Home / Topik / Agama / Kehidupan Kristen: Melayani Tuhan dengan Tulus atau ‘Pura-Pura Bahagia’?

Kehidupan Kristen: Melayani Tuhan dengan Tulus atau ‘Pura-Pura Bahagia’?

Kehidupan Kristen 20251128 (pinterest)
3

Banyak orang percaya melayani Tuhan di gereja atau dalam komunitas dengan berbagai alasan. Sama seperti bekerja di mana saja, ada yang benar-benar terpanggil, melayani dengan tulus ikhlas, ada juga yang melayani karena ‘terpaksa’ meskipun diam-diam aja, gak diketahui siapa-siapa. Lho, kok bisa? Barangkali karena gak enakan, merasa jika diri sendiri diawasi/disorot teman-teman seiman agar mendayagunakan kemampuan, selalu tampil maksimal, bahkan bisa semata-mata karena gengsi. Jadilah serigala, eh, rubah-rubah berbulu domba. Jelas gak ada yang mau/suka dijuluki demikian, bukan?

Padahal melayani Tuhan dengan tulus sebenarnya jauh lebih baik daripada diam-diam disertai dengan perasaan terbeban secara negatif atau terpaksa. Inilah beberapa pandangan dan pengingat indah yang perlu bersama-sama kita renungkan.

  1. Patut kita akui, melayani dengan tulus tidaklah semudah kedengaran/kelihatannya. Ada banyak halangan dan rintangan yang harus dilalui, entah faktor eksternal atau internal. Faktor eksternal misalnya permasalahan tempat dan waktu, hubungan dengan keluarga (misalnya menyesuaikan antara waktu pelayanan dengan family time seperti liburan/rekreasi keluarga, mengajar anak-anak) dan sebagainya. Faktor internal adalah kesiapan hati (contoh: malas/enggan, bad mood) dan keterbatasan fisik (misalnya sakit, lelah karena lembur di pekerjaan).

    Halangan dan rintangan akan selalu ada, kita tak mampu terus menerus on track dan ngebut tancap gas ibarat balapan formula satu. Bahkan mobil/motor balap saja perlu masuk pitstop, kita sesekali harus beristirahat sejenak. Bukan berarti vakum/hiatus lama-lama atau malah mundur, melainkan take a break.

    Gunakan waktu rehat sebaik mungkin, sehingga saat kembali melayani, kita berkarya dengan penuh semangat dan stamina.
  2. Apakah boleh melayani sewaktu-waktu aja, gak usah full time? Apabila memang belum menjadi panggilan hati, tentu saja lebih baik disesuaikan dengan waktu dan kemampuan yang ada. Daripada ‘pura-pura bahagia’ melayani, merasa terpaksa, lebih baik melayani dalam kesempatan terbaik meskipun hanya sebentar atau sedikit dulu.

    Jika tetap rindu melayani full time, usahakan semua urusan di dunia nyata sudah selesai. Bayangkan apabilafokus kita terbagi-bagi antara rumah-kantor dengan tempat pelayanan dan sebagainya. Ada anak-anak yang rewel, rumah yang berantakan, pekerjaan yang masih menunggu untuk diselesaikan. Gawai terus berbunyi, kita gelisah ingin kegiatan pelayanan segera usai. Tentu saja selain tidak nyaman, kita jadi kurang maksimal melaksanakan bagian yang seharusnya membawa berkat Tuhan serta manfaat rohani bagi diri dan sesama.
  3. Waktu yang terbaik mungkin sangat jarang datang, akan tetapi apabila tiba, manfaatkanlah sebaik-baiknya. Misalnya cuti yang belum habis di bulan Desember bisa diambil untuk fokus melayani perayaan Natal. Apabila liburan masih bisa ditunda atau dimajukan, mengapa tidak?
  4. Tentu tidak semua orang, bahkan keluarga, mampu mengerti atau menerima dalam hati kegiatan pelayanan yang kita lakukan. Apa ‘sih untungnya? – Demikian penulis pernah menerima pertanyaan dari kerabat. Tentu saja jika tidak ada ‘untung’-nya, penulis tidak pergi melayani. Keuntungan di sini bukan tentang uang, upah, atau bahkan materi. Semua keuntungan atau berkat yang kita dapatkan semata-mata dari Tuhan melalui entah ucapan terima kasih dari hati yang tersentuh dengan nyanyian kita, hati yang diubahkan lewat tulisan kesaksian kita, dan masih banyak lagi. Jika ada berkat lebih, semata-mata juga karena Tuhan izinkan sesama rekan kita berbagi. Jadi, bukan sengaja dikejar atau dicari. Berkat datang tanpa diduga-duga entah berupa pertolongan Tuhan maupun sesama (misalnya: saat sakit, Tuhan karuniakan kesembuhan. Saat berjalan kaki, ada teman bersepeda motor memberi tumpangan dari atau ke stasiun KAI).

Melayani Tuhan dengan tulus tak perlu banyak perhitungan dan pertimbangan. Apabila setia dilakukan, pelayanan ibarat kebun bunga atau buah. Tumbuh subur lalu berbunga wangi atau berbuah manis. Waktu yang dihabiskan tak pernah sia-sia, setiap kata dan nada memuliakan nama Tuhan membawa kebajikan luar biasa.

“Hendaklah kita melayani seperti Tuhan Yesus saat mencuci kaki murid-murid-Nya, tulus tanpa rasa gengsi, malu atau terpaksa. Tetaplah rendah hati dan berkarya dalam apapun bidang pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita sesuai talenta dan waktu masing-masing.”

Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.

Tangerang, 28 November 2025

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

2 Komentar

  • Coach Mikael MM, ChT, NLP
    Balas

    Dedikasi kak Jul terhadap tulisan-tulisannya sungguh luar biasa, dia menunjukkan bahwa bakat menulis juga membutuhkan ketekunan yang tinggi. Karyanya bukan cuma cerita, tapi juga sumber kekuatan dan penghiburan bagi setiap orang yang menatalayani TUHAN. Terima kasih kak Julie yang sudah berbagi dunia melalui karya tulisan ini.. GOD bless you dear ‘sis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image