Mobil berhenti di tepian jalan setapak yang membelah hamparan hijau Bukit Teletubbies yang terletak di Dusun Sentonorejo, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Angin berembus pelan menerobos kaca yang dibiarkan terbuka. Leon turun lebih dulu. Tanpa menunggu Nadia atau Kyoto, ia langsung melangkah cepat menyusuri jalan kecil yang mulai menanjak. Langkahnya panjang dan tegas, tidak seperti sebelumnya. Ada sesuatu yang ingin ia kejar, atau mungkin sesuatu yang ingin ia tinggalkan jauh di belakang.
“Leon, tunggu!” seru Nadia dari belakang, setengah berlari mengejar.
Namun, Leon tidak menoleh. Ia terus berjalan, bahkan semakin cepat, nyaris berlari. Seolah dengan mempercepat langkah, ia bisa mengusir bayangan yang masih berusaha mengejarnya, bayangan tentang Adelheid.
Nama itu masih terasa seperti gema di kepalanya. Setiap langkah yang ia ambil seperti upaya untuk menenggelamkan ingatan ke dalam tanah. Ia tidak ingin berhenti. Tidak ingin memberi ruang sedikit pun bagi pikirannya untuk kembali berputar pada masa lalu.
Kyoto hanya memperhatikan dari belakang sambil berjalan santai. Ia melirik Nadia dan tersenyum tipis.
“Biarkan saja,” ucapnya pelan. “Kadang seseorang memang butuh berlari … meski tidak tahu kemana arah yang dituju.”
Nadia menghela napas, lalu memperlambat langkahnya. Ia tahu Kyoto benar.
“Dia akan berhenti ketika sudah merasa cukup,” imbuh Kyoto lagi.
“Kalau tidak salah ada situs di sini,” ujar Nadia sambil membuka buku catatannya.
“Benar, tapi tidak banyak orang yang mengetahui. Tempat ini justru lebih dikenal dengan Bukit Teletabis,” jawab Kyoto.
Setelah berjalan sekitar 300 meter untuk masuk areal candi, tangga yang terbuat dari batu beranjak naik semakin tinggi. Kiri kanan hanya jati-jati yang meranggas meski kemarau belum benar-benar datang. Ukuran areal candi sekitar 40×40 m dan berada di ketinggian 360 mdpl.
Di depan, Leon sudah mencapai punggung bukit. Dari sana, pemandangan terbuka luas. Perbukitan hijau bergelombang seperti permukaan laut yang membeku.
Leon akhirnya berhenti berlari, ia memindai setiap lekuk perbukitan dengan napas yang masih terengah. Untuk pertama kalinya sejak berjalan tadi, ia menarik napas dalam-dalam. Dadanya naik turun, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena sesuatu yang perlahan berubah di dalam dirinya, seperti ada ikatan yang terlepas.
Nadia dan Kyoto akhirnya menyusul. Nadia berdiri di samping Leon, mengikuti arah pandangnya, terlihat susunan batu yang berbeda dari alam sekitarnya.
“Itu … candi?” Leon menatap candi itu lama, tangannya menunjuk pada tumpukan batu yang tersembunyi. Namun, Ia merasakan ada keheningan di sana. Bukan keheningan yang kosong, tapi keheningan yang penuh, seolah tempat itu menyimpan cerita yang tidak diucapkan, atau rasa yang tidak dipaksakan untuk dimengerti.
“Ini Candi Abang,” jawab Nadia sambil menggeser tubuhnya mendekati susunan batu bata merah tersebut.
“Candi Abang adalah situs purbakala yang dikenal sebagai “piramida” Jawa karena bentuknya seperti bukit buatan berundak yang tertutup tanah dan rumput,” lanjut Nadia. Leon ikut mendekat, mengamati batuan.
“Candi ini merupakan situs Hindu dari abad ke 9 dan ke 10 pada masa kerajaan Mataram kuno. Jika musim kemarau, lokasi ini tampak gersang dengan tanah merah. Sedangkan pada musim hujan, rumput akan tumbuh subur dan membuat candi ini tampak seperti bukit teletubies.” Kyoto menambahkan penjelasan Nadia.
“Kenapa namanya Candi Abang? Abang means merah, bukan?” celetuk Leon.
“Dinamakan Candi abang karena terbuat dari batu bata merah, berbeda dengan candi lainnya di Jawa Tengah yang pada umumnya terbuat dari batu andesit,” jawab Kyoto.
“Candi ini sengaja di bangun di dataran tinggi, karena dipercaya Dewa dan Dewi tinggal di tempat yang tinggi. Cerita rakyat menyebutkan bahwa Candi Abang adalah tempat penyimpanan harta karun. Sampai saat ini sebagian masyarakat percaya bahwa Candi Abang dijaga oleh sosok yang dituakan dan dihormati. Sosok ini bernama Kyai Jagal yang bertubuh tinggi besar dan berambut panjang. Konon Kyai Jagal ini bertugas melindungi Candi Abang dan daerah sekitarnya dari kerusakan,” papar Kyoto panjang.
“Entah kenapa … aku tidak percaya adanya Kyai Jagal,” kilah Nadia.
“Itu pilihan, boleh percaya boleh tidak tentang adanya Kyai Jagal. Tapi, yang pasti tugas melindungi Candi Abang dan juga candi-candi yang lain dari kerusakan adalah tugas kita semua. Baik pemerintah, warga setempat, maupun wisatawan harus bersinergi untuk terus melestarikan situs purbakala,” tandas Kyoto.
“Ini candi Hindu?” tanya Leon lagi
“Bentuknya yang gundukan menyerupai piramida, kemungkinan dari tradisi Hindu. Ada alas yoni, penanda Dewa Siwa berbentuk segi delapan, bukan segi empat seperti biasanya. Namun, ada juga yang mengatakan ini candi Buddha.” Kyoto menunjuk beberapa kepingan batu.
“Jejak peradaban sering kabur, tapi selalu ada benang merah yang menghubungkan. Bisa jadi candi ini dibangun pada masa Hindu. Saat ajaran Buddha masuk, jejak peninggalan Hindu banyak yang masih tersisa, tidak hilang sepenuhnya.” ujar Nadia.
Leon mengangguk pelan, “Seperti … perasaan yang tidak pernah benar-benar hilang.”
Nadia terkekeh kecil, menepuk bahu Leon, “Jejak akan tergerus waktu, demikian juga perasaan.”
“Tempatnya … seperti disembunyikan, ya,” gumam Leon.
Kyoto berdiri di belakang mereka, memasukkan tangan ke saku jaketnya, “Atau mungkin bukan disembunyikan, hanya sedang menunggu orang yang tepat untuk menemukannya.”
Leon tersenyum tipis, senyum itu kini terasa lebih ringan. Ia melangkah mendekati candi kembali, kali ini tanpa terburu-buru. Setiap langkahnya lebih tenang, lebih sadar. Batu-batu tua yang tersusun rapi itu seolah menyambutnya dalam diam.
Di hadapan candi kecil itu, Leon berjongkok. Tangannya menyentuh salah satu batu yang dingin. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan sesuatu yang bergerak pelahan, sebuah dorongan untuk melepaskan.
Angin kembali berembus, sedikit lebih kencang dari sebelumnya, mengibaskan ujung rambut mereka. Rumput bergoyang seperti ikut berbisik pelan, nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat hati terasa lebih lapang.
“Yuk,” katanya ringan, menoleh pada Nadia dan Kyoto. “Kita lihat lebih dekat.”
Kali ini nada suaranya berbeda, tidak ada lagi beban yang menekan seperti sebelumnya, hanya sisa-sisa kenangan yang kini terasa lebih jauh dan lebih samar.
Untuk pertama kalinya sejak nama itu muncul kembali dalam hidupnya, Adelheid tidak lagi terasa seperti luka yang terbuka, melainkan bagian dari perjalanan yang perlahan mulai ia terima.
Siang beranjak naik, mereka meninggalkan Candi Abang dengan langkah yang terasa lebih pelan dari biasanya. Tak ada yang benar-benar ingin buru-buru pergi, seolah tempat itu masih menyimpan sesuatu yang belum sepenuhnya mereka pahami.
Leon berjalan paling belakang kali ini, langkahnya tidak lagi terburu-buru. Tatapannya sesekali kembali ke arah candi yang perlahan menghilang dari pandangan. Ada sesuatu yang tertinggal di sana, bukan benda, melainkan perasaan yang sulit dijelaskan.










