Home / Fiksi / Cerbung / 18. Candi Losari, Saksi Bisu Dahsyatnya Letusan Gunung Merapi

18. Candi Losari, Saksi Bisu Dahsyatnya Letusan Gunung Merapi

Ananta Kama 1600x900
This entry is part 19 of 33 in the series Ananta Kama

“Apa ada yang lapar?” tanya Bhaskoro saat kami sudah berada di dalam mobil lagi.

“Laperrrr,” jawab Ayesha sambil mengusap perutnya.

“Tadi ada yang baper karena laper,” ujar Bhaskoro sambil melirikku. Melalui ekor mata sempat kutangkap, tatapannya yang menggoda dan … sedikit mesra. Astaga … kenapa dilanjutkan lagi, sih? Aku mencebik kesal, kenapa harus pamer kemesraan di sini? Kemesraan sesaat yang membuatku kembali terluka setiap akhir pertemuan.

“Kita cari makan,” tegasku.

“Siap Dek Tantri,” jawabnya terkekeh.

Bhaskoro mengarahkan mobil menuju arah Muntilan. Heran … kenapa justru kembali ke kota? Apa tidak ada resto atau tempat makan sekitar candi supaya nanti tidak terlalu jauh balik arahnya? Aku malas berkomentar, fokus menenangkan jantung yang demo.

Mobil berhenti di depan sebuah tempat makan bernuansa tradisional yang beralamat di Jalan Dukun, Dusun Kuthan, Desa Sedayu. Kecamatan Muntilan. Terdapat plang nama besar : Joglo Ndeso Restoran dan Kebun Hidroponik.

Aku mengernyit heran, jujur baru kali ini ke tempat ini. Sebenarnya ini resto atau kebun?

“Resto ini unik karena menggabungkan resto dan kebun sayur dengan suasana pedesaan tradisional.” Bhaskoro menjelaskan saat kami memasuki resto.

“Wah, nuansanya bener-benar bagus, pemandangannya asri,” pekik Ayesha takjub.

Aku membuka buku menu, memilihkan makanan untuk Zack. Sepertinya Zack bisa menikmati menu masakan khas Jawa di sini. Menu umum dan bisa memilih yang tidak pedas. Menu andalan di sini adalah Nila Bakar, Rica-Rica, Gurame Asam Manis, dan Pecel Lele. Aku memesan Nila bakar dan Gurami Asam Manis untuk bertiga. Sementara Bhaskoro memesan Rica-rica Ayam.

Resto ini benar-benar memanjakan pelanggan dengan menu sayur yang baru dipetik, ikan yang baru dipancing. Bahan yang digunakan berasal dari kebun hidroponik milik restoran sendiri, sehingga terjamin kesegarannya.

Sambil menunggu hidangan disajikan aku mengajak Zack dan Ayesha keliling kebun sayur hidroponik dan berphoto. Beberapa pengunjung yang membawa anak bisa bermain di taman bermain, dan memberi makan ikan di kolam. Resto yang cocok untuk keluarga dan nyaman.

Tak butuh waktu lama untuk menyantap habis semua menu yang terhidang. Tampaknya semuanya benar-benar lapar. Ditambah cita rasa yang pas di lidah dan suasana yang asri di tengah perkebunan sayur dengan pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu, serasa sedang makan di saung tepi sawah.

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan. Bhaskoro melajukan mobil menuju Dusun Losari, Desa Salam, Kecamatan Salam. Hanya memakan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di lokasi candi yang ditemukan pertama kali pada 12 Mei 2004.

Situs Candi Losari yang merupakan candi Hindu ini pertama ditemukan masih berupa batu-batu andesit bercorak, yang merupakan bagian dari pucuk bangunan candi.

Menurut cerita Candi Losari ditemukan secara tidak sengaja. Pada saat itu, kebun salak milik Muhammad Badri yang berada di area candi akan dibangun saluran irigasi sawah. Saat dilakukan penggalian, kemudian ditemukan candi tersebut.

Menurut penuturan Penjaga Candi Losari, pada candi tersebut terdapat emat bangunan. Yaitu, satu candi induk dan tiga candi perwara yang berada di bawah.

“Kedalamannya sekitar 4 meter dan luas kurang lebih 25 x 25 meter. Karena lokasi candi ini berada di bawah, jagi memang harus dibangun atap untuk menghindari air dari curah hujan yang masuk ke dalam candi,” jelas penjaga Candi.

Dijelaskan, Candi Losari bisa berada di bawah tanah karena tertimbun dari erusi Gunung Merapi. Selain itu juga gempa yang melanda ketika itu, sehingga struktur candi berserakan.

“Karena pada tahun 1006 ada erupsi dahsyat Gunung Merapi dan juga ada gempa, maka candi ini runtuh berserakan di sekitarnya ini.”

Meskipun terkena dampak dari erupsi Gunung Merapi dan gempa yang membuat struktur candi berserakan, batu-batu candi masih utuh karena terpendam.

Temuan-temuan lain di tempat tersebut, berupa balok-balok batu bercorak dan berhias ceplok bunga, artefak-artefak, serta pucuk candi. Komponen-komponen lain yang ditemukan, diyakini sebagai atap candi.

Selain itu, juga terdapat struktur bangunan kuno pada sebuah lingkaran, sehingga dapat disebut sebagai situs yang kemudian dapat dikelompokan menjadi satu kesatuan candi.

Disebutkan bahwa, Candi Losari ini dibangun oleh kerajaan Mataram kuno yang diperkirakan pada abad ke VII. Situs Candi Losari bukan merupakan komplek candi yang besar, tapi memiliki ragam ornamen yang cukup indah.

Hal itu terlihat dari pintu masuk candi yang terdapat hiasan kepala kala yang masih utuh. Kemudian juga terlihat artefak pada komponen atap berupa hiasan ratna atau keben. Relief Arca Mahakala juga dapat ditemui pada pintu masuk candi induk. Kemudian relief gajah ditemukan di bagian belakang candi induk. Namun, beberapa artefak seperti yoni dan arca Nandi belum ditemukan di lokasi.

Motif hias dan arsitektur Candi Losari tidak jauh berbeda dengan candi-candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno di sekitar wilayah Kabupaten Magelang. Hal itu menunjukkan ciri-ciri candi Hindu yang dibangun pada sekitar abad ke-8 hingga abad ke-9 dan diperkirakan Candi Losari memiliki fungsi sebagai tempat ibadah agama Hindu.

Sebagai salah satu candi yang berada di kawasan antara Borobudur dengan Prambanan, Candi Losari mempunyai peranan penting dalam melengkapi informasi mengenai data sejarah budaya. Kawasan poros Kedu–Prambanan, yang konon katanya, merupakan salah satu kawasan pusat kekuasaan kerajaan Mataram Kuno yang berkuasa di Jawa Tengah pada abad VII – X Masehi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa, dengan ditemukan banyak peninggalan arkeologi yang berupa candi-candi besar di wilayah Magelang serta sekitar Prambanan, menjadi bukti kekuasaan dan kejayaan Kerajaan Mataram Kuno.

Zack menyimak penjelasan dari penjaga candi dengan sangat antusias, mencatat dengan detail, sepertinya laki-laki berdarah Belanda ini memang memiliki minat yang besar terhadap warisan sejarah dan budaya di Indonesia.

Jika boleh jujur, aku mengagumi semangatnya, karena akupun menyukai menulis fiksi tentang sejarah, budaya dan kearifan lokal negeriku. Tentu saja aku berharap tulisanku bisa dibaca bukan hanya pembaca dari Indonesia, tapi juga pembaca dari berbagai negara agar semakin banyak orang mengenal keindahan dan keragaman budaya Indonesia yang diwariskan dari nenek moyang.

Zack meninggalkan Candi Losari, seolah tak ingin benar-benar berpisah.

“Di balik kesederhanaannya, candi ini menyimpan ketenangan yang sulit dijelaskan,” ujar Zack dengan tatap serius.

“Batu-batu tua yang setia berdiri, sunyi yang bicara lebih lantang daripada kata-kata. Losari mengajarkan bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam kemegahan. Losari membuktikan bahwa dalam keheningan yang jujur dan apa adanya. dia mampu melawan kedahsyatan erupsi Merapi setelah terkubur seribu tahun.”

Astaga … kenapa laki-laki ini jadi puitis banget? Pantas saja Ayesha langsung jatuh cinta karena kata-kata romantisnya. Aku menggeleng pelan, mengulum senyum geli. Matahari kian condong dan bayang-bayang memanjang di atas rerumputan saat kami meninggalkan area candi, membawa pulang lebih dari sekadar photo dan catatan perjalanan.

***

Ananta Kama

7. Candi Pendem 9. Candi Gunungsari, Misteri Siwa di Puncak Bukit Sari

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image