Home / Topik / Wisata / 16. Prasasti Tukmas dari Lereng Merbabu

16. Prasasti Tukmas dari Lereng Merbabu

THE HIDDEN SITE OF TUIN VAN JAVA 1600X900
This entry is part 17 of 28 in the series The Hidden Site of Tuin van Java

Entah apa yang ada di pikiran, aku salah mengambil arah saat memasuki Desa Lebak. Aku melajukan mobil pelahan, sepanjang jalan hanya ada sawah dan perbukitan.

“Sepertinya kita salah jalan,” kataku pada Elaine yang langsung memasang muka protes.

“Tapi kita tidak tersesat, kan?” tanyanya gusar.

“Semoga tidak,” jawabku tak yakin.

“Oh mon Dieu,” pekik Elaine. Aku hanya mengedikkan bahu, memindai sekeliling, mencari seseorang yang mungkin bisa menunjukkan jalan keluar dari area persawahan yang jauh dari pemukiman penduduk ini.

Namun, mataku justru berbinar saat pandanganku tertumbuk pada satu nama yang mengingatkan pada sejarah penting. Ya, masing-masing daerah tentu memiliki jejak masa lalu yang menjadi sejarah panjang dalam pembangunan peradaban yang dilakukan oleh para nenek moyangnya. Demikian juga dengan Magelang, banyak cerita dan sejarah panjang di masa lampau yang hingga kini memiliki pengaruh pada kehidupan masyarakat. Dan tanpa disengaja aku menemukan jejak sejarah tersebut.

“Kita tidak tersesat, tapi aku akan menunjukkan sesuatu,” kataku pada Elaine. Gadis itu membulatkan matanya.

“Benarkah? Es-tu sûr?”

“Bien sûr,” jawabku mantap. Elaine menatapku, tapi kali ini sudah lebih tenang.

“Aku akan bercerita,” kataku. Elaine masih menatapku, mulutnya terbuka seolah hendak mengatakan sesuatu.

“Magelang secara geografis dikelilingi gunung-gunung. Sudah bukan rahasia lagi, para pendaki dan tektoker  mengakui keindahan gunung-gunung di sekitar Magelang yang membuat candu. Saat ini kita sedang berada di kaki salah satu gunung yaitu Gunung Merbabu yang terletak di sebelah timur laut Kota Magelang. Secara administratif, lereng barat gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang sedangkan lereng timur dan selatan terletak di Kabupaten Boyolali. Namun, lereng utara termasuk di wilayah Kabupaten Semarang.”

“Berarti Gunung Merbabu sangat besar,” sela Elaine.

“Bukan hanya besar, tapi lereng Gunung Merbabu juga kaya akan mata air yang menjadi sumber air bersih dan memiliki peran penting  bagi masyarakat sekitar, terutama dalam memenuhi kebutuhan air minum dan pertanian. Beberapa mata air yang terkenal di lereng Merbabu antara lain Mata Air Doplang, Mata Air Tuk Tritis, dan mata air di desa Lencoh. Ketinggian mata air umumnya berada di antara 1000-1500 meter di atas permukaan laut, yang menunjukkan sistem sabuk mata air vulkanik.”

“Wah, aku jadi ingin melihat mata air itu.”

“Kita sedang menuju ke Tukmas, secara harafiah artinya adalah mata air emas.  Konon air yang keluar dari atas bukit dan memiliki debit air yang stabil, mengalir dengan caranya tersendiri. Uniknya, saat musim kemarau, debit airnya justru bertambah besar, sebaliknya di musim hujan mengalir kecil dan stabil. Dialah mata air Tukmas, yang mampu mencukupi konsumsi ribuan jiwa masyarakat Magelang dan warga sejumah dusun di sekitar mata air.”

“Bisa dibayangkan pasti mata air itu besar sekali.” Elaine mengetuk-ngeruk dagunya dengan ujung jari telunjuk.

“Mata air Tukmas Mas sangat besar. Sejak tahun 1971, sumber air Tukmas dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum  Kota Magelang. Sehingga pada hari biasa, tidak semua orang bisa masuk ke dalam area sumber air Tukmas.”

“Kita bisa masuk?” tanya Elaine saat mobil berhenti tepat di depan pintu masuk.

“Itu ada penjaganya, kita minta izin untuk masuk. Berdoalah, semoga bisa!” perintahku. Elaine mengangguk serius.

Setelah menjelaskan maksud dan tujuan kami, petugas bernama Adi mengizinkan kami masuk dengan catatan harus didampingi. Tentu saja kami tidak keberatan, malah kebetulan bisa bertanya banyak tentang mata air yang konon juga dikenal dengan angsa emasnya.

Adi mengajak kami naik ke arah bangunan yang menyimpan prasasti. Menurut Adi,  ada yang mengatakan bahwa mata air Tukmas berasal dari sejumlah sumber air kecil dari sela batu Gunung Merbabu yang membentuk aliran sungai tempat berenang angsa-angsa emas. Di depan pintu masuk area Tukmas kami melewati beberapa batu, sebuah batu paling besar yang dikenal sebagai Bale Kambang atau tempat mengapung. Namun, tidak ada yang tahu pasti mengapa disebut Bale Kambang dan kebenaran adanya angsa emas di Tukmas.

Adi mengatakan bahwa, menurut warga sekitar mata air Tukmas sudah dimanfaatkan masyarakat zaman dahulu untuk membangun peradaban dan disakralkan. Di sepanjang aliran air tersebut ditemukan banyak peninggalan peradaban sejarah Kalingga, salah satunya adalah Prasasti Tukmas

Kami berhenti pada sebuah bangunan terbuka, di dalamnya terdapat sebuah prasasti yang dipahat pada batu alam besar yang berdiri di dekat mata air yang ditemukan di lereng barat Gunung Merbabu, tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang. Prasasti tersebut tidak berangka tahun, ditulis dengan bahasa Sansekerta huruf Palawa yang berasal sekitar tahun 500 M. 

Aku mengamati, meski tak terlalu mengerti tapi aabila dilihat dari bentuk aksaranya, prasasti ini tampak lebih muda dibandingkan aksara yang dituliskan di masa Raja Purnawarman dari Kerajaan Tarumanegara.

“Apa isi dari tulisan di prasasti itu?” tanya Elaine, sibuk mengambil photo dari berbagai sudut.

“Tulisan pada prasasti mencermati perjalanan sejarah Magelang, dan merupakan salah satu prasasti tertua yang ditemukan  pulau Jawa. Meski sudah berusia ratusan tahun, tapi letak batu prasasti Tukmas tidak berubah,” papar Adi menjelaskan.

“Pada prasasti ini juga terdapat lukisan alat-alat, seperti trisula, kendi, kapak, sangkha, cakra, bunga tunjung, dan masih banyak gambar yang sulit untuk diidentifikasi karena aksaranya lebih tua dari masa raja Mulawarman. Gambar yang dapat diidentifikasi merujuk pada laksana atau tanda khusus yang digunakan para pemuka agama Shiva atau Penganut Hindu,” imbuh Adi.

Aku mengangguk membenarkan, meski bentuk prasasti tidak lagi utuh karena terdapat kerusakan di beberapa bagiannya.

“Meski sudah tidak utuh, tapi para arkeolog masih bisa membaca sisa pahatan dalam Prasasti Tukmas, isinya kurang lebih : (Itant) usucyamburuhanujata, Kwacicchilawalukanirgateyam, Kwacitprakirnna subhasitatoya,  Samprasrata m(edhya) kariwa ganga.” Adi menjelaskan.

“Artinya apa ?” tanya Elaine

“Dalam bahasa Indonesia artinya : (Mata air) yang airnya jernih dan dingin ini dan yang keluar. Dari batu atau pasir ke tempat yang banyak bunganya tunjung putih. Serta mengalir ke sana-sini. Setelah menjadi satu lalu mengalir seperti sungai Gangga.”

“Seperti sajak,” sela Elaine.

“Benar. Isinya adalah sajak. Empat baris sajak di prasasti tersebut memuji kejernihan mata air sakral yang mengalir di lereng Gunung Merbabu. Bermula dari teratai yang gemerlapan – dari sini memancarlah sumber air yang mensucikan – air memancar keluar dari sela-sela batu dan pasir – di tempat lain memancar pula air sejuk – dan keramat seperti (sungai) Gangga.”

Kami bergerak turun, mengikuti aliran air yang mengalir deras. Beberapa kali Adi mengingatkan, karena dianggap sakral, hendaknya jika berada di antara sumber air Tukmas, agar berlaku sopan, selalu menahan diri dari amarah, dan tidak berkata kotor demi keselamatan diri sendiri.

“Apakah sumber air Tukmas ini juga masih dipakai untuk ritual agama Hindu?” tanyaku.

“Masih. Pada hari Raya Nyepi, umat Hindu dari berbagai wilayah di Magelang datang ke sumber air Tukmas untuk melakukan sembahyangan Melasti, mensucikan diri dan peralatan peribadatan di sumber air Tukmas,” jawab Adi.

Dari penjelasan Adi, aku bisa mengambil konklusi bahwa setidaknya Prasasti Tukmas ada abad tersebut telah mengembangkan berbagai bidang kehidupan baik sosial, ekonomi, agama maupun politik di Magelang. Hal tersebut menjelaskan bahwa sudah terdapat suatu desa atau wilayah sosial yang ditempati masyarakat di sekitar sumber mata air Tukmas. Pemilihan tempat tinggal di sekitar sumber mata air adalah bentuk kecerdasan dan kepekaan yang dikembangkan dan dimiliki masyarakat. Melalui pengembangan intuisi maupun pengetahuan dan pengalaman, mereka akhirnya menemukan sumber mata air Tukmas.

Adanya Prasasti Tukmas juga memperjelas bahwa masyarakat Magelang pada abad 5 M sudah beragama Hindu. Kemungkinan warga Dusun Dakawu juga sudah beragama Hindu pada saat itu. Dengan adanya komunitas Hindu di wilayah Dakawu dan sekitarnya inilah, sumber mata air Tukmas dapat dijaga dan dijadikan sebagai sumber ekonomi maupun tempat yang disakralkan.

Matahari sudah lengser ke barat, kami pamit melanjutkan perjalanan dengan dipandu oleh Adi menggunakan motor. Kebetulan dia juga mau pulang menuju daerah Tegalrejo.

***

Note:

Oh mon Dieu: Ya Tuhan

Es-tu sûr: apakah kamu yakin?

The Hidden Site of Tuin van Java

5. Menguak Sejarah Tugu Cokro 7. Getar Yang Hadir Kembali

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Bintang Kunang-Kunang

Bintang Kunang-Kunang

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Antologi KompaK’O

Random image