Wahai yang merasa dirinya juga manusia, masih manusia
Dikaruniakan tubuh, nyawa, otak, hati, hingga panca indra,
Merasa diri pintar berakal budi, para makhluk mulia
Apakah hanya di tanah sendiri, sesama insan disebut manusia?
Apakah masih kurang sejarah keras mendidik,
Apakah nurani tak terbetik, mata tak juga tercelik?
Apakah tak sadar, dalam amarah tanganmu nyalakan api, tanpa sadar kemahmu sendiri terbakar, tercabik-cabik?
Apakah panca indramu turut bergemar nikmati derita, dengar jerit tangis akhir kehidupan sesama manusia?
Apakah tiada lagi sisa-sisa peka sebuah rasa?
Bumi ini bukan milik satu atau sekelompok insan belaka,
Kita berbagi cakrawala hingga udara nan sama,
Setiap jengkal tanah saling terhubung, lautan memisahkan
Kita manusia, mereka juga manusia
Bagaimanapun asal, rupa, hati, pikiran, hingga keyakinan berbeda,
Sama-sama dipinjamkan nyawa, punya karsa, punya karya, punya rasa, punya asa!
Kita manusia, mereka juga manusia
Kadang bersuka, tak jarang berduka
Sama-sama berhak atas hidup damai, aman dan nyaman
Jauh lebih indah merajut kembali kasih, bersama pulih
Bara amarah, balas dendam bukan jawaban
Seberapapun dalam akar pahit tertanam berpuluh tahun
Jangan kiranya terus dipupuk tumbuh pokok-pokok racun
Semua damba senyum sesama, sapa sahabat
Jangan biarkan kasihmu dingin, kembalikanlah hangat
Obatilah luka-luka, jadilah berkat
Kita manusia, mereka juga manusia
Senjata dan emosi bukan solusi nyata
Turunkan laras-laras senapan, buka hati, buka mata!
Tangerang, 23 September 2025
#poetry4palestine #untukpalestina











