biarlah aku disini,
meski getir merindu tanah lahir
berjalan melewati hari yang berduri
seperti menginjak bara api di tengah gurun
biarlah aku disini,
menggenggam topeng kemunafikan
pada kasarnya tempat merebah
kala terpejam tak lagi ramah
biarlah aku disini,
demi senyum mereka bersahaja
memberi merdeka pada kehendak
menjadi payung bahagia yang rekah
dan,
biarlah disini kucari tegar ‘tuk mengunci teguh
manakala ruang menjadi medan tempur
belas kasihan setipis kata ambigu
majulah di belantara
Tangerang, 25 Juli 2025











