Home / Genre / Cerita Anak / Moci dan Koji, Cerita Anak yang Sungguh Penuh Konflik!

Moci dan Koji, Cerita Anak yang Sungguh Penuh Konflik!

5

Masihkah cerita anak wajib mengacu ke paradigma lama?

Cara membuat cerita anak yang bagus itu harus bagaimana dan seperti apa?

Yakin masih ingin membuat cerita anak yang bagus dan kekinian tapi tetap menggunakan paradigma lama?

***

Masih takdir aneh yang sama seperti dalam serial Dunia Aneh Si Ben di mana sang tokoh utama selalu hidup kembali dan terjerembab di dunia yang sama sekali baru setelah berkali-kali mati, begitu pula yang terjadi kali ini. Setelah hiatus[1] yang cukup lama dari dunia kepenulisan, tahu-tahu saya tersadar telah berada di lingkar komunitas kepenulisan yang asing: Kompakโ€™O.

Namun kali ini tindakan yang dilakukan agak berbeda. Ketimbang memusingi peran apa yang kudu dilakoni dalam komunitas baru ini, saya memilih mencukupkan untuk menjadi hanya sebagai diri sendiri, yang riang menggerayang setiap karya buatan teman-teman Kompakโ€™O lainnya, meski dengan diam yang paling senyap. Hingga akhirnya, sebuah postingan menghasut saya untuk tak lagi cuma diam.

Embrio karya yang cakap, batin saya sambil terus membacai Kisah Persahabatan Moci dan Koji[2] sambil sesekali menyesap cangkir kopi.

Betapa tidak? Fidele Amour secara cerdas membuka cerita anak ini langsung menuju konflik utama. Tidak bertele-tele dalam basa-basi paragraf pembuka, juga tanpa berleha-leha pada permainan deskripsi yang umumnya menjebak sebuah cerita menjadi sangat tell hingga berpotensi mengundang kebosanan sejak awal:

Tidak seperti biasanya, wajah Moci, si anak harimau  terlihat sedih. Ia hanya mondar-mandir mencari sesuatu, tetapi tidak juga mendapatkannya. Moci bingung, ia harus bagaimana. Tidak ada seorangpun yang mau berteman Moci. Moci ingin mencari teman-temannya, lebih tepatnya, Moci ingin memiliki banyak teman baru. Ayah dan ibu Moci tidak tahu jika Moci telah berjalan jauh meninggalkan hutan tempat tinggal mereka. Mereka melarang Moci agar tidak pergi terlalu jauh. Namun, Moci tidak memperhatikannya. Moci  terus berjalan jauh tanpa menengok ke belakang lagi.

Memang pada beberapa bagian penggarapannya terasa kurang halus serta mengandung penjelasan yang terasa mubazir, namun dirasa tak terlalu mengganggu. Meskipun, tentu saja, jika penulisnya memiliki waktu luang maka akan menjadi sangat terpuji jika kekurangan-kekurangan kecil tersebut tetap diperbaiki.

Berikut salah satu alternatif perbaikannya:

(1) Tidak seperti biasanya, wajah Moci -si anak harimau- terlihat sedih. Ia hanya mondar-mandir mencari sesuatu, tetapi tidak juga mendapatkannya. Moci bingung, ia harus bagaimana?

Tidak ada seorangpun yang mau berteman dengan Moci. Moci ingin mencari teman-temannya. Lebih tepatnya, Moci ingin memiliki banyak teman baru. Ayah dan ibu Moci tidak tahu jika Moci telah berjalan jauh meninggalkan hutan tempat tinggal mereka. Mereka melarang Moci agar tidak pergi terlalu jauh. Namun, Moci tidak memperhatikannya. Moci  terus berjalan jauh tanpa menengok ke belakang lagi.

Sederhana sekali perbaikannya, bukan? Cukup membelahnya menjadi dua paragraf, selesailah sudah. Hanya melakukan self editing sederhana seperti menambahkan kata bertanda bold, memecah kalimat panjang menjadi dua kalimat yang jauh lebih sederhana, menghilangkan kata yang bergaris bawah serta menggunakan kata ganti orang ketiga untuk kata bergaris bawah yang terakhir, cukuplah sudah. Beneran cuma sesederhana itu doang, kok.

Namun jangan sekali-kali berani menyepelekan kesederhanaan tersebut. Mari bersama cek ulang, apa kira-kira kebaikan yang didapat dari perubahan sederhana barusan:

Tidak seperti biasanya, wajah Moci -si anak harimau- terlihat sedih. Ia hanya mondar-mandir mencari sesuatu, tetapi tidak juga mendapatkannya. Moci bingung, ia harus bagaimana?

Poin pertama yang diperoleh pembaca setelah melahap paragraf pembuka seperti ini harusnya cuma satu, yaitu: Ketertarikan.

Bagaimanapun juga, tipikal pembaca negeri ini secara umum tetap saja sosok-sosok yang mudah kepo. Bahkan mereka tak akan segan untuk bergosip meski hanya dengan diri sendiri, dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan solilokui tentang kenapa Moci sedih, ada apa dengan Moci, kenapa Moci mondar-mandir, Moci mencari apa dan seterusnya yang tentu saja mengundang minat untuk membaca lebih lanjut guna menuntaskan rasa penasaran.

Dan itu artinya karya ini memang bagus, bahkan sejak paragraf pertama, karena bisa mengundang pembaca untuk terus melahapnya hingga akhir dengan penuh antusiasme.

Pada paragraf kedua barulah ketahuan belangnya.

Oh, ternyata masalah si Moci tentang ini. Oh, ternyata Moci begini Moci begitu juga begono.

Jika paragraf berhenti sampai di titik kesimpulan tersebut, bisa jadi, pembaca akan merasa bahwa semua harusnya sudah selesai. Tanya telah terjawab, rasa penasaran terpenuhi. Case closed! Jika sudah seperti itu, apa perlunya melanjutkan membaca terus hingga selesai?

Meski tak semua pembaca bisa untuk disamaratakan, namun dari sudut pandang kelaziman, niscaya hal itulah yang paling berpotensi untuk terjadi.

Tapi cerdiknya, Fidele Amour justru melakukan poin kedua, yaitu: Kembali menyiram bensin!

Fidele Amour kembali memasukkan konflik baru. Kali ini bersifat eksternal, langsung melalui tindakan sang tokoh utama yang bertentangan dengan kedua orang tuanya. Selain konflik, Fidele Amour juga secara unik menjabarkan karakter sang tokoh utama tersebut dalam menyiasati permasalahan yang dimilikinya dengan cara yang tidak hitam-putih. Ada keteguhan di sana, sekaligus pula pembangkangan.

Dan bukankah semuanya telah sesuai dengan paradigma lama mengenai cerita anak, yang salah satunya adalah menggunakan alur cepat?

Alternatif perbaikan berikutnya sepertinya sedikit berhubungan dengan alat kebahasaan. Mari ngeriung bareng sambil menyelonjorkan kaki biar bisa tetap rileks dan santuy….

Tidak seperti biasanya, wajah Moci -si anak harimau- terlihat sedih.

Terlihat jelas bahwa kalimat pertama dalam karya tersebut bukan kalimat tunggal. Ada anak kalimat, ada induk kalimat, bahkan ada pula aposisi di dalamnya. Lengkap sudah keribetannya.

Yuk sederhanakan.

Jika bisa, jadikan kalimat tunggal yang benar-benar sederhana.

Jika pun tidak bisa, setidaknya diubah, dari yang awalnya adalah kalimat majemuk campuran yang cukup kompleks dan mengandung aposisi menjadi berhenti hanya di kalimat majemuk biasa yang hanya penggabungan dua kalimat tunggal saja, misalnya.

Atau, jika pun memang benar-benar tidak bisa karena satu dan lain alasan -termasuk alasan bila diubah maka ceritanya akan terkesan bertele-tele, kehilangan sense dan sebagainya- ya, sudahlah. Tapi setidaknya, usahakan untuk karya selanjutnya jauh lebih sederhana.

(2) Tidak seperti biasanya, wajah Moci terlihat sedih. Anak harimau itu merasa gelisah. Ia mondar-mandir tanpa henti dari tadi. Seperti mencari sesuatu, tetapi tidak juga mendapatkannya. Moci bingung, ia harus bagaimana?

Kalimat tersebut telah menjadi sedikit lebih sederhana. Dari awalnya berbentuk kalimat majemuk campuran ber-aposisi, menjadi hanya kalimat majemuk biasa.

Begitu pula dengan penjelasan bahwa tokoh Moci adalah anak harimau, yang sebelumnya dilakukan secara kaku dan serius dalam bentuk aposisi, dengan cara ini menjadi jauh lebih lembut dan alami.

Namun, jika masih ingin dilakukan perubahan menjadi lebih sederhana lagi, bisa pula menjadi seperti ini:

(3) Hari ini tidak berjalan seperti biasanya. Wajah Moci terlihat sedih. Anak harimau itu merasa gelisah. Ia mondar-mandir tanpa henti dari tadi. Terus berusaha mencari sesuatu meski sepertinya tidak juga mendapatkannya. Moci bingung. Ia tak tahu harus bagaimana.

Pada perubahan (3), semuanya menjadi jauh lebih sederhana. Semuanya kalimat tunggal, yang secara umum sangat mudah untuk dicerna.

Tapiโ€ฆ, ada tapinya.

Perubahan ketiga ini, meski terkesan jauh lebih baik secara tata bahasa, namun bila penulisnya kurang jeli serta minim jam terbang justru mengandung ancaman yang lebih serius. Salah satunya adalah bahwa karya yang dihasilkan dapat terjebak menjadi sebuah tulisan yang lurus dan kaku-njeku seperti yang umum ditemui pada teks bahan ajar atau surat kontrak berbasis hukum, misalnya.

Ancaman berikutnya, bisa saja dengan kecondongan tingkat maksi pada aturan dan tata bahasa seperti itu, dapat mengakibatkan hilangnya ruh pada karya. Secara akademik dan skolastik bisa saja karya tersebut dianggap bernilai tinggi. Namun, percayalah, cerita yang seperti itu niscaya akan memiliki jiwa yang sangat kering, miskin imajinasi serta bisa saja akan kesulitan untuk mengajak pembaca lebur dan bertualang bersama di dalamnya.

Sila memilih pendekatan self editing mana yang paling masuk untuk dipergunakan, lalu lakukan dengan cara yang sama terhadap semua bab yang ada dalam karya. Semoga dengan cara yang sederhana ini, tetap mampu menjadikan sebuah karya meningkat kualitasnya hingga menjadi berkali-kali lipat dari sebelumnya.

Hingga di sini sepertinya ada 3 kata kunci yang terus keluar, yaitu: alur cepat, konflik dan sederhana.

Mengenai alur cepat sepertinya tak membutuhkan pembahasan lebih lanjut karena cerita anak memang baiknya menggunakan alur yang lebih cepat ketimbang cerita-cerita yang diperuntukkan bagi kalangan yang lebih dewasa, semata demi menghindari kebosanan sebab pembaca usia anak bagaimanapun juga memang lebih cenderung memiliki daya konsentrasi yang lebih rendah[3].

Namun alur cepat di sini wajib dibedakan dengan alur melompat serta alur yang menikung kesana-kemari, yang bukannya bersifat memudahkan justru malah tambah membingungkan bagi pembaca usia anak.

Bagaimana dengan konflik?

Perlukah cerita anak, dibubuhi konflik, terutama bila mengingat dunia anak-anak yang secara umum lebih sederhana serta seakan tidak memiliki konflik sedikitpun?

Yang jelas, Kisah Persahabatan Moci dan Koji karya Fidele Amour ini sungguh merupakan cerita anak yang penuh konflik!

Cukup mengejutkan sebenarnya ketika mengetahui bahwa tokoh Moci yang notabene cuma  bocah harimau berusia dini serta hanya bergulat di genre cerita anak, siapa sangka ternyata benar-benar merupakan karakter yang penuh konflik dalam kehidupannya.

Sejak awal kalimat pembuka karya telah ada konflik, meski terjadi secara internal antara tokoh utama dengan dirinya sendiri, yang berlanjut dengan konflik eksternal dengan orang tuanya, dengan keluarga kijang serta bahkan dengan dunia.

Dengan dunia?

Yap.

Bukankah melalui pemilihan tokoh-tokoh utama dalam cerita anak ini, Fidele Amour mencoba untuk menantang persepsi dunia mengenai dikotomi khas kehidupan, yang lazimnya menjadi sumber konflik abadi namun pada karya buatannya justru malah coba untuk dipersatukan atau setidak-tidaknya: Didamaikan?

Bersyukurnya, cerita anak ini tidak dibaca oleh Handoko Tjung. Creative/Co-Founder Upperwest Creative-Jakarta yang juga alumni Binus University ini pernah menggegerkan jagad twitter dengan kicauannya pada 07 Sepetember 2018[4] silam:

Ada babi minum air kencing raja, hamil.

Lahir Dayang Sumbi.

Dayang Sumbi kawin sama anjing.

Lahir Sangkuriang.

Sangkuriang makan ayahnya sendiri.

Diusir.

Naksir ibunya, ditolak, nendang perahu, jadi gunung.

Pertanyaan: Narkoba apa yang dikonsumsi pengarang cerita Sangkuriang?

Tak perlu terburu-buru mengkritisi Tjung dengan membuat artikel berjudul ganas semodel Ketika Generasi Micin Sok Jago Bicara tentang Legenda & Budaya, misalnya. Buat apa? Bukankah banyak sumber menyebutkan, bahkan setelah 11 kurikulum pernah diterapkan di negeri ini sejak era perang kemerdekaan hingga sekarang, pendidikan Indonesia tetap saja tak pernah baik-baik saja? Tetap saja gagal menjadikan siswa cakap dalam literasi dan numerasi? Mau diakui atau tidak, hasil terbaiknya masih baru di kisaran: Siswa bisa membaca kata, tetapi kebanyakan tidak mampu memahami bacaan. Orang dewasa bahkan kesulitan menyelesaikan soal matematika kelas 4 SD.

Bila ditilik dari kacamata mereka yang termasuk siswa bisa membaca kata, tetapi kebanyakan tidak mampu memahami bacaan, bisa saja Fidele Amour akan dianggap kurang piknik, ngadi-ngadi atau bahkan disematkan sebagai pengarang yang tidak logis karena dianggap merusak general truth mengenai hubungan antara harimau dan kijang, yang wajib menjalani takdir tunggal hanya sebatas predator dan mangsa. Tak ada pilihan kedua, juga tak perlu tafsir baru untuk jenis hubungan selainnya.

Alangkah gersangnya pemahaman yang seperti itu!

Berbeda dengan kehidupan nyata yang seringkali banyak kebetulan-kebetulan dan keajaiban, karya fiksi justru harus logis. Tak boleh ada sulap dalam penyelesaian masalah, juga terlarang untuk hal-hal tak lazim hanya demi bisa menjadi tempelan dan tembelan cerita.

Namun jangan lupa, tolok ukur logis dalam sebuah karya fiksi tentu saja berbeda dengan logis di kehidupan nyata atau logis untuk kepentingan teks bahan ajar biologi, misalnya.

Dalam sudut pandang karya fiksi, cerita Sangkuriang kemudian menjadi logis ketika karakter babi dan anjing dinilai sebagai metafora dari โ€˜orang-orang berkasta rendahโ€™, yang saking rendahnya hingga disamakan dengan hewan. Atau tataran yang lebih filosofis bahwa semua karakter dalam cerita Sangkuriang sesungguhnya tak lebih dari simbol-simbol tahap pencapaian jati diri dalam menapaki kehidupan, lengkap dengan kekeliruan yang diperbuat kala menuju titik keagungan.

Begitu pula dalam cerita anak Moci dan Koji ini. Bisa saja Fidele Amour sesungguhnya tengah menggunakan metafor-metafor segar dan to the point demi memuluskan pesan moral lapis kedua dalam karyanya. Bahwa selain pertemanan sebagai pesan moral lapis pertama, Fidele Amour menyelundupkan pula harapan-harapan pribadinya melalui karya -baik secara sadar maupun alam bawah sadar- menyisipkan asa bahwa nun di masa yang entah, akan ada penguasa dan atau calon penguasa (anak harimau) yang mau berteman dengan rakyatnya (kijang) dan bisa benar-benar membela rakyatnya kala menghadapi bahaya dan angkara (kuda nil).

Tak perlu gegas membantah bahwa pesan moral lapis kedua tersebut terlalu tahayul sebab bahkan dalam sebuah novel politik yang diterbitkan oleh Pimedia Publishing[5] pun ada begitu banyak rakyat yang tak tahu apa itu presiden, tak paham benarkah di negeri ini ada presiden buah terlalu sulitnya hidup saking segala permasalahan selalu โ€˜ketemu sendiriโ€™ tanpa ada satu pihak pun yang bersedia menolong. Toh semua hanya tafsir karya yang bersifat praduga. Bisa saja, tafsir cerita yang lebih masuk justru kerinduan akan sosok-sosok gagah berjiwa pahlawan yang tak sungkan untuk selalu membela orang lemah, misalnya. Who knows?

Yang patut diacungi jempol, Fidele Amour justru berhasil menyodorkan sumber konflik utama โ€˜semestaโ€™ dalam bentuk dikotomi khas kehidupan, tanpa butuh banyak penjelasan bahkan tanpa butuh melakukan apapun selain hanya memilih karakter-karakter kunci untuk dipergunakan dalam cerita anak yang dibuatnya.

Dalam bahasa sederhana sehari-hari mungkin serupa komentar berikut:

โ€œGile, nih, pengarangnya. Cuman baru nyebutin nama tokoh-tokoh utamanya aja dah langsung kerasa ngonflik aja, padahal tuh tokoh juga pada lom ngelakuin apapun.โ€

Yang menjadi kurang logis justru penggal adegan yang ini:

Moci dan Koji bermain bersama-sama di padang rumput. Tak jauh dari tempat mereka, ada dua ekor kuda nil sedang berendam di air sungai yang keruh. Moci dan Koji tidak tahu jika kawanan kuda nil itu tampak memperhatikan mereka dari tempat tersembunyi.

โ€œHei, kalian lihat. Ada santapan lezat di sana. Ha ha ha โ€ฆ.โ€

โ€œTunggu! Kita harus tenang. Biarkan saja mereka merasa aman. Biar nanti kita bisa langsung HAP! NYAM NYAM NYAM.โ€

โ€ฆ

Moci dan Koji segera berendam tanpa sadar bahaya yang tengah mengintai mereka. Moci dan Koji terus becanda tanpa memperhatikan sekelilingnya. Ketika mereka lengah. Salah satu kuda nil mendekat dan segera menangkap Moci. Moci dan Koji bukan main terkejutnya.  Dia berusaha menolong Moci yang sudah tertangkap. Koji menanduk badan kuda nil itu dan segera melepaskan Moci.

Mengapa kurang logis?

Karena kuda nil adalah hewan herbivora. Memakan rumput dengan cara menjambak dengan bibirnya, dan bukannya mencabik makanan dengan taringnya.

Jikapun ada data bahwa kuda nil kadang-kadang memakan bangkai hewan seperti yang diterbitkan dalam jurnal Mammal Review tahun 2015, lebih kepada perkiraan bahwa hal tersebut disebabkan oleh kurangnya nutrisi atau hanya perilaku abnormal.

Besar dugaan, kekeliruan penggunaan karakter kuda nil sebagai predator dikarenakan bentuk rahangnya yang besar dan kuat hingga dapat mematahkan tulang dan papan kayu serta bisa terbuka lebar hingga hampir 180 derajat. Hal itu masih ditambah dengan penampakan taring dan gigi seri yang panjang dan menyeramkan hingga terasa cocok untuk dianggap sebagai predator, hanya berdasarkan tampilannya semata.

Mengapa disebut kurang logis, dan bukannya tidak logis?

Karena memang dalam karya fiksi, parameter mengenai logis atau tidak logis suatu cerita relatif berbeda dengan dunia nyata. Bisa dibolak-balik, dapat pula diacak-acak. Pada tingkat yang lebih ekstrim bahkan suatu karya fiksi dapat benar-benar dibuat tanpa perlu logis sama sekali, yang jika dibuat secara logis justru malah salah-kaprah dan merusak karya.

Namun, apa pun pilihannya serta mau setidak logis bagaimanapun karya yang dibuat, tetap ada pakem[6] yang wajib diikuti.

Dalam konteks karya Fidele Amour, langkah paling mudah untuk melogiskannya bisa dengan langsung mengganti dengan karakter buaya, misalnya.

Atau, jikapun tetap ingin mempertahankannya, tinggal dibuat saja sebuah paragraf singkat yang mengkondisikan Moci dan Koji bercanda over dosis hingga mengganggu -misalnya menabrak, atau semangat berlompatan hingga menimpa tubuh kuda nil- yang akhirnya membuat kuda nil merasa terancam lalu melakukan penyerangan.

Mengapa konflik menjadi sesuatu yang sangat penting dalam sebuah karya?

Karena manusia -ternyata- bukan makhluk yang cuma berisi kumpulan air mata, melainkan juga adalah makhluk yang terbentuk dari kumpulan konflik sehingga sangat menggemari apapun yang berbau konflik!

Cuma bercanda.

Yang jelas, konflik itu menumbuhkan, suatu kondisi yang memaksa diri untuk menyerap hikmah-hikmah terbaik dari setiap kondisi terburuk, dengan cara yang sangat memacu adrenalin.

Pembaca secara umum butuh adrenalin, butuh menaturalisasi pencerahan-pencerahan yang lahir dari simulasi situasi tergelap tanpa butuh mengalaminya sendiri lalu mengadopsinya sebagai setidaknya sebuah pengalaman batin yang kaya makna.

Yang menjadi pertanyaan kemudian sepertinya bukan lagi tentang perlukah cerita anak dibubuhi konflik, apalagi yang bersifat kompleks dan terasa begitu berbelit-belit, melainkan lebih kepada bagaimana menyajikan semua itu ke dalam cerita anak hingga menjadi sahih[7] secara dunia anak.

Mari cek bersama penggalan berikut:

Adakah dunia yang lebih kusam dan rancu dari Dunia Aneh Si Ben?

Ada.

Dan itu, sekali lagi, adalah dunia pendidikan di Indonesia!

Lengkap sudah kebencian terhadap dunia yang penuh dengan hiruk-pikuk kegiatan belajar-mengajar tersebut. Dari hulu ke hilir semuanya getir. Tak sekedar kurikulum dan sistemnya yang seringkali terasa kedaluarsa, yang ketika terjadi perombakan justru lebih terkesan panik dan terlalu memaksakan diri. Ditambah lagi dengan ulah โ€˜segelintirโ€™ guru dan praktisi pendidikan yang kerap membuat gerah, yang tentu saja dilakukan oleh mereka-mereka yang cuma berstatus oknum saja. Dan bertambah parah dengan kontinuitas amat rendah pada siswa sebagai obyek pelaksana, menjadikan dunia pendidikan yang asli terjadi di dunia nyata harusnya dikemas dan dilemparkan ke gudang yang penuh dengan barang rongsokan karena memang sudah tak ada lagi sesuatupun yang berharga tersisa di dalamnya.

Ups! Penggalannya keliru. Kutipan yang benar harusnya ini:

Apa susahnya memberi bekal pendidikan bermutu bagi sang buah hati?

Ada begitu banyak jalan menuju Roma, yang jika kita memutar sedikit mungkin akan sampai juga ke Mekkah atau ke desa nenekmu, misalnya. Dan pengetahuan tentang aneka macam jalan itu seringkali menjadikan saya merasa kaya, terlepas dari jumlah rupiah yang ada dikantung atau berapapun digit yang tercetak dalam buku rekening bank saya.

Dengan anggaran yang fleksibel dan amat minimalis saya dapat memindahkan lab peternakan dan perikanan menjadi kebun binatang pribadi yang setiap saat bisa diteliti, yang mungkin jauh lebih lengkap atau setidaknya lebih nyata dan membumi dari lab yang dimiliki sekolah manapun.

Atau sambil digendong saya ajak si kecil merebus air dan mengamati secara langsung perubahan fisika yang terjadi dari cair menjadi gas, yang lantas setelah agak dingin, dengan bahan yang tadi juga kembali saya jinjing bocah itu menuju kulkas untuk paham proses membeku, yang setelah ditinggal sejenak untuk menonton acara tv kegemarannya, kembali saya ajak si mungil untuk menaruh es batu yang tadi itu ke dalam sebuah wadah, dan memperhatikan betapa udara di sekitar wadah itu dapat menyublim dengan arifnya. Adakah metode pengajaran yang lebih mengakar dan termarjinal kuat melebihi ini?

Dengan proses yang sama sederhananya saya masih dapat pula membuatnya mahir merekayasa senter, misalnya. Entah itu dari barang bekas dan seadanya atau dari benda-benda yang mutlak didapat dari toko. Sambil sesekali saya selipkan tentang rangkaian seri dan pararel, yang tentu saja telah disesuaikan bahasanya dengan dunia si bocah.

Membuat alarm pribadi? Kenapa tak langsung dibopong saja ke daerah Glodok dan memborong bahan-bahannya yang cuma seharga gocengan itu? Membatik? Bikin  Gerabah? Kerajinan lilin? Origami dan Ikebana sederhana? Pengetahuan sejarah? Atau perlukah saya sebutkan semuanya hingga mulut berbuih-buih dan penuh busa?

Dan semua itu bisa saya lakukan bersama sang kesayangan itu, bahkan sejak usianya masih amat belia, tanpa perlu direpoti dengan segala macam prasyarat dan ketentuan seperti yang termaktub dalam GBPP dan sebagainya, juga tanpa butuh menunggu hingga umur tertentu seakan-akan waktu adalah penentu mutlak keberhasilan dari semua kegiatan.

โ€œGa terlalu muda, Ben? Nanti ada efek negatifnya pegimana?โ€

Tolong jangan tanyakan hal itu kepada saya. Tapi bertanyalah dengan tujuan  memperoleh jawaban kepada Glen Doman[8], dan bukan bertanya demi mempertahankan pendapat yang selama ini diyakini pribadi. Jika pun pembahasan dari pakar syaraf dan pengembangan anak tersebut masih tetap menyisakan keraguan, ada baiknya kita kembali kepada diri sendiri dan bertanya dengan lebih jujur mengapa kita harus terus merasa takut terhadap โ€˜isiโ€™, dan bukannya justru lebih mewaspadai โ€˜metodeโ€™ yang dipakai? 

Metode lebih baik daripada isi. Bukan saya yang bicara, melainkan si tua HAMKA[9] yang seringkali namanya kita temukan dalam peta sejarah dan sastra Indonesia. Masih dengan kutipan yang itu pula saya yakinkan bahwa selama masa aktif di dunia pendidikan, saya belum pernah menemukan satupun efek buruk dari isi yang terlalu tinggi kala diberikan kepada siswa-siswa mungil tersebut, seberat atau se-nyeleneh apapun muatan yang ada di dalamnya. Walau bukan berarti dengan serampangan dan penuh nafsu lalu mencekoki anak batita dengan materi broadcasting, misalnya.

Bahkan hingga hari ini pun masih sering dijumpai cukup banyak siswa yang notabene telah cukup usia, merasa ngap dan gelagapan mempelajari penjumlahan dasar yang paling sederhana, hanya karena metode dan atau teknis-teknis lainnya yang digunakan begitu menekan. Sementara perhitungan angka dengan bobot yang lebih tinggi tetap mampu diserap sambil tertawa oleh siswa usia dini, dengan metode tarian jari, contohnya. Karena, sekali lagi, bukan isinya yang mesti ditakuti, melainkan metode yang dijadikan mode. DAN BUKANKAH UNTUK MENDIDIK MANUSIA, KITA HARUS PULA MENJADI MANUSIA?[10]

Meski belum tentu menjawab secara keseluruhan, tapi setidaknya berdasarkan pengalaman mengajar siswa TK dan usia dini selama 7 tahun plus 26 tahun bergelut di dunia pendidikan anak tingkat dasar dan menengah, meyakinkan saya bahwa semuanya bukanlah tentang isi, melainkan lebih tentang cara, tentang metode serta gaya penyampaiannya.

Sebagai pengayaan, sila bandingkan dengan buku dari salah salah satu penerbit mayor yang berkisah tentang Unta Nabi Saleh AS, dengan PoV unta itu sendiri.

Bila dilihat dari bentuk cetakannya yang super tipis, penuh gambar juga kaya akan warna pada setiap halamannya, tak pelak lagi dapat disimpulkan bahwa buku tersebut memang buku anak-anak. Lebih spesifik lagi: Buku bacaan untuk siswa TK dan kelas-kelas awal SD.

Tapi, benarkah itu buku cerita anak? Mengapa saya yang notabene adalah sosok dewasa serta termasuk si rakus bacaan sejak kecil, masih sangat berkerut kening saat membacanya, hanya demi mengetahui โ€˜Sebenarnya buku ini bercerita tentang apa, sih?โ€™

Itu belum termasuk alurnya yang luar biasa lambat, yang seakan-akan seperti hendak menyaingi โ€˜The Old Man and the Seaโ€™[11] dengan begitu banyak -jika tidak bisa dibilang nyaris semuanya- monolog yang terlalu rumit serta bikin bosan membacanya.

Apa yang salah? Benarkah sekadar kurang sederhana dalam penyajiannya? Atau โ€ฆ.

Mengenai โ€˜sederhanaโ€™ akan dibahas dalam fragmen tersendiri, sekaligus menguji pernyataan salah satu rekan yang menjadi penulis muda serta sempat didapuk sebagai Staffsus Kepresidenan yang diamini banyak penulis lain secara taklid buta:

โ€œTulisan yang bagus adalah tulisan yang selesai dibuat.โ€

Benarkah? Sila tunggu fragmen selanjutnya karena saat ini ada tanya yang jauh lebih menggelitik mengenai masihkah -cerita anak- wajib mengacu ke paradigma lama?

Seperti yang telah diketahui bersama, imajinasi yang dimiliki anak-anak sangatlah luas, mengagumkan serta kerap membuat sosok yang berusia lebih dewasa menjadi ternganga.

Berdasarkan pemahaman itu pula kemudian penulis cerita anak seakan-akan โ€˜diwajibkanโ€™ untuk mampu menciptakan dunia yang menarik serta penuh warna untuk mereka.

Tak sekadar itu, penulis cerita anak masih pula dituntut untuk mampu membuat cerita yang harus-kudu-musti sederhana namun tetap penuh makna, yang makin di-njelimeti[12] dengan penguasaan kecakapan untuk menyampaikan pesan moral tanpa kesan menggurui.

Yang menjadi permasalahan kemudian adalah adanya pergeseran tren yang terjadi sejak lama dalam dunia anak-anak itu sendiri, yang terus memasif namun entah kenapa malah menjadi kian luput serta terus dipaksakan pengabaiannya.

Apakah pengabaian terhadap pergeseran tren bacaan anak-anak tersebut lebih dikarenakan karena dirasa kurang moralistik serta memiliki psikologi yang lemah terkait dunia anak, masih butuh dicermati lebih lanjut. Tapi yang jelas, gejala itu telah ada dan realitas tersebut memang terjadi.

Gejala pergeseran tren pertama diperoleh melalui hasil survei internal salah satu penerbit yang dilakukan pada hitungan dekade silam ketika coba memetakan pangsa terbesar dari pembaca karya-karya Asma Nadia.

Hasilnya cukup mengejutkan. Karya-karya Asma Nadia yang secara penalaran umum dianggap sebagai bacaan mahasiswa atau setidaknya usia SMA, siapa sangka pembaca terbesarnya justru adalah anak SD!

Hasil survey tersebut tentu saja masih butuh dicermati. Tidak dapat disikapi secara gebyah uyah[13] termasuk potensi bias yang terjadi mengenai apakah narasumber yang dipilih memang dapat mewakili seluruh anak Indonesia atau hanya berkutat di kota-kota besar saja, misalnya.

Namun, gejala terus berlanjut. Dalam suatu ketidaksengajaan literasi, novel MdP[14] yang merupakan novel politik dan oleh karenanya dapat dianggap berat, penuh satir serta relatif rumit mengingat beberapa adegan disajikan dengan teknik penulisan yang condong menuju surealis, di tangan pembaca anak domisili Sukoharjo justru dilumat habis, dicerna dengan sangat mudahnya serta hanya dianggap sebagai novel petualangan ringan belaka.

Termasuk realitas hari ini ketika anak kelas 1 SD di wilayah Jawa Tengah yang lebih pelosok lebih menyukai untuk menyeploskan kalimat, โ€œPemandangannya realistikโ€ dalam suatu jalan-jalan sore ketimbang menggunakan โ€œPemandangannya bagusโ€ atau โ€œSuasananya indah bangetโ€ khas komentar standar anak-anak terdahulu.

Itu pun masih berlanjut dengan kalimat, โ€œBukan gitu konsepnya,โ€ dalam perdebatan sesama mereka hingga membuat yang mencuri dengar langsung membatin, โ€œHyuuh…, bocil sekarang kosakatanya gini amat.โ€

Tak heran bila karya-karya serupa Kamp 13[15] kemudian akan mengalami hal yang sama, berakhir hanya sebagai buku bacaan anak-anak, lha wong kumcer psychological thriller[16] Aku Anak yang Menyimpan Tanya pun di Banjarnegara dilabeli sebagai buku teenager. Tinggal menunggu apakah kemudian karya-karya serupa Saat Bulan Mati[17] kemudian dianggap sebagai cerita detektif dengan selera khusus, misalnya.

Secara umum, fenomena tersebut dapat dikategorikan sebagai pangsa bergulir[18]. Sesuatu yang awalnya terasa mengagetkan namun sebenarnya biasa saja karena kecenderungannya memang telah terjadi sejak lama serta nyaris di seluruh lini kehidupan.

Pergeseran tren tersebut tentu saja tak lantas membolehkan untuk menafikan karya-karya Enid Blyton, misalnya. Meski sempat memicu kontroversi serta diterjang tuduhan serius mengenai seksisme[19] dan rasisme dalam cerita anak-anak yang dibuatnya, tetap ada nilai sangat berharga yang bisa diambil, terutama mengenai โ€˜rumus saktiโ€™ yang membuat karya-karya Enid Blyton mampu menjadi salah satu buku terlaris global dengan total penjualan lebih dari 600 juta eksemplar serta diterjemahkan ke dalam 90 bahasa.

Setidaknya, ada tiga rumus sakti yang membuat karya-karya Enid Blyton begitu menampol larisnya: penggunaan bahasa yang sederhana, kalimat pendek serta deskripsi yang minimalis.

Usah memberi kultus berlebih bahwa Enid Blyton melakukan itu semua karena dirinya adalah sosok yang paling memahami dunia anak karena dari beberapa sumber yang terkuak belakangan justru menyajikan fakta yang sebaliknya.

Tak perlu pula gatukisasi bahwa berdasarkan analisis dan penelitian tertentu, Enid Blyton diduga menggunakan metode pengulangan konsep-konsep kunci melalui kata-kata yang serupa maknanya secara berurutan dan cepat dalam ruang yang ringkas hingga pembaca memasuki kondisi trans hipnosis serupa yang dilakukan para penganut pemrograman neurolinguistik.

Bukan keduanya, karena seperti yang terdapat dalam artikel Enid Blyton sendiri berjudul ‘The Golden Key’ yang dimuat pada Jurnal 40 , terdapat penjelasan bahwa dirinya sengaja menggunakan kosakata sederhana, banyak dialog serta membuat ceritanya penuh aksi dan bergerak cepat. Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah karena Enid Blyton sangat sadar bahwa dirinya bersaing dengan radio dan sinema, dan tak lama kemudian, televisi.

Dahsyat!

Waktu kemudian menjadi hakim sejati yang membuktikan bahwa landasan sederhana dan sangat nggak neko-neko itulah yang justru menjadikan Enid Blyton sebagai seorang penulis yang sangat visioner[20].

Bahkan hanya berdasarkan kekuatan ‘The Golden Key’ tersebut, berderet kelemahan yang terdapat dalam karya Enid Blyton semuanya langsung ter-couver, tetap tak menghalangi dirinya ke dalam jajaran penulis cerita anak terlaris dunia.

Apakah cerita anak yang bagus kemudian dilakukan dengan cara modifikasi karya-karya Enid Blyton secara serampangan seperti yang banyak ditemukan pada perpustakaan SD se-Indonesia era 80-90 an? Menaturalisasi Julian sebagai tokoh utama dan tertua โ€˜The Famous Five[21]โ€™ yang dirasa tak membumi serta memiliki petualangan-petualangan tak logis secara usia, menjadi tokoh anak desa super produktif yang bahkan lebih gila karena di usia yang jauh lebih cekak malah mampu melawan maling dewasa bertenaga kuat dan memiliki kemampuan pencak silat tinggi, atau menciptakan peternakan belut dari tidak tahu apa pun dan tidak punya sesuatu pun lalu berhasil secara instan dan penuh sulap, atau berkebun pepaya sekian hektar tanpa modal juga dengan pengabaian dari orang tuanya namun selalu berhasil menemukan jalan keluar dari setiap permasalahan yang bahkan orang dewasa masa kini pun lintang-pukang menjalaninya?

Apakah cerita anak yang bagus harus se-utopia itu, yang alih-alih menginspirasi malah justru menindas psikologis pembaca anak-anak sejak usia dini?

Apakah cerita anak yang bagus harus melulu menggunakan standar moralistik yang terlalu baku, tanpa peduli bahwa dunia nyata yang kelak disinggahi tak pernah bisa berbentuk moralitas yang hitam dan putih, tanpa memberi asupan nyata dalam bentuk simulasi situasi dalam cerita, bahwa moralitas terbaik yang sesungguhnya adalah berusaha untuk setidaknya menjadi merah jambu atau putih abu-abu di tengah situasi yang telah sangat hitam sangit, misalnya?

Mari cari jawabannya bersama. Tapi setidaknya, ada kerangka teori yang masih relevan serta mampu menjembatani pemahaman mengenai standar cerita anak untuk era terkini serta alasan dibalik fenomena terjadinya pergeseran tren seperrti yang telah diuraikan di atas:

Jika citraan dan atau metafora kehidupan yang dikisahkan itu berada dalam jangkauan anak, baik yang melibatkan aspek emosi, pikiran, saraf sensori maupun pengalaman moral, dan diekspresikan dalam bentuk-bentuk kebahasaan yang juga dapat dijangkau dan dipahami oleh pembaca anak-anak, buku atau teks tersebut dapat diklasifikasikan sebagai sastra anak[22].

Begitu pula hasil diskusi bersama Ni Made Purnama Sari[23] melalui livestream spesial malam tadi. Beliau menyatakan bahwa cerita anak sebaiknya lebih mengedepankan tema-tema utama seperti toleransi dan keberagaman karena dirasa lebih sesuai dengan konteks negeri ini.

Pernyataan tersebut mengingatkan pada cerita anak berjudul โ€œPantai Pink yang Istimewa[24]โ€ yang pernah dikirimkan secara pribadi oleh Livia Halim di sela penyelesaian studi magister seninya di Perancis sana. Dan sepertinya, cerita anak buatan penulis yang pernah lebih dikenal sebagai penulis surealis tersebut dapat mewakili cerita anak bertema toleransi dan keberagaman, yang sangat bagus dan menginspirasi secara pesan moral dan premisnya meski memang secara asupan data terasa agak terlalu dijejalkan.

Selesai sudah. Tinggal satu tanya tersisa. Mengenai, apakah karya penutup dalam fragmen ini, bila ditilik dari semua perspektif seperti yang telah dibahas di atas, masih bisa dikategorikan sebagai cerita anak?

***

Dongeng Negeri Bayangan

Syahdan di Negeri Bayangan, pernah tercetus kisah sepasang ulat betina. Nasib mempertemukan mereka melalui naungan kekecewaan, dan menasbihkan keduanya ke dalam ikatan persaudaraan tanpa pertalian darah.

โ€œAku ingin tetap aku, cuma aku,โ€ ucap ulat yang lebih kecil, sebal dengan segala macam ide tentang pernikahan yang bebal. Di matanya, pernikahan memang tak pernah terlihat sakral. Seringkali tersaji dengan amat brutal. Ada istri yang ditendang hingga jengkang. Ada suami yang lari pagi tanpa pernah lagi ingat kembali -Kabarnya, ia kini bercengkerama bersama makhluk jejadian yang menyamar sebagai pelayan- meninggalkan begitu banyak masalah, juga begitu banyak luka trauma yang masih saja gemar menganga.

Tapi akhirnya si ulat kecil menikah juga, dengan seorang tukang sihir yang mengulum susuk di ujung lidah serta beberapa berkas mantera di setiap posting fesbuknya.

Dan anehnya, mereka tetap bisa berbahagia. Tanpa syarat, juga tanpa ketentuan apapun. Barangkali bahagia memang melulu cuma tentang rasa.

โ€œBagaimana dengan ending si ulat yang lebih besar?โ€ Kali ini istriku yang bertanya, sosok mungil yang barangkali di masa sebelum ini pernah menyaru sebagai ulat atau lalat.

โ€œDia telah pergiโ€ฆ,โ€ jawabku singkat, padat, tanpa pernah bisa menyembunyikan gundah yang entah mengapa terasa begitu pepat.

โ€œKehidupan telah mengubahnya menjadi seekor sritiโ€ ucapku lagi, sambil diam-diam mengenang kepak sayap rapuhnya yang menukik kesana-kemari. Terbang, melintasi kelindan hati, membawa serta aroma senja yang terselip waktu hingga ke pusat kedalaman jiwa, juga seucap senyap yang kerap menggertap hingga kata memaknainya sebagai liukan kesunyian.

โ€œTapi aku lupa meraba garis tangannya,โ€ sesalku, memaksa kami lebih banyak terdiam setelahnya.

โ€œApakah dia juga bahagiaโ€ฆ?โ€ kejar istriku.

โ€œDari pengakuannya, dia bahagia. Juga kesehariannya yang banyak menampilkan ituโ€ฆ,โ€ raguku.

Tapi benarkah dia bahagia? Sepertinya hanya Tuhan yang paling tahu tentang hal itu sebab seperti kebanyakan orang, kami juga tak pernah benar-benar mengerti apa itu bahagia. Terutama ketika tawa dan tangis tak lagi bisa menjadi pembedanya. Seperti juga cinta, yang entah mengapa seperti tak hendak usai bersalin rupa antara rindu dan bencinya. Ahโ€ฆ.

Lendir-Lendir Sastra di Selangkangan Fiksi, fragmen ke-19, Purbalingga, 02 Agustus 2025.


[1] Hiatus mencerminkan jeda waktu yang telah direncanakan dengan durasi tertentu, sementara vakum lebih merujuk pada jeda yang tidak terencana serta umumnya tidak memiliki waktu yang ditentukan.

[2] https://kompako.web.id/2025/07/16/kisah-persahabatan-moci-dan-koji.

[3] Menurut Brain Balance Center, rata-rata rentang konsentrasi anak berdasarkan usia anak dapat dirumuskan dengan pendekatan sederhana seperti mengalikan 2-3 menit dengan usia anak itu sendiri. Namun pendapat tersebut tak bersifat kaku karena tetap ada faktor-faktor lain yang juga dapat memengaruhi kemampuan anak untuk berkonsentrasi seperti minat, motivasi juga faktor lingkungan tempat anak tersebut tumbuh dan berkembang.

[4] https://x.com/handokotjung/status/1037921667001942017?lang=en.

[5] https://e-librairie.leclerc/product/9781393052609_9781393052609_10020/mandat-dari-pakde-satir-getir-untuk-sebuah-negeri

[6] Pedoman pokok atau aturan dasar yang menjadi acuan.

[7] KBBI: Sah, benar, sempurna, tiada cela (dusta, palsu), sesuai dengan hukum (peraturan).

[8] Ahli terapis fisik dan pelopor di bidang perkembangan fungsi otak anak yang menghabiskan 30 tahun meneliti segala yang berhubungan dengan anak-anak. Selain dikenal sebagai sebagai pencetus rumusan metode “Doman-Delacato” -metode treatment yang digunakan bagi anak anak yang mengalami gangguan syaraf (neurologis)- Doman juga mendirikan sekaligus menjabat sebagai Direktur Institute For Achievement of Human Potential yang khusus menangani upaya pencapaian potensi yang dimiliki setiap diri manusia pada tahun 1955โ€“1981. Beberapa penelitian Doman yang sudah di publikasikan antara lain Nose Is Not Toes, What to Do About Your Brain Injured Child, How to Multiply Your baby’s Intelligence serta yang paling terkenal adalah How To Teach Your Baby To Read yang terjual lebih dari 7 juta copy serta tersedia dalam 22 bahasa.

[9] Ulama, filsuf dan sastrawan Indonesia yang memiliki nama asli H. Abdul Malik Karim Amrullah. Novel-novel beliau menuai kesuksesan komersial serta berkali-kali cetak ulang. Pada akhir 1930-an, buku-buku beliau telah dapat ditemukan di perpustakaan sekolah umum serta menjadi rujukan pembacaan bagi seluruh pelajar Indonesia. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua MUI pertama, dan aktif dalam Muhammadiyah hingga akhir hayatnya. Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar doktor kehormatan, sementara Universitas Moestopo mengukuhkan Hamka sebagai guru besar. Beliau masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia dan namanya diabadikan sebagai nama universitas milik Muhammadiyah. Novel beliau yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah diangkat ke layar lebar sebanyak 2 kali, yaitu pada tahun 1981 dan 2011. Pada 2013, giliran novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang difilmkan untuk pertama kalinya. Kisah hidupnya juga pernah difilmkan dengan judul Buya Hamka (2023), dengan karakter dirinya yang diperankan oleh Vino G. Bastian.

[10] Dunia Aneh Si Ben, Pimedia: 2025.

[11] Ditulis oleh Ernest Hemingway, pada tahun 1951 di Cayo Blanco-Kuba dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1952. Buku The Old Man and the Sea merupakan karya fiksi besar terakhir serta paling terkenal yang ditulis oleh Ernest Hemingway.

[12] (B. Jawa): Rumit, berbelit-belit atau sulit dipahami.

[13] (KBBI): Menyamaratakan. Menganggap semua hal sama tanpa membedakan.

[14] https://e-librairie.leclerc/product/9781393052609_9781393052609_10020/mandat-dari-pakde-satir-getir-untuk-sebuah-negeri

[15] Informasi mengenai buku Kamp 13 agak terbatas dalam penelusuran digital, namun salah satu resensinya dapat dilihat pada laman berikut:

https://www.kompasiana.com/sarinachannel2178/63eecb7fc57afb042f3b2263/jika-dunia-tanpa-nama-review-novel-karya-ikhwanul-halim

[16] Genre yang menggabungkan elemen-elemen thriller dan fiksi psikologis, menekankan pada kondisi mental dan emosional karakter serta seringkali menampilkan narasi kompleks dan penuh ketegangan yang bertujuan untuk membuat pembaca merasa cemas, takut dan terpukau. 

[17] ASKARA AKSARA Publisher: 2020. Bergenre dark romance, yang meskipun dianggap sebagai genre kontroversial namun ditemukan adanya penawaran eksplorasi yang lebih dalam tentang kompleksitas emosi manusia dan hubungan, serta memberikan katarsis emosional melalui pengalaman fiksi.

[18] Pernah diulas dalam fragmen Tumbal Janin: Fenomena Final Girl, Ending yang Membuat Terpana dan Trik Cerdik Menulis Laris Berkelanjutan. Bergulir dari yang awalnya meledak ketika diposting sebagai tulisan bersambung selama masa proses kreatifnya, dengan pembaca utama bertipe serius, peminat teks politik serta rajin saling umpat dan bertukar anjing ke rival politik, misalnya. Setelah diterbitkan justru berubah serta mengalami pergeseran pangsa pembaca jauh melampaui imajinasi penulisnya sendiri, yaitu menjadi dikonsumsi dengan sangat bersemangat oleh kalangan yang lebih segar secara usia. Teenager.

[19] Diskriminasi, prasangka, atau bias yang didasarkan pada jenis kelamin atau gender seseorang yang biasanya ditujukan kepada perempuan. Beberapa faktor yang berkontribusi dan menjadi penyebabnya adalah mitos dan stereotip gender, norma-norma budaya patriarki, serta prasangka dan keyakinan yang salah tentang perbedaan alami antara jenis kelamin. Budaya patriarki sendiri diketahui muncul seiring dengan perkembangan peradaban awal di Mesopotamia, yaitu sekitar 3000-4000 SM, yang terus menguat hingga masa kepenulisan Enid Blyton.

[20] Pola pikir yang melibatkan imajinasi kemungkinan masa depan, menetapkan tujuan yang memungkinkan untuk mengantisipasi tren masa depan serta mengembangkan ide-ide yang bersifat inovatif. Seseorang dengan pemikiran visioner tidak hanya bereaksi terhadap perubahan, melainkan secara proaktif membentuk masa depan dengan mengidentifikasi peluang dan menetapkan tujuan yang berani.

[21] Di Indonesia diterjemahkan menjadi Seri Lima Sekawan.

[22] Dikemukakan oleh Saxby (Nurgiyantoro, 2005).

[23] Kurator program Emerging Writers UWRF 2025.

[24] Pernah dimuat di Nusantara Bertutur, yang merupakan salah satu rubrik dari Kompas Klasika.

Penulis

  • Ahmad Maulana S

    Ahmad Maulana S, lahir di Jakarta.

    Sejak kecil ia terbiasa bertualang. Lulus SMU langsung singgah di sebuah madrasah/sekolah sebagai guru, dilanjutkan dengan menjadi pekerja bengkel, pramuniaga, kuli bangunan, pedagang ayam setan, tukang pasang tenda, pengelola pabrik bulu mata palsu, pemilik lapak barang rongsok, penulis buku puisi dan buku serial pendidikan anak, ghost writer, publisher novel-novel motivasi serta pernah menyelenggarakan kelas fiksi berbayar berbasis online lintas negara.

5 Komentar

  • Sudah lama tidak membaca dzikir karya, agak ngoyo bacanya, namun memang banyak sekali ilmu di dalamnya. Mungkin karena saya sekarang udah terlalu banyak tulisan2 pendek, jadi baca tulisan panjang seperti ini harus benar-benar serius ๐Ÿ˜Š. Selamat berkarya lagi, Bung.

    Salam dari si ulat kecil ๐Ÿ˜‡
    Na

  • Lama nian saya tidak membaca dzikir karya Bung Maulana, padat dan bergizi pastinya. Mungkin karena akhir-akhir ini saya sering baca tulisan pendek yang lewat di beranda medsos saya, baca tulisan panjang begini jadi rada ngoyo. Tapi tidak apa selama itu bermanfaat bagi kita. Selamat berkarya lagi, Bung.

    Salam dari si ulat kecil ๐Ÿ˜‡
    Na

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image