Senja seakan berjalan lebih lambat, mungkin paham ada hati yang tertinggal di antara batu-batu yang bercerita tentang cinta. Setiap kisah yang terukir di batu-batu adalah manifestasi dari cinta … cinta raja kepada rakyatnya, cinta guru kepada muridnya, pun cinta tertinggi kepada Sang Hyang pemilik jagat.
Malam hampir sempurna melengserkan senja saat Bhaskoro menghentikan mobil di sebuah rumah makan sederhana di Jalan Sawah, Dusun Bumisegoro, Borobudur.
Zack menganga terpesona melihat bangunan rumah makan dengan asitektur yang erinspirasi dari Candi Borobudur, dengan bangunan utama berbentuk candi dan kolam renang di sekitarnya.
Pemandangan alam persawahan dan area rooftop dengan panorama memukau, menambah kesan romantis, tenang, dan elegan. Bayangan bukit Menoreh di kejauhan, seperti seseorang yang sedang tidur menatap langit yang ditinggalkan jingganya.
Saat kami masuk, restoran yang memadukan gaya Prancis dan Jawa ini, benar-benar membuat kami terkejut. Bukan hanya interior dan gaya arsitektur, tapi menunya juga menyajikan perpaduan cita rasa Indonesia dan Prancis. Sungguh ini pengalaman baru yang menarik bagiku, bahkan Bhaskoro yang membawa kami ke tempat ini pun, mengakui jika awalnya ia hanya iseng memilih tempat atas rekomendasi google.
Aku memesan Pasta Rendang–perpaduan spaghetti dan rendang, aku membayangkan rasanya pasti unik dan bikin nagih. Sedangkan Bhaskoro memesan Nasi Bakar Seafood. Zack yang belum terbiasa dengan cita rasa Indonesia memilih Fettuccine–sejenis pasta yang populer dalam masakan Romana dan Toskana dalam seni kuliner Italia. Namun, di resto ini menggabungkan teknik Prancis dengan rempah-rempah Indonesia, jadi fettuccine-nya memiliki sentuhan rasa unik. Ayesha yang menyukai olahan daging memilih Sop buntut.
Meski ini adalah pengalaman pertama di resto ini, bahkan rasa masakannya pun mungkin belum familiar di lidah, tetapi justru di tempat seperti inilah rasa lapar setelah seharian melakukan eksplorasi terasa paling jujur.
Aku duduk paling ujung, melepaskan tas selempangku, menghela napas panjang. Kakiku pegal, tenggorokanku kering, tapi hatiku … entah kenapa terasa penuh.
“Ini yang paling aku tunggu,” kata Zack sambil meregangkan bahu. Wajahnya tampak puas, kulitnya sedikit lebih gelap tersengat matahari Magelang. “Makan.”
Ayesha tertawa kecil, suaranya ringan selalu. Ia duduk di samping Zack, menyibakkan rambutnya sedikit agar lebih nyaman. Matanya masih berbinar, mata yang belum lelah oleh keindahan hari ini.
Bhaskoro seperti biasa, selalu duduk berhadapan denganku. Ia mengamati sekitar sebelum akhirnya menatapku, senyum tipis yang selalu berhasil membuatku ingin mengalihkan pandangan.
“Hari ini Dek Tantri membawa kami ke tiga masa yang berbeda.”
Aku mengangkat alis. “Berlebihan.”
“Tidak,” ia menggeleng. “Losari itu sunyi yang tersembunyi, Gunungsari adalah perjalanan, dan Wukir… itu pengakuan.”
Aku tak menjawab, lapar membuatku malas berbasa-basi. Pelayan datang membawa mocktail pesananku dan Zack. Aku meneguknya perlahan, menikmati sensasi segar hingga tanpa sadar kenangan hari ini mengalir kembali.
Pagi tadi, di Candi Losari, matahari hampir meninggi, tapi candi itu seperti enggan ditemukan, bersembunyi di antara kebun salak dan rumah warga. Aku ingat bagaimana Zack terdiam lama, memotret detail relief tanpa berkata apa-apa. Sementara Ayesha berdiri di sisinya, memegangi topi agar tak terbang tertiup angin.
“Tempat seperti ini, tidak butuh banyak kata.” Zack berujar sambil menuliskan sesuatu pada buku catatannya.
Aku tersenyum. Itulah Zack, selalu melihat sejarah sebagai pengalaman, bukan sekadar informasi.
Di Candi Gunungsari, perjalanan kami lebih melelahkan. Jalan setapak menanjak, napas mulai terengah. Ayesha sempat berhenti, dan Zack tanpa ragu mengulurkan tangan. Tidak berlebihan, tidak dipamerkan, tapi cukup untuk membuatku sadar, ada sesuatu yang tumbuh cepat di antara mereka.
Bhaskoro berjalan di sampingku waktu itu. “Adek lelah?” tanyanya.
“Biasa,” jawabku.
Ia tertawa kecil. “Adek selalu bilang begitu, bahkan saat hati Adek yang capek.”
Aku pura-pura tak mendengar. Berjalan mendahului sambil meredakan detak jantung.
Dan di Candi Gunung Wukir,tempat terakhir kami hari ini, matahari mulai condong, cahaya keemasan membalut batu-batu tua. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah basah. Di situlah Bhaskoro berdiri agak menjauh, lalu membacakan puisi pendek, entah sejak kapan ia menyiapkannya.
Tentang perjalanan.
Tentang waktu.
Tentang seseorang yang selalu berjalan di depan, tapi tak pernah benar-benar pergi.
Aku berdiri membelakanginya, berpura-pura sibuk menjelaskan sejarah pada Zack dan Ayesha. Tapi setiap kata puisi itu menabrak dadaku pelan-pelan.
“Tantri,” suara Zack menarikku kembali ke rumah makan. “Kamu melamun.”
Aku tersenyum tipis. “Cuma mengingat jalan pulang dari Wukir. Selalu terasa lebih sunyi.”
Pelayan datang membawa makanan pesanan, pasta rendang, nasi bakar, fettuccini, sop buntut. Aroma rempah berpadu dengan pasta memenuhi udara. Zack langsung menyendok mie pipih di piringnya, seperti seseorang yang telah berdamai dengan rasa lapar dan lelah.
Ayesha menatap makanannya sejenak sebelum berkata, “Aku tidak menyangka hari ini akan … sedalam ini.”
“Maksudnya?” tanyaku.
Gadis itu menoleh ke Zack, lalu kembali menatapku, “Aku datang untuk melihat candi. Tapi aku pulang membawa perasaan.”
Zack terdiam, lalu tersenyum kecil. Tangannya berhenti di udara, seolah kata-kata Ayesha menahannya sebentar sebelum akhirnya ia kembali makan. Astaga … kenapa semua mendadak puitis begini? Apa virus Zack menular? Dia yang mengawali bikin puisi romantis untuk Ayesha, kan?
Bhaskoro menatap kami bergantian. “Perjalanan memang sering begitu, kita berpikir mencari tempat, ternyata menemukan diri sendiri.”
Aku menatap piringku. Kata-kata itu terasa terlalu dekat dengan perasaanku.
Sesaat kemudian, seperti kehabisan kata-kata, atau karena terlalu lapar, kami makan dalam keheningan yang nyaman. Suara sendok beradu dengan piring, angin malam semilir dan jalanan di luar … semua bercampur menjadi latar yang sederhana, tapi hangat.
“Aku ingin kembali,” kata Zack tiba-tiba. Kami semua menoleh padanya, kaget.
“Bukan ke hotel. Ke sini. Ke tempat-tempat seperti ini.” Zack melengkapi kalimatnya sambil nyengir.
Ayesha tersenyum lebar. “Aku juga.”
Aku mengangguk. “Magelang selalu menunggu orang-orang yang mau kembali untuk mencari kepingan surga yang tercecer.”
Bhaskoro menatapku lama, “Dan Dek Tantri, selalu jadi alasannya.”
Aku mendongak, bertemu matanya. Ada banyak hal yang tak terucap di sana … tentang masa lalu, tentang jarak, tentang perasaan yang tak pernah benar-benar selesai. Tapi aku memilih tersenyum.
“Pekerjaanku memang begitu,” jawabku ringan, menutupi gugup. Bhaskoro tertawa kecil, tapi aku tahu ia paham, ada jawaban lain yang kusimpan rapat.
Saat malam benar-benar jatuh dan rumah makan mulai ramai, aku menyadari satu hal. Hari ini bukan hanya tentang candi yang kami kunjungi. Tapi tentang empat orang yang berjalan bersama, masing-masing membawa cerita, saling bersinggungan sebentar, lalu suatu saat akan berpisah.
Aku menyesap minuman terakhirku dan menatap mereka satu per satu. Zack dengan kepuasannya, Ayesha dengan cinta yang mulai berani tumbuh, Bhaskoro dengan puisi yang tak pernah selesai, dan aku yang selalu berdiri di antara masa lalu dan perjalanan berikutnya.
***










