Beranda / Genre / Fiksi Sejarah / 7. Poseidon Kembali ke Pulau Rhodes

7. Poseidon Kembali ke Pulau Rhodes

Khairuddin Barbarossa 1600x900
1
This entry is part 8 of 17 in the series Khairuddin Barbarossa

Dari kejauhan, Antuan atau yang biasa disebut Poseidon melihat asap dari salah satu tempat di Pulau Rhodes. Ia begitu terkejut, dan bertanya-tanya “ada apa?” Dengan perasaan gelisah, Antuan memerintahkan nahkoda untuk sedikit mempercepat laju perahunya dengan membentangkan satu layar yang paling belakang.

Pandangannya fokus tertuju pada pulau tersebut—Antuan memikirkan adiknya, Enrico. Ia begitu khawatir, terlihat dari ekspresinya penuh ketakutan, sekaligus marah.

“Apakah pulau kebanggaanku diserang oleh musuh?” Tanya Antuan dalam hati.

Sesampainya di Pulau Rhodes, Antuan bergegas menuju titik asap. Pada saat tiba di asal asap, Antuan terkejut bukan main.

“Ini adalah gua yang sudah lama tidak terpakai. Siapa yang sudah membakar gua ini?” Tanya Antuan dalam hati lagi.

Tak lama, Antuan memerintahkan beberapa pasukan untuk memeriksa dengan menyisir seluruh sekeliling gua, hingga ke puing-puingnya. Maka, pasukan pun memeriksa seluruh area gua.

Beberapa saat setelah itu, tak ada penemuan berarti dari pencarian tersebut, kecuali hanya pecahan dari tong bubuk hitam, dan anak panah yang tertancap di pecahan tong yang lain. Lantas, Antuan pun memeriksa pecahan tong, dan anak panah tersebut.

Ketika memeriksa dua barang temuan, Antuan pun dibuat terkejut untuk kedua kalinya. Ia melihat lambang St. Jon of Jerusalem di anak panah tersebut. Antuan pun segera memikirkan Enrico.

“Apa yang sudah diperbuat oleh Enrico?” Kata Antuan penuh tanya.

Lalu, ia pun bergegas menuju kastil tempat ia, dan Enrico berdiam. Di tengah jalan, Antuan menemukan mayat-mayat bergelimpangan, dan itu membuatnya terkejut untuk ketiga kalinya. Ia melihat mayat-mayat Pasukan Knight of Rhodes, dan beberapa pasukan orang Turki.

“Kita diserang oleh orang Turki. Kau periksa mereka, dari mana mereka berasal.” Kata Antuan kepada Komandan Marco.

Komandan Marco pun memeriksa mayat-mayat pasukan Turki. Ketika memeriksa, sang komandan menemukan kalung berbentuk jangkar pada leher mereka. Lalu, memberikan kalung itu dari salah satu mayat kepada Antuan.

“Sial! Mereka adalah pasukannya Piri si tukang peta.” Kata Antuan ketika menerima kalung tersebut.

“Ah! Giovanni. Mari kita tanyakan kepada Giovanni kemana Enrico?” Lanjut Antuan kepada Komandan Marco.

***

Sehari sebelumnya, Piri Reis keluar dari gua persembunyian dengan maksud untuk mencari udara segar, dan berjalan-jalan di sekitar area gua. Sementara di dalam gua, Hizir Reis sedang membuat obat ramuan—ia mendapatkan ilmu pengobatan dari Darwis Effendi, dan Barbarossa bersaudara bersama bersama para leventnya mengobati para tawanan. Selain itu, Oruç Reis memerintahkan Gülletopuk untuk menulis surat kepada Isabel agar mengirim armada bantuan.

Di luar gua persembunyian, Piri Reis berjalan-jalan ke sekitar gua. Hingga tanpa sengaja, ia berada di area tempat dimana sebelumnya Giovanni, dan Radko bersembunyi. Pada saat itulah, Piri Reis yang memiliki keahlian dalam membuat peta, melihat ada jejak kaki. Ia merasa heran, sebab tak ada satu pun dari pasukan Barbarossa bersaudara, dan pasukannya yang melewati jalur itu setelah pertempuran selesai. Lalu, ia pun segera mengikuti arah jejak kaki tersebut. Pada pertengahan, Piri Reis menyadari bahwa arah jejak kaki tersebut menuju Kastil Archangelos. Itu tandanya, Piri Reis menduga ada mata-mata yang mengintai.

Tanpa berpikir panjang, Piri Reis segera menuju gua persembunyian untuk memberitahu kepada Oruç Reis.

“Oruç Reis. Kita kemungkinan dalam bahaya.” Kata Piri Reis.

“Dalam bahaya? Apa maksudmu, Piri Reis?” Tanya Oruç Reis.

“Ketika aku keluar, aku menemukan jejak yang mengarah ke Kastil Archangelos. Itu adalah salah satu kastil milik Knight of Rhodes.” Jawab Piri Reis.

“Itu tandanya, kita tak punya waktu banyak untuk tinggal disini, Reis.” Lanjut Piri.

“Aku sudah memerintahkan kepada Gülletopuk untuk menulis surat, dan mengirimkannya kepada Isabel.” Kata Oruç Reis.

“Jika Gülletopuk pergi ke Alexandria, sudah pasti akan memakan waktu lama, dan kita tak punya waktu sebanyak itu.” Jawab Piri Reis.

Suasana di dalam gua pun menjadi genting. Piri Reis, dan Barbarossa bersaudara memperkirakan akan ada banyak Pasukan Knight of Rhodes yang akan menyerang ke dalam gua. Padahal hanya Giovanni, dan Radko yang sudah mengintai, dan melepaskan tembakan panah api ke tong yang berisi bubuk hitam pada malam harinya.

Akan tetapi, keesokan harinya, pada saat Antuan menyisir gua tersebut, ia tidak melihat jejak Barbarossa bersaudara, dan seluruh yang bersembunyi disana. Hanya ada puing-puing gua, dan kepulan asap. Apakah mereka terlempar ke tengah samudra karena ledakan bubuk hitam yang dahsyat?

Khairuddin Barbarossa

. Piri Reis Muncul di Pulau Rhodes . Evakuasi Tawanan

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *