Aku berusaha menghindari kesalahan-kesalahan ini.
1. Pendahuluan yang berlebihan. Kebanyakan pembaca ingin langsung ke inti permasalahan. Jadi, seperti yang aku lakukan di sini, aku mencoba membatasi pendahuluan menjadi satu kalimat, paling banyak dua.
2. Kurang mempertimbangkan pembaca. Aku membayangkan target pembacaku. Apa yang akan mereka anggap bermanfaat atau menarik yang belum mereka ketahui? Seberapa formal seharusnya aku—
Biasanya, tidak terlalu formal.
3. Menceritakan terlalu banyak. Lebih sedikit biasanya lebih baik. Waktu menulis, aku memikirkan apa bisa lebih ringkas. Apa yang perlu pembaca tahu? Ingin tahu? Dengan penjelasan yang panjang? Apakah terlalu detail, misalnya, menggambarkan situasi yang tidak umum? Jangan bertele-tele untuk meningkatkan kesan serius pada karyamu. Tulis setiap ide penting dengan ringkas dan tidak lebih.
4. Menulis untuk membuat orang terkesan. Tujuanku adalah agar sebagian besar pembaca tidak perlu membaca ulang setiap kalimat. Aku menjaga kalimat-kalimatku tetap pendek. Terkadang, aku akan menggunakan kata yang kurang umum kalau memang jauh lebih akurat, tetapi sering kali mengorbankan sedikit nuansa agar sebagian besar pembacaku memahami kata tersebut, dan tetap tidak menganggapku sok pintar.
5. Bertele-tele. Setiap kata atau frasa yang tidak penting justru melemahkan. Ya, mungkin ada tambahan, tetapi seringkali berisiko terlalu besar membuat pembaca bosan.
6. Kurang jelas, logis, dan ringkas. Hal ini penting untuk dihindari. Jika logika yang ringkas tidak mudah dipahami, cobalah berbicara ke perekam suara ponselmu, bayangkan kamu sedang menjelaskan kepada siswa kelas enam.
Dalam artikel ini, sudahkah aku mempraktikkan apa yang aku ajarkan?
Jawa Barat, 23 September 2025











