Home / Topik / Wisata / 9. Situs Bowongan, Kuil Peninggalan Singasari

9. Situs Bowongan, Kuil Peninggalan Singasari

Ananta Kama 1600x900
This entry is part 10 of 33 in the series Ananta Kama

Embun masih menggantung di ujung daun ketika aku menghentikan mobil di Warung Kopi Badhek, warung kopi yang berada Dusun Sabrangrowo, Desa Borobudur. Sengaja kupilih tempat  yang menawarkan suasana pedesaan yang nyaman dengan nuansa tradisional dengan menyajikan kopi yang diracik menggunakan “badhek” atau gula aren cair. Aku masuk ke warung yang memiliki bangunan joglo dan area taman.

Udara pagi terasa sejuk, bercampur aroma rumput basah dan wangi kopi yang sedang diseduh dari dapur terbuka warung makan. Di kejauhan, siluet Borobudur tampak samar, tersentuh cahaya matahari pertama yang perlahan naik dari balik perbukitan Menoreh.

Di teras rumah makan, beberapa meja kayu telah ditata rapi. Suara sendok bertemu gelas dan percakapan lirih para wisatawan menciptakan irama lembut yang menenangkan. Aku menarik napas panjang, pagi ini aku merasa bersemangat dan merasa terlalu indah untuk disia-siakan.

Aku melirik arloji dipergelangan tangan, masih pukul 06.45. Sedikit lebih awal dari waktu janji yang disepakati.

Aku memilih duduk di bangku dekat jendela lebar yang langsung menghadap sawah. Sinar matahari yang mulai hangat memantul di permukaan air irigasi, membuat sawah tampak berkilau. Sambil merapikan jilbab yang sedikit berantakan oleh angin pagi, aku mencoba menghubungi Zack, khawatir jika dia lupa. Beberapa kali panggilan tidak diangkat, mungkin laki-laki itu masih di jalan. Semalam dia mengatakan ingin berangkat sendiri menuju tempat ketemu, jaraknya juga tidak terlalu jauh dari tempatnya menginap.

“Pagi, Mbak. Mau pesan dulu?” tanya seorang pramusaji dengan senyum ramah.

“Kopi hitam dan pisang goreng, Mas. Rencananya nunggu teman juga,” jawabKu.

Tak sampai lima menit, kopi panas mengepul di hadapannya. Aromanya kopi yang kuat bercampur manis gurih gula aren  seolah bisa menenangkan rasa gugup yang pelan-pelan naik. Aku menghangatkan telapak tangan pada gelas, sambil menyesap isi gelas pelahan.

Tiba-tiba suara langkah mendekat disusul sebuah salam, “Goedemorgen.”

Aku mendongak. Zack berdiri dengan tangan di saku, tampak gagah dalam balutan kemeja putih sederhana dan ransel kecil di satu bahu. Senyumnya masih sama seperti kemarin.

“Hoe gaat het met je?” tanyaku, laki-laki itu mngacungkan jempol sebagai ganti jawabannya, sibuk memilih menu.

“Heb je goed geslapen?” Kebiasaan orang Belanda bila bertemu di pagi hari adalah menanyakan apakah semalam bisa tidur nyenyak. Lagi-lagi Zack menjawab dengan acungan jempol.

“Kamu datang sangat pagi,” ujar Zack setelah selesai memesan.

“Aku cuma… nggak pengen telat,” jawabku sambil tertawa kecil.

“Ooow, kukira karena Kamu merindukan saya,” ujarnya menggoda.  Aku mencebik, ganjen juga ternyata laki-laki bule ini.

“Apakah Kamu sudah bertemu Puji?” tanyaku mengalihkan, jujur sikap Zack yang sering mencuri pandang membuatku salah tingkah.

“Saya memutuskan tidak bergabung dengan rombongan tur, lebih asik pergi denganmu,” ujarnya sambil cengar-cengir.

“Mana bisa begitu? Bisa-bisa aku dikira menculikmu.”

“Saya malah menawarkan diri untuk Kamu culik.”

Aku mendelik mendengar bicaranya yang asal nyeplos, tapi dia malah terkekeh.

Dari dapur, aroma bawang goreng dan wajan panas mulai menyebar, tanda sarapan khas Magelang sudah siap.  Tempe garit, Sego Megono, dan sambal irisan hijau yang segar. Zack memilih menu yang sama denganku, sepertInya dia belum bisa menerima sensasi rasa yang tajam, ciri khas masakan Indonesia.  

Di tengah hangatnya aroma makanan dan laju waktu yang terasa lebih lambat, aku merasakan hal yang sulit dijelaskan, janji bertemu di pagi hari, di warung sederhana dekat Borobudur, serta kata-kata Zack yang seringkali membuatku salah tingkah.  Mungkin adalah awal dari sesuatu yang lebih panjang. Entah …

***

Selesai sarapan, kami menuju arah Salaman. Ada Candi Hindu Kuno di Dusun Bowongan, Desa Wringinputih, Kecamatan  Borobudur. Hanya memakan waktu sekitar 30 berkendara dengan mobil, kami sampai di situs kuil tunggal peninggalan Kerajaan Hindu Jawa kuno.

Zack selalu antusias saat berada di lokasi candi, dia turun terlebih dulu, meninggalkan aku yang masih mencari lokasi parkir. Seorang petugas menyapa ramah. Tanpa diminta, petugas itu menjelaskan.

Konon situs yang ditemukan secara tidak sengaja oleh salah seorang warga yang bertempat tinggal di sekitar pekarangan pada akhir tahun 2019 merupakan peninggalan Kerajaan Singasari yang menguasai pulau Jawa pada abad ke 13.

Diceritakan saat sedang menggali tanah pekarangan untuk membuat pondasi,  tidak sengaja cangkulnya mengenai benda keras yang ternyata adalah bagian atas candi. Pada saat dikeruk, batu batu penyusun berserakan di dalam tanah.

Kemudian pada Januari 2020, pihak Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta beserta Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah melakukan penggalian dan penyusunan bangunan.

Bangunan ini berbentuk punden berundak dengan tinggi 330 cm dan lebar 290 cm x 190 cm yang diduga sebagai Kuil ini dulunya digunakan sebagai media masyarakat Hindu Jawa untuk peribadatan dan menyembah dewa-dewi.

Bahan utama pembangunan kuil ini adalah batu bata merah dengan motif corak bergambar akar pohon. Disamping kanan dan kiri kuil terdapat 8 batu kali yang disusun masing masing 4 buah di tiap sisi.

Zackmengamati relief bergambar mata pada tumpukan  batu kali yang memiliki tinggi 130 cm dan lebar 25 cm x 25 cm.

Di bawahnya juga terdapat tumpukan batu kali dengan relief bergambar tumbuh-tumbuhan dengan tinggi 60 cm dan lebar 250 cm x 350 cm.

“Pada awalnya, di bangunan ini terdapat patung Agasatya yang dianggap sebagai representasi Siwa penyebar agama Hindu di Nusantara,” kata petugas menjelaskan pada Zack. Laki-laki itu justru menoleh padaku, sepertinya dia tidak paham.

“Agasatya berasal dari bahasa Sanskerta dan memiliki arti “penggerak gunung” atau “dia yang memindahkan gunung”. Nama Agastya dikaitkan dengan seorang resi legendaris dalam tradisi Hindu yang terkenal karena kebijaksanaan, kekuatan spiritual, dan kemampuannya mengatasi rintangan.” Aku menjelaskan keingintahuan Zack.

“Nama Agasatya sering muncul dalam prasasti-prasasti dan kesusastraan kuno Nusantara,” imbuhku. Zack menggaruk kepalanya yang aku yakini tidak gatal.

“Tapi saya tidak melihat ada patung?” tanya Zack

“Patung tersebut sudah dipindahkan ke Museum Candi Borobudur di Magelang,” jawabku sependek yang aku tahu.

“Selain patung Agasatya, bangunan ini juga memiliki patung kuda yang saat ini ada di Situs Candi Samberan, di Desa Ringinanom, Kecamatan Tempuran.” Petugas itu menambahkan penjelasan. Aku tersenyum senang,  mendapatkan tambahan info situs lain, seperti mendapat rezeki nomplok.

Zack masih sibuk mengamati corak yang terdapat pada bangunan situs. Menurut petugas, corak yang juga terdapat pada temuan situs yang ada di Desa Krasak dan Desa Bojong.

Saat ini, pihak Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Magelang sedang melakukan tahap revitalisasi di sekitar Situs Puang Bawang atau yang lebih populer dengan sebutan Situs Bowongan.

Petugas menunjukkan 3 buah lubang galian. Pada setiap galian masih terlihat batu-batu pondasi didalamnya. Keberadaan situs yang berada di lokasi pembuatan batu bata, membuat kekhawatiran rusaknya batu-batu candi yang masih tersisa. Masih banyak ditemui batu-batu candi di luar lubang galian. Kebanyakan tergeletak begitu saja atau berada di halaman rumah warga.

Namun, warga sekitar memang tidak berani mengambil batu bata kuno tersebut dari pondasinya, sebab bila salah mengambil, batu tersebut akan hacur. Kondisi batu bat yang terkubur selama ratusan tahun, keadaannya lembab dan rapuh.  Batu candi yang berada di situs ini ukurannya cukup besar, lebih besar dari batu bata pada umumnya, sekitar 3 kali lipat dari batu bata normal yang kini beredar di pasaran.

Jika dilihat dari luasnya, batu candi yang masih terlihat dari lubang-lubang galian, kemungkinan candi ini dulu berukuran besar. Selain pondasi bangunan candi, juga terdapat bangunan yoni yang jaraknya sekitar 50 meter dari keberadaan bangunan candi. Berada di halaman rumah warga, bagian ceratnya sudah menghilang dan di bagian badan yoni terdapat kikisan yang disebabkan batu tersebut menjadi media untuk mengasah benda tajam warga sekitar.

Puas mengelilingi candi, kami pamit. Tujuan berikutnya masih belum pasti, mungkin aku akan mencoba mencari situs Sambetan yang katanya letaknya tak jauh dari situs Bowongan.

“Aku suka caramu mengenal candi-candi, jarang ada perempuan yang tertarik melakukan eksplorasi batu-batuan. Kebanyakan perempuan lebih suka belanja ke mall daripada blusukan mencari batu,” puji Zack penuh tataan menggoda. Aku hanya tersenyum tipis, terlalu dini untuk menebak perasaan seseorang hanya dari senyum dan bicara ceplas-ceplosnya.

“Aku senang mengunjungi situs cagar budaya dan sejarah bangsa ini, secara tidak langsung aku telah melestarikan saksi sejarah bangsa yang masih tersisa. Jangan sampai batu-batu kuno tersebut hanya dijadikan sebagai dongeng masa kecil kita yang lambat laun bisa punah dikikis jaman.” pungkasku sambil naik ke mobil, bersiap melanjutkan perjalanan hari ini.

Ananta Kama

. Jejak yang Tertinggal 0. Jejak yang Tak Pernah Selesai

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image