Home / Topik / Borobudur Sebagai Representasi Perjalanan Hidup Manusia

Borobudur Sebagai Representasi Perjalanan Hidup Manusia

1

Matahari musim kemarau di bulan Mei cukup menyengat. Sejak pagi terik membakar kulit, tapi kerumunan warga seperti tak hirau dengan cuaca yang tak bersahabat. Sejak pagi warga menyesaki pinggir jalan memasuki Kota Magelang, untuk menyambut puluhan biksu thudong yang tengah melakukan ritual berjalan kaki menempuh ribuan kilometer.

Ribuan warga masyarakat, laki-laki, perempuan, tua, muda, bahkan anak-anak antusias menyambut kedatangan para biksu. Mereka berjejer di kanan dan kiri jalan antara batas utara Kabupaten Magelang hingga Kelenteng Liong Hok Bio yang terletak di selatan Alun-Alun Kota Magelang, yang menjempat beristirahat dan bermalamnya bagi 32 biksu setelah menempuh perjalanan dari Ambarawa Kabupaten Semarang menuju Magelang.

Puluhan biksu yang mengenakan jubah berwarna cokelat berjalan di belakang para pengiring atau pendamping yang bukan saja aparat keamanan dari kepolisian dan TNI, tetapi juga dari beberapa organisasi kemasyarakatan (ormas) setempat. Beberapa di antara mereka membawa Bendera Merah Putih.

Warga sangat antusias memberikan sambutan ramah dan spontan kepada para Biksu yang menunjukkan sikap otentik masyarakat Indonesia kepada sesama.

Konon ritual berjalan bagi para biksu sudah dilakukan sejak Sang Buddha Gautama. Zaman dulu, Sang Buddha Gautama untuk menyampaikan ajarannya, berjalan kaki dari satu daerah ke daerah yang lain, dari satu kota ke kota yang lain, dan dari satu negara ke negara yang lain. Thudong sendiri merupakan tradisi kuno para biksu yang berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain untuk melatih kesederhanaan dan spiritualitas.

Thudong yang dilakukan oleh 32 biksu ini mengikuti ajaran Sang Buddha, mereka berjalan kaki dari Thailand menuju Malaysia, Singapura, dan terus menuju ke Batam dengan kapal feri dan dari Batam dilanjutkan naik pesawat terbang menuju Jakarta. Dari Jakarta mereka melanjutkan berjalan kaki dengan tujuan ke Candi Borobudur untuk melaksanakan Tri Suci Waisak. Total jarak yang ditempuh kurang lebih 2.600 kilometer dengan waktu kurang lebih sekitar 3 bulan.

Sambutan masyarakat yang luar biasa, tidak sedikit yang membagikan makanan, minuman, uang, bahkan pemandangan yang menarik ketika mereka diizinkan untuk beristirahat di Mushala. Hal itu menjadi pemandangan yang luar biasa, menggambarkan bagaimana hubungan antar agama dan antar manusia itu indah sekali.

Mungkin ada yang bertanya mengapa para biksu jauh-jauh berjalan kaki dari Thailand ke Borobudur hanya untuk merayakan Waisak? Mengapa hari raya Waisak selalu dipusatkan di Candi Borobudur?

Hari Raya Waisak merupakan hari suci yang selalu diperingati seluruh umat Buddha. Secara umum, Hari Raya Waisak diperingati saat purnama sidhi atau bulan penuh pada bulan Mei, untuk memperingati tiga peristiwa penting.

Pada tahun 1937 untuk pertama kalinya hari raya Waisak dilaksanakan di Candi Borobudur dan hanya diikuti oleh umat Buddha di sekitar Candi Mendut dan Yogyakarta.

Kemudian pada tahun 1953, Hari Raya Waisak untuk pertama kalinya dirayakan secara nasional di Candi Borobudur yang dipelopori Tee Boan An atau Biksu Ashin Jinara dan dihadiri duta-duta besar Asia Tenggara.

Sejak saat itulah setiap tahunnya Borobudur menjadi pusat penyelenggaraan perayaan Waisak Nasional, hari suci yang diperingati untuk merayakan kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Sang Buddha.

Dunia mengakui bahwa Borobudur adalah salah satu peninggalan sejarah penting di Indonesia, diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO karena memiliki nilai sejarah, budaya, dan arsitektur yang luar biasa, bahkan pernah dinobatkan sebagai salah satu keajaiban dunia karena bentuk bangunan candi yang mencerminkan akulturasi budaya antara Buddha dengan budaya Jawa.

Mengapa Borobudur akhirnya menjadi tujuan pendeta Buddha? Hal tersebut karena Borobudur dianggap sebagai representasi perjalanan hidup manusia menuju pencerahan. Perjalanan dari dunia manusia (kamadhatu) menuju alam surga (rupadhatu dan arupadhatu), yang merupakan konsep penting dalam ajaran Buddha.

Borobudur juga dianggap sebagai tempat yang sangat sakral dan bermakna bagi umat Buddha untuk melakukan ziarah dan praktik keagamaan, seperti meditasi dan doa bagi mereka yang ingin mencapai pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Disebutkan juga Borobudur merupakan salah satu Dhatu Cetiya yaitu tempat yang patut diberikan puja oleh umat Buddha karena diyakini menyimpan relik rambut Sang Buddha.

Borobudur juga dianggap sebagai mandala, yaitu struktur visual yang melambangkan alam semesta dan perjalanan spiritual.

Selain menjadi situs ziarah agama Buddha, keindahan dan sejarahnya yang cukup panjang, menjadikan Borobudur juga dijadikan destinasi wisata yang banyak dikunjungi oleh masyarakat asing maupun lokal.

Jika perayaan Waisak tiba, akan banyak acara digelar. Bukan hanya masyarakat sekitar, tapi juga warga dari luar Magelang berduyun-duyun menyaksikan kemegahan dan kemeriahan rangkaian acara Waisak.

Biasanya arakan-arakan mulai sore hari dengan rangkaian prosesi Waisak dimulai dari perjalanan dari Candi Mendut, mampir di Candi Pawon dan terakhir di Candi Borobudur. Puncak acara Waisak, yaitu detik-detik Waisak berlangsung pada pukul 23.55.29 WIB di area Candi Borobudur.

Setelah detik-detik Waisak, dilakukan ritual pradaksina, yaitu berjalan mengelilingi Candi Borobudur searah jarum jam sebagai bentuk penghormatan spiritual.

Biasanya setelah rombongan kirab tiba di Borobudur akan diadakan pelepasan lampion di area Candi Borobudur, biasanya dalam dua sesi.

Selain rangkaian acara utama, ada juga berbagai kegiatan lain yang memeriahkan perayaan Waisak di Borobudur, seperti bakti sosial, pengobatan gratis, dan acara seni budaya. Tradisi perayaan Waisak yang berulang setiap tahun ini diharapkan dapat menjadi momen penting bagi umat Buddha untuk memperingati kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Buddha Gautama, serta sebagai wujud perdamaian dan kebahagiaan bagi semua bangsa di dunia.

Sebagai bangsa yang besar, kita sungguh berterima kasih dengan para dijadikannya Borobudur sebagai tujuan perjalanan para biksu thudong. Selain tujuan spiritual mereka, secara tidak langsung thudong juga mengenalkan Indonesia secara umum ke dunia internasional dan Borobudur secara khusus untuk menarik wisatawan. Harapannya dunia mengenal keberagaman agama di Indonesia, kebudayaan, Bhineka Tunggal Ika, dan toleransi umat Indonesia itu sangat luar biasa.


Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image