arya Daringin senewen.

“Dia akan baik-baik saja,” kata Gurlam  sambil menepuk punggungnya.

“Terima kasih, kawan.”

Pikirannya kembali ke pembicaraan mereka hari itu. Ghea ingin semuanya berjalan baik untuk rakyatnya. Itu bagus. 

Bahkan mungkin salah satu alasan dia pikir dia mencintaiku juga demi rakyatnya.

Ini sangat membingungkan dan sulit dipahaminya. Kemudian Ghea berkata dia tidak keberatan kalau ternyata perkawinan mereka berjalan baik. 

Lalu mengapa kau harus tertekan selama ini kalau kau hanya akan menyerahkan begitu saja, Ghea? Ditambah lagi, aku masih merasa cemburu dengan cara kau melakukan apa pun untuk rakyatmu! Kenapa bukan aku? Kenapa bukan untukku?

Arya Daringin mengintip melalui pintu masuk tenda. Ghea berbaring dengan perban melilit lengannya. Munah bersama Lindri sedang merawatnya. Ghea tampak begitu damai dan cantik ketika dia tidur, lalu dia ingat ketika melihat Ghea hanya mengenakan handuk…

Tidak! Aku pasti sudah gila sampai memikirkan itu!

***

Hari semakin gelap. Semua orang telah pergi ke tenda masing-masing. Munah keluar untuk menemui Arya Daringin.

“Gusti Pangeran belum makan apa pun. Apakah Gusti yakin tidak lapar?”

Arya Daringin tersenyum. Dia bahkan tidak menyadarinya sama sekali.

“Bagaimana keadaannya?”

“Lebih baik. Gusti Putri sudah membuka matanya.”

Arya Daringin menghela napas lega.

“Gusti Pangeran harus makan dan tidur. Dia baik-baik saja sekarang,” kata Lindri ketika Yusug datang dan mengajaknya masuk ke tenda.

Arya Daringin tidak tahu mengapa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya ketika aku memasuki tenda untuk menemui Ghea.

Ingin rasanya dia memarahi Ghea karena begitu ceroboh dan tidak melihat ke luar, tetapi melihat Ghea menatapnya, dia malah terdiam membisu.

“Hai,” sapa Ghea lemah.

“Hai,” jawab Arya Daringin, berdehem dan mengambil bangku lalu duduk di sampingnya, menggenggam tangan Ghea.

“Bagaimana perasaanmu?”

“Seperti babi hutan menabrakku.” Ghea terkekeh dan mau tak mau Arya Daringin tersenyum.

Mereka berdua saling pandang, sebelum Arya Daringin mengalihkan pandangannya.

“Ak-aku…” dia tergagap. “Kau membuatku sangat khawatir, Ghea. Aku rasa….” Dia berhenti lagi.

Ghea tersenyum lemah. 

“Aku baik-baik saja.”

“Diam saja dan biarkan aku selesai bicara,” kata Arya Daringin yang malah membuat Ghea tertawa.

“Kau membuatku sangat khawatir. Kupikir kau akan mati. Demi Tuhan, kalau kau meninggal, aku tidak akan pernah memaafkanmu!”

Ghea tertawa terkekeh dan Arya Daringin tersenyum, mendekatkan tangan Ghea ke bibirnya dan menciumnya.

Ghea menatap Arya Daringin dan tersenyum, sama sekali tidak terkejut.

Aku sudah lelah melawan emosiku…

“Kalau kau meninggal, kau akan meninggalkan begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab.”

Ghea mengerutkan kening. 

“Seperti apa?”

“Seperti, mengapa kau begitu mempengaruhiku? Apakah seperti ini rasanya jatuh cinta pada seseorang? Mengapa aku begitu menginginkanmu? Begitu kuatnya sampai terasa sakit? Kau mencintaiku karena orang-orangmu atau karena aku? Apakah kau datang ke sini untukku? Aku bisa sangat keras kepala, Ghea. dan egoku adalah satu-satunya yang kumiliki saat ini. Aku tersiksa—” Dia berhenti lagi. “Aku perlu tahu, apakah ini cinta kita atau cinta untuk orang-orangmu.”

Ghea tersenyum.

“Cium aku, Kangmas.”

“Kau yakin kau cukup kuat?” tanya Arya meskipun dia tahu itu tidak akan menahan bibirnya sendiri untuk beraksi. Ghea mengangguk.

Arya Daringin berlutut di sampingnya dan menundukkan kepala. Menggunakan ibu jarinya untuk membelai pipi Ghea, mengagumi kelembutan kulitnya. Lalu dia mencium istrinya….

Ghea bagai candu. Mengalir di pembuluh darahnya, mengalir dalam tubuhnya.

Arya Daringin mencium Ghea dengan lembut, membiarkan semua pertanyaan melayang begitu saja. Rasa bibir Ghea membuatnya bergairah. Deru napas Ghea membuat nafsunya berpacu.

Otaknya terus mengirimkan peringatan bahwa Ghea lemah dan dia harus bersikap lembut, tetapi Arya Daringin tak mampu bertahan, terutama ketika Ghea mendesah “Kangmas….”

Bulu mata Ghea bergetar ketika dia memejamkan matanya, mendesah pelan ketika lidah Arya Daringin menyusuri kulit mulus di lehernya yang jenjang. lalu Ghea menggigil hebat.

Sialan! Aku harus berhenti, Arya Daringin merutuk dalam hati.

Ghea pasti merasa bahwa Arya Daringin ingin berhenti, karena dia melingkarkan tangannya yang dibalut perban ke leher suaminya. Arya Daringin seperti mendengar Ghea berkata bahwa dia boleh melakukan apa saja terhadapnya. Bahwa lengannya yang terluka sakit tidak akan menjadi penghalang. Dan kemudian Ghea menarik tangan suaminya yang lain, mendorong pria itu—`

Perlahan-lahan Arya Daringin berdiri tanpa melepaskan ciumannya, kemudian berbaring di samping Ghea sementara Ghea memelukku dengan sangat erat.

Arya Daringin menjarah mulut istrinya, menjelajahi dengan lidahnya dan merasakan bahwa Ghea miliknya seutuhnya. 

Dia meledak. Tangannya merengkuh tubuh Ghea, telapak tangannya menangkup dengan gemas namun hati-hati bukit kembar Ghea yang penuh. Dia sangat menginginkan istrinya, sampai-sampai Arya Daringin takut dia akan menyakiti Ghea. Awalnya dia hanya ingin sekadar ingin mencicipi sedikit, tetapi sekarang Arya Daringin ingin mereguk habis sari madu istrinya.

Merajut Masa Silam

4. Mimpi dan Ramalan 6. Sembuh
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image