Home / Topik / Wisata / 15. Menguak Sejarah Tugu Cokro

15. Menguak Sejarah Tugu Cokro

THE HIDDEN SITE OF TUIN VAN JAVA 1600X900
This entry is part 16 of 28 in the series The Hidden Site of Tuin van Java

Aku mengajak Elaine menuju Grabag yang konon merupakan kecamatan paling maju ketiga di Kabupaten Magelang. Selama ini orang mengetahui Grabag karena pemandangannya yang indah, dan merupakan wilayah perbatasan yang selalu dilewati menuju Kabupaten Semarang.

Grabag adalah salah satu kecamatan di wilayah timur Kabupaten Magelang, yang berbatasan langsung dengan kecamatan Secang dan kecamatan Pringsurat, Temanggung di sebelah barat, kecamatan Tegalrejo di sebelah selatan, kecamatan Ngablak di sebelah timur,  dan Kabupaten Semarang di sebelah utara. Wilayah ini juga merupakan hulu dari Sungai Elo, yang mengalir di sisi timur Kota Magelang.

Berada di antara kaki Gunung Andong dan Gunung Telomoyo menjadikan Grabag, memiliki suasana alam yang asri dan sejuk, dengan pemandangan perbukitan dan pepohonan hijau. Dua gunung yang menjadi ikon wisata alam di Magelang, dengan pemandangan yang menawan dan berbagai aktivitas seperti mendaki dan menikmati pemandangan dari gardu pandang.

“Apa yang menarik di kota Grabag?” tanya Elaine saat kukatakan tujuan akhir hari ini.

“Grabag itu kecamatan, bukan kota. Beberapa daya tarik alamnya meliputi Telaga Bleder, destinasi wisata alam yang menawarkan suasana tenang dan asri dikelilingi pepohonan hijau dengan air telaga yang jernih. Juga ada Air Terjun Sumuran dengan pemandangan Gunung Andong dan Gunung Telomoyo, serta suasana yang mirip dengan Bali.”

“Wah, sepertinya menarik,” ujar Elaine antusias

“Benar. Grabag juga memiliki potensi agrowisata dengan suasana pegunungan yang sejuk, seperti Banyu Langit Agropark yang cocok untuk kegiatan outbound dan camping. Selain itu, Grabag juga dikenal sebagai daerah yang memiliki mata air besar, yaitu Tuk Mas, yang menjadi sumber air utama bagi PDAM Kota Magelang, serta terdapat Prasasti Tuk Mas yang diperkirakan berasal dari kerajaan Mataram Kuno,” lanjutku

“Kita akan mengunjungi semua tempat itu?” tanya Elaine dengan nada harap.

“Semoga saja waktunya cukup. Tapi hari ini tujuan kita melanjutkan cerita sejarah.”

“Sejarah? Apa ada kaitannya dengan sejarah Tugu Pucang?” cecar Elaine.

“Bisa dikatakan begitu.”

“Tapi nama Grabag terdengar unik.”

“Kecamatan Grabag memiliki sejarah yang kaya, termasuk legenda tentang asal-usul namanya. Konon Grabag dipercaya berasal dari kata “gebrug” atau “brug” yang berarti tempat pembuangan atau tumpahan. Hal ini terkait dengan cerita wabah yang menyebabkan banyak orang meninggal dan dimakamkan di desa tersebut.”

“Wah, seru juga cerita. Sepertinya memang pantas jika mendapat predikat kecamatan terbaik,” komen Elaine.

“Grabag juga memiliki stasiun televisi komunitas bernama Grabag TV, yang merupakan salah satu pelopor berdirinya Asosiasi Televisi Komunitas Indonesia.”

Aku mengarahkan laju kendaraan menuju salah satu desa di Kecamatan Grabag yang memiliki cerita sejarah, tepatnya ke Desa Cokro yang juga merupakan ibu kota Kecamatan Grabag dan berada kurang lebih 680 meter di atas permukaan laut.

Mobil menepi di depan sebuah warung  angkringan. Setelah memesan dua cangkir kopi, aku mengajak Elaine duduk tepat menghadap pada tugu yang berdiri di perempatan Jalan Tepis Cokro Grabag, Desa Cokro, Kecamatan Grabag

“Kamu lihat tugu itu?” tanyaku sambil menunjuk sebuah tugu yang sekilas tampak biasa. Elaine mengangguk.

“Tugu itu lokasinya sempat menjadi titik pembantaian para pejuang dibunuh,” ucapku menjelaskan.

“Benarkah? Terlihat sangat biasa,” ujar Elaine sambil menyesap kopi yang masih mengepul.

“Justru itu. Tidak banyak yang mengetahui bahwa Desa Cokro memiliki catatan sejarah penting peristiwa gugurnya pahlawan di Grabag, terkait dengan perlawanan terhadap agresi militer Belanda pada tahun 1949, yang melibatkan beberapa tokoh dan lokasi. Sejumlah 14 pejuang gugur ditembak oleh Belanda.”

“Lumayan banyak juga.”

“Mereka adalah Sersan Djoedi, Sersan Hardjo Oetomo, Komandan Muda Polisi Soewarto yang masih hidup meski ditembak, enam Agen Polisi II, yaitu Soetriman, Andreas, Slamet A, Ramelan, Darsono A, Darsono B, Prajurit Moersidi, pegawai kantor Kabupaten Magelang Soebroto, Prajurit CPM Ramelan, pager desa Hasim dan pegawai kantor gubernur Jawa Tengah Soenarjo yang masih hidup ketika ditembak,” paparku.

Elaine hanya manggut-manggut sambil mencatat. Bocah ini mengerjakan sesuatu tergantung mood. Jika tidak ingin mencatat biasanya dia akan merekam, tapi lebih sering mencatat dan membuat coretan meski menurutku lebih efektif jika membuat rekaman.

“Selain itu, ada juga kisah penyelamatan Wedana R. Boediman dan Kepala Desa Tanjung yang bersembunyi di sumur mati untuk menghindari sergapan Belanda. Pesawat Belanda menembaki Pasar Tanjung dan menewaskan 18 orang serta membakar 10 rumah. Selain itu Pos kesehatan Dokter Soedjono juga disergap dan dirusak oleh tentara Belanda.” Aku melanjutkan pemaparan.

“Cara penyelamatan Wedang Boediman bagaimana?” tanya Elaine l.

“Wedana R. Boediman berhasil selamat dari sergapan Belanda berkat bantuan warga yang menyembunyikannya di sumur mati. Demikian juga dengan Kepala Desa Tanjung  diselamatkan dengan cara yang sama.”

“Wah, nggak kebayang gimana kacaunya dan pasti menegangkan,” ujar Elaine sambil bergidik.

“Benar. Peristiwa-peristiwa itu menjadi bagian dari sejarah perjuangan kemerdekaan di Magelang, khususnya di wilayah Grabag, yang menunjukkan semangat perlawanan rakyat terhadap penjajah, walaupun dengan pengorbanan jiwa dan harta benda. Karena itu untuk mengenang peristiwa penembakan dan korban jiwa dalam peristiwa tersebut, didirikan Tugu Pejuang Kemerdekaan di dekat Pasar Tanjung Japuan, pada tanggal 17 Juli 1965 oleh pemerintahan Militer Kabupaten Magelang, dipimpin oleh Kapten Marsidik.”

Elaine menutup buku catatannya, berjalan mendekat ke arah tugu untuk mengambil sisi pengambilan gambar yang pas. Sejenak kemudian dia kembali dengan senyum puas. Aku mengajaknya pulang, perjalanan hari ini cukup melelahkan, tapi aku puas bisa bercerita banyak tentang sejarah dan mengenalkan simbol-simbol penghormatan dan pengingat akan perjuangan para pahlawan sekaligus menjadi menjadi saksi bisu.

Masih banyak lagi monumen peringatan di kabupaten Magelang mengingatkan sejak Perang Diponegoro pada masa penjajahan Belanda sampai pada zaman Perang Kemerdekaan, menjadi saksi bisu bahwa Magelang pernah menjadi ajang perjuangan rakyat.

The Hidden Site of Tuin van Java

4. Tugu Pucang Bukan Sekadar Tugu Penunjuk Jalan 6. Prasasti Tukmas dari Lereng Merbabu

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image