Hampir setiap hari sebuah makam di desa Gunung Pring yang merupakan salah satu wisata religi yang cukup tersohor ramai dikunjungi oleh wisatawan untuk melakukan ziarah. Tempat wisata religi yang berada sekitar 400 mdpl tersebut buka setiap hari selama 24 jam, sehingga pengunjung bebas datang kapan saja.
Namun, kita tidak akan membahas tentang makam, berada pada jalur wisata Makam Aulia tersebut, tepatnya dekat Kantor Balai Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan terdapat komplek candi yang terdiri dari 5 buah candi, berderet sejajar menghadap ke timur, tapi sayang hanya tinggal 1 candi yang masih utuh, 4 lainnya hanya tinggal kaki candi.
Candi yang diberi nama Candi Ngawen, sesuai nama desa tempat candi berada, berdasarkan gaya arsitektur bagunannya, diperkirakan dibangun sekitar abad IX – X Masehi dan berlatar belakang agama Buddha dengan bukti keberadaan arca Dhyani Budhha Ratnasambhawa dan arca Dhayni Buddha Amithaba di candi ini.
Keberadaannya di tengah-tengah saluran irigasi membuat Candi Ngawen memiliki keunikan tersendiri. Tidak ada yang tahu bagaimana itu bisa terjadi, tetapi hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri dibanding candi-candi lain. Keberadaan 4 buah arca singa di setiap sudut candi II dan Candi IV juga menjadi keunikan lain.
Candi Ngawen terdiri dari lima candi kecil yang tersusun rapi dari utara ke selatan, menghadap ke timur merupakan salah satu keunikan tersendiri.
Adanya arca singa yang ditempatkan di sudut-sudut candi, khususnya di candi kedua dan keempat adalah salah satu ciri khas yang tidak umum ada pada candi lain di Indonesia. Arca-arca ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga sebagai saluran pembuangan air.
Candi Ngawen memiliki arca Buddha Dhyani, yang merupakan simbol dari lima elemen kosmos dalam kepercayaan Buddha. Dua candi dihiasi arca singa jantan yang kokoh berdiri dengan dua kaki belakangnya. Di candi utama, terdapat patung Buddha dalam sikap duduk Ratna Sambawa, dengan gestur tangan Dyani Budha Ratna Sambawa. Posisi tersebut melambangkan momen ketika Buddha Gautama memohon bantuan Dewi Bumi untuk mengusir bahaya saat beliau bermeditasi di bawah pohon Bodhi.
Perpaduan gaya arsitektur Hindu dan Buddha, juga merupakan keistimewaan lain Candi Ngawen yang bisa dilihat dari bentuk candi yang mengerucut ke atas. Serta adanya stupa di atap candi. Keindahan Candi Ngawen semakin lengkap dengan ukiran Kinara-Kinari, makhluk khayangan berwujud setengah manusia setengah burung. Relief tersebut menampilkan Kinara-Kinari yang diapit oleh kalpataru, pohon kehidupan abadi. Dahan-dahan kalpataru digambarkan menjuntai penuh dengan berbagai perhiasan indah.
Hiasan lain yang tak kalah menarik adalah motif tumbuhan sulur gelung. Tanaman menjalar dengan pola ikal berulang ini menghiasi pelipit bagian atas dan kaki candi. Di sisi luar kaki candi, terdapat pula relief bunga matahari di dalam lingkaran, menambah pesona Candi Ngawen.
Diduga merupakan bangunan suci yang disebut dalam Prasasti Karang Tengah. Menurut Prasasti Karang Tengah, Candi Ngawen didirikan pada tahun 824 M oleh Dinasti Syailendra pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Dalam prasasti tersebut, Candi Ngawen juga mendapat julukan Venuvana yang berarti hutan bambu.
Konon pada masanya Candi Ngawen digunakan sebagai tempat pemujaan dan pusat kegiatan keagamaan bagi umat Buddha. Candi ini juga memiliki relief-relief yang menggambarkan ajaran Buddha, serta arca-arca Buddha yang menjadi ciri khas candi bercorak Buddha Mahayana.
Beberapa arca Buddha ditemukan dalam posisi dhyana mudra atau posisi meditasi dan dharmachakra mudra atau posisi mengajarkan dharma, yang mencerminkan fungsi keagamaan candi ini.
Seperti kebanyakan candi-candi yang ditemukan di sekitar Magelang, Candi Ngawen pertama kali juga ditemukan dalam keadaan runtuh dan terkubur sebagian oleh tanah. Pada sekitar tahun 1920 pemugaran candi dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Namun, hingga kini, beberapa bagian candi masih dalam kondisi rusak, meski upaya pelestarian terus dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.
Candi yang merupakan bagian dari situs-situs peninggalan budaya Mataram kuno ini memiliki nilai sejarah yang penting dan menjadi salah satu bukti kekayaan sejarah dan budaya Indonesia, menarik perhatian para wisatawan yang tertarik dengan sejarah dan arsitektur kuno. Keberadaan yang tidak sulit dijangkau memiliki potensi sebagai salah satu objek wisata di Kabupaten Magelang yang bisa dikunjungi bersama dengan candi-candi lain di sekitarnya.
Keberadaan Candi Ngawen memang cukup memberikan kontribusi yang penting dalam memahami perkembangan agama Buddha di tanah Jawa karena merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang bercorak Buddha, sekaligus memberikan informasi tentang kehidupan dan kebudayaan pada masa itu.
Keberadaan Candi Ngawen yang berada tak jauh dari Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon, menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat keagamaan dan budaya yang signifikan pada masa lalu.
Keindahan Candi Ngawen semakin lengkap dengan taman cantik yang mengelilinginya. Pohon-pohon palem dan tanaman hias yang sengaja ditanam di sekitar candi menciptakan suasana sejuk dan asri, menjadikannya tempat yang cocok untuk bersantai dan berwisata bersama keluarga. Meskipun lokasinya yang tidak tepat berada di lereng Gunung Merapi, tapi udara segar yang menyejukkan, pemandangan dengan spot Merapi yang gagah, membuat suasana asri yang nyaman.
Sebagai tempat wisata Candi Ngawen juga memiliki manfaat dalam pengembangan desa wisata sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar, dengan catatan semua kegiatan dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian situs.
Dengan demikian, Candi Ngawen bukan hanya sebuah situs bersejarah, tetapi permata yang harus dijaga kelestariannya karena banyak memberikan kontribusi penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat dan potensi untuk pengembangan yang berkelanjutan.








