Home / Genre / Komedi / Cinde Lara: Bab 5

Cinde Lara: Bab 5

Cinde Lara 1600x900
This entry is part 6 of 27 in the series Cinde Lara

“Hei, Junior.”

“Ayahanda,” sapa Jun sebelum duduk di meja bersama ayahandanya.

Empat punggawa dalam berdiri di belakang kursinya sementara dua pelayan menunggu di meja.

Dia menatap mereka dan mengerutkan kening, lalu kembali menatap ayahandanya, yang mengamatinya.

“Apakah semuanya baik-baik saja?” tanya Sultan.

“Tentu, Ayahanda. Saya cuma nak tahu untuk apa kita membutuhkan pengawal-pengawal ini, maksudku, bahkan para pelayan, Ayahanda, apa mereka tidak punya pekerjaan lain?”

Sultan mengertakkan giginya dan menjatuhkan garpu ke dalam nampan.

“Awak seorang pangeran, dan ini adalah hal-hal yang diwajibkan kerajaan.”

“Tapi para pelayan sudah menyajikan makanan untuk kita, jadi mengapa mereka menunggu kita lagi? Tidak bisakah mereka pergi dan bersenang-senang dan mungkin setelah kita selesai, kita bisa memanggil mereka untuk mengemas piring-piring?”

Para pelayan bertukar pandang tetapi tetap diam.

Sultan Johan menatap putranya seolah-olah jun sudah gila, tetapi dia melambaikan tangannya dan para pelayan beserta punggawa bubar.

Jun tersenyum, “Terima kasih, Ayahanda.”

“Oh, tidak, jangan berterima kasih dulu pada saya, percayalah, kalau bukan karena dokter benar-benar memastikan awak anak saya, dan karena saya mencintai istri saya, saya pasti sudah memanggil awak bangsat.”

Jun tersentak, “Ayahanda! Saya hanya tidak ingin terlalu banyak perhatian, apa itu masalah besar?”

“Ya, itu masalah besar, karena suatu hari nanti bila awak menjadi sultan, perang bisa datang dari mana saja, baik dari kolong katil awak, ruang makan awak, atau di mana pun, awak harus selalu berjaga-jaga. Saya bukan hanya mengerti diri awak, malah awak masih kecil, awak bawa makanan awak dalam lemari dan memakannya. Apa masalahnya dengan awak? Apa yang awak takutkan?”

Jun terdiam.

“Mungkin saya bukan terlahir sebagai bangsawan. Cubalah ayahanda fikir-fikirkanlah.”

“Kalau begitu awak tidak layak jadi sultan!” seru sang ayahanda, mulai emosi.

Jun mengangkat bahu, memakan ubi dan telur di depannya, “Mungkin saya tidak mahu menjadi sultan, Ayahanda.”

Sultan Johan menatap putranya dengan kaget. Dia tak percaya apa yang didengarnya.

“Sepertinya anak tukang kayu itu telah memenuhi kepalamu dengan mengarut!”

“Tidak, Ayahanda, dia satu-satunya yang mengerti saya dan dia kawan saya!”

“Kawan? Bagaimana awak boleh berkawan dengan orang miskin, nak?”

Jun menghela napas dan berdiri, “Ayahanda, Ayahanda mahu kami makan malam bersama dan kami hanya melakukannya. Selalunya, ia biasanya tidak berakhir dengan baik, tetapi saya sentiasa sayangkan Ayahanda kerana menghubungi saya. Sekarang, kalau Ayahanda maafkan saya, saya perlu pastikan Ibunda tidak mengurungnya dalam sel.”

Setelah itu, dia berdiri dan mulai berjalan pergi sementara Sultan Johan memperhatikan.

***

Beberapa menit kemudian, Jun bertemu Sam yang baru saja keluar dari istana. Dia tampak seperti melihat hantu.

“Enyak gue bilang apa ke lu?” tanya Jun begitu mereka sudah dekat.

Sam menelan ludah. “Yah, cukup bagiku untuk tidak pernah menginjakkan kaki di tempat ini lagi.”

“Lu tahu itu kagak mungkin. Gue butuh lu, dan dari  cara babe gue ngomong, gue kagak gumun  kalo penjaga disuruh masukin gue ke sel mulai malam ini sampai hari perjamuan, yang sayangnya tinggal dua ari lagi.”

Sam mendesah. “Jun, tak ada yang bisa kulakukan untukmu. Tapi, aku sudah buat janji dengan beberapa orang untuk membantu penculikan itu. Jadi, mereka akan menunggu di Simpang Semanggi tempat mereka bersembunyi untuk menangkap putri mana pun yang mereka lihat. Kau harus memberi sinyal dengan berbicara kepada putri itu. Siapa pun yang kau sukai akan kau dekati, dan kesepakatan akan selesai.”

Jun mengangguk,

“Oke. Makasih udah nulungin gue.”

“Setelah ini, Jun, tidak ada lagi bantuan. Ratu benar-benar meyakinkan…” kata Sam dan pergi secepatnya sementara Jun memperhatikannya, bertanya-tanya apa yang dikatakan ibundanya yang membuat Sam ketakutan.

***

Cinde menarik napas tajam saat membuka lemari pakaian sekali lagi. Dia melihat sebungkus sepatu merah muda berkilau di dalam lemari pakaian, bersama gaun-gaun indah yang akan dia masukkan ke dalam tas di tangannya.

Seharusnya ini miliknya. Babenya pasti ingin dia memiliki ini, babenya….

Sudah lebih dari lima tahun, namun, rasanya baru kemarin ketika surat itu datang, babenya menghilang.

Hari sudah hampir sore dan dia telah menunggu di gerbang, menunggu kedatangan babenya, seperti yang telah dilakukannya selama lima tahun terakhir sejak enyaknya meninggal.

Seperti biasa, di tangannya terdapat buket bunga segar yang indah, seperti yang disukai babenya. Buket itu adalah bunga kesayangan enyaknya, dan telah menjadi semacam ritual di rumah mereka. Betapa pun istri baru babenya berusaha menghilangkannya, bunga itu tetap hidup, mewakili enyaknya. Cinde merasa mereka semua masih bersama. Alih-alih limo babenya dan cara babe memanggilnya, “Putri Lara yang cantik, Babe udah pulang,” tetapi itu tidak pernah terjadi lagi.Sebaliknya, hanya driver yang datang membawa kabar bahwa babenya hilang.

Lara adalah nama enyaknya, Larasati Gonzalez, dan babenyabilang Cinde mirip banget enyaknya. Makanya dia dinamai seperti enyaknya, tetapi hanya babenya yang memanggilnya Lara, yang selalu membuatnya tersipu karena, Lara benar-benar wanita cantik bahkan sampai kematiannya yang terjadi ketika CInde baru berusia tujuh tahun. CInde tidak tahu apa yang menyebabkan kematian enyaknya, sampai dia tumbuh dewasa dan mengerti bahwa itu adalah kanker.

Kemudian, hanya dirinya dan ayahnya sampai dia berusia dua belas tahun ketika ayahnya pulang bersama Virya dan si kembar.

Saat itulah segalanya berubah…

“Apa yang kamu lakukan menatap pakaian-pakaian itu?”

Cinde hampir melompat kaget ketika dia mendengar suara Irina di belakangnya.

“Aku baru saja akan mulai berberes,” katanya sambil cepat-cepat melepas gaun dari gantungan dan melemparkannya ke tempat tidur.

Irina menatapnya curiga sambil mengunyah permen karet dengan berisik.

“Kamu sudah berdiri di sana berjam-jam, kamu pikir aku tidak melihat?”

Cinde terdiam dan Irina mendekat…

“Irina, aku ingin kamu pergi.” Kata Tatiana dari pintu. Cinde sangat berterima kasih.

“Kamu tahu kamu jalang yang tidak tahu berterima kasih!” seru Irina pada kembarannya yang tidak berkata apa-apa selain membuka pintu lebih lebar agar Irina bisa keluar.

“Kuharap suatu hari nanti, kamu akan benar-benar menyadari siapa adikmu yang sebenarnya.” Irina mendesis sebelum meninggalkan ruangan.

Tatiana membanting pintu dan mengerang, “Aku tidak tahan dengannya!”

Cinde memaksakan senyum, ia melipat pakaian satu demi satu sementara Tatiana duduk di tempat tidur.

“Kamu suka semua gaun itu?” tanyanya pada Cinde.

“Ya, semuanya cantik.” jawab Synder.

“Ada satu lagi yang masih di penjahit, yang sudah kamu ukur, itu yang akan kupakai untuk ini,” katanya, sambil berdiri dan berjalan ke kotak terdekat untuk mengambil sepatu yang sudah lama diincar Synder.

Tatiana membuka kotak dan mengeluarkan salah satu sepatu.

“Mamamu memang punya selera yang bagus,” katanya.

“Ya, memang.”

“Maaf, aku harus memilihnya, kita berdua tahu itu paling cocok untukku,” katanya, sementara Cinde terdiam. Dia belum pernah mencoba memakai sepatu itu.

Cinde memperhatikan Tatiana mencoba memasukkan kakinya ke dalam sepatu dan menyadari sepatu itu bahkan tidak muat. Cinde hampir tertawa terbahak-bahak, tetapi dia menahan diri dan menegakkan tubuh.

“Besok, setelah menjalani diet ketat ini, Nyonya Tina yakin kakiku akan mengecil dan akhirnya aku bisa memakainya,” kata Tatiana bangga, sambil menarik rambutnya ke belakang.

“Cepatlah, Cinde, aku tidak punya waktu seharian,” katanya dengan marah, memasukkan sepatu itu ke dalam tas dan bergegas keluar ruangan.

Cinde tahu Tatiana kesal karena sepatu itu masih tidak muat, padahal dia sudah mencobanya selama berbulan-bulan.

Akhirnya, Cinde meletakkan gaun di tangannya di gantungan baju dan berjalan ke kotak, mengambil satu dari dua yang ada, lalu membungkuk untuk mencobanya dan ternyata pas sekali.

Cinde Lara

Cinde Lara: Bab 4 Cinde Lara: Bab 6

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image