Tertawa itu menyenangkan, meskipun canggung sekali. Berada di dekat Adam menyenangkan dan Cinta membenci dirinya sendiri karena berpikir seperti itu.
Aku seharusnya membencinya! Terutama setelah melihatnya di kolam renang bersama gadis itu. Aku yakin dia menghabiskan setiap hari minggu dengan gadis yang berbeda, yang masing-masing lebih cantik dari sebelumnya.
“Sial, aku kehabisan kopi,” kata Noni, mengerutkan kening ke cangkirnya yang kosong.
“Mau kuambilkan lagi?” Adam menawarkan. “Satu gula, tanpa krimer?”
“Kamu seperti boneka,” kata Noni, menyerahkan cangkir.
Cinta mencoba untuk fokus pada buku panduan di depannya, tetapi dia mencium aroma deodoran Adam saat berjalan di belakangnya menuju pembuat kopi di ruangan lain.
Oke, cowok itu berkeringat. berpikir bahwa ketiaknya berbau harum adalah hal terbodoh yang pernah ada. Tapi Adam tampak cakep mengenakan celana panjang hitam dan biru itu, perutnya berkilau karena keringat. Tanpa kausnya, celana berkuda itu terbuka rendah, memperlihatkan bentuk V pinggulnya, garis putih samar di kulitnya yang berwarna cokelat.
Cinta menarik napas dalam-dalam dan mencoba memahami kata-kata di kertas itu.
Bendera kuning berarti memperlambat laju karena ada pengendara lain yang jatuh di lintasan di depanmu.
Ya, oke, fokusnya hilang. Adam kembali, berjalan perlahan karena dia telah mengisi cangkir sampai penuh.
“Kalian punya makanan di sekitar sini?” tanyanya, sambil meletakkan tangannya di perutnya yang terpahat sempurna. “Aku kelaparan.”
“Ooh!” kata Noni, matanya berbinar. “Cin, bawa dia pulang dan kasih dia cupcake.”
Noni menyebut setengah dari nama Cinta. Rasanya seperti mereka sudah berteman lama, padahal baru seminggu, tapi Cinta menyukainya. Dini tidak pernah memberinya nama panggilan.
“Cupcake?” Adam berkata, tampak sangat bersemangat.
“Ya, kami membuat sekitar lima ratus kue tadi malam,” jelas Cinta, sambil memikirkan apa yang baru saja dikatakan Noni.
Dia ingin aku membawa Adam ke rumahnya, sendirian, untuk memberinya kue mangkuk. Apa aku bisa melakukannya?
“Oke, kedengarannya luar biasa, dan aku akan memakan empat ratus kue, tapi bisakah kita sarapan dulu?” kata Adam, menyisir rambutnya dengan tangan. Karena rambutnya berkeringat, setengahnya akan berdiri. “Terlalu banyak gula akan membuatku sakit. Aku butuh protein.”
“Kamu bisa pergi ke Belimbing Café,” kata Noni, dan Cinta merasa Noni mencoba membantu. Tapi astaga, apakah dia menyarankan agar dia pergi ke restoran bersama Adam? Itu seribu kali lebih buruk daripada mengajaknya ke rumahnya.
Adam mengangguk. “Ide bagus. Mau kubawakan wafel?”
Noni menyeruput kopinya. “Kamu tahu kesukaanku.”
“Bagaimana kamu bisa mengingat semua pilihan makanan dan kopinya?” kataku, setidaknya untuk mengulur waktu sebelum dia memintaku pergi bersamanya.
Adam mengangkat bahu. “Dia Ibu keduaku. Lagipula aku sudah menjadi budak kedua ibuku sejak aku cukup umur untuk berjalan. Mereka selalu menyuruhku membelikan barang-barang yang tidak berguna, dasar pemalas.”
Noni memutar matanya dan meraih dompetnya, yang berada di bawah meja resepsionis di sebuah bilik kecil untuk karyawan. “Ini uangnya. Kalian berdua bersenang-senanglah.”
“Hei, ibu kedua?” kata Adam dengan cara yang sangat keren. “Aku tidak menginginkan uangmu. Kau membuatku malu di depan cewek cantik itu.”
Noni mendengus dan memasukkan kembali uang itu ke dompetnya. “Terserah kamu saja.”
Apakah aku cewek cantik dalam kalimatnya? Ya Tuhan, mengapa dia melakukan ini padaku?
Adam menoleh ke arah Cinta dengan tatapan penuh harap di matanya dan Cinta baru sadar sekarang bahwa dia benar-benar khawatir dia tak setuju untuk pergi bersamanya.
“Jadi… mau sarapan?” Suara Adam merendah, matanya terfokus ke mata Cinta saat dia berdiri di depan gadis itu. Dadanya yang bidang terlihat jelas.
Cinta menelan ludah. Kepalanya menyuruh dia untuk berteriak ‘tidak!’ dan menampar Adam. Namun hatinya berkata, “Ya, nggak apa-apa.”
Mata Adam berbinar.
“Ya?” Cinta mengangguk. “Ya.”
Adam menyeringai. “Keren. Beri aku waktu dua detik untuk mandi dan berganti pakaian.”
Dia mengangkat dua jarinya. “Cepat kok.”
Cinta mengangguk dan dia berlari menyusuri lorong menuju tempat yang ada pusat kebugaran dengan ruang ganti. Noni telah mengajak Cinta berkeliling fasilitas itu sebelumnya dan itu cukup keren. Ada kantor, area lounge besar dengan TV, tempat penitipan anak untuk anak-anak kecil, dan pusat kebugaran dengan semua peralatan yang sama seperti yang ada di pusat kebugaran sungguhan.
Ada juga beberapa ruang penyimpanan seperti yang pernah dia melihat Adam di malam pertamanya di sini, bermesraan dengan cewek itu. Dia jelas bukan cewek yang sama di kolam renang. Cinta bertanya-tanya berapa banyak gadis yang pernah bermesraan dengan Adam di semua ruangan di gedung ini.
Dan kemudian Cinta membenci dirinya sendiri karena agak berharap menjadi salah satu dari mereka.
***
“Terima kasih sudah ikut denganku,” kata Adam, melirik ke arah Cinta saat berhenti di lampu merah.
Sekali lagi Cinta berada di kursi depan truknya. Aroma kulit dan cowok tampan adalah campuran memabukkan yang membuat Cinta sangat kebingungan.
“Ya, yah, aku tidak punya pilihan lain.”
Adam memiringkan kepalanya. “Kamu bisa saja menolak. Tapi aku sangat senang kamu tidak melakukannya. Aku ingin menebusnya.”
Cinta mengangkat alis. “Menebus apa?”
Cinta bisa melihat jakun Adam bergoyang saat dia fokus pada jalan di depannya. “Kamu tahu … malam itu . . .”
Oh, menyenangkan sekali mempermainkannya.
Cinta mengernyitkan alis. “Hah? Malam apa?”
Adam memainkan setir mobilnya sambil menyetir. “Malam itu aku membawa tasmu dan tidak menghormatimu … kamu tahu . . .”
Cinta terkekeh. “Ya, aku tahu. Aku hanya ingin mendengarmu mengatakannya.”
Adam menyandarkan kepalanya di sandaran kursi pengemudi.
“Kamu jahat padaku.”
Adam memperlambat laju mobilnya dan berbelok ke tempat parkir yang penuh sesak di sebuah kafe yang tampak seperti pondok kayu dari luar. Mereka parkir, lalu dia mematikan mesin mobil dan berbalik menghadap Cinta.
“Aku minta maaf. Dan aku ingin menebusnya. Kamu mau ikut ke sini bersamaku hari ini sangat berarti.”
Dia tersenyum kecil namun penuh arti padaku, dan, sial, aku mendapati diriku tersenyum balik padanya, pikir Cinta.
Cinta menarik napas dalam-dalam dan menatap kain gaun barunya. Ketika duduk, kelimannya naik ke paha atas dan tiba-tiba Cinta merasa sangat malu.
“Dengar,” kata Cinta sambil menghela napas. “Aku tidak tahu mengapa aku mengatakan ini, tetapi mungkin … aku tidak tahu,” kataCinta sambil menggelengkan kepala. “Mungkin kita bisa memulai lagi dan berteman.”
“Ya?”
Adam tersenyum lebar, lebih lebar dari yang pernah dilihat Cinta. Dia menepuk kemudi dan membuka pintunya. Adam sudah ada di sisi penumpang dan tiba-tiba dia membuka pintu dan mengulurkan tangan kepada Cinta.
Adam memegang tangannya dan Cinta merasakan kehangatan menjalar ke dalam tubuhnya ketika Adam membantunya turun dari double cabin-nya yang besar.
“Terima kasih,” gumam Cinta, mengusap gaun merah muda itu untuk memastikan semuanya sudah turun dan berada di tempat yang seharusnya. “Aku mungkin tidak seharusnya memakai rok kalau naik mobil besar seperti ini.”
Adam menutup pintu di belakangnya dan memegang tangan Cinta dengan santai seolah-olah mereka sudah sering nergandengan.
“Jangan khawatir. Kalau ada yang mencoba mengintip rokmu, aku akan menghajarnya.”
Cinta memutar mata bola matanya, merasa sangat sulit berjalan sekarang karena tangannya ada di tangan Adam.
“Kamu tidak perlu melakukan itu,” kata Cinta. Adam meremas tangannya.
“Tapi aku akan melakukannya.”
Ketika mereka sampai di pintu kafe, Adam melepaskan tangan Cinta dan membukakan pint.
Cinta senang perasaan canggung memegang tangan Adam sudah hilang, tetapi dia juga merindukan sensasi kulit Adam di tanganya.
Mungkin karena tidak ada yang menyentuhku. Bukan karena Adam. Ya, kan?
Tempat itu penuh sesak, tetapi pelayannya mencarikan mereka tempat di dekat bagian belakang di salah satu bilik kecil yang hanya dibuat untuk dua orang.
Adam memesan minuman bersoda dan Cinta memesan air mineral. Ketika pelayan itu pergi, Adam menatap Cinta. “Kamu nggak suka soda?”
Cinta menggelengkan kepala. “Aku cuma pingin ingin air putih.”
Sejujurnya, tidak pernah terlintas dalam pikiran Cinta untuk memesan apa pun selain air putih. Dia dan Dini jarang pergi ke restoran, tetapi kalaupun pergi, mereka harus sehemat mungkin. Dia dan mamanya selalu memesan air putih dan membagi makanan utama. Dini bilang itulah yang membuat wanita tetap langsing dan kemudian dia akan berkata bahwa menjadi langsing adalah segalanya.
Lucu, karena Cinta lebih suka menghabiskan masa kecilnya tanpa tidur dalam keadaan lapar setiap malam.











