Beranda / Genre / Chicklit / Cinde Lara: Bab 7

Cinde Lara: Bab 7

Cinde Lara 1600x900
1
This entry is part 8 of 29 in the series Cinde Lara

Cinde melambaikan tangannya saat melihat SUV itu, yang bagian depannya penyok, dia akan selalu mengenali mobil itu di mana pun—

Mobil itu melambat dan jendela diturunkan untuk memperlihatkan wajah Zhoya.

“Masuk, Nak.”

Dengan cepat Cinde berlari menuju mobil dan duduk di kursi depan. Lalu dia menarik Zhoya mendekat dan mencium keningnya.

“Lu juru selamat!” katanya, “Mana gaunnya?”

Zhoya menginjak mesin, “Ada di belakang.” Jawabnya.

Cinde meraih kain itu dan menyadari benda itu ada di dalam kantong plastik. Dia tersentak.

“Ciyus, lu masukin dalam kantong plastik?”

Zhoya menatapnya seolah-olah dia gila.

“Kau lebih suka kalau aku memasukkannya ke dalam mangkuk atau keranjang?”

Cinde menggelengkan kepalanya,

“Gaun ini harganya belasan juta, monyong,” katanya, sambil mengeluarkan gaun dari plastik.

“Cakep be’eng,” katanya.

“Memang.”

“Jadi, gimana kita bisa nyampe istana?”

“Tenanglah, aku sudah cari di Google Maps, aku rasa ini akan jadi petualangan kecil kita,” kata Zhoya bersemangat.

“Iyaaa, tapi buruaaan. Injak gas dalem-dalem. Ngebut nape?”

“Ini mobil bapakku. Kalau sampe lecet, mati aku.”

Cinde mendesah, “Baiklah.”

“Tapi serius, bagaimana dia bisa melempar kau ke jalan, dan tas apa yang kau pegang itu?”

“Itu tas Tatiana,” jawab Cinde.

“Jadi dia mengusirmu dengan tas itu?”

“Ya.”

“Kurasa isinya tidak terlalu penting, tapi aku pikir kau bilang dia baik. Bagaimana dia bisa melakukannya?”

“Dia nyang paling baek dari tiga belis betina di rumah, jadi percayalah, ada waktunya dia nunjukin sisi jahat.”

“Seperti hari ini, tentu saja.”

“Ya.”

“Kurasa kita sebenarnya sudah dekat, kau tahu, tidak jauh, kecuali polisi sialan itu.”

Cinde melihat ke arah yang ditunjuk Zhoya dan menyadari bahwa dia benar. Jauh di depan mereka ada polisi.

“Bilang ke gua lu punya SIM,” kata Cinde dan temannya menatapnya.

“Aku punya SIM.”

Cinde mendesah, “Syukurlah.”

“Oh, tidak! Aku bilang begitu karena kau bilang aku harus bilang.  Mana ada punya SIM aku.”

Cinde tersentak, “Ya Tuhan. Apa nyang kita lakuin, Joy?”

Zhoya memperlambat laju mobil dan menghadapinya, “Bagaimana kalau kau berdandan jadi putri?”

Cinde mengerutkan kening, “Lu gila?”

“Bisa jadi, tapi aku pikir itu satu-satunya jalan kita bisa lewat tanpa ditahan. Lebih baik kau mulai berdandan.”

“Kagak! Kalo Tatiana tahu gue pake gaun dia, dia bakal bunuh gue beneran!”

“Dan kalau kau tidak muncul dengan gaun itu, dia akan tetap membunuhmu, jadi pikir baik-baik. Kalau kau sekarang pakai, begitu kita hampir sampai di istana, kau bisa melepasnya.”

“Kagak kagak kagak kagak. Gue kaga bisa. Gue kagak pantes jadi putri.”

“Kata siapa? Kau cuma perlu dandan sikit. Sini aku yang mekapin kau. Periksa tas itu, kita tengok apa isinya.”

Cinde menatap Zhoya.

Ini ide bodoh.

 Dia mengeluarkan tas itu dan memeriksa isinya,

“Ya Tuhan!” Dia tersentak.

“Apa?”

Cinde mengeluarkan bungkusan sepatu dan membukanya.

“Lihat, ini sepatu kristal.”

Zhoya tersenyum.

“Sempurna! Sekarang, kita punya seorang putri!”

“Kagak, ah! Tatiana beneran bunuh gue entar!”

***

“Stop! Stop!” teriak Tatiana, dan mobil pun berhenti.

Mereka sudah berada di kota dan sedang dalam perjalanan menuju istana.

“Apakah kita sudah sampai?” tanya sopir.

“Belum, aku perlu menelepon ibuku. Aku perlu tahu apakah Cinde sudah mengambil gaunku apa belum,” jawab Tatiana sambil mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon.

Virya langsung mengangkatnya.

“Putriku, kamu di mana?”

“Ibu tahu Cinde lupa mengambil gaunku?”

Virya berteriak, “Ya Tuhan! Kamu di mana?”

“Kami sudah di kota tapi masih jauh dari istana, apakah Ibu lihat Cinde?” tanyanya.

“Tidak sayang, Kamu seharusnya segera meneleponku. Biar aku telepon penjahitnya kalau dia melihatnya. Aku akan menelepon kamu lagi. Tetap tenang, sayangku.”

“Ya, Bu, cepatlah,” kata Tatiana dan mengakhiri panggilan.

Dia gelisah. Mereka belum benar-benar memasuki pusat kota, masih berada di pinggiran. Dia bisa melihat beberapa mobil mewah berhias simbol lemewahan lalu-lalang. Diaa tahu bahwa para pesaingnya pasti ada di dalamnya. Mobil-mobil itu menunjukkan kekayaan dan kelas.

Dia mendesah. Dia harus menang dan dia punya keajaibannya sendiri—sepatunya.

“Aduh! Syauki, tolong beri tahu aku kalau gadis itu tidak pergi dengan tas cokelat!”

Syauki si sopir menatapnya dari kaca spion. “Aku tidak tahu, Nyonya.”

Hatinya mencelos, “Buka bagasinya sekarang!”

Dia berteriak dan berpikir untuk keluar, tetapi menyadari gaunnya pasti kotor.

“Bulbul, keluarlah, periksa bagasi untuk tas-tas itu, bawa semuanya sekarang!”

Bulbul mengerutkan kening, tetapi menuruti perintah. Tatiana memeriksa tas-tas itu dan menyadari bahwa tas tempat dia menyimpan sepatu tidak ada di antara yang lain.

Tatiana memejamkan mata karena kecewa. Oh tidak! Jantungnya berdebar lkencang. Tepat saat itu teleponnya berdering.

“Ibu!” katanya, mengangkat telepon.

“Katanya gaunnya dicuri, Tatiana!” teriak ibunya.

“Oh, tidak, tidak!” seru Tatiana, “Aku akan meneleponmu kembali, Bu,” katanya, mengakhiri panggilan. “Syauki, balik sekarang, cepat!”

***

Di pinggir jalan, dua orang polisi gadungan menunggu dengan senapan serbu AK-47. Lebih dalam di semak-semak yang rimbun di sepanjang jalur yang sama, terdapat sebuah van putih tanpa kaca jendela samping dan belakang. di dalamnya juga terdapat dua pria.

Pria pertama tampak agak tidak nyaman dan gugup, sementara pria di kursi pengemudi yang merupakan bos itu tampak nyaman dan tak berhenti merokok kretek filter rasa kesemek.

“Oh, capek kali. Apa menurutmu kita terlambat?” tanya pria pertama dari van.

“Tidak, aku rasa tidak,” jawab  si bos yang duduk di kursi pengemudi.

“Jadi, mengapa kita tidak melihat seorang putri pun?” tanya pria pertama.

“Jangan khawatir, aku punya orang dalam di istana, katanya mereka masih menunggu sekitar empat putri lagi,” jawab si bos sambil mengisap rokok yang tinggal sejari di antara bibirnya. Pria pertama tampak khawatir dan memeriksa waktu, lalu ia menghadap ke depan.

“Bango dan Belekok sudah menunggu di sana dari—”

“Diamlah kau!” teriak bos preman itu. matanya memerah dan lubang hidungnya melebar.

Pria itu diam meskipun dia tampak tersinggung. Tiba-tiba, walkie-talkie di tangan pemimpin itu mengeluarkan suara aneh dan dia menjawabnya.

“Sang Bango, eh eh eh, Sang Bango. Ada apa? ganti.”

“Ada mobil mendekat, bos, eh, bos. Aku rasa inilah kesempatan yang kita tunggu-tunggu dari tadi, ganti.”

***

Di seberang jalan, ada jalan setapak yang langsung menuju ke sebuah pondok. Jun duduk di dekat jendela, melihat melalui teropongnya.

Tiga preman bersamanya, menunggu panggilannya.

“Jadi, macam mana ini, Boskuh?” tanya salah satu pria itu.

“Tunggu bentaran lagi” kata Jun. “Eh, beneran, kan? Gue lihat ada mobil datang. Kita cuma perlu nunggu dikit lagi aja, ampe  mobilnya deket, terus kita samperin, dah.”

Cinde Lara

Cinde Lara: Bab 6 Cinde Lara: Bab 8

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *