Home / Topik / Wisata / 15. Candi Lumbung, Dipindah Karena Tergerus Lahar Merapi

15. Candi Lumbung, Dipindah Karena Tergerus Lahar Merapi

Ananta Kama 1600x900
This entry is part 16 of 33 in the series Ananta Kama

Setelah hampir dua jam berkeliling di daerah Candi Retno dan sekitarnya, kami melanjutkan perjalanan. Cukup lama berada di area candi ini, Zack menemukan banyak batu-batu candi yang menurutnya perlu untuk dikaji lebih dalam

Sekarang kemana?” tanya Bhaskoro

“Di mana ada candi atau situs dekat sini?” Aku balik bertanya. Sebenarnya aku sudah memiliki tujuan berikutnya, tapi enggan mengatakan karena aku tidak ingin Bhaskoro ikut dalam eksplorasi hari ini. Terlalu berisiko untuk kesehatan jantungku karena harus bekerja ekstra setiap berada di dekatnya.

“Dek Tantri ingat kita pernah gowes ke Candi-candi Sengi? Gimana Kalau kita bernostalgia ke sana? Sambil mengenang cerita tentang Gowes Cinta, temen-temen Mas banyak yang suka lho sama novel Gowes Cinta karya Dek Tantri.” Panjang lebar Bhaskoro berujar. Astaga … maunya menghindar kenapa malah mau mengajak bernostalgia?

“Wah, Mbak Tantri pernah pergi bareng juga sama Om Bhas?” celetuk Ayesha.

“Justru awal ketemu waktu nggak sengaja eksplorasi ke tempat-tempat wisata sejarah,” jawab Bhaskoro cepat, bahkan aku sampai ternganga karena kalah cepat.

“Bahkan setiap perjalanan eksplorasi selalu ditulis jadi Novel,” imbuh Bhaskoro

“Brarti Om Bhas sama Mbak Tantri sahabat dekat?”

“Nggak cuma deket, malah pernah pacaran.” Bhaskoro menggoda dengan gerakan alis naik turun. Astaga … manusia satu ini benar-benar, deh. Gimana kalau Ayesha lapor sama tantenya? Tauk, ah … risiko sendiri, aku enggan terlibat. Toh, diantara kami sudah tidak ada hubungan lagi. Eh, tapi … apa bener sudah nggak ada hubungan lagi? Apa kabar dengan hati?

“Kok malah melamun? Pasti inget kenangan lalu, ya?” godanya.

“Eh, siapa juga yang melamun?” elakku malu.

“Apa namanya kalau nggak melamun dipanggil-panggil nggak dengar?” goda Bhaskoro, ujung dagunya diarahkan ke mobil. Ternyata aku memang melamun hingga tak sadar Zack dan Ayesha sudah siap menunggu di mobil. Astaga ….

Bhaskoro menitipkan mobilnya pada temannya, alasannya biar lebih efisien, berangkat satu mobil. Bhaskoro meminta ia yang mengemudi.  Sampai di pertigaan Blabak dekat kantor Camat Sawangan  Bhaskoro mengurangi kecepatan mobil, setelah berjalan kurang lebih 50 meter Bhaskoro membelok ke arah kiri dan sampai di lokasi Candi Lumbung  yang terletak di Dusun Tlatar, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan.

Aku memandang takjub pada bangunan berupa tumpukan batu yang berada tidak jauh dari Kali Pabelan, yang mengalir dari lereng sisi barat Gunung Merapi. Sekelebat kenangan melintas membuat dadaku kembali bergemuruh.

“Ada tiga candi yang sering di sebut-sebut sebagai Candi-candi Sengi. Yaitu Candi Lumbung ini, dan dua candi lain di dekat sini, yaitu Candi Pendem dan Candi Asu.

Zack terlihat fokus pada tumpukan batu dengan tinggi tangga 2,5 x 2 meter yang berdiri kokoh dengan luas 8,70 meter X 8,70 meter. Bangunan ini memiliki tangga dengan tinggi 2,5 X 2 meter. Jika dihitung dari lantai dasar total tingginya sekitar 8 meter dari lantai dasar.

Ayesha mulai sibuk dengan ponselnya, mengambil beberapa gambar yang menurutnya menarik. Bangunan candi ini bentuknya unik seperti kebanyakan peninggalan Kerajaan Mataram kuno.

“Apakah candi-candi ini tergerus aliran lahar?” tanya Zack sambil menyentuh batu-batu berwarna abu-abu kehitaman.

“Benar, Candi Lumbung semula letaknya sekitar 3 meter dari bibir Sungai Pabelan. Akibat diterjang banjir lahar dingin hingga berulang kali pada 2010, mengancam keberadaan candi tersebut. Aktivitas banjir lahar dingin telah menggerus bibir Sungai Pabelan dan membuat posisi candi tinggal berjarak 50 sentimeter saja dari tebing aliran sungai. Meski sempat diperkuat oleh talut untuk menahan tebing agar tidak longsor, tapi tetap kalah oleh kekuatan alam. Oleh karena itu, candi dipindahkan sementara ke tempat yang lebih aman,” jawab Bhaskoro.

“Jadi ini bukan tempat aslinya?” cecar Ayesha penasaran.

“Awalnya candi ini terletak di Dusun Candipos, Kelurahan Sengi, Kecamatan Dukun. Satu dusun dengan Candi Asu dan Candi Pendem. Namun, pada tahun 2011 Candi Lumbung Sengi terpaksa dipindahkan ke Dusun Tlatar, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi awal. Pemindahan dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Propinsi Jawa Tengah untuk menyelamatkan candi dari terjangan banjir lahar dingin Gunung Merapi,” papar Bhaskoro. 

Zack dan Ayesha berkeliling mengamati candi yang terdiri dari 32 lapisan batu tersebut.  Di bagian tengah bangunan terdapat rongga berupa lubang selebar 120 sentimeter dan merupakan ruang dalam candi. Di bagian bawah rongga terdapat fondasi berupa batu susun 8 setinggi 3,5 meter dengan lubang di tengahnya yang berfungsi sebagai resapan air.

“Proses pemindahan candi juga melibatkan ahli arkeologi dalam menyusun ulang bebatuannya yang seluruhnya dikerjakan secara manual.  Kegiatan pemindahan berakhir di awal tahun 2012 dan sejak itu Candi Lumbung dapat kembali digunakan sebagai tempat peribadatan.” Penjelasan panjang lebar Bhaskoro cukup menarik. Zack mencatat setiap detail dengan rapi.

“Ooow gitu,” ujar Zack sambil terus mengamati setiap detail bangunan yang mengulik rasa ingin tahunya, ”Kapan candi ini dibangun?”

“Candi Lumbung Sengi dibangun pada abad ke 9, dalam kurun waktu bersamaan dengan Candi Asu dan Candi Pendem. Atau tepatnya ketika Kerajaan Mataram Kuno diperintah oleh Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala. Saat ditemukan Candi Lumbung kondisinya tidak lagi utuh, hanya terdiri dari bagian batur, kaki, dan badan. Bentuk asli Candi pun tidak diketahui, bahkan bagian atapnya tidak ditemukan. Setelah dipugar bangunan candi berbentuk bujur sangkar berukuran panjang 8.5 meter, lebar 6.5 meter, dan tinggi 6,5 meter.”

“Cukup menarik juga. Bagian batur ini terdiri dari tiga tingkatan,” ujarku sambil menunjuk bagian bawah kaki candi.

“Di bagian kaki tanpa hiasan, terdapat tangga untuk naik ke teras pertama dan tubuh candi.”

“Hmmm, tapi sepertinya bagiannya tidak utuh lagi,’’  potong Zack

“Benar, tapi meski tidak utuh lagi, di bagian ini terdapat ragam hiasan bunga teratai yang menggambarkan kebahagiaan dan keberuntungan. Coba lihat ini! Pada kaki candi dan pelipit bagian atas terdapat relief bermotif geometris dan tumbuhan.” Bhaskoro menggeser tubuhnya agar kami dapat mengamati lebih jelas bagian yang ada reliefnya.

“Eh, tapi ini ada juga motif hias lengkungan pita dengan ceplok bunga di tengahnya. Juga ada sulur-sulur,” celetukku sambil menunjuk bingkai kaki dan tubuh candi.  Bhaskoro mendekat pada bagian yang kutunjuk, lalu mengamati sesaat.

“Bebatuan Candi Lumbung ini hanya 75 persen yang masih dipertahankan, sisanya harus diganti dengan batu baru terutama pada bagian pondasi untuk keamanan pengunjung. Sedangkan bagian tubuh sampai atap, batu kulit candi masih banyak yang belum ditemukan sehingga tidak bisa dipasang. Batu kulit itu dikhawatirkan hilang pada saat terjadi bencana, misalnya batu-batu tersebut terkena erupsi Merapi jatuh ke sungai dan hilang.”

Zack dan Ayesha mengangguk-angguk, rasa penasaran terlihat jelas saat mereka beberapa kali mengitari bagian candi.

“Candi Lumbung ini kemungkinan merupakan pendharmaan bagi Bathara di Salingsingan yang ditunjukkan dengan jenis persembahan khususnya berupa payung emas yang diberikan oleh Rakai Kayuwangi.” Bhaskoro menambahkan penjelasan.

“Seingat yang pernah kubaca dalam buku Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch Indie terbitan 1914, yang sudah beberapa kali direvisi, Di candi ini tercatat ada tiga arca Ganesha dan dua buah lingga. Tapi arca dan lingga itu kini sudah tidak ada di kompleks Candi Lumbung ini,” ujarku sambil mengingat bab yang pernah kubaca.

“Menariknya candi ini berpindah dua kali,” kata Bhaskoro lagi.

“Wow … amazing,” komentar Ayesha.

“Agar terhindar dari terpaan abu vulkanik ketika Merapi erupsi untuk melindungi tubuh candi sebagai cagar budaya, pihak BPCB Provinsi Jateng telah menyiapkan plastik raksasa warna putih. Sehingga Ketika Merapi erupsi, plastik-platik raksasa tadi menjadi selimut superbesar bagi bangunan candi. Hanya butuh waktu 11 tahun bagi Candi Lumbung berada di “pengungsian” ketika pihak BPCB Provinsi Jateng pada 2023 memutuskan untuk mengembalikan lagi posisi Candi Lumbung ke Desa Sengi.”

“Jadi akhirnya candinya dikembalikan lagi?” tanya Ayesha.

“Benar. Pengembalian bangunan Candi Lumbung ke Desa Sengi, bukan ke tempat semula di pinggir Sungai Pabelan. Tetapi dipindah ke arah timur dekat Candi Asu.  Pengembalian bangunan candi, karena lahan yang ditempati di Tlatar adalah milik warga dan harus sewa. Selain itu, pemindahan candi itu atas permintaan masyarakat Desa Sengi karena lokasi baru yang ditempati adalah tanah kas desa dan tidak harus menyewa.

Setelah puas berkeliling candi, Bhaskoro mengajak untuk melanjutkan perjalanan. Kami menuruni tangga yang sedikit licin, laki-laki berwajah tirus itu mengenggam tanganku erat … entah sengaja atau hanya sekadar memastikan agar aku tidak terpeset saat menuruni jalanan yang sedikit terjal. Anehnya aku tak menolak meski harus ekstra keras meredam  detak jantung yang tak kenal kompromi. Degubnya begitu lantang hingga aku takut jika terdengar keluar.

Ananta Kama

4. Candi Retno, Peninggalan Kerajaan Mataram Hindu Paling Unik di Magelang 6.  Candi Asu, Arca Nandi yang Mirip Anjing

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image