Home / Genre / Chicklit / Cinde Lara: Bab 6

Cinde Lara: Bab 6

Cinde Lara 1600x900
This entry is part 7 of 27 in the series Cinde Lara

“Jangan lupakan semua yang telah diajarkan dan pastikan kau membuatku bangga, sayang,” kata Varya kepada putrinya sebelum memeluk dan mencium keningnya.

Cinde mendesah di tempatnya berdiri di depan mobil saat ibu dan putrinya berpamitan.

Ia belum pernah melihat Varya se-emosional ini, kecuali saat mereka mendengar kabar bahwa suaminya hilang dalam perang, dan bahkan emosinya langsung lenyap seketika.

Ponsel Cinde berdering dan dia mengeluarkan ponselnya dari saku.

“Sedang apa?”

Dengan cepat, dia membalas, “Oh, tidak apa-apa, hanya Varya yang mengucapkan selamat tinggal.”

Emotikon yang dikirim Zhoya membuatnya tertawa.

Beberapa detik kemudian, entah kenapa, Cinde memutuskan untuk mendongak. Tirai jendela kamar Irina perlahan terangkat, dan wajah Irina muncul saat menyaksikan seluruh pertunjukan antara ibu dan saudara kembarnya. Untuk sementara, Cinde mengira Irina akan ikut bergabung, tetapi ternyata tidak. Ekspresinya tak terbaca. Irina dan Tatiana memang selalu cekcok. Meskipun Tatiana bagaikan kambing hitam dalam keluarga, Tatiana adalah permata paling berharga bagi ibunya, lembut dan cantik. Dia adalah kandidat yang sempurna, dan ibunya memastikan dia mendapatkan pendidikan yang sempurna.

Terkadang, Cinde merasa perilaku ibu mereka terhadap Tatiana sebagai anak kesayangan seperti ini yang membuat Irina memancing keributan. Tetapi dia lega, setidaknya, dia akan pergi untuk sementara waktu, jauh dari jangkauan Irina. Satu-satunya hal yang akan menyatukan Irina dan ibunya adalah kebencian yang mereka rasakan terhadap Cinde.

Akhirnya, Tatiana pergi dan menuju mobil. Beberapa menit kemudian, mereka pun melaju pergi.

***

“Seorang ratu harus berbicara dengan elegan dan rendah hati, seorang ratu tidak pernah berbicara sembarangan, tetapi menunggu untuk disapa oleh raja. Seorang ratu harus dihormati ketika ia berada di tengah rakyatnya….”

Cinde terus mendengarkan Tatiana membaca. Mereka telah menempuh perjalanan lebih dari dua jam dan dia tak henti-hentinya berbicara. Cinde lelah, dia belum cukup tidur sejak tadi malam hanya karena persiapan dan sekarang, dia juga tidak bisa tidur.

“Cinde, sungguh, aku sangat gugup.”

“Tidak perlu gugup, kamu sudah memenuhi semua persyaratan dan kamu sudah berlatih berhari-hari,” jawab Cinde. Dia menemani Tatiana seperti yang diperintahkan ibunya.

Tatiana mendesah lagi. “Kudengar tiga puluh gadis wanita akan hadir dan semuanya berasal dari keluarga baik-baik dan kaya. Bagaimana kalau aku kalah dalam kompetisi? Ibu pasti akan sangat marah padaku dan Irina akhirnya bisa berbangga diri.”

“Aku yakin kamu akan melakukannya dengan baik dan….”

“Berhenti berkata begitu, itu membuatku kesal.” Tatiana mengeluh dan Cinde terdiam. “Aku tidak mampu kehilangan satu kesempatan ini untuk menikah dengan seorang pangeran. Aku akan mati karena malu jika aku tidak terpilih. Semua uang yang Ibu keluarkan akan sia-sia.”

Cinde tidak berkata apa-apa, dia tidak tahu cara lain untuk membuatnya rileks.

“Satu hal yang kutahu adalah, sepatu kaca itu akan membuatku menonjol, tidak semua putri akan memilikinya dan…”

Cinde hampir tertawa terbahak-bahak. Bagaimana mungkin sebuah sepatu membuat Tatiana menonjol? Kriterianya tidak didasarkan pada jenis sepatu dan kalaupun … Tunggu dulu. Apakah sepatu itu sudah sesuai ukurannya?

“Ya Tuhan!” seru Tatiana. “Hentikan mobilnya sekarang juga!”

Sopir itu mengerutkan kening dan memeriksa kaca spion dan menyadari bahwa Tatiana tidak bercanda.

“Aku bilang hentikan mobilnya!” teriak Tatiana lagi, terengah-engah.

“Ada apa, Tat?” tanya Cinde.

“Gaunku, yang diukur dengan badanmu, belum kita ambil.”

Cinde tersentak. Hanya itu yang tersisa di penjahit dan mereka seharusnya mengambilnya sebelum memulai perjalanan.

“Haruskah kita kembali?” tanya sopir itu.

“Tidak! Tidak! Aku tidak boleh terlambat di hari pertama. Penting bagiku untuk sampai di sana tepat waktu, ratu macam apa aku nanti kalau aku datang lebih lambat dari yang lain?”

“Tapi kau belum jadi ratu dan—”

“Berhenti bicara, Cinde, dan keluar! Ini semua salahmu!”

Cinde mengerutkan kening, “Ini salahku?”

“Ya, dan jangan berani membantahku. Seorang ratu harus berbicara dengan penuh wibawa dan—”

Cinde mendengus dan membuka pintu, kalau ada lagi yang bicara tentang apa yang harus dilakukan seorang ratu, dia mungkin akan pingsan.

“Aku tidak peduli bagaimana, tapi kamu harus kembali ke penjahit dan mengambilkan gaunku lalu menemui kita di istana. Ayo pergi!” perintah Tatiana.

Cinde tersentak, “Kamu tidak bisa serius, aku tidak sanggup berjalan jauh, aku tidak punya uang—”

Pintu terbanting menutup dan pengemudinya melesat pergi.

Cinde mengira ini lelucon dan ia mulai mengejar mobil itu.

“Tunggu, Tatiana! Kumohon, aku di antah berantah—” Tapi mobil itu tidak berhenti sampai Cinde berhenti berlari karena kehabisan napas.

Dia melihat ke belakang, hanya ada semak-semak dan tidak ada yang lain. Bahkan tidak ada satu mobil pun yang lewat. Dia kembali menoleh ke depan dan memperhatikan mobil itu semakin mengecil hingga tak terlihat.

***

“Puan Ratu.”

Sang ratu mendongak dari tempatnya duduk. Dua pelayan sedang melayaninya. satu memijat pergelangan tangannya sementara yang lain memijat punggungnya. Pelayan ketiga datang untuk menyampaikan informasi.

“Baik, Doris. Bicaralah.” Perintahnya.

“Sepuluh putri ada di sini, di halaman istana.”

“Bagus.” Ratu berkata dan melanjutkan, “Katakan pada yang lain, kalian masing-masing harus mengantar mereka ke kamar yang telah kita sediakan sementara kami menunggu yang lain.”

Doris membungkuk dan meninggalkan ruangan.

Fairuz memberi isyarat kepada para dayang untuk menghentikan apa yang sedang mereka lakukan.

“Ambilkan gaunku, Lila.” Ia berkata kepada salah satu dari mereka dan menghadap yang lain. “Tina, kau, pergilah ke kamar putraku dan kunci pintunya rapat-rapat, dia tidak boleh kabur, karena aku rasa dia mungkin mencoba kabur atau semacamnya. Tapi pertama-tama pastikan dia ada di dalam kamar sebelum menguncinya. Jika ada penjaga yang menanyakan sesuatu padamu, beri tahu mereka aku yang mengirimmu.”

Kedua dayang itu mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan.

Ratu Fairuz menatap bayangannya di cermin. Putranya benar-benar membuatnya kesal dan dia mulai bosan dengan kelakuannya. Mungkin, setelah putranya menemukan calon istri yang cocok seperti yang diharapkan ayahandanya, dia akan bersikap baik.

Setelah semua dayang tiba di istana, dia akan memastikan Junior berpakaian dan sepuluh pengawal akan menemaninya ke tempat dia bisa melihat putri cantik.

Dia sering mendengar bahwa kecantikan dapat memberikan keajaiban bagi seorang pria. Semoga ketika Junior melihat betapa beruntungnya dia dengan semua putri cantik itu, Junior akan mengembangkan kemampuan indranya.

**

Tina menaiki tangga ke sayap pangeran. Sesampainya di sana, dia bertemu dua pengawal di depan pintu.

“Apakah dia ada di dalam?” tanyanya kepada kedua pengawal, yang mengangguk.

“Apakah kalian yakin?” tanyanya lagi.

“Awak mahu masuk dan tengok sendiri?” tanya salah satu pengawal.

“Tidak, maaf, saya hanya perlu memastikan karena ratu sangat spesifik tentang hal ini.” Jawabnya.

“Apakah dia menyuruh awak untuk mengunci pintu?” tanya yang lain kepada Tina dan Tina mengangguk. Kedua penjaga itu bertukar pandang dan menghela napas lega.

“Syukurlah. Saya belum siap untuk lomba maraton mengejar pria dewasa di seluruh kota.” Salah satu dari mereka berkata dan yang lain memperbaiki kunci pintu sebelum ketiganya bubar.

“Astaga!” kata seseorang di ruangan itu saat kunci diperbaiki. “Aku terkunci di sini, bro! Ibumu mengunciku di sini,” katanya ke telepon di tangannya.

Ada suara lain di telepon yang dipegang pembicara, “Maap, pren, gue udah minta lu bikin satu kebaikan penghabisan buat gue. Kagak usah watir, cobalah menjadi pangeran satu hari aja. Ntar gue telepon balik.”

Cinde Lara

Cinde Lara: Bab 5 Cinde Lara: Bab 7

Author

  • Ikhwanul Halim
  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image