Home / Topik / Lifestyle / Renungan Kehidupan: Mengapa Banyak Pasangan Muda dan Mapan Rentan Berpisah setelah Menikah?

Renungan Kehidupan: Mengapa Banyak Pasangan Muda dan Mapan Rentan Berpisah setelah Menikah?

Renungan Kehidupan 20251022 (iStock)
3

Akhir-akhir ini penulis banyak membaca berita tentang perpisahan pasutri selebriti atau pesohor, entah yang sudah berusia matang maupun yang masih relatif muda (di bawah usia 30 atau 40 tahun). Ironisnya, kebanyakan sudah memiliki buah hati meskipun satu-dua masih memiliki usia pernikahan singkat (bahkan ada yang hanya beberapa puluh hari!) dan belum dikaruniakan keturunan.

Yang lebih miris lagi, tidak seperti kisah-kisah drama atau novel, kebanyakan perpisahan bukan didasari motif ekonomi, seperti ketidakmampuan membiayai keluarga dan sebagainya. Bukan karena suami diporoti istri hingga jatuh miskin dan sebagainya, sesuatu yang sering jadi cerita sinetron hits. Kebanyakan pasangan yang berpisah itu mampu secara ekonomi, diberkati harta melimpah dan kesuksesan duniawi, memiliki kehidupan wah yang didambakan sebagian besar orang.

Jadi, hal-hal apa saja yang bisa menyebabkan perpisahan semacam itu terjadi? Inilah beberapa saja dari selaksa penyebab yang bisa direnungkan.

  1. Jangka waktu pemahaman-penerimaan mendalam yang kurang memadai. Bukan sebentar-lamanya (durasi) kenalan-jadian-pacaran yang jadi persoalan entah 2 bulan atau 20 tahun, melainkan seberapa Anda mengenal pasangan yang Anda taksir, sukai dan cintai. Banyak pasangan berawal dari cinlok alias cinta lokasi, suka sama suka, langsung cuss nikah. Benar, kadang Tuhan menjodohkan dua anak manusia ‘by chance’,  akan tetapi sadarilah jika dua anak manusia itu akan bersama-sama seumur hidup mereka.  Waktu 2 bulan atau 20 tahun sekalipun, apabila Anda berdua belum benar-benar mengenal dan memahami (termasuk menerima kelebihan sekaligus kekurangan) satu sama lain, takkan pernah cukup.
  2. Apakah usia menikah (terlalu) muda lantas jadi masalah? Belum tentu selalu begitu, akan tetapi seringkali terjadi. Usia dewasa muda (di atas 20 tahun bagi wanita dan di atas 25 bagi pria), punya dana cukup/lebih plus modal dasar membentuk keluarga (menikah) seperti pekerjaan-rumah hingga nanti memiliki keturunan seringkali dianggap sebagai lampu hijau. Padahal semua itu belum tentu cukup.
    Bukan sekadar masalah angka. Banyak pasangan usia 30-40-an juga mengalami masalah, akan tetapi berbeda cara mengatasi karena pengalaman yang dimiliki tentu lebih beragam.
    Menikahlah bukan karena bangga pada angka atau malah diuber-uber angka, melainkan karena Anda berdua sudah cukup dewasa dan siap memberi-menerima satu sama laindengan penuh kasih sayang, kesetiaan dan kerelaan.
  3. Bukan hanya karena ingin. Penulis sering membaca/mendengar kata ingin tercetus dari beberapa selebriti saat ditanya alasan menikah, ‘Karena saya pengin alias ingin saja nikah muda’. Ditambah kalimat seperti ‘Sepertinya bakal seru, kayak di film-film’. Nikah bukan masalah ingin saja, melainkan sebuah komitmen jangka panjang. Keinginan berbeda dengan kebutuhan. Bisa jadi ingin hanya karena ‘penasaran apa yang akan terjadi’, ingin karena mau menang dalam persaingan antar teman ‘siapa berhasil duluan nikah’.
    Ingat, ingin saja belum cukup.
  4. Pasangan mapan-cantik-tampan bukan untuk dipamerkan. Banyak pesohor muda berpasangan dari cinlok, hanya demi viral, ingin dianggap power couple, couple goals dan lain sebagainya. Ini tentu saja tujuan yang salah kaprah. Bagaimana jika semua perhatian itu lenyap setelah menikah atau punya anak, atau saat fisik pasangan berubah dimakan usia dan sebagainya? Apakah cinta itu akan tetap ada?
  5. Nikah bukan ibarat sebuah permainan dimana salah satu pihak bisa kalah atau menang. Sebisa mungkin, capailah win-win solution dalam setiap hal termasuk perbedaan prinsip, kepribadian hingga pendapat. Apabila belum sanggup (dalam hal ini tak termasuk belum sanggup menafkahi), lebih baik menunda dulu untuk menikah. Apabila ego masih belum dapat ditaklukkan, misalnya masih senang jalan-jalan sendiri, masih belum siap menerima ‘kejutan-kejutan’ kekurangan pasangan yang mungkin baru ketahuan setelah tinggal bersama, tundalah dulu keinginan menikah.
  6. Inilah beberapa kalimat afirmasi yang perlu Anda katakan kepada diri:
    Saya siap menerima dengan besar hati segala kekurangan pasangan saya.
    Saya siap melengkapi kekurangannya dengan kelebihan saya.
    Saya siap menghabiskan sisa hidup bersamanya dengan setia dalam suka dan duka.
    Saya menerima pasangan saya sebagai partner-penolong yang seimbang, saling melengkapi dan mencintai.
    Saya akan selalu mengasihi pasangan saya seperti saya mengasihi diri saya sendiri.

Kesimpulan: Bukan tidak boleh menikah selagi masih muda belia (baca: baru saja dewasa mencapai usia boleh menikah), melainkan pertimbangkanlah matang-matang agar pernikahan kelak membawa berkat serta kebaikan hidup bagi Anda berdua. Tidak cukup hanya mapan dari segi finansial belaka, melainkan milikilah fondasi kuat serta visi-misi bersama agar sukses membina rumah tangga hingga kelak maut memisahkan.

Semoga bermanfaat.


Tangerang, 22 Oktober 2025

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image