Home / Genre / Fiksi Sejarah / 24. Legenda Si Anak Bajang Titisan Leluhur Gunung Sumbing

24. Legenda Si Anak Bajang Titisan Leluhur Gunung Sumbing

THE HIDDEN SITE OF TUIN VAN JAVA 1600X900
1
This entry is part 24 of 28 in the series The Hidden Site of Tuin van Java

Suara azan subuh membangunkanku setelah semalam aku tertidur seperti orang pingsan. Elaine bahkan tak sempat berganti pakaian, dia mengatakan sangat lelah sekaligus puas, lalu tubuhnya rebah di kasur dan dengkur halus langsung terdengar. Semalam Bhaskoro mengantar aku dan Elaine sampai ke rumah. Sudah terlalu malam untuk mampir ke bengKel temannya.

“Bonjour Mon Cherry,” sapaku membangunkan. Elaine mengucek mata sambil menguap lebar.

Apakah Monsieur Bhaskoro sudah mengantarkan mobil Maman?” tanya Elaine tanpa membalas salamku.

“Belum, mungkin sebentar lagi,” jawabku sambil beranjak mengambil air wudhu, bersiap menunaikan kewajiban dua rakaat.

“Maman, aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Elaine, menghadangku di depan pintu kamar mandi

“Que veux-tu demander?” Aku balik bertanya dengan alis terangkat.

“Qui sait,” jawab Elaine sambil mengedikkan bahu, ada keraguan di matanya

“Kita salat dulu, keburu waktu subuhnya habis,” titahku tegas. Elaine mengangguk, segera melesat masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian dia sudah berdiri di belakangku bersiap untuk salat.

Baru selesai mengucap salam, terdengar pintu diketuk. Tanpa melepas mukena aku berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. Sosok yang berdiri membelakangi pintu itu sontak membuatku menghela napas panjang. Sepagi ini Bhaskoro sudah datang.

“Assalamualaikum,” sapanya saat pintu terbuka, senyum lebar mengembang penuh arti.

“Waalaikumussalam,” jawabku singkat. Setelah perjalanan dua hari bersamanya kenapa aku kembali merasa nyaman menatap matanya? Bahkan dalam diam aku mulai menunggu kemunculannya. Allah … tolong jangan tumbuhkan lagi cinta yang salah ini.

“Maaf, mas cuma mau balikin mobil,” ujarnya sambil menyerahkan kunci.

“Eh, i … iya,” jawabku gugup. Bhaskoro terkekeh kecil.

“Adek gugup, ya?” tebaknya telak, wajahku pasti sudah seperti tomat matang karena malu, laki-laki ini selalu bisa menebak pikiranku.

“Pasti karena belum mandi,” godanya lagi. Aku mencebik.

“Ya, udah … mas langsung pamit. Kalau butuh bantuan atau guide jangan sungkan kontak mas,” ujarnya. Aku mengangguk.

“Ohya, terima kasih atas bantuannya.” Aku berucap lirih tanpa berani menatap matanya lagi. Kenapa debat di dadaku  kembali menggeliat?

“Sama-sama, mas juga mengucapkan terima kasih karena sudah beri kesempatan pada mas untuk perbaiki hubungan kita.”

Perbaiki hubungan? What …? Maksudnya apa? Nggak mungkin kan kalau hubungan kembali seperti dulu sebelum aku tahu bahwa aku mencintai orang yang salah?

Aku mengangkat kepala, mencoba menanyakan maksud kalimatnya, tapi sebelum bibirku sempat terbuka, aku merasakan ada sentuhan hangat dan kenyal menyentuh pipiku dengan cepat. Darahku seakan tersirap, aku kehilangan kata-kata, diam terpaku tanpa aksara yang bisa melukisan bagaimana kacaunya perasaanku saat ini.

“Maman.”

Suara Elaine memecah canggung di antara kami, tanpa banyak kata Bhaskoro berbalik dan melangkah pergi, tapi sebelum mencapai pintu laki-laki itu masih sempat menoleh sekilas dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Wow, mobilnya sudah kembali,” sorak Elaine girang.

“Monsieur Bhaskoro yang mengantarkan sendiri?” tanya Elaine. Aku mengangguk.

“Aku melihat Monsieur Bhaskoro sangat mencintai Maman.”

“Cinta saja tidak cukup. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan, bahwa cinta tanpa logika adalah hal yang salah,” ujarku sambil mengembuskan napas dengan berat, ada sesuatu yang menindih hatiku saat mengucap kalimat itu.

“Tapi jatuh cinta tidak salah, kan? Bukankah cinta adalah anugerah? Dan kita tidak bisa memilih pada siapa cinta itu jatuh?”

“Itu semuanya benar, tapi manusia diberi akal, bukan? Dengan akal kita bisa memilih dan memilah mana yang pantas dan tidak. Jika memaksakan kehendak dengan mengorbankan perasaan orang lain, maka tidak ada bedanya dengan binatang yang hanya menurutkan napsu,” tandasku.

Elaine diam, alisnya berjabat tanda berpikir keras, sesaat kemudian dia mengangkat wajah sambil menghela napas panjang.

“Aku pikir aku jatuh cinta pada Ran.”

“Tu es sérieux?” Meski sebenarnya aku sudah menduga, tapi pernyataan Elaine yang tiba-tiba membuatku terkejut juga.

“Oui,” jawab Elaine cepat.

“Tu es sûr?” tanyaku lagi

“Oui, tapi aku tidak salah, kan?”

“Tentu saja tidak salah, tapi kamu harus punya alasan apa yang membuatmu jatuh cinta?”

“Bukankah syarat mencintai itu ketika kita tidak bisa lagi menemukan alasan apa yang membuat kita jatuh cinta?” sanggah Elaine. Aku menatap dengan bibir membulat.

“Siapa yang mengatakan demikian?”

“Papa,” jawabnya cepat.

“Papa …?” Aku mengulang terbata.

“Ya, papa pernah mengatakan dia tidak menemukan alasan kenapa begitu mencintai Maman, meski Papa tahu Maman tidak pernah mencintainya.”

Aku merasa seperti ada bongkahan es yang menghujam kepala, sakit, perih, dan membuatku kehilangan kata-kata. Benarkah sebesar itu cinta Pierre? Benarkah dia mencintaiku tanpa alasan? Dadaku berkedut hebat hingga aku merasa sulit bernapas.

Beruntung Ran muncul di waktu yang tepat. Elaine segera menemui laki-laki yang telah membuatnya jatuh cinta itu dengan senyum mengembang. Aku beringsut pelahan menuju kamar, sepertinya butuh ekstra asupan oksigen untuk meredam kecamuk di otak.

***

Aku keluar menyambut Ran setelah merasa lebih baik. Mandi air hangat di bawah guyuran shower cukup efektif mencairkan gumpalan isi kepala. Ternyata Elaine pun sudah siap dengan balutan celana cutbray berbahan jins dipadu sweater turtle neck. Pesona cantik menguar alami, pantas saja jika Ran jatuh cinta.

“Hari ini mau kemana?” tanyaku sambil menyalami Ran.

“Bagaimana kalau Nepal Van Java?” usul Ran. Aku menatap Elaine minta pendapat. Gadis itu mengedikkan bahu dengan sudut bibir terangkat.

“Oke, sepertinya menarik juga eksplorasi ke lereng Sumbing,” jawabku akhirnya. Tanpa komando Elaine berjalan mendahului menuju mobil yang sengaja tidak dimasukkan garasi oleh Bhaskoro.

Tak butuh waktu lama, mobil segera melaju menuju arah Bandongan. Jalanan terus menanjak menuju arah Kajoran. Karena bukan hari libur, jalanan relatif lebih sepi hingga hanya butuh waktu 30 menit dari Desa Bayeman tempat kami tinggal untuk tiba di desa Suropati.

Bagi wisatawan ataupun pendaki yang hendak menuju Negeri Sayur Sukomakmur atau Nepal Van Java, tentu akan melewati Desa Wisata Sutopati, sebuah desa wisata alam yang terletak di sebelah barat laut Kabupaten Magelang, tepatnya di Kecamatan Kajoran, atau berada di lereng Gunung Sumbing dengan ketinggian 875 mdpl

Desa Sutopati berbatasan langsung dengan Kabupaten Wonosobo, Kecamatan Kaliangkrik dan dua desa lain yang termasuk di Kecamatan Kajoran. Memiliki luas wilayah 1.304.149 Ha dan terdiri dari 13 dusun. Di wilayah ini terdapat berbagai macam keindahan alam dan budaya yang jarang bisa ditemukan di kota-kota besar.

Aku menghentikan mobil di area Desa Wisata. Udara yang segar , keindahan alamnya yang memanjakan mata dan pikiran. Memang benar siapa saja yang mendatangi tempat di lereng Gunung Sumbing ini, pikiran akan menjadi segar kembali. Suasana pegunungan dan udara yang sejuk cocok bagi mereka yang ingin sejenak melupakan penat dan hiruk pikuk perkotaan.

Kami duduk di pendopo desa wisata Sutopati sambil menikmati gorengan dan teh hangat yang dijual di warung sekitar. Pemilik warung yang merupakan penduduk asli, saat kami mengajaknya ngobrol mengatakan asal nama Sutopati berasal dari dua kata, yaitu suto dan pati. Suto berarti anak dan pati berarti raja, sehingga Sutopati berarti anak raja.

Menurut pemilik warung yang murah senyum itu, konon pada jaman dahulu hiduplah dua Kyai yang bernama Simbah Kyai Dongkar dan Kyai Angggo Kerti. Dikisahkan Kyai Dongkar tidak memiliki anak sedangkan Kyai Anggo Kerti memiliki dua anak. Karena kedua kyai tersebut bersahabat baik, maka kedua anak Kyai Anggo Kerti juga dianggap seperti anak sendiri oleh Kyai Dongkar. Daerah kekuasaan kedua kyai inilah yang kemudian bernama Sutopati.

Tanpa diminta, pemilik warung bercerita tentang mitos desa Sutopati. Seperti juga desa-desa lain, desa ini juga memiliki mitos yang sering disebut dalam cerita rakyat Gunung Sumbing, meskipun tidak ada tokoh yang secara eksplisit disebut sebagai “titisan leluhur” gunung. Namun, ada cerita tentang “Si Anak Bajang” yang dianggap sebagai titisan leluhur Gunung Sumbing.

“Si Anak Bajang” adalah tokoh dalam cerita rakyat Gunung Sumbing yang dipercaya sebagai titisan leluhur gunung. Memiliki keterkaitan erat dengan Gunung Sumbing dan dipercaya menjaga serta melindungi gunung tersebut.

Menurut pemilik warung yang mengenalkan diri bernama Pak Yadi ini, cerita, “Si Anak Bajang” sering digambarkan sebagai sosok yang bijaksana dan memiliki kekuatan spiritual yang berhubungan dengan Gunung Sumbing. Ia diyakini sebagai pelindung gunung dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Namun, perlu untuk dicatat bahwa cerita “Si Anak Bajang” dan kaitannya dengan Gunung Sumbing lebih banyak berkembang secara lisan dan turun temurun dalam cerita rakyat. Tidak ada bukti tertulis yang secara resmi mencatat kisah ini.

Meskipun tidak ada sosok titisan leluhur yang jelas, cerita “Si Anak Bajang” memberikan gambaran tentang bagaimana masyarakat Jawa, khususnya yang tinggal di sekitar Gunung Sumbing, memiliki hubungan spiritual dan mitologis dengan gunung tersebut. Uniknya  mayoritas anak Dusun Mentengan Desa Sutopati, Kecamatan  Kajoran berambut Bajang.

Namun, anak-anak berambut bajang di lereng selatan Gunung Sumbing berbeda dengan rambut gimbal atau gembel dari Dieng Wonosobo. Anak-anak rambut bajang di desa Sutopati  tidak berambut gembel tapi berwarna rambut merah.

Orang tua yang memiliki anak berambut bajang harus memperlakukan si anak dengan istimewa. Pada usia tertentu akan dilakukan upacara pemotongan rambut melalui proses ruwatan dengan syarat yang diminta si anak. Orang tua dengan berbagai usaha harus mengabulkan apapun yang diminta sang anak. Jika tidak, orang tua mereka percaya petaka akan datang.

Beruntung jika apa yang diminta si anak tidak aneh-aneh, biasanya berupa jajanan pasar, mainan, sepeda, hingga hewan ternak warna tertentu. Setelah permintaan si anak dipenuhi orang tua akan mempersiapkan uboh rampe atau kelengkapan ritual pemotongan rambut bajangnya.

Layaknya hajatan besar, prosesi pemotongan rambut bajang digelar selama 3 hari. Diawali doa bersama, kenduri ratusan tamu kerabat dan tetangga hingga pemotongan rambut bajang oleh sesepuh desa. Jika mampu orang tua si anak akan menyembelih kambing.

Menurut Pak Yadi, anak-anak berambut bajang diyakini sebagai titisan Kyai Dompyong dan Ki Ageng Makukuan, leluhur masyarakat Sutopati. Mereka dipercaya memiliki daya lebih dan mampu berhubungan dengan alam gaib. Sehingga harus digelar prosesi ritual istimewa saat memotong rambutnya.

Prosesi pemotongan itu bermakna memohon keselamatan kepada Tuhan dari segala bentuk pengaruh buruk. Pemotongan rambut bajang dilakukan saat anak memasuki usia 4 atau 7 tahun, agar ucapan permintaan tidak berubah-ubah. Konon jika permintaan tidak dituruti, kelak si anak gampang sakit dan hidup tidak tentram.

Berkah semesta tersebut, dipercaya sudah turun temurun dari nenek moyang warga lereng Sumbing. Hampir 50 persen anak-anak lereng Sumbing berambut bajang dan menjalani tradisi ritual potong rambut bajang yang dilestarikan hingga saat ini. Pak Yadi mengakhiri penjalasannya yang cukup menarik.

Setelah menghabiskan sepiring gorengan dan teh hangat, kami pamit melanjutkan perjalanan. Memang desa Sutopati sangat indah. Selain hamparan sawah, kebun, dan bukit-bukit yang indah, di Desa Sutopati terdapat aliran air terjun yang indah bernama Curug Silawe yang berada di sebelah barat desa. Air terjun Curug Silawe yang berasal dari salah satu mata air Gunung Sumbing memiliki ketinggian sekitar 60 m. Konon air terjun ini dihuni oleh banyak laba-laba atau lawe sehingga dinamakan Curug Silawe.

Udara sejuk Gunung Sumbing, panorama indah hutan pinus, dan suara-suara alami yang ada di sekitarnya akan membuat kembali teringat pada kebesaran-Nya. Masyarakat yang kental dengan keramahannya turut menguatkan suasana pedesaan, menjadikan wisatawan betah di tempat ini

***

Note :

Que veux-tu demander: Mau bertanya apa
Qui sait: Entah
Tu es sérieux: Kamu serius
Oui ya
Tu es sûr: Kamu yakin

The Hidden Site of Tuin van Java

2. Menguak Misteri Gunung Telomoyo 5. Kisah Spiritual Nepal Van Java

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image