Home / Genre / Petualangan / Legenda Pedang Tetesan Air Mata (Part 1)

Legenda Pedang Tetesan Air Mata (Part 1)

Cinta Menari di Gerimis Pedang 1600x900
This entry is part 7 of 20 in the series Cinta Menari di Gerimis Pedang

Tak ada yang lebih mendebarkan dibandingkan pengalaman pertama, sejak mulai masuk TK hingga malam pertama pengantin baru.

Begitu juga yang dirasakan Hanny. Inilah pertama kalinya dia akan mempraktekkan kepandaian Camar Menari di Antara Tiang Sampan ajaran kakeknya dari ketinggian 17.000 meter di udara.

Dan di sinilah Hanny berada sekarang, di depan pintu Sukhoi yang hanya boleh dibuka dalam tempo yang tak lebih dari satu per sekian ratus detik saja. Sebab jika lebih lama dari itu, dia tak dapat membayangkan apa yang akan menimpa pesawat tempur yang ditumpanginya ini.

Hanny menganguk perlahan pada pilot yang mengacungkan jempol kepadanya.

Tampan juga nih pilot, sayang hidungnya terlalu pesek, bathin Hanny sempat-sempatnya mengumbar perasaan, sesaat sebelum tubuhnya melayang di angkasa.

Masih seperti pengalaman malam pertama kebanyakan orang, kengerian yang Hanny rasakan sebelum meluncur di udara tadi perlahan menguap, dan berganti dengan kenikmatan yang sangat buah sensasi lain yang menerpanya kini. Tak terlukiskan!

Walau agak aneh, tapi Hanny benar-benar merasakan dirinya bergelayut manja dibawah tali-temali payung terjunnya, dengan hembusan angin yang genit meraba setiap pori yang ada di atas kulit tubuhnya. Belum lagi pemandangan super indah dengan begitu banyak bentuk yang mirip jajaran pegunungan, lembah juga kumpulan hijau serupa permadani yang kian waktu kian membesar dan memperlihatkan bentuk nyatanya sebagai pepohonan hutan.

Syuuutttt…! Hup.

***

Kisah Legenda Pedang yang Menyedihkan.

Sementara Partai FC mengadakan pesta besar-besaran atas kembalinya Desol sebagai sesepuh tertua yang pernah tercatat dalam Kitab Hikayat Cianbunjin FC dari Masa ke Masa, pada sebuah kaki gunung yang masih permai dan belum pernah terjadi pembakaran hutan, seorang pendekar setengah baya bersama cucu kesayangannya tengah asyik membicarakan sebuah legenda kesedihan.

“Kau tahu, Nduk, senjata apa yang paling menakutkan di dunia ini?” tanya MJK Riau kepada cucu semata wayangnya itu.

“Ah, Kakek kan tahu kalau Hanny sering lupa apapun, mengapa mengetes Hanny dengan pertanyaan yang sulit seperti itu?” rajuk Hanny dengan amat manja kepada kakeknya, membuat sang kakek tersenyum penuh sayang.

“Semenjak Kakek pulang dari tanah suci kemarin, yang Kakek pikirkan hanya kamu seorang, Nduk. Tentu saja selain pengadaan bus gratis di tanah suci yang amat membantu jemaah haji Indonesia menunaikan ibadah. Sungguh terobosan yang amat luar biasa,” lanjut Sang Kakek tanpa mampu menyembunyikan rasa syukurnya atas fasilitas yang kini semakin mempermudah jemaah haji untuk lebih khusuk beribadah. Walau memang masih ada saja oknum yang alih-alih memaksimalkan waktu dan energi yang tersedia untuk memperbanyak doa, justru lebih memilih untuk sibuk berfoto selfie. Menyulap semua rezeki tersebut hingga menjadi amat mubazir, hanya demi rangkaian foto yang kelak dipajang di ruang tamu atau laman media sosial layaknya kristal mewah kebanggaan keluarga.

Hanny termenung sejenak, mencoba mencari jawaban terbaik dari pertanyaan kakeknya.

“Apakah pisau terbang Siau-li yang legendaris dan tak pernah meleset itu? Yang ribuan kali lebih menakutkan dibandingkan Belati Hawa Nafsu pasangan Desol dan Febri, Kek?”

MJK Riau menggelengkan kepala.

“Sejak berpulangnya Siau-li Tham-hoa dan Yap Kay murid utamanya, senjata yang welas asih itu tak pernah lagi muncul di rimba persilatan mana pun,” sanggah MJK Riau.

“Mungkin Tongkat Penggebuk Anjing milik Ui Yong?”

Kembali MJK Riau menggeleng.

“Lepas dari tangan Ang Cit Kong, Tongkat Bambu Hijau mustika Partai Kaypang juga tak jelas lagi keberadaannya.”

“Ah, Hanny tahu. Pasti Golok Pembunuh Naga punya Sin Tiaw Tayhiap Yoko dan  istrinya Si Cantik Siaw Liong-li!” setengah berteriak Hanny bertepuk tangan sendiri atas kecerdasan tebakannya, yang kembali harus kecewa sebab lagi-lagi kepala sang kakek menggeleng.

 “Yang lebih menakutkan dari itu semua adalah … Pedang Tetesan Air Mata, Nduk,” lanjut MjK Riau dengan sorot mata yang jauh menerawang. “Dan kisah sedih inilah yang ingin Kakek bagi kepadamu, dengan harapan Kelak kau dapat menemukan kembali pedang sakti itu lalu menggunakannya untuk menegakkan keadilan di tanah pertiwi yang kini penuh rayap dan busuk luar biasa,” harap MJK Riau.

Tertarik luar biasa Hanny atas prolog sang kakek, hingga tanpa sadar duduknya bergeser ke arah kakek, membuat sang kakek tersenyum penuh mahfum.

“Dahulu waktu masih Zaman Dungtong, ada seorang pendekar bernama Zoel Z’anwar yang mengembara ke Tanah Jawa. Kesukaannya akan syair dan hujan, serta tindakannya yang agak sadis dalam memberantas penjahat hingga berkubang darah, menjadikan beliau memperoleh paraban Pendekar Syair Berdarah-darah. Hingga suatu hari, kesukaannya yang lain mempertemukan beliau dengan Sam Trader, Cianbunjin Partai Pena Inspirasi yang juga penggila puisi pendek tujuh kata.”

MJK Riau menghela napas sejenak, sebelum kembali melanjutkan ceritanya.

“Sayangnya perkenalan yang akrab tersebut harus berakhir dengan tragedi, yang berakhir dengan pertarungan mereka berdua.”

Kembali MJK Riau menghela napas, yang membuat Hanny berpikir bahwa tragedi yang akan diceritakan oleh kakeknya pastilah amat mengenaskan hingga membuat beliau terus-menerus menghela nafas.

“Apakah mereka berkelahi karena memperebutkan es dawet, Kek?” sela Hanny dengan tak sabar.

Dari sedih MJK Riau langsung terbahak mendengar pertanyaan lugu dari cucunya itu. Bagaimana mungkin dua pendekar besar bertarung hanya demi es dawet?

Tapi ia tak menyalahkan sang cucu, karena walaupun usianya sudah mulai beranjak dewasa, namun kehidupan tenang di pedesaan kaki gunung yang jauh dari hiruk-pikuk politik yang penuh kemunafikan, menjadikannya menganggap bahwa es dawet adalah sesuatu yang pantas diperebutkan mati-matian. Seperti kejadian beberapa tahun yang lalu ketika sang cucu tersebut membuatnya repot karena jambak-jambakan di tengah jalan dengan anak gadis kepala kampung, hanya demi memperebutkan segelas terakhir es dawet jualannya Mbok Sarungpaet.

“Ada banyak hal di dunia ini yang jauh lebih berharga dari sekedar es dawet kegemaranmu itu, Nduk…” jawab MJK Riau masih dengan sisa kekehnya, membuat Hanny merasa agak malu tapi sekaligus juga amat penasaran.

“Apa itu, Kek?” tanya Hanny cepat.

“Kopi,” jawab MJK Riau sama konyolnya. Sebab mana mungkin kopi dapat menimbulkan tragedi? Jika menimbulkan hutang di Warkop bisa jadi. Tapi tragedi? Karena kopi?

“Kau pasti menganggap kakek hanya bercanda yah, Nduk,” tukas MJK Riau cepat, sebelum sang cucu kembali menginterupsi.

“Begini. Jauh waktu sebelum Jalan Kerawang-Bekasi direkam oleh Chairil Anwar Si Binatang Jalang, tempat itu telah lebih dulu bersimbah mayat buah pertempuran Pendekar Syair Berdarah-darah dan Cianbunjin Partai Pena Inspirasi,” lanjut MJK Riau. “Lalu…”

Cinta Menari di Gerimis Pedang

Kado buat Admin Baru Legenda Pedang Tetesan Air Mata (Part 2)

Penulis

  • Ahmad Maulana S

    Ahmad Maulana S, lahir di Jakarta.

    Sejak kecil ia terbiasa bertualang. Lulus SMU langsung singgah di sebuah madrasah/sekolah sebagai guru, dilanjutkan dengan menjadi pekerja bengkel, pramuniaga, kuli bangunan, pedagang ayam setan, tukang pasang tenda, pengelola pabrik bulu mata palsu, pemilik lapak barang rongsok, penulis buku puisi dan buku serial pendidikan anak, ghost writer, publisher novel-novel motivasi serta pernah menyelenggarakan kelas fiksi berbayar berbasis online lintas negara.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image