Beranda / Fiksi / Cerbung / 79. Duel Duli vs. Hercule

79. Duel Duli vs. Hercule

Kementerian Kematian
This entry is part 80 of 88 in the series Kementerian Kematian

Dora berhenti, menatapku. Aku rasa dia pikir aku gila. Tidak bisa menyalahkannya. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa, dan aku memanfaatkan keheningan ini sebagai kesempatan untuk menjelaskan maksud dan tujuanku.

“Kita tidak bisa pergi sebelum kita selesai dengan Irmee!”

“Woi, apa kau sudah gila?”

“Dia di lantai atas, dia di sana, Dora! Hanya beberapa lantai yang memisahkan antara kita dan dia! Kita bisa akhiri ini di sini dan sekarang juga!”

“Dia benar, kau tahu?” kata Duli.

“Apa?” Dora berbalik tajam dan menatap Duli. “Ayolah, kita semua tahu Irmee tak akan berhenti, dan Bayi tidak akan beruntung untuk ketiga kalinya berturut-turut,”

Duli mengembuskan asap rokok dan tersenyum. “Lagipula, aku sudah melewati titik di mana aku tidak bisa kembali, jadi tidak ada jalan keluar yang mudah bagiku.”

“Dora, dengarkan dia! Begitulah jadinya nanti!” Aku menunjuk Duli. “Irmee mencoba mengambil otak dan darahku, dia tidak peduli lagi! Kita harus menghabisi wanita gila ini!”

“Bayi, apa yang kau katakan?” Dora mencengkeram bahuku dan mengguncangku kuat-kuat. “Mana mungkin Duli benar?”

“Dia benar, Dora, Irmee tidak akan berhenti dan—” ulangku.

“Tidak-tidak-tidak, dengarkan, Nak, Raz sudah mengangkat masalah ini, masalahnya langsung sampai ke atas, ada kekhawatiran yang berkembang, dan hasilnya akan diketahui dalam beberapa minggu atau bahkan beberapa hari ke depan! Dan—”

“Dan ini hanyalah formalitas sialan yang akan membuang-buang waktu dan sumber daya, dan pada akhirnya, tidak mencapai apa pun. Irmee tidak mau berhenti.”

Duli meludah ke lantai dan mematikan rokok di atas salah satu mayat. “Kita melanggar semua aturan yang ada untuk menyelamatkan Bayi. Berurusan dengan Irmee tidak akan menambah banyak masalah kita. Tapi mungkin akan menyelesaikan beberapa masalah dalam jangka panjang.”

“Aku masih tidak suka ini sedikit pun,” gumam Dora sambil menggelengkan kepala. “Tidak mungkin, ini benar-benar gila—”

“Dora!” giliranku untuk membujuknya. “Omong kosong! Irmee gila banget, dia takkan berhenti!”

“Tapi dia tak akan mengejarmu ke dalam gdung pemerintahan.” Dora masih berusaha aman.

“Persetan dengan gedung pemerintahan! Kantor kita sialan! Aku tidak mau kembali ke sana! Aku tidak sudi duduk di sana bertahun-tahun tanpa kepastian! Lebih baik aku mati di sini daripada sembunyi kayak tikus!”

“Dia benar, tahu?” kata Duli.

“Aku tahu itu! Tapi ini gila!”

“Bukankah yang sudah kita lakukan di sini juga gila?” Duli menusukkan ujung pistol ke mayat-mayat di lantai, lalu mengedipkan mata padaku. “Masih ada lima belas lantai lagi.”

“Lima belas? Kukira kalian jatuh di lantai 87…”

“Aku mau lihat apa yang terjadi di lantai bawah,” dia tersenyum.

“Sialan…” Dora menggelengkan kepalanya. Aku melihat dia sudah membuat keputusan, tapi terlalu takut untuk mengatakannya.

Rupanya, Duli juga tahu, karena dia mendekati Dora  dan menempelkan hidungnya ke dahinya.

“Hei, Nak, ayo, kita lakukan ini. Padam dalam kobaran api seperti yang kita impikan. Pasti indah.”

“Sialan kau, dasar brengsek. Aku masih tidak suka, tapi ayo kita lakukan ini.” Dia mengangguk. “Ayo kita habisi Irmee.”

***

Hanya beberapa lantai yang memisahkan kami dari Irmee. Duli sangat yakin dia tidak akan mencoba kabur. Tidak, malah, dia akan menunggu kami di lantai atas.

“Itulah yang dikatakan Kodeks Direktur Operasional,” katanya saat kami berjalan menuju tangga. “Dia tidak bisa kabur. Direktur Operasional terpaksa menerima kematian di puncak Markas Besar Kalau yang satu diserang dan jatuh. Dan, sejujurnya, dia juga tidak akan kabur. Penyihir tua itu bukan orang yang penakut, bisa kukatakan itu. Tak pernah lari dari pertarungan, bahkan saat kita semua masih di pihak manusia.”

Labirin koridor itu tampak seperti bahan bakar mimpi buruk. Ketika pertama kali aku bertanya-tanya bagaimana Dora dan Duli bisa sampai ke sana secepat ini dari lantai 87, kupikir mungkin mereka menggunakan mode tak kasat mata atau keamanan perusahaan tidak peduli dengan mereka. Lalu aku ingat mereka menabrakkan helikopter sialan itu ke gedung, dan Duli bukan tipe orang yang suka menyusup diam-diam. Keamanan perusahaan pasti bodoh, tuli, dan buta untuk mengabaikan pintu masuk semacam ini.

Dan ternyata tidak.

Setelah melewati puluhan mayat yang dimutilasi, dibantai dengan cara yang paling indah, jelas mereka mengerahkan segalanya untuk menghentikan Duli dan Dora.

Dan mereka tidak bisa.

Aku tidak ragu siapa dalang utama di balik penyerangan ini, tetapi setelah melihat akibatnya, aku akhirnya mengerti bahwa Duli adalah inkarnasi kematian. Penguasa perang sejati yang baginya seluruh pasukan agen korporat tidak berarti apa-apa. Mungkin menjadi mayat hidup abadi yang bisa menahan peluru seperti spons juga sangat membantu.

Dora bersikeras untuk tidak menggunakan lift. Dia yakin jika ada kesempatan bagi kami untuk menjadi sasaran empuk—lift adalah salah satunya. Lagipula, hanya ada beberapa lantai di atas, bukan jarak sejauh ini.

Duli, di sisi lain, memilih naik melalui lift karena akan menyenangkan. Setelah percakapan yang cukup singkat namun panas, mereka menatapku untuk meminta suara.

Akal sehatku mengatakan untuk memilih Dora. Namun, nafsuku akan darah menyuruhku untuk memihak Duli. Aku mempertimbangkan semua kemungkinan dan memilih Duli. Dora tidak senang tetapi harus setuju. Namun, dia bergumam bahwa kalau kami terbunuh, dia akan sangat tidak senang, dan Duli bisa melupakan rencana untuk berkencan dengannya untuk waktu yang sangat lama.

Kaminaik lift.

“Bagaimana dengan Meklice si Jalang?” tanya Duli.

“Meklen juga ada di sana,” kataku.

“Bagus,” Duli menyeringai.

Kami masuk ke dalam lift.

“Kau tahu, aku menampar pantatnya,” aku memutuskan untuk menyombongkan diri.

“Yang betol!” teriak Dora dan tertawa. “Bagaimana?”

“Dia tidak suka, tapi pantatnya sangat bagus.”

“Ya, sayang sekali itu menempel pada tumpukan sampah siber yang mengepul,” Duli mengangguk.

“Ya,” kataku.

“Woi,” Dora setuju.

Lift berhenti di lantai 100. Kami harus ke lantai 101.

“Aku tidak suka,” kata Dora dan menatap Duli. “Kalau kita disambut regu tembak ketika pintu terbuka, aku akan sangat marah padamu.”

Pintu terbuka, tetapi tidak ada regu tembak. Sebaliknya, di ujung koridor yang amat jauh itu, hanya Hercule Meklen sendiri yang berdiri. Dia memegang senapan serbu yang berat, tetapi tidak terburu-buru menembak. Yang mengejutkanku, Duli pun demikian.

“Nah, itu sepertinya pemberhentianku,” Duli tersenyum dan melangkah keluar dari lift, melemparkan senapan serbu, pistol, shotgun, dan granat ke samping.

Dia melirik kami dan berkata, “Kalian pergilah, aku punya satu persoalan untuk diselesaikan di lantai ini. Dan jangan lupa tahan lift untukku. Aku tidak mau membuang waktu terlalu banyak memencet tombol.”

Meklen menggeram dan melempar senapannya juga. Dia mulai berjalan ke arah Duli. Dora dan aku saling berpandangan. Dia menekan tombol untuk menutup pintu, tetapi sepertinya tombol ini tidak berfungsi karena pintunya menutup sangat lambat, dan kami tanpa sadar menjadi saksi dialog paling aneh, canggung, dan penuh testosteron yang pernah kami dengar.

“Oh, jadi kau mendekatiku? Alih-alih melarikan diri, kau malah mendatangiku?”

“Aku tidak bisa menghajarmu atas ucapanmu tentang ibuku tanpa mendekat,” geram Hercule, meretakkan buku-buku jarinya. Sesuatu yang kupikir tidak bisa dia lakukan.

“Begitukah? Kalau begitu, kau mau sedekat apa pun aku siap.” Duli menyembunyikan tangan di saku mantelnya dan mulai berjalan menuju Meklen.

“Begini, sialan, itu benar-benar gaya bences,” kata Dora ketika pintu akhirnya tertutup dan kami menuju ke lantai terakhir.

Aku tidak setuju dengannya. Bagiku itu terlihat sangat keren. Dua musuh bebuyutan sedang mendekati satu sama lain untuk pertarungan terakhir. Dua unit yang benar-benar tangguh akan mengakhiri perseteruan mereka yang telah berlangsung lama untuk selamanya. Dan jika sebelumnya aku ragu tentang peluang Duli melawan Meklen, sekarang, setelah melihat apa yang sebenarnya mampu dilakukannya, kupikir Meklen-lah yang melebih-lebihkan peluangnya melawan Duli. Aku ingin tetap tinggal dan menonton, tetapi sayangnya, aku harus berurusan dengan Irmee.

Ketika kami sampai di lantai atas, Dora menekan tombol untuk mengirim lift ke lantai 100, meskipun beberapa detik yang lalu dia menggerutu bahwa Duli terlalu sombong dan perlu sedikit pelajaran tentang kesopanan dengan menekan tombol sialan itu sendirian.

Kementerian Kematian

8. Trio Operator Lapangan Kementerian Kematian 0. Melawan Penyihir

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *