Home / Genre / Cerita Anak / Kisah Persahabatan Beki dan Uki

Kisah Persahabatan Beki dan Uki

Kisah Persahabatan Beki dan Uki

Brrrr … Byurrr!

“Wiiii … segarnya air telaga ini!” teriak Beki, si bebek kecil yang lucu. Hari itu, Beki dan saudara-saudaranya memang ingin berenang  di telaga yang ada di dekat peternakan milik Paman Samson, tempat tinggal Beki dan keluarganya memang tidak begitu jauh. Sesekali, Beki, ibunya, dan saudara-saudaranya yang lain, berenang di sana.

Pagi yang cerah membuat mereka begitu riang. Beki dan saudara-saudaranya bermain-main  dengan gembira. Sesekali ia mencelupkan kepalanya ke dalam air.

“Woahhhh, segarrrrrr. Ha ha ha ….”Begitu celoteh mereka bersamaan sambil berenang berputar-putar.

Beki berenang agak jauh ke tengah. Meski saudara-saudaranya mengingatkannya agak tidak terlalu jauh berenang, Beki tetap tidak mengindahkannya. Dengan penuh keberanian dan percaya diri, Beki terus saja tidak menghiraukan mereka.

Ia terus berenang hingga jauh. Tiba-tiba  terdengar suara minta tolong dengan sangat nyaring , “ Tolong … Tolong aku … Aku mau tenggelam …,” teriaknya ulang kali. Beki terkejut.

“Hah, suara siapa itu ya? Kok aneh. Hmmm… Biar aku cari dia,” katanya. Beki segera meluncur cepat-cepat mencari sumber suara.

Dia terus mencari, suara itu terus meminta tolong, “ Tolong … Tolong aku … Aku mau tenggelam ….”

“Hei, suara. Kamu di mana? Aku tidak  bisa melihatmu …!” teriak Beki lagi.

“Aku di sini. Aku ada di daun dekatmu,” jawabnya.

Beki segera mencari asal suara. Benar saja, di atas daun kuning kecoklatan seekor ulat kecil tengah lunglai. Separuh  badannya terendam air. Bekii mendekat, ia ingjn  menolong ulat kecil itu, tetapi uat kecil itu justru takut melihat  mulut Beki yang seperti hendak mematuknya.

“Hei, kamu lucu sekali, ulat kecil. Jangan takut, aku nggak akan makan kamu, kok. Tenang aja. Sekarang kamu naik ke badanku, ya? Aku antar kamu ke tepi telaga.”

Ulat kecil itu tidak jadi takut. Ia segera naik ke badan Beki. “ Siap … meluncur ….” Beki membawa ulat kecil itu berputar-putar, ia  ingin menyenangkannya  ulat kecil itu dan ingin menjadi sahabatnya.

“Eh, nama kamu siapa sih? Aku mau tahu namamu,” tanya Beki begitu sampai di tepi telaga. Dengan hati-hati ia mendekatkan badannya ke pinggir, agar ulat kecil itu bisa segera berada di darat.

“Namaku, Uki. Kamu siapa namanya?”

“Aku Beki, si bebek kecill. Ooh … Namamu Uki, si ulat kecil ya?”

Keduanya kini bersahabat. Beki dan Uki bermain dan bercerita bersama. Uki bercerita jika dia tersesat saat bermain dengan kawan-kawannya. Beki berpikir untuk mengantar Uki pulang. Beki menyuruhnya naik di punggungnya. Sepanjang jalan mereka bernyanyi-nyanyi dengan riang gembira. Beberapa sahabat Uki menyapanya. Uki berkata bahwa itu teman barunya, Beki.

Akhirnya, sampailah mereka di sebuah pohon yang tidak begitu besar, berdaun lebat, yang ditengarai menjadi tempat tinggal Uki. Uki mengenalkan Beki kepada teman-temannya. Ada Pepi, si burung pipit. Berki, si beruang kecil. Rusi, rusa kecil, dan lainnya. Beki sangat senang berjumpa dengan mereka.

Beki bercerita jika ia dan saudara-saudaranya tinggal di peternakan milik Paman Samson. Pria tua yang sangat menyayangi binatang. Selain itu, Paman Samson juga sangat suka menanam bunga di sekitar peternakan.

Beki bermain hingga ia hampir lupa  waktu. Untung saja, teman-teman Uki  sangat baik. Mereka semua mengantar Beki hingga ke pinggir telaga. Beki  berpamitan dan segera menceburkan dirinya ke telaga lagi.

“Sampai ketemu lagi,ya, Beki. Kami akan selalu menyambutmu jika kamu datang kemari nanti.”

“Terima kasih, teman-teman.”

***

Beki dan Uki sudah tidak ketemu sekian lama. Hari itu, Beki tidak tahu jika Uki akan kian jauh darinya. Entah karena apa, yang jelas tanpa sepengetahuan Beki, Uki telah pergi.

Suatu hari, Beki bertanya kepada ibunya, “ Ibu, apakah aku boleh main ke tempat Uki?”

Ibu Beki menjawab dengan tersenyum, “Tentu saja boleh, Sayang. Bermainlah. Jaga diri baik-baik ya?”

“Baiklah, Bu. Aku akan ke tempat Uki sekarang.”

Dengan riang gembira, Beki segera menuju ke tempat Uki dan kawan-kawannya berada. Seperti biasa dia akan menceburkan dirinya ke telaga air segar itu. Sesekali Beki mencelupkan kepalanya sambil mencari-cari makanan di sekitarnya. Sambil berenang dengan riang, Beki lantas mempercepat berenangnya agar sampai di tempat Uki.

“Uki … Uki … Aku datang ….” teriak Beki memanggil-manggil Uki, begitu sampai di tempat Uki tinggal. Namun, Uki ternyata tidak menjawab panggilan Beki. Beki menjadi sangat sedih. Ia tak tahu lagi harus ke mana mencari Uki. Akhirnya, Beki berpikir menuju ke tempat Berki, Pepi dan Rusi, siapa tahu mereka tahu keadaan Uki.

“Kalian tahu tidak di mana Uki dan saudara-saudaranya pergi?”

“Tidak! Kami bahkan tidak tahu jika Uki pergi. Kami pun sudah lama tidak melihat Uki di pohon besar.”

Dengan hati sedih, Beki meninggalkan tempat itu. Ia menuju ke pohon tempat Uki berada. Berharap Uki akan segera datang dan menyambutnya. Lagi-lagi, Beki tidak bisa bertemu Uki.

Hari-hari berlalu tanpa Uki. Kini, Beki banyak diam. Dia harus terbiasa sendirian. Meski ibu dan saudara-saudaranya ada bersamanya,  tetapi Beki sangat suka bermain di tempat Uki. Ada yang membuat Beki tertarik dengan Uki, karena Uki lucu dan suka menghibur. Uki suka tertawa, membuat teman-temannya betah dengannya.

“Uki, kamu di mana? Kenapa tiba-tiba kamu menghilang, Uki?” keluh Beki dengan sedih. Dia tidak menyadari, ternyata dari balik rimbunnya dedaunan, ada yang mengawasi. Beki akhirnya kembali pulang menuju peternakan Paman Samson. Sepanjang jalan pulang, ia terus memikirkan Uki.

Beki berkeluh kesah kepada ibunya.  Dengan sabar dan penuh kasih sayang, ibu Beki berkata jika suatu saat Beki akan kembali bisa bertemu dengan Uki. Ibunya paham jika Beki sangat suka berteman tanpa melihat siapapun yang menjadi temannya.

Suatu hari, Beki tengah berenang. Tiba-tiba terdengar suara memanggilnya, “Beki …  Beki … Ayo kita main sama-sama.”

Beki mencari sumber suara. Ia berteriak lantang, “Hei, siapa kamu? Kenapa kamu sembunyi? Tampakkan dirimu di sini.”

Tak berapa lama, seekor kupu-kupu cantik terbang merendah mendekati Beki. Beki heran melihatnya. “Kamu siapa? Memangnya kamu kenal sama aku?”

“Tentu saja aku kenal kamu, Beki. Aku Uki, sahabatmu.”

“Uki?Bagaimana bisa kamu jadi kupu-kupu, Uki?”

Akhirnya Uki menceritakan panjang lebar mengapa ia berubah menjadi kupu-kupu.  Ternyata Uki ‘berpuasa’ selama beberapa  waktu, hingga akhirnya ia menjadi kupu-kupu cantik.

“Pasti kamu lebih senang kan lihat aku yang begini?” kata Uki.

“Tidak, Uki. Aku suka lihat kamu bukan dari wujudmu, tapi dari caramu memperlakukanku jadi teman,” ujar Beki tulus.

Uki merasa sangat gembira. Beki memiliki hati tulus dan tidak suka pilih-pilih teman. Sesungguhnya, teman terbaik adalah mereka yang memiliki hati yang baik dan tidak suka membeda-bedakan.  Uki dan Beki kembali bermain bersama. Uki dan Beki kembali ceria dan mereka saling menyayangi satu sama lain.

Teman-teman Beki pun menyukai Beki karena kebaikannya. Mereka kembali bersatu dan tak terpisahkan.

Pesan moral cerita ini: Tuluslah ketika menolong seseorang dan jangan pandang seseorang dari sisi luarnya saja. Namun, lihatlah sisi dalam dirinya, yaitu akhlak, hati, serta caranya memperlakukan insan lain.

 Temanggung, 23 Januari 2025, 15. 26

Penulis

  • Fidele Amour

    Fidèlé Amour adalah nama pena dari wanita kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, berzodiak Libra. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami huruf-huruf Jawa dan bahasa Jawa sebagai wujud dukungan terhadap program Revitalisasi Bahasa Daerah. Gemar menulis artikel, puisi, cerpen, dan cerbung, terutama cerpen dan cerbung berbahasa Jawa. Telah menerbitkan beberapa karya solo dan antologi berbagai genre.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image