Mulai dari nol, sebuah kalimat yang sering kita dengar saat mengisi bensin di pom bahan bakar. Nol di sini sebagai pertanda ‘kejujuran’ sebelum memulai transaksi, sebuah awal yang baik. Namun jika kita harus mulai dari nol dalam hal lain, apakah kita sudah siap?
Kembali mulai dari angka nol setelah sebelumnya ‘memiliki segalanya’, tentu kedengarannya menakutkan. Seperti Ayub yang kaya raya, bahagia, sejahtera dan memiliki segalanya, tiba-tiba hampir seluruh keluarganya diambil Tuhan. Kekayaannya habis dalam sekejap. Rumah, harta, ternak, anak-anak. Semuanya.
Tak bisa dibayangkan bagaimana perasaan dan kondisi Ayub saat itu. Hancur lebur. Berduka sedalam-dalamnya. Takut. Bahkan bisa jadi stres, trauma, depresi. Hidup jadi tak berarti lagi. Sibuk menyalahkan diri, sesama, juga keadaan. Bahkan juga mungkin Tuhan! “Why me? God, why me?“
Barangkali sebagian kita pernah mengalami hal serupa. Kehilangan rumah, kehilangan ayah, kehilangan hewan peliharaan kesayangan, ditipu rekan penerbit hingga kehilangan dana cetak buku hingga belasan juta Rupiah, penulis pernah mengalaminya. Namun penulis bisa ada sebagaimana ada hari ini, semua hanya karena Tuhan saja.
Bagaimana apabila seandainya kehilangan itu harus terjadi sekali atau bahkan berkali-kali lagi? Apakah saya, Anda, kita sudah siap? Entah karena kesalahan kita sendiri, kesalahan orang lain, atau bahkan ketika bukan salah siapa-siapa! Apakah itu salah Tuhan?
Jatuh tujuh kali, bangkitlah kembali delapan kali. Kita boleh berkali-kali dicoba Tuhan, namun percayalah jika Tuhan akan menolong kita melewati semua cobaan itu.
Bukannya Tuhan tidak sayang. Dia Maha Tahu. Jika dulu Tuhan pernah tolong, Tuhan akan tolong lagi. Percayalah dan imanilah sekalipun tanda-tanda-Nya belum tampak. Apa yang ada dalam rencana-Nya belum tentu ada dalam rencana kita. Rencana-Nya selalu terbaik!
Segala sesuatu berasal dari Tuhan. Kita bukanlah pemilik. Kita hanyalah peminjam, pengelola, pemakai, orang-orang yang dititipkan talenta, pekerjaan, harta, keluarga, dan lain-lain. Jika kita merasa memiliki, kita takkan pernah siap untuk kehilangan. Akan tetapi jika kita hanya mengelola, kita akan lebih rela dan ikhlas jika Tuhan menarik kembali semua itu. Tuhan akan mempercayakan hal-hal baru ke dalam tangan kita melebihi segala yang pernah diambil-Nya.
Seperti Ayub berkata dalam Kitab Ayub 1:21, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” demikianlah kita patut menyadari jika apa yang ada di dunia ini bukanlah milik kita. Biarpun diperoleh lewat warisan atau dengan usaha dan kemampuan kita, itu semua ada (dan tiada) juga atas perkenanan Tuhan. Dengan demikian, kita telah siap sedia bahkan jika harus memulai lagi dari titik atau angka nol.
Jika di 2026 kabut pekat kelabu ketidakpastian masih menggelayut di udara, menunggu bahkan menutupi jalan, mari kita tak takut untuk mulai lagi perjalanan dari awal, dari titik nol. Jadikan Tuhan rekan seperjalanan dan satu-satunya harapan kita. Bagi Orang-orang Percaya, Terang-Nya nyata bagai bintang yang bersinar di atas kandang Bayi Natal di Betlehem, Dia akan selalu menerangi langkah kita!
Semoga bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati.
Jakarta, 28 Desember 2025











