Melewati Kota Muntilan, tiba-tiba teringat satu slogan yang mengatakan: Kalau berkunjung ke kota Muntilan, jangan lupa untuk sempatkan waktu mampir di Monumen Bambu Runcing Muntilan. Kebetulan hari sudah sore, gadis cantik di sebelahku sejak tadi sudah mulai gaduh, menanyakan makanan yang banyak di jual sepanjang jalan. Akhirnya ketika memasuki Jalan Tentara Pelajar Dusun Tejowarno, Desa Taman Agung, Kecamatan Muntilan, aku menghentikan mobil untuk sekadar beristirahat sejenak memanjakan perut dengan jajan di warung-warung tenda di sekitaran lokasi.
Monumen Bambu Runcing adalah bangunan khas yang terdapat di kota Muntilan. Di bangun tahun 70-an. Saat ini taman hijau yang punya nilai sejarah itu menjadi arena taman bermain bagi warga Muntilan dan sekitarnya. Bagi sebagian orang, termasuk warga sekitar, Bambu Runcing punya arti sendiri.
Menurut cerita monumen ini dibangun untuk mengenang para pahlawan yang berjuang melawan penjajahan dengan hanya bersenjatakan bambu runcing. Monumen berbentuk menyerupai bambu runcing ini merupakan monumen selamat datang bagi orang yang akan memasuki muntilan dari arah magelang atau semarang.
Turun dari mobil, Elaine berlari mendatangi penjual makanan di sekitar taman. Ada penjual cilok, batagor, gorengan, dan jajanan khas Muntilan lainnya. Suasana di area monumen ini memang sejuk karena didukung oleh pepohonan yang rimbun. Sambil menunggu Elaine berwisata kuliner, aku duduk di bangku taman menyaksikan anak-anak yang sedang bermain ayunan, jungkat-jungkit, becak mini dan patung-patung binatang yang berada di sisi timur monumen. Ada juga beberapa patung pahlawan memakai senjata bambu runcing di sekitar monumen.
“Sudah puas jajannya?” tanyaku saat Elaine muncul dengan menenteng beberapa tas kresek penuh makanan.
“Ne me regarde pas comme ça, Maman. Je ne peux vraiment pas résister à ces délicieux plats. Ils sont si tentants,” rengeknya sambil menaik turunkan kedua alisnya.
“Habiskan dulu makananmu, setelah ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat,” tukasku.
“Ini untuk nanti di rumah, aku mau bawa pulang,” jawabnya sambil mengangkat kantong kresek ke atas. Hidungnya mengendus dengan cuping bergerak-gerak lucu.
“Baiklah. Sekarang kita menuju ke sentra kerajinan batu Prumpung,” ajakku. Hanya beberapa menit berjalan ke arah selatan monumen kami tiba di tempat banyak dibuat patung-patung dari batu. Tempat ini dapat diakses dari Magelang ke muntilan menuju monumen bambu runcing, atau bisa juga dari Yogjakarta.
“Wow, ini indah sekali,” celetuk Elaine takjub.
“Tempat ini adalah sentra kerajinan batu. Banyak seniman-seniman pahat membuka showroom di daerah ini. Harganya juga bervariasi dan tentunya masih terjangkau. Mungkin Kamu ingin membeli sesuatu untuk ayahmu?”
Elaine hanya mengedikkan bahu, sibuk mengamati setiap detail patung di ruang pajang. Beberapa kali mengambil gambar dengan kameranya.
“Itu hasil karya saya, Mbak,” ujar seorang lelaki lanjut usia mendekat. Dengan santun beliau berkata, “Mbok, ya dibeli, Mbak. Ini saya yang bikin termasuk Monumen Bambu Runcing juga saya yang bikin.”
Dengan takjub aku memuji, “Wah luar biasa! Jadi Njenengan yang bikin bangunan yang sudah puluhan tahun menjadi ikon Kota Muntilan? Monumen yang berdiri kokoh menantang langit Muntilan?”
“Alhamdulillah, Mbak,” jawabnya tetap santun.
“Mimpi apa saya semalam bertemu dengan sang pembuatnya. Ini luar biasa!” ujarku girang.
“Jadi Bapak yang membuat monumen Bambu Runcing di taman itu?” ulang Elaine meyakinkan.
“Benar. Saya terinspirasi sejarah para pendahulu kita, para pejuang kita dengan senjata seadanya, bambu runcing, yang digunakan sebagai alat perjuangan, berangkat dari ketiadaan, kekurangan peralatan perang yang tersedia, sementara perjuangan harus dilanjutkan terutama setelah Indonesia merdeka,” ujar laki-laki sepuh itu menjelaskan
“Setelah proklamasi musuh Indonesia sangat banyak dan memiliki kekuatan besar. Jepang yang masih bercokol, Belanda yang ingin kembali menguasai, dan Sekutu yang juga ingin menggantikan Jepang dan Belanda. Praktis, keperluan persenjataan dibutuhkan. Bambu runcing dan peralatan tradisional lain menjadi alternatif, murah dan bersifat massal, ditambah doa, menjadi faktor utama kekuatan alat-alat tradisional tersebut,” lanjutnya.
Aku membenarkan, banyak cara untuk mengenang suatu kejadian bersejarah. Bisa lewat buku, patung, atau membangun monumen. Yang terakhir ini cukup banyak ditemui di Indonesia.
Seperti Doelkamid Djayaprana ini, salah satu maestro seniman patung dari Kabupaten Magelang. Sebelumnya aku sudah pernah mendengar nama pemahat batu yang satu ini. Banyak karya-karyanya yang fenomenal, salah satunya adalah Monumen Bambu Runcing Muntilan. Namun, siapa sangka bisa bertemu langsung dengan Sang Maestro.
Orangnya berambut gondrong, santun, cara berbicaranya sangat sopan meski dengan orang yang jauh lebih muda. Namun, jika sudah bicara tentang patung, beliau sangat menampakkan kepiawaiannya, juga dengan runtut meladeni pertanyaan-pertanyaan para pengagumnya.
Menurut cerita beliau, darah seni pahat berasal dari ayahnya yang bernama Salim Djoyopawiro. Doelkamid berkarya membuat patung sejak kecil hingga sekarang, sementara keluarganya yang lain pun membuat kerajinan berupa alat-alat rumah tangga seperti cowek, kijing, pipisan, lesung dan sejenisnya.
Elaine tampak begitu mengagumi sosok Doelkamid, banyak sekali pertanyaan yang diajukan. Terlihat sekali semangat sang maestro patung ini patut diacungi jempol, karena dengan kepiawaiannya telah menggugah pemahat patung lainya, tak heran jika di daerah Taman Agung, Prumpung, Muntilan, Tejowarno banyak bertebaran kerajinan dari batu andesit. Batu yang didatangkan langsung dari Gunung Merapi.
“Warga Prumpung dan sekitarnya sini banyak menekuni memahat patung yang merupakan warisan nenek moyang,” ujar Doelkamid menjelaskan, Elaine mengangguk antusias, “Menurut cerita leluhur, konon dusun Prumpung ini adalah tempat peristirahatan para pekerja pengusung batu dari lereng Merapi ketempat pembuatan Candi di Borobudur.”
“Pak Doelkamid ini juga membuat miniatur Candi Borobudur yang dipajang di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Dari tangannya terlahir tujuh miniatur candi, diantaranya candi Prambanan, Gedongsongo, Candi Sewu Penataran dan Pring Apus.” Aku menambahkan penjelasan.
“Wah, pasti Bapak banyak dapat penghargaan?” tanya Elaine.
“Ada sih, Mbak. Salah satunya dari Letjend. Gatot Subroto, dan penghargaan Byakana Bhakti Upapradana dari Presiden Suharto.”
Elaine menoleh padaku mencari penjelasan, sebagai warga negara asing tentunya dia tidak banyak mengenal nama-nama tokoh Indonesia. Aku memberi isyarat agar tidak menanyakan dulu, pasti akan melanjutkan waktu panjang untuk mengenalkan sejarah dari awal.
Gadis itu akhirnya berkeliling mengamati photo tamu tamu-tamu penting yang pernah bertandang ke sanggar milik sang maestro. Ada photo Bupati, Gubernur, Raja Klungkung Bali, Jendral Gatot Subroto, Presiden Soeharto beserta istri, Ali Sadikin, hingga Perdana Menteri India saat itu, Indira Gandhi. Deretan photo lainnya dan berbagai penghargaan juga terpampang di sanggarnya.
“Saya merasa beruntung sekali ketika saya didawuhi Gubernur Jawa Tengah waktu itu, Bapak Supardjo Rustam, dan juga Bupati Magelang Ahmad untuk membangun Monumen Bambu Runcing. Kami juga dibantu seniman-seniman patung untuk melaksanakan, menata, dan membuat Patung Bambu Runcing, dan sekali lagi saya merasa sangat beruntung karena lokasi monumen dipilih tepat di depan rumah saya di Prumpung, sehingga waktu pengerjaannya tidak ribet,” kisahnya.
“Sebenarnya ada tiga titik yang menjadi dasar pembuatan Monumen Bambu Runcing, yaitu Monumen Bambu Runcing yang menggunakan relief perjuangan pada waktu itu, dengan menggunakan Bendera Merah Putih, bambu runcing, menggunakan senjata, patung yang sedang membawa bakul nasi, dan yang terakhir alat perawatan. Semuanya menggambarkan perjuangan pada waktu itu,” lanjutnya.
“Kalau tidak salah, saya pernah dengar awalnya ada 12 patung pahlawan yang dituangkan di monumen tersebut, ya?” selaku memotong.
“Benar, bahkan ada juga yang rencananya di sekitar perpustakaan, tapi belum terlaksana. Waktu itu disepakati bahwa 50% dari Anggaran Pemerintah dan 50% swadaya masyarakat.”
“Berapa biaya swadaya yang dikeluarkan, Pak?” tanyaku ingin tahu.
“Wah, nggak tahu, Mbak. Wong waktu itu gotong royong orang banyak, jadi ya nggak ngitung persisnya,” kilahnya.
Aku hanya mengangguk, berapa pun biaya yang dikeluarkan, kecintaannya, dan ketulusannya dalam mengenang para pahlawan lewat seni patung patut diacungi jempol. Kami akhirnya pamit setelah menyelipkan beberapa lembaran merah sebagai pengganti miniatur Monumen Bambu Runcing yang dihadiahkan pada Elaine.
***
Note :
Ne me regarde pas comme ça: Jangan memandangku seperti itu.
Je ne peux vraiment pas résister à ces délicieux plats: Aku benar-benar tidak tahan dengan makanan-makanan lezat ini.
Ils sont si tentants: Begitu menggoda.










