Setiap hari Minggu kita setia beribadah ke Rumah Tuhan dan mendapatkan bekal rohani dari pendeta maupun kesaksian hidup sesama saudara seiman, orang-orang percaya. Akan tetapi, bagaimana dengan hari-hari lain, di mana kita berada di dalam dunia beserta orang-orang yang belum mengenal Tuhan? Apa yang bisa kita lakukan agar mereka turut mengenal kasih Tuhan?
Bukan hanya bagi sesama orang percaya saja, kita sebagai orang percaya hendaklah bercahaya bagi semua orang (juga yang belum percaya atau anak-anak terhilang).
“Caranya bagaimana? Saya ‘kan gak pintar bicara, gak bisa bersaksi, malu ah, nanti dikira saya sok rohani atau religius!”
Jadilah sebuah pelita! Menjadi pelita tak lantas berarti harus menyala jreng atau jeng-jeng-jeng seperti seorang selebriti memasuki ruangan. Tidak harus tampil berkilau menyilaukan alias luar biasa secara penampilan agar semua mata tertuju pada Anda. Caranya bagaimana?
Inilah beberapa fakta-fakta indah mengenai sebuah pelita:
- Pelita bersinar bagi siapa saja dalam sebuah ruangan. Dalam situasi yang gelap/minim cahaya, tak ada yang akan menolak menyalakan atau mendapatkan manfaat dari penerangan. Jadi, jangan takut bercahaya, takkan ada seorangpun akan memadamkan cahaya kita selain kita sendiri yang punya tombol on-off-nya. Ibarat senter (adiknya pelita), apabila selama ini tombol kita masih off, saatnya untuk menyalakan pelita tanpa ragu. Perlakukanlah sesama seperti diri sendiri ingin diperlakukan; dengan penuh kasih, rasa hormat, perhatian dan keinginan untuk melakukan yang terbaik.
- Pelita tidak perlu memaksa mata untuk terus menatapnya, setiap pasang mata ‘tahu’ ia memerlukan cahaya agar dapat melihat sekelilingnya. Pelita tak perlu menjadi serupa dengan ‘matahari’. Matahari yang adalah sumber cahaya utama di bumi adalah penguasa siang hari ciptaan Tuhan. Kita yang adalah makhluk hidup yang secara fisik jauh lebih kecil tidak diberi tugas sebesar itu, tak perlu juga bersaing atau menjadi serupa dengannya.
- Banyak (yang mengaku sebagai) orang-orang percaya berusaha bersinar seterik matahari,sesuatu yang secara tak langsung menyiratkan kesombongan diri. Pelita, meskipun kecil, tidak demikian.
Dunia zaman now yang mementingkan eksis diri di media sosial menawarkan kemudahan bagi siapa saja yang berani viral. Pelita-pelita tergoda untuk menjadi matahari entah di gereja, di komunitas, di dunia maya. Konten-konten rohani viral diluncurkan demi mendapatkan view. Tentu saja tidak semua buruk, akan tetapi hendaknya Tuhan yang dipermuliakan, jangan sampai kita menjadi matahari-matahari kecil yang merampas kemuliaan-Nya. - Pelita memerlukan minyak agar tetap menyala. Minyak adalah ‘bahan bakar’ alias kesiapan kita menghadapi segala ketidakpastian. Persiapan-kesiapan diri yang bukan hanya berupa materi rohani belaka, melainkan bagaimana bertindak apabila dihadapkan pada situasi yang tidak kita inginkan (tantangan, bujukan negatif agar berhenti melayani Tuhan). Minyak kita juga adalah kesaksian pribadi kita (berkat apa saja yang sudah diterima, bukti penyertaan Tuhan yang bisa kita kisahkan pada sesama). Tetap refill minyak lenteramu. Jangan biarkan api semangatmu padam.
Apabila merasa ‘kering’, cobalah ingat-ingat kembali apa saja kebaikan Tuhan yang sudah Anda terima. Masa lalu yang berhasil dilalui, kesembuhan dari sakit, bagaimana Anda dipanggil-Nya. Ada sangat banyak sekali topik yang dapat dijadikan bahan bakar agar pelita dapat menyala.
Kesimpulan: Jadilah pelita yang bercahaya lembut, menerangi dan memberikan kehangatan. Yang berada dalam kegelapan perlahan-lahan dituntun olehnya, yang tersesat kembali menemukan jalan pulang, Anda sendiri semakin diberkati dan menjadi kuat dalam Tuhan. Hendaklah bercahaya, akan tetapi jangan lantas menjadi ‘matahari’. Kemuliaan utama bukanlah milik dan tujuan kita melainkan bagi Tuhan yang telah menjadikan kita saluran cahaya-Nya.
Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.
Tangerang, 17 November 2025











