Pernahkah Anda memblokir seseorang di dunia maya atau di dunia nyata? Jika tidak sering, pastilah pernah satu atau dua kali. Mengapa dan apa saja contohnya? Misalnya karena orang itu berulangkali mengganggu kita lewat telepon-telepon ‘gaje’ alias gak jelas. Mungkin ‘hanya’ nawarin pinjol, asuransi, kartu kredit, KTA, minta donasi, pinjam duit dan entah apa lagi. Kita jenuh, sebal, kesal, lalu setiap nomor ‘itu lagi, itu lagi!’ langsung saja kita reject, tekan tombol merah bulat di layar gawai, dan sebagainya. Bahkan sekarang udah ada aplikasi pemblokir nomor-nomor telepon gaje seperti di atas. Gak usah repot-repot lagi meladeni dengan kata-kata “Maaf Mas/Mbak, gak dulu ya, makasih!” dan say bye-bye.
Jangankan orang gak dikenal, bahkan orang di media sosial bahkan di dunia nyata aja sering kita blokir. Beda pendapat sedikit, blok. Ga menghormati kita, blok. Katanya, alasannya, ngeblokir baik untuk kesehatan mental. Daripada saya ‘diganggu’ terus, ya saya blok aja! Jadi aman nyaman damai sejahtera di bumi. Iya,’kan?
Pertanyaan besarnya hanya satu: “Apakah Tuhan benar-benar memblokir atau me-reject manusia?”
Seringkali kita merasa Tuhan tega memblokir atau tega me-reject kita. Doa gak terjawab, sakit-penyakit gak kunjung sembuh. Apalagi ada ayat di Alkitab tentang carang anggur yang gak berbuah bakal di-cut down oleh si pemilik kebun anggur (Tuhan) (Yohanes 15:1-8). Nah, benarkah?
Sebenarnya Tuhan gak pernah memblokir apalagi me-reject kita. Kok bisa? Sebab kita ciptaan-Nya yang telah Dia tenun satu persatu di dalam rahim orang tua kita dengan sepenuh hati. Gak seperti kita yang seringkali bekerja/berkarya asal-asalan aja agar dapat gaji, agar ada hasil untuk bersenang-senang dengan segala cara. Udah nulis, karya dirilis, bodo’ amat hasilnya seperti apa dan apa pengaruhnya bagi dunia. Yang penting cuan!
Tuhan tidak pernah begitu. Sedari dalam kandungan hingga lahir, Dia tidak pernah meninggalkan kita. Bahkan ketika/jika ortu kita seakan-akan gak peduli pada kita, keluarga kita cuek, lingkungan gak peduli, sesungguhnya Tuhan masih sangat peduli. Mau kita ‘berhasil’ atau belum, Dia tetap mengasihi dan menghargai kita.
Lantas, mengapa beberapa dari kita masih merasa diblokir Tuhan? Itu karena kita kurang peka mendengar panggilan mesra-Nya. Kita mungkin lebih sering mendengar dan menanggapi suara-suara dari si jahat. “Siapa ‘sih kamu? Kamu anak kecil. Kamu bodoh! Kamu ‘mah gak berguna, you don’t deserve to be loved,” dan sebagainya. Suara-suara dunia lebih keras memanggilmu dan Anda malah secara sadar menerima semua ‘panggilan telepon’ itu, merasa Anda gagal dan terpencil, me-reject panggilan Tuhan. Bukan Tuhan yang memblokir, melainkan beberapa dari kita, mungkin pula Anda. Kita tak pernah menjadi gangguan bagi-Nya, sebobrok apapun!
Jadi, bagaimana caranya agar Tuhan ‘kembali’ menerima Anda? Buka mata dan buka hati. Tekanlah tombol hijau itu. Rasakan kasih setia-Nya dan berkat-Nya yang mampu membuat air matamu berlinang karena rasa syukur dan bahagia. Lalu berbuatlah sesuatu sebagai tanda ‘pertemanan’ sejati dengan BFF kita, Tuhan. Dia masih membuka pintu ‘pertemanan’ bahkan kesempatan selama kita masih hidup! Gak ada geng-gengan atau rasa pilkas (pilih kasih), semua manusia sama di mata-Nya. Biarkan Dia, terima Dia jadi follower setia dan following Anda. Demikian pula Anda, percayalah Tuhan setia ‘membaca’ setiap status dan postinganmu. Yuk, buka ‘blokiran’ dan binalah kembali hubungan penuh kasih dengan-Nya.
Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus Kristus memberkati.
Tangerang, 20 Juni 2025










