Bel istirahat jam pertama baru saja berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing. Ada yang menuju kantin sekolah, ada yang makan bekal di ruang tunggu, ada yang bermain di halaman, dan ada pula yang ke perpustakaan. Salah satunya Hanin, murid kelas V di kelas Umar bin Khattab.
Hanin tidak seperti anak kebanyakan. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan. Bersahabat baik dengan buku-buku. Di sana, ia menemukan ketenangan dan kesenangan tersendiri. Hanin membiasakan diri mengambil sesuatu yang berguna di sela-sela jam istirahat. Bagi Hanin, waktu tak ubahnya uang yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Hanin mengambil sebuah buku yang siap ia baca, tentang Bulan Agung Rasulullah. Ia baca dengan penuh penghayatan. Tak menyadari jika salah seorang temannya memperhatikannya semenjak beberapa menit yang lalu. Ia mendekat kepada Hanin.
“Asyik sekali baca bukunya,” celetuknya pada Hanin. Hanin menoleh, ia sedikit terkejut. Ternyata Fajar, sahabat dekatnya.
“Eh, kamu. Jadi kaget aku.”
“Baca apa, sih. Kok asik banget kelihatannya.” Fajar duduk di sebelah Hanin dan membuka sampul buku yang tengah dibacanya.
“Oh, ini kisah Bulan Agung Rasulullah.”
“Bulan Agung Rasulullah. Apa itu?”
“Nah, lebih baik kita baca dulu aja, ya.”
Fajar ikut Hanin membaca. Di buku itu tertulis beberapa keutamaan Bulan Agung Rasulullah, yang dimulai dari bulan Rajab, Sya’ban, Ramadhan, dan Muharram. Masing-masing bulan itu memiliki keutamaan-keutamaan, misalnya Rajab adalah bulan di mana Baginda Nabi melakukan Isra’ Mi’raj. Sya’ban bulan yang menjadi gerbang menuju Ramadhan. Bulan Sya’ban juga bulan taubat, bulan gerbang Ramadhan yang merupakan bulan ampunan dosa yang di dalamnya kita diwajibkan berpuasa.
“Di bulan Ramadhan, kita tidak boleh melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa merusak pahala puasa dan dosa ya, Nin? ” tanya Fajar ingin tahu, “kamu bisa jelasin, Nin?” imbuhnya.
“Tentu saja. Di antara perbuatan-perbuatan itu antara lain, kita tidak boleh berbohong, makan di luar, menggunjing, menjahili teman dan perbuatan-perbuatan buruk lainnya,” terang Hanin.
Fajar terdiam mendengarkan penjelasan Hanin. Dia teringat beberapa waktu lalu ia pernah menyembunyikan sandal Amir waktu dari mushola. Dia akan meminta maaf kepada Amir sebelum Ramadhan datang. Ia yakin Amir akan memaafkannya.
***
Sore hari setelah pulang dari TPQ, Fajar mendatangi rumah Amir. Dia tidak tahu jika dulu yang menyembunyikan sandalnya adalah Fajar, sebelum ditemukan Tono di got dekat lapangan. Kedatangan Fajar sedikit membuat Amir terkejut.
“Eh, Fajar. Sama siapa?”
“Sendirian.”
“Ada apa, Jar, nggak biasanya kamu datang kemari?”
“Nggak ada apa-apa, kok. Cuma mau main aja,” kata Fajar dengan sedikit gelisah.
“Oh, oke. Kita mau main apa?”
“Sebelumnya aku mau minta maaf, Mir.”
“Minta maaf buat apa?” Amir penasaran.
Dengan terbata-bata, Fajar akhirnya bercerita jika dia yang tempo hari menyembunyikan sandal Amir hingga terlempar jauh ke got. Fajar tampak menyesal. Amir hanya tersenyum. Ia sudah tahu sebelumnya tapi sudah memaafkan Fajar.
“Ah, itu sudah berlalu, Jar. Sudahlah, lupakan aja. Lusa sudah puasa, kita maaf-maafan sekarang ya?”
Keduanya tersenyum. Akhirnya mereka bermain bersama. Fajar kini lega sudah tidak ada ganjalan dalam hatinya. Ia juga lega ternyata Amir adalah seorang yang pemaaf. Mereka kini menjadi sahabat baik. Belajar, mengaji, dan bermain bersama. Tolong menolong dalam kebaikan di Bulan Agung Rasulullah.
Temanggung, 27 Februari 2025, 19.04









