Tiga tahun setelah perayaan kemenangan, pada tanggal 3 Februari 1451, Sultan Murad meninggal dunia karena sakit, menyusul ibundanya Şehzade Mehmed, Hüma Hatun yang meninggal satu bulan yang lalu. Meski Şehzade Mehmed tidak terlalu akrab dengan ayahnya, namun tetap saja, kepergian Sultan Murad II membuat Şehzade Mehmed bersedih. Ia sedikit termenung di depan jenazah ayahnya.
“Wahai ayahku yang perkasa, Sultan Murad Han. Aku begitu kehilanganmu, meski aku tak seperti saudaraku Alaeddin yang begitu kau sayangi. Meski aku bukan seperti anak kandungmu, namun tetap saja aku adalah anakmu yang dalam hatimu menyimpan harapan besar.” Suara hati Şehzade Mehmed dengan lirih.
“Wahai ayahku, Sultan Murad Tsani. Aku akan mewujudkan cita-citamu, yaitu meraih Kizilelma dengan menaklukan Konstantinopel. Kau akan melihat di pembaringanmu, suatu saat derap langkah kudaku, dan kuda pasukanku, melangkah dengan tegap mengibarkan panji Islam di jantung kota itu.” Lanjut Şehzade Mehmed, penuh tekad sembari meneteskan airmata.
“Çandarlı Halil Pasha, mari kita makamkan jenazah ayahku.” Kata Şehzade Mehmed kepada Wazir Istana.
“Baiklah, Şehzade.” Jawab Çandarlı Halil Pasha.
Lantas, jenazah Sultan Murad II, disalatkan, dan dimakamkan di Bursa. Setelah dari Bursa, Şehzade Mehmed bertolak ke Manisa untuk bertemu dengan istrinya, Gülbahar Hatun, dan putranya Bayezid.
Berita kewafatan Sultan Murad II ini pun terdengar ke Konstantinopel, dimana Orhan Çelebi berlindung. Maka, Orhan Çelebi memanggil Sahibi.
“Inilah kesempatanku untuk naik tahta menjadi Sultan Utsmani. Kita jangan menyia-nyiakan kesempatan ini, Sahibi.” Kata Orhan Çelebi.
“Betul, Tuanku. Aku akan mendukungmu, karena engkau adalah sultanku.” Jawab Sahibi.
“Bagus, Sahibi, bagus. Maka dari itu, aku sudah menulis surat kepada Çandarlı Halil Pasha, dan kau berikanlah surat ini kepada Atmaca, untuk disampaikan kepada Çandarlı Halil Pasha.” Lanjut Orhan Çelebi kepada ajudannya, Sahibi.
“Baik, Tuanku.” Jawab Sahibi.
Segera, ia bergegas menunggang kuda dengan kencang dari Konstantinopel menuju rumah Çandarlı Halil Pasha di Edirne untuk bertemu Atmaca. Sesampainya di kediaman Çandarlı Halil Pasha, Sahibi bertemu dengan Atmaca, dan memberikan surat yang ditulis Orhan Çelebi untuk Çandarlı.
“Aku diperintahkan oleh Sultan Orhan, untuk menyampaikan surat ini kepada Çandarlı Halil Pasha.” Kata Sahibi kepada Atmaca sembari memberikan surat.
“Baiklah, Sahibi. Aku akan menyampaikan surat ini kepada Çandarlı Halil Pasha, selepas dari istana.” Jawab Atmaca.
Çandarlı Halil Pasha masih berada di istana, bersama Zağanos Pasha, Şahabettin Pasha, dan para pasha lainnya untuk melakukan persiapan upacara pengangkatan sultan yang baru. Ini merupakan tradisi dari Kesultanan Turki Utsmani, yaitu dengan tidak menunda tahta dibiarkan kosong dalam waktu lama, apabila tahta ditinggalkan sultan—baik meninggal dunia, maupun dikudeta.
Setelah semua persiapan selesai—sebagai wazir agung, Çandarlı Halil Pasha menuju ruang kerjanya untuk membuat dokumen pengangkatan sultan yang baru. Namun, pada saat di koridor istana, Çandarlı Halil Pasha dicegat oleh Atmaca.
“Çandarlı Pasha, tunggu sebentar.”
“Atmaca! Sedang apa kau disini?” Tanya Çandarlı Halil Pasha.
“Aku dititipkan surat dari Orhan Çelebi untukmu, Pasha.” Jawab Atmaca sambil memberikan surat.
Çandarlı Halil Pasha pun membuka suratnya, dan membacanya. Isi surat tersebut:
“Çandarlı Halil Pasha, dengan posisimu sebagai wazir agung, aku meminta kepadamu untuk membantuku agar naik tahta di kursi Kesultanan Utsmani. Jika engkau membantuku, maka aku akan mempertahankan posisimu sebagai wazir agung sebagaimana mendiang Sultan Murad memperlakukanmu. Ingatlah Çandarlı Halil Pasha, jika Mehmed menjadi sultan, kita tidak akan pernah tahu nasibmu akan seperti apa?”
Setelah membaca surat dari Orhan Çelebi, Çandarlı Halil Pasha tertegun, dan berpikir sejenak. Tak lama, ia mengajak Atmaca ke ruang kerjanya untuk menulis surat balasan. Namun, kedatangan Atmaca diketahui oleh Mara Hatun yang mendengar dari dinding transparan yang terbuat dari ukiran kayu.
“Atmaca, surat yang sudah kita tulis, segera kau berikan pada Orhan Çelebi.” Kata Çandarlı Halil Pasha di ruang kerjanya.
“Baik, pasha.” Jawab Atmaca.
“Ayo, segera kau berangkat. Tapi ingat pastikan tak ada yang mengikutimu. Ayo!”
“Baik, sesuai perintahmu, pasha.”
Atmaca pun bergegas menuju Kota Konstantinopel dengan menggunakan jubah hitam. Ia memacu kuda nya dengan cepat, sembari memperhatikan jalanan untuk memastikan dirinya tak diikuti oleh siapa pun.
Sesampainya di Kota Konstantinopel, Atmaca menemui Sahibi.
“Segera kau berikan surat ini kepada Orhan Çelebi. Çandarlı Halil Pasha menitipkan salam kepadanya, bahwa waktunya sangat terbatas.”
“Baiklah, Atmaca. Terima kasih, dan hati-hati jalan kembalimu.” Jawab Sahibi.
Atmaca kembali ke Edirne, sementara Sahibi bergegas untuk menemui Orhan Çelebi.









