Home / Fiksi / Cerpen / Tepat Sasaran

Tepat Sasaran

Tepat Sasaran

Kalau ada satu hal yang diyakini Prita Maharani, gadis yang berumur enam tahun, adalah bahwa orang dewasa meremehkannya. Mungkin karena dia pendiam dan pemalu. Namun, diam membantunya menyadari banyak hal.

Dan satu hal yang Prita sadari adalah bahwa Miss Mayang bersikap manis sama Om Ronggur.

Prita duduk di belakang mobil di samping saudara laki-lakinya dan memperhatikan Miss Mayang berbicara dengan Miss Florensia di bawah pohon guava. Miss Florensia baru saja menikah dengan Pak Charles, dan mereka berdua sangat bahagia. Ibu berkata cinta yang membuat mereka bahagia.

Miss Mayang juga pantas bahagia. Dia selalu baik kepada Prita dan adik-adiknya. Yah, hampir semua orang baik kepada Beulah karena umurnya baru tiga tahun. Namun, Miss Mayang selalu menekankan untuk bersikap baik kepada Prita dan Tigor juga. Dan Prita menyukai itu. Terutama karena beberapa orang tidak terlalu ramah padanya begitu mereka melihat matanya memiliki dua warna yang berbeda.

Namun, Miss Mayang pernah berkata bahwa dia merasa tidak percaya diri dengan rambut merahnya. Prita tidak yakin mengapa karena rambut Miss Mayang memang indah. Rambut Prita berwarna hitam kecokelatan seperti lumut tanah setelah hujan badai. Dia lebih suka kalau rambutnya seperti rambut Miss Mayang.

Di seberang halaman gereja, Om Ronggur berdiri mengobrol dengan Ibu dan Bapak. Mereka menertawakan sesuatu yang dikatakan Om Ronggur. Om Ronggur memang tahu cara membuat orang tertawa. Dia selalu ceria. Namun, Ibu pernah bilang bahwa meskipun Om Ronggur orang laki-laki baik, banyak perempuan tidak akan meliriknya karena dia pendek. Namun Prita sudah melihat Miss Mayang sering melirik Om Ronggur.

“Apa yang kau lihat?”

Prita menoleh ke arah adiknya Tigor. Tigor setahun lebih muda darinya dan sangat tidak jeli.

“Kamu tahu Miss Mayang suka Om Ronggur?”

Tigor mengerutkan kening. “Nggak.”

Prita mendesah. “Dasar lelaki.”

Lalu dia melompat turun dari mobil.

“Bawa Miss Mayang ke sini.”

“Bagaimana caranya?”

“Entahlah. Jatuh dan menangis atau apalah. Dia lembek kalau ada anak-anak yang terluka.”

Tigor menyilangkan tangannya. “Aku tak mau nangis.”

Prita menahan keinginan untuk memukul kepala keriting gelap adiknya. Tigor benar-benar keras kepala.

“Kalau begitu bawa Om Ronggur ke sini. Katakan padanya kamu ingin menunjukkan ketapel pemberian Ayah.”

Mata hijau Tigor berbinar.

“Aku bisa menembak sesuatu!”

Prita tersentak. “Itu dia!” Dia mencondongkan tubuh lebih dekat dan membisikkan rencananya kepada Tigor.

Tigor menyipitkan mata padanya.

“Yakin Ayah dan Ibu tak marah?”

“Kita akan beri tahu mereka itu kecelakaan. Dan kalau itu mempertemukan Miss Mayang dengan Om Ronggur, pasti akan jadi cerita seru yang lucu.”

Tigor mengangkat bahu dan melompat turun dari mobil, menuju Om Ronggur.

Prita memastikan adik perempuannya masih bermain di belakang mobil, lalu berdiri di samping Miss Mayang tepat ketika Miss Florensia pergi bersama suaminya.

Prita menggenggam tangan Miss Mayang, dan gurunya itu menatapnya sambil tersenyum.

“Hai, Prita.”

“Hai, Miss Mayang. Aku suka gaunmu.”

“Terima kasih, sayang.”

Mereka mengobrol selama beberapa menit, dan Prita melirik dari balik bahunya. Ayah memunggungi mereka sambil menggendong bayi Hotman di lekuk lengannya dan membantu Ibu naik ke bangku kereta dengan tangannya yang bebas. Tigor dan Om Ronggur berdiri lebih dekat dengan Prita dan Miss Mayang, dan Tigpr sedang menyiapkan ketapelnya untuk ditembakkan.

Sempurna.

“Miss Mayang, pernahkah—”

Miss Mayang memekik, menjatuhkan Alkitabnya sambil menutup mata kirinya dengan tangan.

Prita tersentak. Tigor seharusnya membidik bahunya, bukan matanya! Bagaimana kalau Miss Mayang sampai benar-benar terluka? Oh, seharusnya tidak begini.

“Mayang!” Om Ronggur berlari ke arah mereka dan memegang bahu Miss Mayang. “Kau baik-baik saja?”

“Ada yang mengenai saya.”

“Coba kutengok.”

Om Ronggur dengan lembut meraih tangan Miss Mayang dan menariknya menjauh dari wajahnya, mencondongkan tubuh lebih dekat untuk memeriksanya.

Miss Mayang mengerjap ke arahnya ketika hidung Om Ronggur hampir beradu dengan hidung. Mungkin dia menyadari tinggi badan mereka sama, jadi Om Ronggur yang pendek tidak terlalu buruk. Kalau dia benar-benar peduli.

“Berdasarkan bintik merah di sini”—Om Ronggur  menyentuh pinggir hidung Miss Mayang—”sepertinya hampir mengenai matamu. Bisakah kau melihat dengan jelas? Apa aku perlu membawamu ke dokter?”

“Aku … aku baik-baik saja.”

“Bagus. Sayang sekali kalau sampai melukai mata seindah ini.”

Pipi Miss Mayang memerah.

Dia tersenyum ke Om Ronggur, dan mereka saling menatap cukup lama.

Prita memungut Alkitab Miss Mayang dari tanah dan mengangkatnya. “Ini.”

Orang-orang dewasa terkejut. Lalu Om Ronggur tersenyum dan mengambil Alkitab itu dari tangannya.

“Terima kasih, Prita.”

Om Ronggur menyelipkannya di bawah lengannya lalu mengulurkan sikunya yang lain kepada Miss Mayang. “Bolehkah aku mengantarmu ke mobil orang tuamu?”

“Y-ya.”

Entah kenapa, Miss Mayang terdengar seperti kehabisan napas.

“Dan besok, bolehkah aku mampir untuk memastikan kau baik-baik saja?”

Miss Mayang menundukkan kepalanya. “Pasti menyenangkan.”

Om Ronggur menyeringai sambil menggandengnya pergi.

Prita menoleh ke adiknya yang terpaku di tempat dengan mata terbelalak. Dia menghampiri Tigor dan memukul kepalanya.

“Aduh! Apaan sih?”

“Karena kamu penembak yang payah.”

Namun empat bulan kemudian, ketika Prita duduk di sebelah Tigor di pesta pernikahan Miss Mayang dan Om Ronggur, dia berpikir mungkin dia dan Tigor sudah tepat sasaran.


Bekasi, 18 Oktober 2025

Penulis

  • Rayhan Rawidh

    Penulis genre urban fantasy, chicklit, dewasa, action. Karyanya bisa ditemukan di KBM.id dan fizzo.org,

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image