Lyra tidak habis pikir, bagaimana bisa Basha tertarik dengan wanita sekelas Zeila. Penampilannya jauh di bawah standar, menurut Lyra. Dilihat dari sisi manapun dia jauh lebih cantik dari pada Zeila. Keluarga Lyra yang menguasai pasar modal dan hampir sebagian besar industri di kota juga lebih terpandang dibanding cendikiawan macam keluarga Zeth. Semakin memikirkannya kepala Lyra kian pusing.
Namun, dia tidak bisa menerima kekalahan ini begitu saja. Lyra merasa harus berbuat sesuatu. Dia mempertimbangkan untuk meminta bantuan pada seseorang. Lebih tepatnya, Lyra tidak perlu mengotori tangannya sendiri.
Di depan sebuah rumah tua, jauh di pinggir Kota, Lyra mengetuk pintu dengan keras. Seorang pelayan wanita dengan wajah penuh keriput muncul dari balik pintu yang terbuka. Sorot mata curiga dipadu dengan sikap tidak ramah membuatnya terlihat lebih menyeramkan. Lyra mundur selangkah.
“Sudah ada janji?” tanya pelayan itu dengan suara parau.
Lyra berdehem untuk membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba tercekat.
“Katakan pada tuanmu, Lyra Lilac datang berkunjung.” Dengan wajah yang terlihat setengah jijik Lyra mengangkat dagunya setinggi mungkin. Wanita pelayan itu bergumam tak jelas sambil membuka pintu untuk memberi jalan pada Lyra agar bisa masuk.
Meski sedikit ragu-ragu Lyra tahu dia sudah tidak bisa mundur.
Gadis itu diantar ke sebuah ruangan besar nan suram. Tidak ada pencahayaan yang cukup di sana. Lampu dinding di beberapa titik berpendar suram. Di sepanjang dinding terdapat hiasan dari kepala binatang yang mampu membuat bulu kuduk merinding. Lyra diarahkan untuk duduk di depan meja besar, di mana seorang laki-laki tua sudah lebih dulu berada di sana.
Laki-laki tua itu melihat Lyra dengan lebih dulu menurunkan kacamatanya. Lyra tahu dia ahli nujum terkenal bisa berbuat apa saja asalkan dibayar dengan harga yang sesuai. Sangat cocok dengan sorot mata licik dan gerak-gerik yang terlihat culas.
“Lyra Lilac, kau percaya diri sekali bisa menemuiku hanya dengan mengatakan namamu. Sepertinya kau sangat yakin kalau semua orang mengenalimu.” Suara Nerdlin—si tukang nujum—terdengar seperti bergumam.
“Tentu saja. Aku tidak meragukan itu.” Jawaban Lyra memang terdengar percaya diri … dan angkuh.
“Apa yang kudengar memang tidak selalu benar. Kau tidak hanya cantik, juga menyebalkan. Kombinasi paling busuk dibanding bangkai tikus di selokan,” kata Nerdlin tajam. Lyra memasang sikap tidak peduli. “Aku tahu apa yang kau inginkan, tetapi aku ragu-ragu apakah kau bisa memenuhi persyaratannya, mengingat mantan kekasihmu sudah menemukan tambatan hatinya,” ujar Nerdlin kemudian.
Lyra bukan hanya terkejut mendengar perkataan Nerdlin, tetapi juga marah. Dia tidak suka jika orang yang diharapkannya akan kembali suatu hari nanti disebut “mantan”. Lyra benci sebutan itu. Tetapi dia sudah bertekad untuk menyanggupi semuanya, demi mendapatkan Basha kembali. Karena itulah dia menahan diri untuk tidak meledak dan memaki.
“Sebutkan persyaratannya,” kata Lyra sambil bersandar ke bangku.
“Darah beruang, biji mata katak sebelah kiri, jantung monyet jantan, dan wine merah. Tapi tenang saja, kau bisa mendapatkan semua itu dengan mudah. Ada orang yang bisa mencari itu semua dengan imbalan tertentu. Tapi syarat yang terakhir, itu yang sulit.” Nerdlin tidak bisa menyembunyikan kilatan licik di matanya. Lyra sedikit merinding, mulai ragu-ragu untuk melanjutkan. Sayangnya dia teramat keras kepala.
“Sudah kubilang sebutkan semuanya,” tukasnya dengan tidak sabar.
“Kau … harus tidur denganku malam ini.”










