Cinde berguling-guling di atas matras yang dibaringkannya, yang cukup besar untuk menampung mereka berdua. Jun duduk di bangku, menyandarkan punggungnya ke dinding. Ruangan itu diterangi lentera perak yang menerangi ruangan.
“Emangnya lu kagak capek, apa? Duduk kagak baring-baring,” kata Cinde.
Jun tersenyum. Mereka baru saja mengucapkan selamat malam kepada tuan rumah dan istrinya, dan sudah berada di kamar mereka.
Jun memilih duduk di bangku karena dia seorang pria sejati, kan?
“Gue baik-baik aja. Lagian, gue sering senam pas tidur, ntar lu kena jurus Cimande gue. Pan berabe?” canda Jun. Cinde hanya tersenyum dan akhirnya memposisikan dirinya dalam posisi duduk. Dengan begitu, mereka berdua saling berhadapan. Cinde di atas matras, sementara Jun di atas bangku.
“Lu pengen dikirain sama gue cowok baek-baek, ya?”
Jun mengangguk, “Jelas, ngapain lagi gue ngelakuin ini?”
“Tapi lu bukan cowok tulen pas lu lompat bugil kagak pake apa-apa mandi di danau tadi,” Cinde terkekeh.
Gue kan tau lu nggak bakalan mintipin gue, makanya gue nyantai aja kayak di pantai,” jawab Henry dan mereka berdua tersenyum.
Mereka berdua menatap ke luar jendela dalam diam, menikmati angin malam yang sejuk, terpesona oleh keindahan bintang-bintang yang terbentuk di langit. Di antara lautan kegelapan, bintang-bintang muncul, menerangi malam gelap tanpa bulan.
“Cakep banget,” bisik Jun.
“Emang cakep, gue pengennya keluar sekarang juga, nyok,” kata Cinde sambil tersenyum.
“Gue juga pengen keluar, tapi pan udah dibilangin lewat jam tujuh kagak boleh keluar rumah,” Jun mengingatkan Cinde.
“Ya, gue tau. Si engkong sama bininya cocok banget, ya. Gitu gue pulang, gue pasti dateng dimari lagi buat ngasih mereka hadiah yang bagus.”
Jun tersenyum. “Lu baik hati beeng, Putri. Ceritain dong, ke gue,” kata Jun sambil menarik bangkunya lebih dekat ke tepi matras. “Pernah kagak lu ngelakuin ini apa belon?”
Cinde tersenyum, “Ngelakuin apa? Makesut lu diculik?”
“Kagak, kagak. Meksut gue bepetualang, gitu.”
Cinde tertawa, “Becanda lu. Lu kirain ini petualangan?”
“Gue sih, pengennya bepetualangan saban-saban,” jawab Jun. Tapi Cinde menggelengkan kepalanya.
“Buat gue biasa aja. Entah, dah. Tapi kita dimari bareng pasti takdir, kan?”
Jun tersenyum dan berdiri tanpa menjawab.
“Ikut bareng gue.”
Cinde mengerutkan kening, “Makesut lu? Ngikut lu ke mana? “
“Ikut aja. kita bukannya keluar, gue cuma pengen lu liat sesuatu,” jawab Jun. Dia berdiri dan mengulurkan tangan pada Cinde sambil tersenyum, Cinde menerimanya dan mereka berdua berjalan menuju jendela.
Jun berdiri di belakangnya, meletakkan kedua tangannya di bahu Cinde. Cinde suka ketika Jun menggenggam bahunya seperti itu.
“Pernahkah awak melihat bintang jatuh sebelumnya?” bisik Jun padanya, suaranya dengan langgam Melayu yang terdengar dekat di telinga Cinde mengirimkan sensasi geli di perut Cinde, atau mungkin itu karena dia masih lapar?
“Tidak, aku belum pernah,” jawab Cinde dalam bahasa Indonesia.
“Pandanglah bintang-bintang itu… ada bintang yang selalu jatuh setidaknya setiap menit. Awak bisa melihatnya kalau awak berusaha untuk tidak berkedip. Setelah jatuh, pejamkan mata awak dan buatlah permohonan,” bisik Jun padanya.
Cinde tidak tahu apa yang sedang dilakukan Jun, tetapi apa pun itu, dia menyukainya. Dia melakukan apa yang diperintahkan, tetapi dia merasa kesulitan karena cowok itu berdiri begitu dekat. Tangan Jun melingkari lehernya, mengirimkan gelombang kehangatan ke seluruh tubuhnya.
“Boleh awak tengoknya?” tanya Jun.
“Ehm, aku bisa merasakannya, maksudku, melihat itu,” jawab Cinde kaku, berdehem untuk berkonsentrasi pada apa pun yang coba ditunjukkan cowok itu padanya.
Jun terkekeh pelan. Dia tahu apa yang dia lakukan dan dia bisa melihat Cinde menikmatinya sama seperti dirinya.
“Sekarang lihat itu,” Dia menunjuk dan mereka berdua diam-diam menyaksikan salah satu bintang berkilau yang indah mulai jatuh.
“Sekarang buatlah permohonan.”
Jun mengembuskan napas ke telinganya dan Cinde menutup matanya. Satu-satunya hal yang terus terngiang di kepalanya adalah—cium aku, cium aku, cium aku…”
“Sekarang buka mata awak, apa yang awak inginkan?” tanyanya, berusaha menyembunyikan senyum, tetapi dia hanya mengangkat bahu sambil berusaha keras untuk tidak tersipu. “Hanya supaya temanku aman,” dia berbohong,
“Jadi awak tidak diam-diam berharap kita berciuman?” tanya Jun lembut, menatap matanya dan berusaha menyembunyikan senyum.
Cinde mengerutkan kening dan berbalik dengan malu-malu.
Ini bodoh. Ini adalah hari kedua mereka akan menghabiskan malam bersama dan mengapa dia merasa begitu—
“Tidak, aku tidak—” kata Cinde, kembali ke matrasnya.
“Oh, sayang sekali, saya bisa mewujudkan mimpi awak,” kata Junbercanda dan kembali ke bangkunya.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua teringat ketika mendengar suara tabuhan gendang, tetap seperti yang dikatakan Pak Gamal akan mereka dengar setelah festival dimulai. Dengan cepat, Jun bangkit dan menutup jendela. Ketika kembali ke bangkunya, dia menyadari Cinde tampak sangat terguncang.
Tanpa bertanya lagi, Jun pergi ke matras dan berbaring di sebelahnya, dahi mereka hampir bersentuhan.
“Jangan takut, saya akan melindungi awak, oke?”
Cinde mengangguk, merasa sedikit lega dan bersyukur setidaknya cowok itu ada di sana bersamanya.
Dia mulai bergantung pada cowok itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Cinde memiliki seseorang untuk bersandar dan rasanya begitu nyaman.
“Tolong, maukah kamu menggenggam tanganku?” bisik Cinde pelan saat tabuhan drum semakin dekat dan seseorang mulai melantunkan mantra dengan suara nyaring.
“Kau tak bisa melihatnya, dia yang melihat Jurig Mas akan mati, begitulah mantranya.”
“Maukah kamu menggenggam tanganku?” bisik Cinde, tetapi Jun hanya tersenyum.
“Saya bisa melakukan sesuatu yang lebih baik,” kata Jun. Dari cara tubuh Jun merespons permintaannya, Cinde tahu apa yang dimaksud. Maka dia memejamkan mata.
Cinde merasakan Jun mendekat hingga bibir hangat menempel erat di bibirnya, dan sensasi yang menyertainya cukup untuk menenggelamkan suara-suara di luar.











