Home / Fiksi / Cerbung / Pena Berdarah Mencabik Koruptor: Munculnya ‘Dark Justice’ (Part 3)

Pena Berdarah Mencabik Koruptor: Munculnya ‘Dark Justice’ (Part 3)

Cinta Menari di Gerimis Pedang 1600x900
1
This entry is part 15 of 20 in the series Cinta Menari di Gerimis Pedang

Baru setengah jalan Rasva menulis bait pertama, ketika dia merasa tangannya yang memegang pena bergetar hebat.

Refleks dia lemparkan pena sekuatnya. Bulu kuduknya meremang tiba-tiba, bersamaan dengan suhu dalam rumah yang mendadak terasa lebih dingin, serta kesiur angin yang riuh menderu seperti putar memutar di sekeliling rumah.

Belum lagi keterkejutan Rasva pupus, ketika dia melihat ada percik noda yang menutul di atas bait puisinya. Noktah kecil yang ngecuy dengan cepat hingga memulas sepertiga kertas, dengan warna merah yang terlihat lengket dan kental khas serupa… darah!

Ada bayangan tulisan yang menyembul di pulasan merah pekat tersebut.

mulih ka jati, mulang
ka asal
nimu luang tina burang
manuk hiber ku jangjangna jalma hirup ku akalna
gunung teu meunang di lebur, sagara teu meunang di ruksak
buyut teu meunang di rempak
leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak

Seperti bahasa Pasundan, pikir Rasva dengan penuh keheranan, sebab sebagai sosok yang sejak kecil tinggal di kota, dia tentu saja tak paham bahasa tersebut. Paling banter dia hanya tahu kalimat sia mah jore lain ku aing, yang kabarnya memiliki makna elo tuh jelek, beda sama gue yang sering jadi canda bocah tanggung tetangganya.

Atau ketika malam minggu yang lalu dia sempat mendengar kalimat baru abdi bogoh ka anjeun yang dibisikkan sepasang anak dara depan rumah, sambil menyodorkan setangkai bunga yang diikat peta pink pada sekotak hape terbaru, yang bahkan hingga hari ini dia tak mengerti artinya.

Barangkali salah satu mereka tengah mempromosikan hape terbaru dengan bonus bunga, pikir Rasva waktu itu tak ambil pusing, mengingat kelakuan anak zaman sekarang yang seringkali jauh lebih nyeleneh dibandingkan seniman kawakan sekalipun.

Penasaran, Rasva kembali mengambil pena yang dibuangnya tadi. Dia menduga ada keanehan tertentu pada pena miliknya. Sebab di zaman yang telah serba canggih seperti sekarang ini, kejadian mistis otomatis menjadi sesuatu yang paling tidak logis, yang biasanya dimanfaatkan oleh oknum tertentu guna mengangkangi suatu wilayah basah, misalnya. Atau sabda langit yang dengan amat konyolnya mengintervensi kesalahan fatal seorang pejabat, hingga memaksa masyarakat untuk memakluminya sebagai human error yang murni buah mengikuti tuntunan karuhun.

Baru saja jemari Rasva menyentuh tangkai pena, ketika dia merasa tangannya tertarik kuat hingga melengket ke pena.

Dicungkilnya pena tersebut dengan tangan kiri sekuat tenaga. Tak berhasil. Bahkan kini pena aneh itu seperti mengalirkan arus listrik yang merambat hingga leher dan mencekik tenggorokannya.

Tubuhnya berjengit menahan arus yang mencekik. Napasnya tersengal, dengan kedua tangan tak berhenti melonjak-lonjak hingga sekilas mirip pemain bambu gila yang berkutat sendirian ke sana-kemari.

Tak berhenti sampai di situ, di hadapannya kini terpampang tragedi kemanusian seperti layar tancap!

Bau amis darah, debu yang mengepul di antara desing peluru, tangis juga jerit pilu. Derap langkah serdadu bermata jalang yang angkuh mengokang senapan, semuanya berbaur dengan riuh suara tank yang menderu, terus memburu tanpa pandang bulu.

Pembantaian… Ini pembantaian! Ini bukan lagi perang…!!!

Rasva berdiri tegak laksana patung. Wajahnya guram berselimut kepedihan. Sementera cekikan di tenggorokannya perlahan mengendur, berganti dengan rasa hangat yang merambat di sekujur tubuh dengan sensasi celekat-celekit tiap kali melewati urat nadi, untuk kemudian terkumpul di pangkal lengan.

Tanpa sadar Rasva mengacungkan tangan yang masih menggenggam pena ke depan, lalu mulai menggurat-gurat di udara dengan gerakan seperti tengah menulis.

Sret! Sreset sret…!

Bayangan darah bertuliskan aksara Ulah Ngukur Baju Sasereg Awak meletik dari ujung pena dan melayang di udara, yang tak lama kemudian luruh hurufnya satu demi satu.

Setelah terjeda cukup lama, kembali Rasva memutar pergelangan tangan menggores Neangan Luang Tipapada Urang, yang juga kembali meluruh sebelum akhirnya musnah seperti menyelusup ke lantai kamar.

Rasva mengencangkan kuda-kuda kakinya, sebelum bergerak maju melancarkan tusukan abstrak mengikuti rangkaian kalimat Lamun Hayang Maju Ulah Ereun Mikir yang seperti gerakan orang nekat, dilanjutkan dengan gerak serabutan menyabet sekeliling tubuh, hingga bayangan darah Sanajan Teu Lumpat Tapi Ulah Cicing bertebaran membentuk tameng yang melindungi tubuhnya.

Berturut-turut Rasva memainkan gerakan Tong Leumpang Dina Hayang, Tong Cicing Dina Embung, Tapi Kudu Leumpang Dina Kudu Jeung Kudu Ereun Dina Ulah, hingga akhirnya tubuhnya kembali tegak dengan wajah yang masih sama guram dengan sebelumnya.

Sejak saat itu, wilayah sekitar tempat tinggal Rasva tak pernah berhenti diterjang kegemparan. Setiap kali ada skandal korupsi yang melibatkan tokoh pejabat yang diliput kantor berita tempat Rasva bekerja, maka keesokan harinya pejabat tersebut ditemukan tewas dalam keadaan yang amat mengenaskan. Matanya dicungkil, tangan dan kakinya dipotong, sementara batok kepalanya tergeletak di meja dengan dahi tertancap sebatang pena berwarna darah.

Kantor berita tempat Rasva bekerja kembali ngetop seperti slogannya waktu pertama muncul dulu, dan membuat panas-dingin lintah darah berkerah putih karena khawatir nama mereka akan muncul pada dua berita utama yang paling dinanti oleh masyarakat:

Pertama, berita penyelewengan dana dari beberapa oknum, yang seringkali setelah sidang amat bertele-tele tetap saja mereka lolos dari hukum negara atau hanya menjalani hukuman singkat yang masih dipotong remisi, untuk kemudian setelah bebas malah mencalonkan diri dalam pilkadal.

Kedua -dan agaknya ini yang paling dinanti masyarakat- berita kematian si penyeleweng dana yang kebal hukum tersebut, dengan kematian yang amat tragis serta penuh kesadisan… dengan pena berdarah tertancap tepat di tengah dahi.

Kegemparan demi kegemparan tersebut langsung mendongkrak rating kota tempat tinggal Rasva sebagai Kota Paling Bersih dari Tindak Pidana Korupsi, yang tak pernah bisa disaingi oleh kota mana pun di negeri ini, bahkan hingga berabad-abad setelah kisah ini ditulis, membawa serta kemakmuran gila-gilaan bagi seluruh masyarakat yang tinggal di dalamnya. Benar-benar sebuah prestasi yang amat luar biasa.

 “Ketika keadilan terang tak mampu menyentuh mereka yang terus menggerogoti negeri, ada kekhawatiran semua urusan pada akhirnya hanya mengandal pada kumpulan kekecewaan, yang terus mengakumulatif hingga melahirkan keadilan baru… yang amat hitam dan sangat tidak beradab…!!!”

***

Usai menulis satu-dua bait pendek tentang cinta yang sunyi dan merindu dendam, Rasva memutar-mutar pena merah darah melewati setiap jemarinya. Wajahnya masih tetap guram, dengan kening sedikit mengerut seperti tengah memikirkan sesuatu yang amat berat.

Di mana kira-kira ‘dia’ berada? Karena berdasarkan narasumber yang berhasil kususupkan ke Gunung Sindur, yang kini berada di balik jeruji hanyalah wong ndeso yang dipermak wajahnya hingga amat serupa dengan yang asli.

Rasva mengetuk-ngetuk jemarinya ke meja, sambil memikirkan alternatif apa yang sekiranya akan dia pilih jika dirinya menjadi ‘dia’.

Apakah pulang ke tanah kelahiran? Atau justru mencari tanah baru secara acak demi kamuflase pola? Baru saja alternatif kedua berbisik berisik dari balik bilik benak, ketika Rasva melihat darah menetes dari huruf-huruf pada puisinya, membuatnya sigap menyelipkan pena ke balik lipatan lengan baju, untuk kemudian berlari seperti terbang ke arah sebuah desa…

Cinta Menari di Gerimis Pedang

Pena Berdarah Mencabik Koruptor: Munculnya ‘Dark Justice’ (Part 2) Dunia Fiksi yang Aneh (Part 1)

Penulis

  • Ahmad Maulana S

    Ahmad Maulana S, lahir di Jakarta.

    Sejak kecil ia terbiasa bertualang. Lulus SMU langsung singgah di sebuah madrasah/sekolah sebagai guru, dilanjutkan dengan menjadi pekerja bengkel, pramuniaga, kuli bangunan, pedagang ayam setan, tukang pasang tenda, pengelola pabrik bulu mata palsu, pemilik lapak barang rongsok, penulis buku puisi dan buku serial pendidikan anak, ghost writer, publisher novel-novel motivasi serta pernah menyelenggarakan kelas fiksi berbayar berbasis online lintas negara.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image