Home / Fiksi / Humor / Disinhibisi

Disinhibisi

Disinhibisi

Polisi datang lebih dulu. Terburu-buru menaiki tangga menuju bordes lantai dua, petugas di depan mencabut pentungan dari ikat pinggangnya, tetapi tidak perlu ada tindak kekerasan. Syauki Ferry terbaring di lantai meringkuk seperti janin, merintih dengan sedikit suara tak jelas.

“Bangun!” perintah polisi itu. Pria gempal tersebut bangkit dari lantai.

“Tangan di belakang punggung!”

Syauki dengan patuh menyelipkan kedua tangannya ke belakang punggung, diborgol, dan digiring ke lorong.

Ketika mereka menuruni tangga, petugas medis tiba.

“Korban ada di kantor di ujung lorong,” kata polisi yang tidak lagi mengacungkan pentungannya. “Agak berantakan.”

Para petugas medis menemukan Dr. Munawir Dalimunthe terbaring telungkup di lantai kayu paraket dalam keadaan setengah sadar. Mereka dengan lembut membalikkan pria itu hingga terlentang.

Dia bertubuh pendek dan agak gemuk dengan janggut kambing. Sepasang kacamata emas berbingkai kawat tergeletak pecah dan bengkok di sudut ruangan.

“Dr. Munawir,” kata petugas medis itu, sambil mencondongkan tubuh ke arah psikolog yang terkapar. “Bisakah Anda mendengar saya?”

“Di mana aku?” erangnya. “Apa yang terjadi?”

“Salah satu pasien Anda agak agresif, memukuli Anda,” jelas petugas medis itu, “tapi kami akan merawat Anda dengan baik.”

Setelah memindahkan terapis ke kursi portabel yang direntangkan, mereka mengamankan tubuhnya dengan tali kulit dan bersiap untuk membawa pasien ke rumah sakit.

***

“Semua janji temu telah dibatalkan untuk sisa hari ini,” Kartini, resepsionis kantor, mengumumkan sambil menyesap cangkir kopinya.

“Sudah kubilang begitu.”

Joel menyaksikan serentetan pekerja sosial dan psikolog meninggalkan TKP, semua orang kehilangan semangat dan mati rasa karena syok.

“Aku nggak ngerti,” gumam Kartini. Dia duduk dengan murung terbungkus sweter. Tas tangan diletakkan di atas meja mahoni. Keributan itu membuat wanita itu benar-benar kelelahan.

“Dari semua terapis, Dr. Munawir yang paling percaya diri, tak kenal takut menghadapi pasien yang paling merepotkan.”

“Pasien yang merepotkan,” renung Joel. Ada pelaku kejahatan seksual tingkat tiga, pembakar, pencuri, pemukul istri, pedofil yang terobsesi pornografi—dan itu baru puncak gunung es psikopat.

“Bukankah Dr. Munawir kuliah di perguruan tinggi  terkenal yang mewah dan bergengsi?”

“Universitas Nusa Konoha. lulus dengan predikat summa cum laude, nilai tertinggi di angkatannya.”

“Banyak manfaat yang didapatnya dari pendidikan mahal itu.”

“Pulanglah,” desak Joel. “Aku akan mengunci pintu.”

“Kau tidak keberatan?”

Dia menggelengkan kepalanya. “Sama sekali tidak.”

***

Sepuluh menit kemudian, klinik psikiatri plat merah itu kosong. Gedung itu diliputi keheningan yang samar. Joel memeriksa untuk memastikan mesin kopi di ruang staf mati dan lampu dipadamkan. Saat menuruni tangga dari bordes atas, dia mendengar seseorang menggedor pintu depan terus-menerus.

“Siapa yang mengunci pintu sialan itu?”

Indang Bulan Simatupang, petugas kebersihan, berdiri di ambang pintu.

Joel mengantar wanita itu ke lobi dan menjelaskan apa yang terjadi.

“Macam-macam saja,” gerutu Indang Bulan. Seorang wanita yang usianya tak terdefinisikan dengan jelas, Indang Bulan mungkin berusia empat puluh atau seratus empat puluh tahun. Pendek dan padat dengan hidung pesek dan mata cokelat kemerahan yang berair, dia menjalankan tugasnya membersihkan kantor dengan efisien dan pendiam. Terkadang dia berpakaian seperti wanita gelandangan yang menyukai koleksi pakaian bekas tak serasi.

“Aku sudah mencoba memperingatkan si bodoh itu,” ujar Indang Bulan dengan suara serak, “tapi dia tidak mau mendengarkan. Apalagi masukan dari petugas kebersihan kampungan yang tak tamat SMP macam aku.”

***

Indang Bulan bertemu Dr. Munawir ketika dia sedang membersihkan ruang staf beberapa minggu sebelumnya.

“Pasien itu, yang baru saja meninggalkan kantormu, membuatku merinding,” ujarnya.

Dr. Munawir melongo melihat petugas kebersihan itu. “Pak Syauki membuatmu takut?”

“Matanya itu. Persis mata binatang buas.” Indang Bulan mengerucutkan bibirnya yang keriput. “Kok dia bisa ke sini?”

Komentarnya yang tak pas membuat psikolog itu gelisah. Dia merasa tidak nyaman membahas pasien dengan petugas kebersihan.

“Aku tak mengerti maksudmu.”

“Orang itu tidak akan pernah datang ke sini atas kemauannya sendiri.”

“Ya, memang benar. Pak Syauki dikirim ke sini oleh pengadilan.”

“Kenapa?”

“Dia terlibat perkelahian di bar yang membuat situasinya semakin buruk. Hakim memberinya pilihan konseling atau hukuman penjara.”

“Pasien itu,” Dr. Munawir memasang sikap kaku dan lebih klinis, “menderita gangguan kejang lobus frontal dengan kecenderungan disinhibisi.”

“Disinhibisi?”

“Disinhibisi.”

Dr. Munawir langsung menyadari bahwa dia seharusnya mengabaikan atau, paling banter, menuruti wanita pemarah itu.

“Itu terjadi ketika pasien cenderung kehilangan kendali dan membiarkan amarah menguasai dirinya.”

“Dan itu tidak membuatmu takut?”

Untuk kedua kalinya, Dr. Munawir terkekeh dengan nada agak merendahkan.

“Tidak, sama sekali tidak!”

Dia melepas kacamata berbingkai kawatnya dan membersihkan lensanya dengan sapu tangan. “Sebagai terapis, kamu tak pernah bisa mengkomunikasikan rasa takut.”

Indang Bulan, yang sedang mengosongkan keranjang sampah, mendongak.

“Bilang itu pada ayam-ayam waktu musang yang seharian tidak makan apa pun mampir ke kandang untuk ngobrol santai di sore hari.”

Dr. Munawir merengut. Dia membuat secangkir kopi untuk dirinya sendiri tanpa repot-repot mengosongkan ampas kopi dari teko dan memberi isyarat akan bergegas ke janji temu berikutnya.

“Tulang Ronggur kirim salam,” seru Indang Bulan dengan suara parau, membuat psikolog itu tiba-tiba berhenti di ambang pintu. “Kau tahu dia mungkin akan kembali untuk konseling lagi.”

“Yang mana, ya?” Dr. Munawir berusaha keras mengendalikan kekesalannya terhadap si tua cerewet itu.

“Ronggur Panjaitan. Dia datang untuk konsultasi dengan dokter tiga tahun berturut-turut.”

Indang Bulan menggaruk gatal yang membandel di sisi hidungnya. “Dulu dia pemabuk yang boros. Bahagia, tapi kau menyembuhkannya.”

“Oh, ya. Tentu saja!” Wajah Dr. Munawir tampak cerah. “Apa masalah Ronggur sekarang?”

“Begini,” Indang Bulan mengambil ember dan kain pel dari lemari peralatan dan bersiap untuk mengepel lantai. “Waktu dia berhenti minum dan beralih menjadi peminum kopi, dia malah tambah parah. Dia cakap kasar dan memukuli Namboru Duma. Selasa minggu lalu, Namboru sudah muak, kemas-kemas dan pergi untuk tinggal sama adeknya, Tiur.”

“Orang terkadang mengganti satu gejala dengan sesuatu yang lebih mengganggu.”

“Namboru Duma,” Indang Bulan buru-buru melanjutkan, mengabaikan ucapan psikolog itu, “bilang ke si tukang bully yang suka merengek itu, lantaklah kau membusuk di neraka kalau aku mau menerima kau lagi. Dadah!”

Ya, baiklah…” Dr. Munawir bergegas keluar dari ruang staf seolah-olah celananya dilalap api.

Setelah Dr. Munawir pergi, Indang Bulan mulai menggosok lantai ubin linoleum.

“Apa istilah sok paten tadi?” Dia berbicara tanpa sadar, menyampaikan ucapannya entah kepada siapa karena klinik itu kosong.

“Disinfagarasi… disnotifikasi… disinfestasi… disintegrasi…”


Bekasi, 28 November 2025

Disinhibisi: hilangnya hambatan atau norma sosial yang menyebabkan seseorang berperilaku bertentangan dengan kebiasaan di dunia nyata, sering kali bersifat impulsif, berisiko, atau tidak sehat.

Penulis

  • Rayhan Rawidh

    Penulis genre urban fantasy, chicklit, dewasa, action. Karyanya bisa ditemukan di KBM.id dan fizzo.org,

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image