Natal seringkali menjadi momen paling ditunggu oleh semua Orang Percaya; perayaan kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Akan tetapi seringkali kita (hanya) disibukkan oleh bagaimana merayakan Natal belaka. Seperti halnya hari besar/raya keagamaan lainnya, tentu ada rasa ingin membuat Natal jadi memorable dengan busana baru, pesta yang out-of-the-box, kue-makanan-minuman lezat, hingga apa kartu-hadiah yang bisa kita tukarkan atau persembahkan kepada keluarga dan rekan. Padahal Natal bukan sekadar sebuah perayaan. Benar, Natal adalah hari istimewa yang disepakati jatuh tiap tanggal 25 Desember untuk merayakan hari kelahiran-Nya. Natal boleh saja dijadikan spesial dengan kehadiran Sinterklas, Piet Hitam dan Rudolf dan rusa-rusa lainnya, pohon terang, boneka salju, manusia kue jahe dan lain-lain. Akan tetapi banyak kita telah kehilangan makna sejati dari Natal itu sendiri: peringatan dan kesederhanaan. Peringatan artinya agar kita ingat bahwa Natal berbicara mengenai kesederhanaan. Mengapa Natal penulis maknai sebagai peringatan? Di mana letak kesederhanaan Tuhan, bukankah Dia Maha Pemilik Segalanya?
- Tuhan Yesus tidak lahir seperti seorang selebriti; di rumah sakit mewah didampingi dokter Sp. OG pilihan dengan paket lahiran FYP medsos dari sewa fotografer hingga menu hidangan VIP untuk ibu yang baru melahirkan, dan sebagainya. Gak ada satu set pakaian bayi baru lahir dikenakan kepada-Nya. Gak ada bedding set dan dekorasi baby room mewah bagi-Nya. Hanya dikelilingi hewan-hewan ternak dalam sebuah kandang hewan, diletakkan di atas palungan. Banyak manusia gak suka pada hewan (padahal omnivora, bukan herbivora!), itulah sebabnya mereka yang belum mengerti kelahiran-Nya kerap bertanya-tanya, kok Tuhan mau-maunya digituin. Begitu ‘sederhana’-Nya cara Tuhan kita sehingga Dia rela turun dari Sorga dan jadi ‘sama’ dengan manusia.
- Namun di balik kesederhanaan juga ada peringatan. Bintang di langit bersinar menunjukkan di mana Yesus lahir sehingga para gembala menemukan-Nya. Bukan tanda-tanda alam spektakuler, ‘hanya’ bintang yang tampak lebih terang dari bintang-bintang lainnya. Dalam kegelapan malam, ada harapan.
Jauh ke masa kini, penulis mendapati kenyataan jika tidak semua orang ‘menengadah ke langit’ dan berhasil ‘menemukan’ bintang itu. Mereka sibuk ‘melihat ke bawah saja’ alias kerap membandingkan diri dengan sesama, bahkan merendahkan yang dianggap lebih rendah. Enggan menatap ke atas untuk mencari pertolongan dari Tuhan. Padahal harapan itu ada di atas sana. Peringatan Natal bukan warning, melainkan a gentle reminder bahwa Dia bercahaya bagi semua manusia. Natal diperingati setiap tahun bukan hanya karena kewajiban agama melainkan agar harapan itu ‘lahir kembali’ dalam hati setiap Orang Percaya. - Bagi sesama orang tua atau kakek-nenek, kita perlu memberitakan sejarah/makna Hari Natal kepada anak-anak/cucu kita agar mereka tidak mengenal Natal hanya dari bagaimana cara dunia merayakannya. Seperti di mall atau game online ada event-event Natal berhadiah, tukar-menukar kado, atau mengidentikkan Natal hanya dengan hiasan indah berwarna merah-hijau-emas belaka. Masih banyak anak mengenal apa itu ‘Hari Natal’ tapi belum ‘mengenal’ Yesus. Mengenal irama bahkan menyanyikan lagu-lagu Natal hanya tentang musim dingin dan salju saja, bukan tentang kisah kelahiran Yesus. Saatnya untuk bercerita bahwa Yesus lahir untuk kita, bahkan untuk menebus dosa semua manusia.
Natal hanya satu tahun sekali akan tetapi semangat atau spirit-nya hendaklah kita peringati setiap hari. Mari ubah cara pandang kita terhadap Natal agar bukan hanya dirayakan dalam kemewahan dan kemegahan, melainkan sebagai peringatan maha indah sekaligus kesederhanaan.
Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.
Tangerang, 4-5 Desember 2025











