Home / Fiksi / Cerbung / Cinta Kedua & Terakhir: Bab 16

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 16

CINTA KEDUA & TERAKHIR
2
This entry is part 17 of 28 in the series Cinta Kedua & Terakhir

Di depan pintu berdiri seorang pria yang terlihat masih segar meski sudah berumur sekitar kurang lebih lima puluh tahun, dengan didampingi dua orang pengawal pribadinya.

“B-Bos. Mari, Bos. Silakan masuk. Maaf Bos. Saya tidak tahu kalau Bos akan ke sini.”

Pazel benar-benar merasa malu dengan kondisi rumahnya yang berantakan. Dia tidak tahu bos besarnya akan datang ke rumahnya.

“Kalau begitu saya minta maaf karena tidak memberitahu sebelum kedatangan saya.”

“Tidak, Bos. Maksud saya bukan seperti itu,” ucap Pazel.

Dia menjadi salah tingkah karena dia takut menyinggung perasaan bos besarnya. Badannya gemetar dan dingin.

Orang yang dipanggil Bos berjalan ke ruang tamu diikuti oleh dua orang pengawalnya.

Pazel mempersilakan mereka untuk duduk. Namun yang duduk hanya satu orang, yaitu orang yang dipanggil Bos oleh Pazel. Sedangkan yang dua orang berdiri di sebelah kiri dan kanan orang itu.

“Saya akan buatkan minuman, Bos.”

“Tidak usah repot-repot,” ucapnya dengan senyuman yang ramah. Dia melanjutkan ucapannya.

“Sebenarnya kedatangan saya kesini untuk bertemu dengan istri kamu.”

Mendengar apa yang disampaikan oleh orang itu, Pazel menjadi bingung. Dia ingin menanyakan kenapa Bosnya mencari istrinya. Tapi dia takut menyinggung perasaan Bosnya. Jadi dia memilih untuk jujur.

“Jadi sebenarnya begini, Bos. Saya dan istri saya sedang mengurus perceraian kami. Jadi sekarang dia tidak tinggal di sini, Bos. Apa Bos mengenal istri saya?”

“Tidak. Saya tidak mengenal istrimu. Justru saya datang kesini ingin kenalan dengan istrimu.”

Pazel menjadi lega setelah tahu kalau kedatangan Bosnya ke sini hanya untuk bersilahturahmi.

“Kalau begitu saya akan panggilkan ibu dan calon istri saya Bos.”

Pazel segera berteriak memanggil mereka berdua yang ada di atas.

“Ibu…. Rima….”

Dua orang itu segera turun dari tangga. Rohana berjalan dipapah oleh Rima.

Setelah sampai di bawah Pazel segera memperkenalkan Ibu dan calon istrinya.

“Bos. Kenalkan ini Ibu saya dan ini Rima calon istri saya.”

Orang yang dipanggil Bos itu segera berdiri setelah menatap mereka berdua.

“Kalau begitu saya permisi. Lain kali kita ketemu lagi.”

Dia segera meninggalkan rumah Pazel diikuti kedua pengawalnya.

Setelah orang itu pergi ibunya bertanya

“Apa itu Bos kamu di kantor, Zel?”

“Iya, Bu.”

“Kenapa dia datang ke sini?”

“Katanya ingin berkenalan dengan istriku. Aku bilang kalau aku sedang dalam proses perceraian dengan istriku. Jadi aku memperkenalkan Ibu dan Rima sebagai keluargaku.”

“Tapi kelihatannya wajahnya tidak senang, Zel.”

“Iya, Bu. Aku rasa juga seperti itu. Aku takut ini akan berimbas ke pekerjaanku.”

“Kenapa sih, kamu terlalu jujur? Kenapa tidak kamu bilang saja kalau istri kamu itu adalah Rima. Kan dia juga belum pernah bertemu dengan Silvia.”

“Iya, Bu. Kenapa aku tidak berbohong saja tadi, ya?”

Pazel duduk di kursi dan menggusar kepalanya yang tidak gatal.

***

Sementara itu orang yang disebut Bos oleh Pazel sedang berada di jalan menuju rumah Silvia. Begitu sampai di depan rumah Silvia, pengawal pribadinya segera membukakan pintu mobil.

Silvia hari itu ada di rumah, menikmati libur hari minggunya bersama adik dan ibunya di depan TV. Dia tidak mendengar ada suara mobil yang berhenti di depan rumahnya.

Tok, tok, tok.

Terdengar suara ketukan pintu beberapa kali. Tiara segera beranjak untuk membuka pintu.

Begitu pintu dibuka. Terlihat tiga orang berada di depan pintunya. Ketiga orang itu berpakaian rapi.

Tiara menanyakan maksud kedatangan orang tersebut dengan sopan.

“Bapak-bapak ini cari siapa, ya?”

Kemudian satu orang yang ada di depan membuka kacamata hitamnya.

“ Kok rasanya saya kenal dengan Bapak. Tapi saya lupa di mana.”

Di saat Tiara bicara seperti itu, Bu Iyes dan Silvia menyusul keluar. Bu Iyes merasa tidak yakin dengan apa yang dilihatnya.

“Bapak. Apa betul ini Bapak?” tanya Buk Iyes yang merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Orang yang sepuluh tahun lalu pergi mencari pekerjaan, namun tidak pernah pulang. Bagaimana mungkin sekarang pulang dengan penampilan yang sangat berbeda?

Bu Iyes memperhatikan wajahnya dengan sangat teliti. Namun dia tidak menemukan perbedaan mulai dari tinggi badan, senyumnya, tatapannya persis seperti suaminya yang hilang sepuluh tahun yang lalu. Hanya saja badannya sekarang lebih terawat dan agak berisi.

Sedangkan Silvia sangat yakin bahwa orang yang ada di depan pintu adalah ayah kandungnya. Dia segera berlari menghambur ke dalam pelukan ayahnya.

“Ayah. Kenapa ayah tidak pernah memberi kabar kami kalau ayah masih hidup? Kami sangat merindukan ayah.”

Silvia tak kuasa menahaan air mata bahagia. Sedangkan Bu Iyes dan Tiara baru menyadari kalau orang yang di peluk Tiara memang benar ayahnya dan suami Bu Iyes yang hilang sepuluh tahun yang lalu setelah melihat isak tangisnya saat memeluk Silvia.

Mereka juga menghambur ke pelukan orang itu. Suasana haru begitu terasa. Warga yang ada di sekitar juga ikut terharu menyaksikan pertemuan mereka.

“Mari masuk, pak. Kita jadi tontonan orang,” ucap Bu Iyes sembari mengajak anak-anaknya juga.

“Kenapa Bapak tidak memberi kabar kepada kami selama ini?” tanya Bu Iyes setelah berada di dalam rumah.

Tiara sibuk membuat minuman dingin untuk diminum bersama,  sedangkan pengawal suami Bu Iyes memilih untuk tetap berjaga di luar meski sudah ditawari untuk masuk ke dalam rumah.

Pak Herman hanya menjelaskan secara singkat.

“Sebenarnya waktu itu, Bapak kecelakaan saat mencari pekerjaan. Bapak di bawa ke rumah sakit. Bapak tidak sadarkan diri berhari-hari. Setelah Bapak sadar ternyata Bapak tidak ingat dengan kecelakaan itu, dan Bapak juga tidak ingat siapa diri Bapak. Orang yang membawa Bapak ke rumah sakit itu bingung mau mengantar Bapak ke mana setelah sembuh. Tidak ada identitas Bapak yang di temukan. Akhirnya Bapak dibawa pulang ke rumah beliau. Beliau menyelamatkan Bapak dan memberi Bapak pekerjaan. Karena kejujuran Bapak. Beliau akhirnya mempercayakan sebuah perusahaannya kepada Bapak. Dan sekarang Bapak sudah memiliki beberapa perusahaan dan kamu tahu Silvia? Ada yang lebih penting lagi,” Pak Herman menjeda kata-katanya.

“Perusahaan tempat suami Silvia bekerja adalah perusahaan Bapak dan itu akan menjadi milik Silvia.”

“Kalian bersiap-siaplah, nanti malam Bapak akan memperkenalkan kalian dengan orang yang telah menyelamatkan Bapak. Orangnya sangat baik dan ramah. Karena kegigihan beliau mengobati Bapak, akhirnya sekarang Bapak bisa mengingat segalanya.”

“Jadi selama ini Bapak berada di Jakarta? Ya Allah. Ibu kira Bapak meninggal, tapi syukurlah Pak. Ibu sangat berterima kasih kepada orang yang telah menolong Bapak. Ibu, Tiara dan Silvia akan bersiap-siap untuk nanti malam.”

Bu Iyes memegang tangan suaminya erat. Tak terasa bulir bening di mata Silvia dan Tiara kembali mengalir.

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 15 Cinta Kedua & Terakhir: Bab 17

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image