Belum lama ini, penulis berhasil sembuh dari penyakit yang sudah beberapa bulan diderita. Pemulihan bukan karena semata-mata usaha/pengobatan yang dilakukan. Penulis percaya bahwa semua adalah jawaban doa yang tiada putus-putusnya.
Siapa rindu tetap sehat hendaknya menyempatkan diri untuk membaca tulisan sederhana ini. Inilah beberapa renungan dan pandangan dari Alkitab, hasil pemikiran pribadi penulis serta pengolahan dari berbagai sumber.
1. Menurut Alkitab, tubuh manusia adalah citra (image) Allah, bait Allah. Hal itu dinyatakan dalam ayat yang berbunyi “Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah Bait Allah? Tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah Bait Roh Kudus yang diam didalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri.” (1 Korintus 6:19) dan Kejadian 1:27 (TB): “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”
2. Sedalam/seluas apapun, secanggih apapun ilmu pengetahuan di bidang kedokteran/medis yang berhasil digali dan dikembangkan manusia, sesungguhnya tiada yang lebih mengenal tubuh manusia selain Pencipta tubuh manusia (dan selaksa ciptaan-Nya yang lain) selain Allah sendiri.
3. Karena tubuh adalah citra Allah, Allah sangat tidak berkenan jika manusia ‘merusak’ tubuhnya sendiri lewat berbagai cara.
4. ‘Merusak’ tubuh tidak selalu lewat cara-cara menyakitkan/menyakiti diri yang sering dianggap tabu (rajah tubuh/tato, merokok dan lain sebagainya). Bisa juga melalui pengabaian kesehatan (misal: kebanyakan begadang, kurang tidur, kebanyakan bekerja keras), kurang menghargai karunia kesehatan (sok kuat atau merasa sanggup berbuat apa saja melebihi kemampuan/batas-batas stamina), rasa kurang bersyukur, hingga kebablasan makan-minum enak/tidak sehat yang kelak berakibat negatif pada diri.
5. Saat sakit, seringkali manusia menganggap tubuhnya hanya perlu ‘dibengkel’ saja, ibarat mobil rusak yang dengan mudah diperbaiki oleh montir hebat ‘asal punya uang/ada biayanya, wani piro?‘. Padahal hanya ‘masuk bengkel’ saja sesungguhnya belum cukup. Hanya berusaha minum obat paling manjur, istirahat atau jalan-jalan alias healing-healing, ke dokter hebat/terkenal saja belum cukup untuk memulihkan atau menyembuhkan penyakit. ‘Bengkel’ atau ‘montir’ kita yang sejati hanyalah Sang Pencipta.
6. Berusaha menuju sembuh/pulih, berobat tidaklah salah, masih tetap diperlukan dan dijalankan semampunya, namun jangan sampai usaha itu mengakibatkan manusia menjauh dari Tuhan dan hanya mengandalkan segala yang bisa diperoleh dengan kekuatan harta/uang semata-mata.
7. Bagaimana dengan operasi plastik atau usaha untuk tetap tampil body goals dan atau awet muda? Jika memang diperlukan, misalnya ada kelainan fisik akibat trauma luka bakar, perlu perbaikan estetika agar lebih membantu penampilan atau menumbuhkan kembali rasa kepercayaan diri, tak apa-apa. Akan tetapi hendaknya tidak semata-mata dijadikan ajang pameran atau kompetisi yang hanya ‘skin deep‘ di media sosial, seolah berlomba-lomba menunjukkan bahwa ‘sayalah yang paling cantik, paling tampan, paling awet muda, paling body goals‘ dan lain sebagainya. Pujian, like-love dan komentar-komentar sebaik apapun hanyalah sebuah komplimen, tidak permanen (hanya sementara atau bisa berubah kapan saja) dan belum tentu tulus adanya. Itu semua juga tidak seberapa penting dibandingkan kesehatan lahir-batin!
8. Jarang sakit? Tubuh kita tidak selalu kuat-bertahan sepanjang masa, jika masih dikaruniakan Tuhan tubuh sehat lahir batin, bersyukurlah. Cara memelihara kesehatan bukan hanya dengan makan-minum bergizi disertai suplemen, taat jadwal imunisasi, cukup tidur/istirahat, berolahraga, rajin check-up dan lain sebagainya. Berdoalah senantiasa agar dijaga/dilindungi Tuhan dari segala gangguan hingga sakit-penyakit.
Gangguan di sini berarti hal-hal yang tidak kita ketahui/kehendaki (di luar kendali), mungkin berupa kecelakaan, marabahaya bencana alam hingga ‘datang’ dari pihak lain. Sebaik apapun pencegahan, tentu saja tidak ada jaminan keamanan yang pasti selain di dalam Tuhan.
Kesimpulan: Jika tubuh kita sehat, puji Tuhan. Akan tetapi apabila merasa kurang sehat, jangan hanya berharap pada obat/penyembuhan, datanglah kepada Sang Pencipta yang benar-benar mengetahui bagaimana memulihkan ciptaan-Nya.
Sebagai penutup, inilah sebuah doa yang penulis kerap panjatkan.
Tuhan, Engkau yang telah menciptakan aku.
Aku bersyukur dan berterima kasih, telah Kaujadikan aku begitu baik.
Kau mengenalku lebih dari aku mengenal diriku sendiri.
Tuhan, saat ini aku merasa kurang sehat.
Kau pernah menyembuhkanku, Kau akan menyembuhkanku lagi.
Lebih dari segalanya, aku percaya hanya kepada-Mu.
Kupercayakan kesehatan dan masa depanku ke dalam tangan-Mu.
Pulihkanlah agar aku bisa kembali berkarya bagi-Mu.
Amin.
Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.
Tangerang, 15 Oktober 2025











