Home / Non Fiksi / Kehidupan Kristen: Orang Percaya & Kecerdasan Buatan: Bagaimana Menyikapi?

Kehidupan Kristen: Orang Percaya & Kecerdasan Buatan: Bagaimana Menyikapi?

Kehidupan Kristen 24 Juni 2025 (Christianity Today)
3

Masih marak pro-kontra dan opini bagaimana seharusnya manusia mempergunakan AI dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang berpendapat bahwa kehadiran AI sangat berguna, sebuah inovasi yang menakjubkan, teknologi yang mampu kita gunakan untuk melaksanakan secara harfiah apa saja yang gak mampu kita lakukan (sendiri). Hanya dengan serangkaian instruksi saja, kita sudah bisa menggambar atau mewujudkan foto seperti yang kita imajinasikan atau inginkan, bisa menjawab aneka soal matematika atau memberi informasi yang kita butuhkan, bisa menuliskan kisah atau artikel seperti bagaimana yang kita inginkan, bisa membuat lagu yang kita ingin nyanyikan. Semakin lama semakin mudah dan cerdas saja. Masih banyak lagi hal-hal menakjubkan yang mampu AI lakukan. Seperti mimpi, sulap atau sihir, bukan?

Sayangnya, gak semua hal positif saja yang kemudian terjadi saat kita berusaha mencari ‘koneksi’ sejati dengan AI; bagaimana kita seharusnya mempergunakannya, seberapa jauh kita boleh mengandalkannya, apakah AI akan perlahan-lahan menggantikan tenaga kerja secara fisik maupun otak manusia? Dan masih banyak lagi. ‘Toh AI gak usah digaji, gak rewel atau bisa protes/demonstrasi seperti manusia, bahkan selalu ‘on‘ 24 jam. Manusia bisa telat, bisa mangkir, bisa bikin salah, gampang capek, bosan dan lain sebagainya.

Kemudian orang-orang yang masih gagap atau latah dengan AI malah mengalami berbagai hal menyedihkan; terlalu mudah percaya begitu saja pada foto/video hasil deepfake, tertipu dengan suara AI yang dikira suara rekan atau kenalan, dan masih banyak lagi. Kerugian finansial atau bahkan moral terjadi. Belum lagi kasus-kasus negatif yang kemudian terjadi; perceraian pasutri (hanya) karena mengikuti saran/ramalan AI, bahkan remaja mengakhiri hidupnya sendiri lagi-lagi karena saran AI.

Wah, apakah benar jika AI bisa sebagus-sehebat sekaligus seburuk-sekejam itu?

Pertama-tama sebagai orang percaya, mari bercermin dahulu kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Bagaimana dahulu kala cara-Nya menciptakan bumi dan seluruh alam semesta ini? Apakah ada pihak lain yang Dia andalkan selain diri-Nya? Tidak. Apakah hanya Dia mampu mengadakan apa yang sebelumnya tiada? Ya. Bagaimana cara Tuhan merawat dan memberi makan kepada semua ciptaan-Nya? Anggaplah dananya ada dari orang terkaya di dunia, bisakah beliau melakukannya seorang diri, tanpa bantuan orang-orang upahan?

Tuhan tidak butuh bantuan orang upahan maupun asistensi. Tuhan maha tahu dan mengenal apa saja yang Dia ciptakan secara pribadi. Secitra, namun beda jauh sekali dengan kita, manusia. Betapa terbatasnya diri kita, tak peduli seberapa cerdas atau kuat, seberapa kaya atau miskin. Kita masih butuh ‘bantuan’ itu. Sebagai makhluk sosial kita selalu membutuhkan seseorang. Eits, ada kata ‘seseorang’. Itu berarti kita (masih) butuh sesama manusia, bukan? Orang tua kita telah melahirkan dan merawat kita. Keluarga kecil hingga besar membantu mengasuh kita. Udah gak punya keluarga? Rekan dan teman-teman dekat selalu ada bersama kita. Banyak tangan-tangan tak dikenal turut menyiapkan segala kebutuhan dan keinginan kita; sandang, pangan, papan, hiburan, dan masih banyak lagi.

Jadi, mengapa sebagian kita malah jadi makhluk berakal budi yang (maaf) ‘bodoh’, kebablasan mengandalkan AI sebagai misalnya teman curhat, pacar, atau malah suami-istri jadi-jadian? Bahkan beralasan/berpendapat jika melakukannya karena manusia gak bisa diandalkan, bisa membocorkan rahasia, kurang empati, intinya; masih penuh kekurangan. Kecewa pada manusia/lawan jenis cantik-tampan yang sudah Tuhan sediakan sebagai partner hidup, segambaran dengan Dia. Kita yang masih lajang selalu bisa memilih calon pasangan hidup yang ada di sekitar kita. Berdoa dan berusahalah dahulu sebisa Anda. Tuhan akan mempertemukanmu dengan sahabat hingga pasangan yang tepat.

Boleh-boleh saja kok, menjadikan AI sebagai tool, asisten, rekan virtual/maya yang kita bisa temui. Boleh saja sesekali bersenang-senang dan menikmati AI sebagai hiburan, menertawakan hasil prompt yang lucu atau mempergunakannya mengecek grammar tulisan dan sebagainya. Namun ingatlah, sehebat-hebatnya AI, ‘ia’ (selalu) masih punya keterbatasan. Apakah AI bisa ada tanpa bantuan alat lain? Apakah AI bisa eksis tanpa energi listrik, data dan kuota? Apakah jawaban dari AI selalu akurat?

Apakah AI bisa memenuhi semua yang manusia butuhkan?

Sehebat-sedahsyat apapun AI, ‘ia’ tidak akan pernah bisa menggantikan Tuhan! AI tidak memiliki pikiran yang hidup, beda dengan Tuhan yang tak pernah berhenti memikirkan kita. AI ibarat kamera-kamera CCTV yang hanya bisa hidup jika ada energi. ‘CCTV’ Tuhan lebih luar biasa; burung-burung di udara, matahari dan bulan hingga bintang-bintang. Mata-Nya ada di mana-mana.

Karena itu sebagai anak-anak Tuhan, andalkan Tuhan Allah Bapa sebagai Bapa, Allah Anak sebagai sahabat sejati penuh teladan dan seorang Penebus, Allah Roh Kudus sebagai pemulih dan ‘pembisik’ sejati kita. Sebagaimana Tuhan menciptakan dan memelihara kita, kita juga dititipkan talenta-talenta luar biasa meskipun hanya satu-dua. Pergunakanlah talenta hanya satu-dua dan masih penuh kelemahan itu dengan penuh kesungguhan. Jangan terburu-buru mencari asistensi, apalagi semata-mata hanya mengandalkan apa yang sejatinya juga (hanya) ciptaan dan kumpulan ilmu pengetahuan manusia! Masih bisa salah, masih penuh kelemahan, tak bisa memiliki perasaan dan empati yang hidup.

Manusia wajib bekerja sambil melaksanakan dan menggenapi firman-Nya memenuhi dan merawat bumi, lakukanlah dengan apa saja yang ada/disediakan di tangan. Akan tetapi ingatlah pada sebuah kalimat indah; tiada yang lebih besar, hebat, berkuasa di alam semesta selain Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.

Tangerang, 24 Juni 2025

Tag:

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 30

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 30

13. Goa Sentono, Bukan Sekadar Tentang Goa

13. Goa Sentono, Bukan Sekadar Tentang Goa

Aku

Aku

Rindu

Rindu

12. Amanat Ya’kub Ağa dan Pesan Sultan Bayezid II

12. Amanat Ya’kub Ağa dan Pesan Sultan Bayezid II

Antologi KompaK’O

Random image