Matahari masih malu-malu mengintip dari celah jajaran gunung yang tegak menjulang seperti sedang menyangga langit. Magelang memang terkenal dengan keindahan yang tidak tertandingi karena ada sedikitnya 6 gunung yang mengelilingi. Kami masih menunggu Elaine dan Ran. Seharusnya kedua remaja itu sudah turun karena jalur Gunung yang memiliki ketinggian sekitar 1.726 mdpl itu tidak terlalu terjal dan waktu tempuhnya juga relatif singkat hanya berkisar 2-3 jam sehingga ramah untuk pemula.
Meski secara etimologi, Gunung Andong memiliki aktivitas magma vulkanik yang aktif, tapi aman untuk dijadikan tempat pendakian. Dan hal yang paling penting tiket murah serta kepuasan mengagumi keindahan ciptaan-Nya. Mungkin Elaine dan Ran sedang memburu pemandangan matahari terbit yang memang sangat menakjubkan.
Menurut Bhaskoro, Gunung Andong adalah gunung bertipe perisai yang terletak di perbatasan Kecamatan Ngablak dan Kecamatan Grabag, tepatnya di sekitar Desa Girirejo, Desa Tlogorejo, dan Desa Ngablak dengan empat puncak yang membentang dari barat ke timur, yaitu Puncak Makam, Puncak Jiwa, Puncak Andong sebagai puncak tertinggi, dan Puncak Alap-alap.
Saat ini kami sedang berada di basecamp Dusun Sawit yang berdekatan dengan basecamp Dusun Pendem. Sedangkan basecamp Dusun Gugik sementara ini ditutup. Ada juga basecamp Dusun Temu, Dusun Kudusan, dan Dusun Sekararum Kembangan, tapi tidak terlalu diminati.
Menurut pemilik warung tempat kami ngopi pagi ini, banyak orang mengira asal-usul nama Gunung Andong berasal dari bentuk puncaknya yang mirip seperti punggung sapi. Dalam istilah setempat punggung sapi disebut Andong.
Namun, dari versi mistisnya, Andong adalah nama daun yang sering dipakai oleh warga setempat dalam ritual tradisi Jawa yang dilakukan di puncak Andong. Karena kegiatan ritual inilah, penamaan Andong yang berarti tempat sesembahan dilakukan. Seiring waktu masih banyak warga yang melakukan semedi atau mencari wangsit di gunung ini sehingga membuat suasana mistis terasa sangat kuat.
Aku tersenyum lebar saat dari kejauhan sosok Elaine muncul. Wajah putihnya memerah dan terlihat capek, tapi senyumnya justru terlihat sumringah. Ran berjalan mengikuti dari belakang dengan banyak tentengan di tangan. Aku menggelengkan kepala, ulah apa lagi yang diperbuat gadis bule itu?
“Bagaimana perjalanannya?” tanyaku saat kedua remaja itu sudah dekat.
“Passionnant. Maman doit écouter mon histoire passionnante,” ujar Elaine bersemangat.
“Quelle histoire?” tanyaku menanggapi.
“Tadi saat berada di pos pendakian ada batu-batu yang bentuknya memanjang mirip dengan pocong, yang dibungkus kain kafan putih. Katanya tempat tersebut dinamakan Pos Watu Pocong.” Elaine bercerita riang.
“Namun, ada juga cerita versi lain. Menurut cerita, para pendaki sering mengalami hal mistis saat melewati pos pendakian tersebut. Mereka sering ditakuti dengan penampakan hantu pocong,” timpal Ran. Laki-laki berdarah blasteran Jepang dan Jawa ini melepas ransel besar dari punggungnya, duduk dengan kaki selonjor sambil mengibaskan tangannya.
“Ada juga cerita dari pendaki Gunung Andong yang diganggu oleh mahkluk gaib, dicubit tangan atau kakinya hingga mengalami sakit. Bahkan pernah salah satu pendaki mengatakan bahwa rekannya dicubit oleh mahkluk gaib saat mendaki Gunung Andong hingga sakit dan harus tertinggal dengan rombongan lainnya,” sela Elaine tak mau kalah. Keduanya seakan berlomba untuk saling bercerita.
“Ohya, Maman, kami tadi juga melewati jembatan selebar 50 cm yang membentang pada medan yang sangat terjal dan luas. Nous devons être très prudents.”
“Kenapa?” pancingku.
“Karena bagian kanan dan kiri adalah jurang, untuk menuju Puncak Alap-alap harus benar-benar menjaga keseimbangan dan stamina agar tidak jatuh. Itu sebabnya jembatan itu dinamakan Jembatan Setan.”
Aku menganguk-angguk. Memang pernah mendengar kisah itu. Konon penamaan Jembatan Setan juga karena banyaknya roh halus yang siap menyerang siapapun yang berniat jahat, seperti merusak tanaman,membuang sampah hingga kencing dan BAB sembarangan.
“Di perjalanan menuju puncak Gunung Andong, kita menemukan batu yang disebut Batu Pertapan.” Ran menyela tak mau kalah.
“Oh, itu. Sesuai namanya, batu ini dulunya merupakan tempat untuk bertapa.” Pemilik warung ikut berkomentar.
“Ada yang lebih menarik,” ujar Elaine sambil mengetuk-ngetukkan telunjuk ke dagu. Aku merasa geli melihat tingkahnya.
“Kami menemukan sebuah makam di puncak. Tampaknya makam itu dikeramatkan oleh warga sekitar.”
“Oh itu, toh. Itu makam seorang tokoh yang dihormati oleh masyarakat sekitar sini yaitu Kyai Abdul Faqih atau sering disebut Ki Joko Pekik, seorang tokoh penyebar agama Islam.” Pemilik warung yang memperkenalkan diri bernama Wati itu menjelaskan.
“Ada yang berpendapat bahwa, Ki Joko Pekik adalah murid dari Sunan Geseng dan seorang pertapa sakti.”
“Sunan Geseng yang kita kunjungi kemaren?” potong Elaine cepat. Aku mengangguk sambil tersenyum
“Namun, ada juga informasi lain yang mengatakan bahwa, Ki Joko Pekik bukan penduduk asli Magelang, tapi beliau berasal dari keturunan kraton Yogyakarta. Siapapun itu, beliau adalah tokoh yang sangat dihormati oleh masyarakat di sekitar Gunung Andong.”
“Wah, sepertinya menarik ceritanya,” ujar Bhaskoro yang mengaku juga belum tahu soal makam yang konon merupakan makam tertinggi di pulau Jawa ini.
“Jadi menurut cerita, ketika Ki Joko Pekik sedang menjalankan tirakat atau bertapa selama 41 hari, beliau meninggal di puncak Gunung Andong sehingga oleh warga sekitar jenazahnya di makamkan di Gunung Andong.”
“Manusia yang di makamkan di puncak Gunung Andong tentu bukan sembarang manusia, karena makam ini berada di ketinggian 1726 mdpl yang tentunya butuh perjuangan, pengorbanan, dan keikhlasan hati dalam memilih tempat pemakaman di puncak gunung dengan tujuan memuliakan hakikat wali tersebut.” Kali ini Ran berpendapat, aku mengiyakan setuju.
“Saat Gunung Andong belum seramai sekarang, kondisi makam Ki Joko Pekik tidak terawat, terkesan menyeramkan dan membuat bulu kuduk merinding setiap mendatangi makam. Bangunannya juga masih sangat sederhana, hanya berupa seng dengan ukuran ruangan 2 x 3 meter, bagian atas makamnya ditutup dengan kain berwarna putih. Namun, meski dikeramatkan, makam tersebut tidak terawat dengan baik. Mungkin warga sekitar jarang datang ke tempat ini, kesan gunung yang mistis dan angker hingga hanya orang dengan tujuan tertentu yang berani mencapai puncak Gunung Andong.” Pemilik warung menyodorkan semangkok mie goreng yang dipesan Elaine sambil melanjutkan ceritanya
“Saat ini Gunung Andong sudah ramai para pendaki, makam Ki Joko Pekik pun sudah dibangun, kondisinya lebih terawat, bersih, dan tidak lagi terkesan angker. Banyak para peziarah yang mendatangi makam, bahkan banyak juga yang datang dari luar daerah seperti Sugihwaras, Purwodadi, bahkan ada yang dari Jawa Timur. Masyarakat juga masih rutin menjalankan ritual seperti merti dusun atau bersih desa untuk menghargai leluhurnya terutama Ki Joko Pekik,” pungkas Mbak Wati. Setelah menyodorkan sepiring mie goreng instan pada Ran, perempuan bertubuh gempal itu mengundurkan diri untuk melayani pengunjung yang mulai memadati warung bambu berkurang 6×7 meter tersebut.
***
note:
Passionnant: seru
Maman doit écouter mon histoire passionnante: Maman harus mendengarkan ceritaku yang seru.
Quelle histoire?: Cerita apa?
Nous devons être très prudents: Kami harus ekstra hati-hati











