“Siapa berani menebak takdir?” dia tersenyum sambil meletakkan cangkir pertamaku bersamanya petang ini tepat di hadapanku, sebelah tangannya lembut menyentuh bahu bagian belakangku. Kopi buatannya, juga adalah sesuatu yang dulu pernah tergambar nun jauh di alam impian seorang Wijaya saat usianya bahkan belum beranjak dari angka belasan. Betapa beraninya.
“Aku sih nggak pernah mencoba menebak takdir, cuma kadang merangkai sendiri aja di kepala,” aku menjawab sambil membuka sesapan pertama.
Dia tersenyum lagi, “Dan kamu pernah merangkai hari ini?”
Aku menggeleng, “Nggak.”
Merangkai hari ini dia bilang?
Mana mungkin, karena sebelum pertemuan kembali dua tahun lalu dia adalah sosok yang masih menghuni ruang kebencianku dengan sangat anteng. Nggak bergeser sedikitpun semenjak pertama kali kata-kata pedas itu terlontar dari bibir sama yang lengkung senyumnya kurindukan pada tiap kerjap mata, tiga puluh tahun lebih yang lalu.
“Maaf, ya. Aku tahu aku dulu memang suka nggak disaring kalau ngomong. Tapi by the way kita belum pernah bahas itu. Berkenan nggak kalau kita bahas sekarang?”
Dalam waktu dua tahun setelah semesta secara iseng mempertemukan kami kembali di sebuah momen orasi ilmiah salah satu rekan doktor, aku banyak meresapi pertemuan itu dan banyak berpikir, bahwa dia memang sudah jauh berbeda. Masih ceria seperti dulu -saat aku mengenalnya dalam balut seragam putih abu, tapi tentu sudah jauh lebih dewasa. Bukan, bukan tua. Malah sepertinya tidak ada penuaan dalam kamus hidupnya, meski kerut dan garis senja di wajah sama sekali tak bisa disembunyikan lagi.
“Kamu nggak keberatan kalau aku nanti bongkar-bongkar keburukanmu dulu?” jawabku sedikit meledek.
Dia tertawa kecil disertai angguk mantab.
“Kamu dulu menyenggol harga diriku sebagai lelaki.”
“Kenapa? Bagian mana yang bikin kamu tersinggung?”
“Kamu bilang aku bukan berniat menikahimu, aku cuma pengecut bermulut manis. Padahal kamu tahu aku baru lulus kuliah dan sedang berjuang membangun hidup di pekerjaan yang baru beberapa bulan kujalani. Boro-boro nikahin kamu, bayar uang kost aja aku masih berhitung. Dan selagi aku berjuang itu eh kamu malah nikah sama orang yang udah jauh lebih mapan dariku.”
Dia tertawa lagi, anehnya aku ikut tertawa.
Tak pernah terpikir di kepalaku bahwa membahas luka akan seringan ini, bersama dengan si pembuat luka pula. Gila. Padahal aku sudah berjanji dulu bahwa aku nggak akan pernah memaafkannya seumur hidup. Bahkan jika ada satu hal yang kuinginkan di masa depan saat bertemu dia kembali, aku hanya ingin memamerkan kemapananku, sesuatu yang dulu pernah dia hina meski tidak secara langsung.
Setelah tawa mereda, perlahan raut wajahnya berubah serius, “Tapi ternyata Tuhan pertemukan kita lagi di usia yang udah melewati kepala lima, dan kini kita berstatus suami istri. Tuhan lagi bercanda nggak, sih, menurut kamu? Padahal setelah ibunya anak-anak berpulang kamu punya kesempatan menikahi perempuan manapun selain aku.”
“Dan setelah suamimu berpulang juga aku dengar beberapa pinangan udah masuk, kan? Tujuh belas tahun menjanda, orang secantik kamu secerdas kamu nggak mungkin nggak ada yang mendekat. Sempat juga kok aku dengar bahkan duda sekelas Ka-Dis kayak Pak Rahman pernah bahas tentang kamu waktu kami coffee break di acara di Makassar dulu. Dia bilang agak kurang PD mendekati Bu Kesuma, minder.” Aku berharap ada reaksi senyum atau reaksi lucu lain dari dia, tapi nihil saja.
Dia malah meletakkan cangkir teh yang dipegangnya, ekspresinya tampak serius sekali, “Dan kamu datang, aku kaget setengah mati. Berasa lagi dibecandain Tuhan, seolah-olah aku harus menebus sesuatu yang dulu belum selesai.”
“Apa yang belum selesai?” tanyaku.
Dia cuma angkat bahu, “Mungkin permintaan maaf, atau entah.”
Sekarang aku yang tertawa, “Aku jadi nggak yakin apa aku dulu pernah bener-bener benci sama kamu. Mungkin bukan benci, karena masa iya benci bisa semudah ini sembuh hanya karena bertemu lagi sama kamu.”
“Oh memangnya kamu nggak merasa marah ke aku saat kita ketemu di acaranya dr. Tomo?”
Aku menggeleng pasti, “Nggak, lho. Aku juga heran.”
“Terus apa yang dirasa?”
“Kamu pernah kehilangan barang berharga, nggak? Cincin, misalnya.”
Dia mengangguk, “Pernah, kenapa?”
“Nah, semacam itu yang aku rasakan. Bukannya kebencian itu naik ke ubun-ubun, malah reaksi yang dikasih otakku tuh seperti ‘oh, rupanya kamu di sini, rupanya kamu bisa aku temukan’. Aku ketemu dengan sesuatu yang lama hilang. Itu yang aku rasakan waktu itu.”
Aku melihat dia tersenyum sambil menunduk. Beginikah rasanya membuat kekasih tersipu saat usia sudah jauh meninggalkan masa muda? Beginikah rasanya cinta yang pernah tumbuh di masa remaja, sempat mati di kala dewasa, kini semi kembali di usia menuju senja?
Di sudut sana kembang wijaya kusuma sedang mulai menebar harumnya.
[-]










2 Komentar
Masyallah.bagus bangettt Kakak
Kamu dan logikamu yang selalu aneh…. #Hela Napas