Home / Genre / Fiksi Sejarah / 5. Ketegangan di Pulau Rhodes

5. Ketegangan di Pulau Rhodes

Khairuddin Barbarossa 1600x900
This entry is part 6 of 11 in the series Khairuddin Barbarossa

Setelah İshak Ağa sampai di gua—tempat titik kumpul, mereka menyimpan temuan senjata tersebut di tempat yang aman. Namun, mereka belum tenang dikarenakan tim Oruç Reis, dan tim Hizir Reis belum tiba di titik kumpul. Yang paling khawatir diantara mereka bertiga adalah Kandiyeli kepada Oruç Reis. Sebab, Oruç Reis baginya adalah keluarga satu-satunya.

“İshak Ağa, mari kita susul mereka. Aku sangat mengkhawatirkan mereka, terlebih pada Oruç Reis.” Ajak Kandiyeli, sembari bolak-balik karena gelisah.

“Tenang, tenang, saudaraku Kandiyeli. Tenang! Aku lebih tahu adik-adikku. Mereka mampu menjaga diri mereka. Kau harus percaya kepada mereka, terlebih pada Oruç Reis. Apakah kau tidak tahu, siapa adikku, Oruç?” Jawab İshak Ağa kepada Kandiyeli sambil melontarkan pertanyaan, yang jawabannya dapat dipahami oleh Kandiyeli.

Di Midili, tidak ada gangguan yang berarti, semua berjalan normal. Akan tetapi, Niko, Demirli Ali, dan Salih sangat mengkhawatirkan keluarga Barbarossa yang berada di pulau Rhodes. Sementara, Müneccim, dan Isabel datang ke Midili dengan membawa kekhawatiran pada diri Isabel.

“Apakah sudah ada kabar dari Oruç? Salih, Demirli, Niko.” Tanya Isabel.

“Sayangnya, belum, Isabel.” Jawab Demirli Ali. Sementara Niko, dan Salih hanya geleng kepala.

Isabel semakin mengkhawatirkan Oruç Reis, dan semua yang pergi ke pulau Rhodes. Salih hanya bisa berdoa—berharap ada kabar baik dari mereka. Meski Midili begitu tenang, setenang Samudra Alexandria.

Oruç Reis, Gülletopuk, dan Yareli, sampai juga di gua tempat titik kumpul pertemuan. Mengetahui kedatangan Oruç Reis, dan tim, Kandiyeli langsung memeluk Oruç Reis dengan senangnya.

“Masya Allah, Reis-ku. Aku pikir engkau tak selamat.” Kata Kandiyeli.

Oruç, yang tiba-tiba dipeluk Kandiyeli begitu kaget.

“Tenang, tenang saudaraku Kandiyeli. Aku sudah disini.” Jawab Oruç Reis.

”Hahaha, Kandiyeli ini seperti Ilyas. Selalu seperti anak kecil jika bertemu denganmu, Oruç.” Kata İshak Ağa kepada Oruç.

Seketika, suasana menjadi hening beberapa saat. Sekelebat mengenang Ilyas Reis ketika masih hidup. Suasana itu pun tiba-tiba pecah, saat Ishak Ağha ingat Hizir Reis.

“Oruç, dimana Hizir?” Tanya Ishak Ağa.

“Apakah belum kembali, Kak?” Tanya Oruç balik.

“Belum, Oruç.” Jawab Ishak Ağa.

Suasana kembali tegang.

***
Di dalam penjara, Hizir Reis, Bülbül, dan Horozcu, dibuat terkejut. Karena, banyak tawanan lusuh tak berdaya.

“Reis-ku, siapakah mereka yang ditawan itu?” Tanya Horozcu kepada Hizir Reis, sambil sedikit berbisik.

“Mari kita cari tahu, Horozcu.” Jawab Hizir Reis, sambil berbisik juga.

“Bülbül, kau ke titik pertemuan. Beritahu Ishak Ağa, dan Oruç Ağa. Barangkali, mereka sudah berada disana. Aku, dan Horozcu akan berjaga-jaga disini” Hizir Reis memberi instruksi kepada Bülbül.

“Tidak, Reis-ku. Kita berangkat bersama, dan kembali bersama.” Bülbül menolak instruksi Hizir Reis, karena tak ingin meninggalkan mereka berdua.

“Kau beritahu terlebih dahulu, dan kembali ke tempat ini bersama-sama, Bülbül.”

“Tapi, Reisku ….”

“Tidak, ada tapi. Kau temui dulu kakak-kakakku, Bülbül!” Tegas Hizir Reis.

Akhirnya, Bülbül mengikuti instruksi Hizir Reis, dan menuju ke titik pertemuan dengan melakukan memakai jubah hitam untuk penyamaran.

Sementara, Oruç Reis menginstruksikan kepada Çoban, dan Yareli untuk mencari Hizir Reis, dan tim. Mereka berdua pun menuju jejak kaki Hizir Reis, dan tim yaitu arah ke sebelah barat. Namun, tidak melakukan penyamaran sebagaimana yang dilakukan oleh Bülbül.

Di pertengahan jalan, Bülbül melihat Çoban, dan Yareli sedang berjalan mencari jejak. Seketika, ia langsung menghampiri mereka.

“Çoban, Yareli. Tunggu. Ini aku, Bülbül.”

“Bülbül.” Jawab Yareli, yang sedikit kaget.

Çoban, dan Yareli pun menghampiri Bülbül, dan berdiam di suatu tempat yang aman. Disana, Bülbül menjelaskan apa yang ditemukan oleh mereka bertiga, dan diperintahkan oleh Hizir Reis, untuk memberitahu Ishak Ağa, dan Oruç Reis. Akhirnya, mereka bertiga menuju ke titik pertemuan.

Di penjara, Hizir Reis, dan Horozcu berusaha membuka salah satu ruangan penjara, yang kuncinya sudah sedikit berkarat, dengan menggunakan alat yang ada disana. Hizir Reis, yang memiliki pengalaman membuka peti tanpa kunci, ia gunakan untuk membuka kunci penjara. Ruangan pertama—yang berisi lima belas orang berhasil dibuka oleh Hizir Reis.

“Kalian siapa, dan kenapa ditawan disini?” Tanya Hizir Reis.

“Engkau, siapa?” Tanya salah satu tawanan.

“Aku Hizir putra Yakup, seorang prajurit Sipahi.”

“Alhamdulillah, akhirnya putra pejuang Utsmani menemukan kita.” Kata seorang tawanan penuh syukur, dan ia bercerita, jika mereka adalah satu suku yang berasal dari perbatasan Anatolia. Juga menceritakan bagaimana kronologisnya, sehingga mereka sampai ditawan.

Hizir Reis terkejut, ternyata yang ditawan disini adalah umat Islam. Yang lebih mengejutkan lagi, mereka ditawan karena dendam Antuan si Hitam terhadap kakaknya, Oruç Reis.

“Baiklah, sekarang, aku akan membawa kalian terlebih dahulu. Setelah kalian aman, aku akan menyelamatkan, saudara-saudara yang lain.” Kata Hizir Reis.

Hizir Reis, dan Horozcu membebaskan lima belas tawanan di ruangan penjara pertama. Mereka berbalik, dan menuju pintu keluar.

“Horozcu, tetap waspada. Kita bisa saja bertemu dengan pasukan Knight of Rhodes, dan aku akan melindungi dari belakang.” Kata Hizir.

“Siap, Reis-ku.” Jawab Horozcu.

Dari titik kumpul, Oruç Reis, Yareli, Bülbül, dan Çoban berangkat menuju lokasi Hizir Reis, untuk memberi dukungan. Sementara, Ishak Ağa, Kandiyeli, dan Gülletopuk berjaga di gua—tempat titik kumpul.

Di tempat lain, Enrico selalu memberi instruksi, agar pasukannya selalu berpatroli selama kakaknya, Antuan belum kembali. Enrico sendiri pun selalu ikut berpatroli.

“Seperti biasa kita menyebar pulau, dan pastikan pulau ini aman. Kita tidak tahu, kakakku kapan akan kembali, tapi yang kita tahu, kondisi pulau tidak berubah sedikit pun.” Tegas Enrico kepada pasukannya.

Mereka pun menyebar ke berbagai arah. Lima pasukan menuju penjara untuk mendukung tiga pasukan yang berjaga disana. Ketiga pasukan yang berjaga, fokus pada pintu depan penjara, sehingga belum bertemu dengan Hizir Reis, dan tim yang masuk melalui pintu belakang. Karena merasa aman, ketiga pasukan tersebut tidak berpatroli hingga pintu belakang penjara. Sebab, pikir mereka tidak mungkin ada yang masuk melalui pintu belakang yang sudah tak terawat.

***
Lima pasukan yang ditunjuk untuk mendukung tiga pasukan penjaga penjara, tanpa sengaja melihat Hizir Reis, Horozcu, dan lima belas tawanan, yang sedang berlari kecil meninggalkan penjara. Seketika, mereka pun berlari menuju Hizir Reis, dan mengepung mereka. Hizir Reis, dan Horozcu terkepung oleh delapan pasukan Knight of Rhodes. Sementara, lima belas tawanan, dalam keadaan lemah tak berdaya, sehingga tak mampu untuk bertarung. Mereka pun terpojok, dan tak ada jalan keluar.

Oruç Reis, dan tiga sahabatnya, berjalan dengan sedikit cepat menuju tempat Hizir Reis berada. Namun, di pertengahan jalan, mereka juga tak sengaja bertemu dengan Enrico, dan dua puluh pasukannya yang sedang berpatroli.

“Wah, wah, wah, Oruç Reis. Kau bernyali juga datang kesini.” Kata Enrico, dengan nada sedikit sombong.

“Enrico, adiknya Poseidon—yang kakakmu membunuh adikku, Ilyas. Aku akan membuat perhitungan denganmu, sebelum dengan Poseidon.” Jawab Oruç Reis.

Namun, karena jumlah yang jauh tak seimbang, empat lawan dua puluh satu, Oruç Reis pun sama-sama dalam posisi terkepung. Enrico memberi instruksi untuk membuat kepungan melingkar menutup Oruç Reis—yang berjumlah empat orang. Selain itu, Enrico pun memberi instruksi kepada pasukannya dalam posisi menyerang.

Situasi itu, membuat Hizir Reis, dan Oruç Reis dalam keadaan tak mampu selamat. Nyawa mereka semua, berada di ujung pedang Knight of Rhodes.

Khairuddin Barbarossa

. Barbarossa Bersaudara ke Pulau Rhodes . Piri Reis Muncul di Pulau Rhodes

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image