Home / Genre / Romansa / 13. Kampung Arab dan Bupati Pertama

13. Kampung Arab dan Bupati Pertama

THE HIDDEN SITE OF TUIN VAN JAVA 1600X900
1
This entry is part 14 of 28 in the series The Hidden Site of Tuin van Java

Mobil melaju pelahan, membelah larik-larik jalanan yang sedikit padat. Tanpa tujuan yang pasti hanya sekadar menikmati udara segar kota Magelang yang syahdu.

Memasuki Payaman, laju kendaraan sedikit terhambat kemacetan. Jalan Raya Secang – Magelang di depan Masjid Agung Payaman memang identik dengan macet, biasanya bis pariwisata yang datang dari pelbagai daerah memenuhi bahu jalan, mengantar jamaah yang hendak berziarah ke masjid yang dirancang KH Siradj dan Muis tersebut.

Konon masjid yang nyaris tak pernah sepi itu mampu menampung 600 jemaah dan memiliki keunikan yang tersohor karena menyediakan kamar-kamar kecil khusus lansia yang hendak mengikuti pengajian dan beribadah. Aku menghentikan mobil, dan mengisyaratkan untuk turun. Awalnya aku mengajak masuk area masjid, tapi Ran justru berjalan mendahului mengitari bangunan tembok yang mengelilingi area masjid.

“Ini tempat apa?” tanya Elaine penasaran.

“Ini masjid agung Payaman,” jawabku asal.

“Kenapa begitu ramai orang berwisata? Apakah ada nilai istimewanya?” cecar Elaine. Astaga, bahkan aku sendiri tak pernah terpikirkan bahwa masjid yang bangunannya masih kuno dan khas ini memiliki nilai istimewa. Aku hanya nyengir sambil mengedikkan bahu.

“Masjid Agung Payaman ini telah ditetapkan sebagai masjid bersejarah oleh Lembaga Takmir Masjid Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah,” jawab Ran. Elaine menautkan kedua alisnya sambil menatap Ran lekat.

“Menurut cacatan sejarah, dahulu komunitas Arab di Magelang memiliki tanah di daerah sini sebagai pemberian Pemerintah Belanda terhadap Danuningrat I dan juga Danusugondo atas jasa-jasanya selama menjadi Bupati Magelang. Mereka juga memiliki pemakaman khusus, kemudian di tanah tersebut didirikan Masjid Agung Payaman oleh kyai kharismatik yang kesohor kewaliannya, yaitu Mbah Kyai Siradj atau Romo Agung. Kita sekarang sedang menuju ke area pemakaman!”

“Jadi di dalam masjid ada makamnya?” tanya Elaine yang selalu ingin tahu

“Bukan di dalam masjid, tapi makam komunitas Arab tersebut berada di belakang masjid.”

“Apa sih kampung Arab itu? Mengapa disebut kampung Arab? Apakah hanya orang Arab yang boleh tinggal di sana?” Elaine memberondong pertanyaan.

“Kampung Arab adalah pemukiman yang didominasi oleh komunitas Arab atau keturunan Arab, yang sering kali mencerminkan budaya, tradisi, dan kebiasaan orang Arab. Bukan hanya merupakan tempat tinggal bagi komunitas Arab, tetapi juga menjadi pusat kegiatan ekonomi, sosial, dan keagamaan. Seperti daerah lain, di Magelang juga ada perkampungan yang ditinggali para etnis keturunan Arab.” Ran menjelaskan.

“Apakah mereka, orang-orang Arab itu sudah menetap sejak berdirinya Magelang?” tanya Elaine. Aku tersenyum, anak ini persis seperti ayahnya, kritis, selalu penasaran dan tak pernah puas mengulik rasa ingin tahunya. Ada yang bergetar mengingat sosok itu, rasa bersalah โ€ฆ sekaligus rindu yang berbaur.

“Warga Arab mulai berdatangan di Magelang sekitar abad 19 dan membentuk suatu komunitas. Mereka menetap di kampung-kampung dan beranak pinak melahirkan para pemimpin di wilayah itu,” lanjut Ran menjelaskan.

“Kampung Arab di Magelang, berada di wilayah Tuguran dan sekitarnya merujuk pada pemukiman yang dihuni oleh komunitas Arab keturunan Arab Alawiyyin dan Jawa Basyaiban yang dikenal sebagai pusat kegiatan sosial, ekonomi, dan keagamaan bagi komunitas tersebut. Dari sanalah lahir Sayyid Alwi Bin Ahmad Basy Syaiban yang kemudian diberi nama gelar Raden Ngabei Danukromo I. Beliau merupakan Bupati Magelang pertama setelah kawasan Kedu dipisahkan dari Kesultanan Yogyakarta pada masa Hamengkubuwana III.”

Penjelasan Ran membuatku takjub. Ternyata selama ini aku hanya tahu bahwa Kampung Arab dihuni oleh komunitas Arab yang berdagang berbagai rempah dan busana Timur Tengah. Ah, kenapa setua ini aku begitu naif?

“Bermula dari kegagalan Jan Willem Janssens dan pasukan gabungan Belanda-Perancis mempertahankan Jawa dari serangan Inggris, pada tahun 1811 pulau Jawa jatuh ke dalam kekuasaan Inggris. Pembangunan jalan raya pos dan pabrik-pabrik senjata di Jawa tidak mampu membendung ekspedisi laut terbesar sepanjang sejarah, hingga pecah perang dunia kedua.”

“Aku tidak mengerti sejarah perang di negara Kalian setelah proklamasi,” keluh Elaine. Ran tertawa geli membuat Elaine kesal dan mengerucutkan bibirnya.

“Kamu bisa mencari referensi di Perpustakaan Kota. Aku akan mengantarmu jika kamu ingin.” Ran menawarkan.

“Aku mau banget,” jawab Elaine cepat.

“Tentu saja jika aku sedang tidak ada jadwal kuliah,” potong Ran dengan nada menggoda.

“Ishhh โ€ฆ!” Elaine kembali cemberut, membuat Ran justru terkekeh. Bahagia melihat kedua anak muda itu makin akrab. Semoga Elaine bisa segera membuka hati kembali dan melupakan masa lalunya. Tapi apa kabar dengan hatiku sendiri yang masih belum bisa melupakan Bhaskoro? Entahlah โ€ฆ cinta memang tak kenal logika, rasa sakit justru terkalahkan oleh bayang-bayang kebersamaan yang membuatku semakin candu.

“Eh, ceritanya sampai mana tadi?” celetuk Elaine membuyarkan anganku.

“Hmmm, kalau tidak salah tentang pembangunan jalan raya pos dan pabrik-pabrik senjata di Jawa.” Ran berusaha mengingat.

“Melalui penandatanganan Rekapitulasi Tuntang, berakhir sudah pemerintahan Belanda-Perancis di bawah pimpinan Raja Ludewijk Bonaparte yang merupakan adik Napoleon Bonaparte atas Jawa. Sejak saat itu, Sir Thomas Stamford Raffles yang bertugas sebagai Gubernur Jendral atas tanah Hindia. Namun, setahun setelah Inggris berkuasa di tanah Jawa, Yogyakarta dibantu Surakarta melakukan pemberontakan kepada pemerintah Inggris. Pemberontakan ini dibalas Raffles dengan sebuah penyerbuan besar-besaran yang dikenal dengan Geger Sepoy. Yogyakarta mengalami kekalahan akibat harta benda keraton dijarah hingga luluh lantak.” Ran menjeda ceritanya, lalu berlari menjauh setelah memberi isyarat tangan.

Tak sampai 5 menit dia kembali dengan 3 botol air mineral, menyodorkan sebotol pada Elaine. Setelahnya dia membuka tutup botol yang satunya dan menyodorkan padaku. Aku mengucap terima kasih, cuaca cukup terik membuat tenggorokan kering. Ran menegak habis minumannya sendiri hingga tandas tak bersisa.

“Aku lanjutkan, ya.” ujarnya kemudian. Ran berjalan mendahului, aku berjarak dua langkah sementara Elaine mengekor sambil menghitung jajaran makam di sepanjang jalan yang dilewati.

“Kekalahan Yogyakarta juga mengakibatkan beberapa wilayahnya harus diserahkan ke tangan Inggris. Pada 1 Agusuts 1812, Dataran Kedu, termasuk Magelang berpindah tangan kepada pemerintahan Raffles yang menjadi awal mula perubahan pola struktur pemerintahan Tanah Jawa, khususnya Magelang yang dulunya bercorak feodalistik dengan pengabdian pada Mataram,dalam hal ini Yogyakarta, kini menjadi bagian dari wilayah bawahan kolonial secara langsung”

“Mungkin karena melihat posisi Magelang yang sangat strategis ditengah-tengah pulau Jawa,” selaku menebak.

“Benar. Karena posisinya ditengah-tengah, Raffles menjadikan Magelang sebagai pusat pemerintahan Karesidenan Kedu. Dia menunjuk seorang resident bernama John Crawfurd untuk membenahi administrasi pemerintahan lokal di karesidenan Kedu. Kemudian Crawfurd mengambil asisten Patih Danurejo III dari Yogyakarta yang bernama Danukromo I untuk membantu dalam berurusan dengan pemerintahan lokal dan rakyat setempat. Danukromo I akhirnya diangkat sebagai Bupati Pertama Magelang.”

“Tadi katanya Bupati Pertama dari Keturunan Arab?” protes Elaine.

“Benar. Pada tanggal 30 November 1813 resmi sudah Sayyid Alwi Bin Ahmad Basy Syaiban menjadi Bupati Magelang pertama. Beliau kemudian mendapatkan gelar Raden Ngabei Danukromo I atau Raden Adipati Arya Danuningrat I.”

“Ooo โ€ฆ.” Elaine ber’o panjang sambil manggut-manggut.

“Sebagai Bupati, Danukromo sangat berjasa dalam pembangunan Magelang. Keberadaan Alun-alun, Masjid dan Rumah Bupati adalah komponen penting yang mutlak harus ada dalam sebuah pusat pemerintahan di Jawa. Demi menentukan lokasi alun-alun, Danuningrat I berkonsultasi terlebih dahulu kepada gurunya. Sebuah tanah lapang di antara Desa Gelangan dan Desa Meteseh adalah lokasi yang paling tepat sebagai pusat pemerintahan Bupati Magelang. Selain bertanah lapang, lokasi itu juga ditumbuhi pohon beringin yang membuat tanah ini sangat representatif sebagai alun-alun kabupaten dan rumah bupati dan regentswoningdisebelah utara alun-alun dan sebuah Masjid Agung atau Groote Moskee di sebelah barat alun-alun.”

“Aku menyukai heritage di seputar alun-alun.” Elaine menyela.

“Itulah kenapa Raffles mengagumi kebudayaan Jawa, mendukung langkah Danuningrat I dalam membuat alun-alun. Di samping sesuai dengan kultural Jawa, juga sejalan dengan pola pembangunan di Kerajaan Inggris pada masanya. Dalam peradaban Jawa, rumah kediaman penguasa seperti Kraton atau Kadipaten selalu dilengkapi dengan alun-alun yang melambangkan konsep Ketuhanan, atau dalam ruang kosong ada kehidupan yang dilambangkan dengan pohon beringin.”

“Aku pernah membaca sebuah literasi, konon secara secara kultural Jawa alun-alun merupakan simbol keluasan titah manusia di dunia di mana unsur Makrokosmos dan mikrokosmos berpadu sebagai sebuah hubungan vertikal antara manusia dengan Sang Pencipta, dan secara horisontal antara manusia dengan alam dan sesamanya.”

“Tepat sekali.” Ran mengacungkan dua jempol, Elaine tertawa lepas mendapat pujian dari Ran.

“Selanjutnya saat Perang Diponegoro pada tahun 1825, Danukromo I terlibat perang besar melawan Pasukan Diponegoro. Beliau meninggal dunia pada 28 September 1825. Lalu pemerintah Belanda mengangkat putra Danuningrat I, yaitu Hamdani bin Alwi Basy Syaiban menjadi Bupati Magelang dengan gelar RAA Danuningrat II. Setelah 36 tahun memegang tahta, akhirnya Hamdani melepas jabatannya.”

“Lalu dilanjutkan Danuningrat III?”

“Benar. Tapi dia pun melepas jabatannya pada tahun 1878. Dan Belanda mengangkat putra Danuningrat III yaitu Sayid Achmad bin Said Basy Syaiban sebagai bupati dengan gelar Danukusumo.”

“Jadi Danukusumo adalah bupati terakhir dari keturunan Danukromo I?”

“Bukan. Danukusumo juga melepas jabatannya pada 1908 dan digantikan oleh saudaranya, yaitu Muhammad bin Said Basy Syaiban dengan gelar RAA Tumenggung Danusugondo yang memerintah hingga tahun 1939. Inilah keturunan terakhir dari trah Danuningrat yang menjadi Bupati Magelang.”

“Lalu dimana kampung Arab itu yang sesungguhnya?” Bukan hanya Elaine, aku pun penasaran dengan kampung Arab yang memiliki andil sejarah Magelang ini.

“Dengan menjaga identitas Arab-nya, trah ini membuat kampung di Samban. Konon nama tempat yang ditinggali lebih dikenal dengan nama Kampung Sayid, bukan Kampung Arab. Kini, bekas Kampung Arab itu hampir hilang tak bersisa. Hanya cerita-cerita masyarakat setempat bahwa dulu di daerahnya pernah bermukim orang-orang Arab. Namun, dari sebuah arsip di tahun 1935, di Kampung Samban dulu ada sebuah tempat bernama Danudirjan. Diduga nama itu ada hubungannya dengan sosok Danukromo atau trah Danuningrat.”

“Apakah hingga sekarang masih ada sisa peninggalan tempat tinggal mereka?”

“Seiring waktu, orang-orang Arab ini akhirnya tinggal berpindah-pindah mulai dari Kampung Kauman, Kampung Poncol, Kampung Badaan, dan Tuguran.”

Elaine menepuk bahuku sambil memegangi perutnya. Sebuah isyarat bahwa bocah doyan makan ini mulai lapar. Kami pun melanjutkan perjalanan, tapi Ran pamit tidak bisa ikut bersama kami karena ada tugas kuliah. Elaine terlihat kecewa, tapi setelah Ran berjanji akan mengunjungi tempat tinggal kami, wajahnya kembali berseri.


The Hidden Site of Tuin van Java

2. Kampung Tulung 4. Tugu Pucang Bukan Sekadar Tugu Penunjuk Jalan

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Bintang Kunang-Kunang

Bintang Kunang-Kunang

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Antologi KompaK’O

Random image