Home / Genre / Chicklit / Yang Tak Terduga

Yang Tak Terduga

Yang Tak Terduga
3

Rabu malam pukul 20:00 WIB.

Aku duduk di sebuah kios rokok di Kalideres menikmati waktu istirahat setelah lelah bekerja. Tak lama, datang seorang wanita dengan memakai dress merah jambu beraroma parfum yang sangat wangi, membeli sebungkus rokok dan secangkir kopi di kios tersebut. Lalu, ia ikut duduk di sebelahku, dan menyalakan sebatang rokok—yang aku lihat ia begitu menikmatinya.

Aku hanya melihatnya saja. Setelah itu, kembali pada duniaku yang terjeda sejenak. Karena, aku pikir jaman sekarang sudah biasa dengan pemandangan seperti itu.

Kami bersebelahan, akan tetapi dunia kami berbeda, mungkin.

Setelah setengah jam duduk bersebelahan, aku melihat dari ujung mataku ia sedikit gelisah.

Benakku berkata, Mungkin ia menunggu seseorang yang tak kunjung datang.

Aku diam tak memperdulikannya, dan berpura-pura tidak tahu. Ia tampak tak enak diam, sesekali mengisap rokok agak dalam, dan mengembuskan asapnya kuat-kuat.

Hampir setengah jam ia berada dalam kondisi seperti itu, dan terlihat semakin gelisah sambil sesekali melihat ponselnya—kadang ia pun mencoba menelepon dengan agak kalut. Aku pun sedikit tergugah dengan keadaannya,mencoba memberanikan diri untuk bertanya.

“Mbak, dari tadi terlihat gelisah, ada masalah apa?” tanyaku.

Ia hanya melihatku dengan ekspresi bingung, lalu kembali fokus pada ponselnya. Karena tak ditanggapinya, aku pun kembali pada duniaku lagi.

Di tengah lalu lalang kendaraan yang mulai berkurang karena hari semakin larut, kami terdiam lagi hingga berjam-jam, sunyi pada diri masing-masing.

Pukul 01.00 wib, aku memutuskan untuk pulang. Pada saat itu, wanita tersebut—yang sedari tadi masih duduk, tiba-tiba memanggilku,

“Bang, mau ke mana?” tanyanya.

“Mau pulang, Mbak.” Jawabku.

“Maukah Abang temani aku?” Katanya.

“Temani? Ke mana?” tanyaku.

“Nanti aku kasih tahu tempatnya, tapi Abang harus mau. Aku sedang butuh teman, untuk mengembalikan mood-ku,” jawabnya.

Karena ia memintaku dengan sedikit memaksa, maka aku menerima tawarannya untuk pergi menemaninya. Akhirnya, kita pun berjalan berdua dengan menggunakan sepeda motorku, hingga sampai di salah satu hotel kota Jakarta. Dan ia mengajakku ke sana.

Di hotel, kita menuju resepsionis untuk check-in kamar, dan mendapatkan kamar nomor 329. Lalu, kita berjalan ke kamar tersebut.

Benarkah, aku sedang berada di hotel, dengan seorang wanita? benakku bertanya-tanya tak percaya. Terlebih, posisiku yang diajak olehnya.

Sepanjang perjalanan aku sempat mengernyitkan dahi.

Kita pun sampai di kamar nomor 329, dan tanpa menunggu lama kami masuk ke dalam kamar.

“Abang, duduk dulu di sofa itu, ya?” ujarnya sambil menunjukkan sofa yang telah tersedia.

Aku pun mengangguk. Pada saat hendak duduk, aku sedikit kaget, pintu kamarnya ia kunci tanpa ragu. Setelah mengunci, kuncinya dia simpan di dalam tas, dan tas-nya ia letakkan di meja. Tak lama, ia menghampiriku yang sedang duduk di sofa.

Di sofa, ia duduk benar-benar dekat denganku, hingga benar-benar menempel, bersentuhan tanpa jarak. Seketika—dengan cepat, tubuhku terasa panas dingin. Bukan hanya itu, ia pun meraih tanganku, lalu ia letakkan di pundaknya.

Ah! Aku tak bisa berkata-kata. Selain panas dingin, aku pun benar-benar dalam kondisi bingung. Ternyata, tak hanya sampai di situ. Ia menaruh kepalanya tepat di atas dadaku. Keringat dingin yang keluar dari tubuhku tak dapat aku bendung. Beberapa saat, suasana begitu sunyi.

Setengah jam sunyi, tiba-tiba ia berkata sambil menatapku,

“Bang, sudah berdua begini, apa abang gak pengen? Kalau aku pengen nih, Bang” seraya menyingkapkan dress-nya. Pahanya semakin terbuka yang sedari awal sudah terlihat.

“M..m..mbak, p..p..pengen apa, nih?” tanyaku gugup.

“Ah, masa Abang gak tahu?” jawabnya dengan suara lirih menggoda.

Lalu ia menarikku, dan sedikit membantingkanku ke atas kasur, hingga aku terbaring. Ia melepaskan seluruh yang ia kenakan, juga melepaskan seluruh yang aku kenakan dengan paksa.

Pada malam itu—menjelang pagi, aku dibuatnya terlena. Pemilik gelap malam seakan hanya kita berdua, dan aku memang terbawa arus olehnya, berpetualang menuju gemerlapnya surga yang ia ciptakan. Berasmara, larut tak terkendali.

Jarum jam terus bergulir, kami masih saling bersentuhan tanpa jarak. Aku dikekangnya dengan kuat, seolah berkata, “Jangan dulu meloloskan diri, surga ini masih asyik untuk dimainkan.”

Aku hanya pasrah mengikuti jerat permainannya. Diriku benar-benar habis disantapnya dengan lahap, hingga menemui lelap.

Pagi harinya, pukul 09.00 WIB, aku terbangun. Sementara ia masih terlelap memelukku karena lelah semalam. Aku hendak beranjak, namun aku pun tak berdaya—hanya berdiam hingga pukul 10.30, tanpa berubah posisi sedikit pun.

Ia terbangun dari tidurnya, menggeliat, dan menatapku.

“Abang sudah bangun?” tanyanya.

“Iya, Mbak,” jawabku, sambil beranjak ke toilet, untuk membersihkan diri, dan mengenakan yang semalam ia lepaskan.

Setelah aku keluar dari toilet, gilirannya beranjak dari kasur empuk itu, sambil merapikan rambutnya yang sudah berantakan tak keruan. Lalu, ia pun menuju toilet.

Lima belas menit kemudian, ia keluar dari toilet, dan menuju sofa untuk berdandan. Sementara aku hanya duduk di kasur  sambil mengepulkan asap rokok setelah merapikan diri alakadarnya.

“Bang, mulai sekarang jangan panggil aku, Mbak. Namaku, Winda. Panggil saja Winda,” katanya tiba-tiba.

Aku hanya mengangguk saja.

“Namamu siapa, Bang?” tanyanya.

“Aku, Ridho,” jawabku.

“Kalau gitu, di antara kita enaknya panggil nama saja, ya?” katanya.

“Oh, iya,” jawabku lagi.

“Nomor WhatsApp-mu simpan di sini. Mungkin kita akan lebih sering ketemu.” Katanya sambil menyodorkan ponselnya.

Tanpa pikir panjang aku memasukkan nomor WhatsApp-ku. Setelah itu, ia misscall ke nomorku.

“Itu nomor-ku. Save, ya?”

“Oke, Mbak.”

Ia menatapku sedikit tajam, dengan ekspresi agak kesal.

“Eh … Win.”

Aku masih belum terbiasa memanggil namanya. Setelah itu, ia melanjutkan dandannya yang terlihat sebentar lagi selesai.

Tak lama, kita pergi meninggalkan kamar nomor 329, karena sudah waktunya check out. Aku mengantarkan wanita yang bernama Winda ke kios rokok tempat kita bertemu semalam—karena itu, permintaannya.

Di kios rokok, sebelum kami berpisah, ia memberiku sedikit oleh-oleh, yaitu kecupan di pipi. Selepas itu, ia berjalan menuju gang, sementara aku pulang ke rumah dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata.

***

Tiga minggu kemudian, aku tak bertemu dengannya lagi. Entah angin apa yang datang, tiba-tiba saja kumerindukannya. Rindu yang amat sangat. Sejak itu, tak terlihat lagi dirinya di kios rokok tempatku ngopi. Tak ada nomornya yang dapat aku hubungi, karena hanya dia yang menyimpan nomorku, tanpa aku menyimpan balik nomornya.

Dalam diam, aku pun heran pada diri sendiri, bisa-bisanya aku merindukan wanita gila yang entah dari mana datangnya.

Tangerang, 5 Juli 2025

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Putri Pewaris Mafia: Bab 19

Putri Pewaris Mafia: Bab 19

Tak Sepenuhnya Sadar

Tak Sepenuhnya Sadar

10. Dendam Poseidon dan Ketenangan Alexandria

10. Dendam Poseidon dan Ketenangan Alexandria

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 27

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 27

Cinde Lara: Bab 26

Cinde Lara: Bab 26

Antologi KompaK’O

Random image