Kaki kami mantap menyusuri jalur pendakian Gunung Crawet, medan terjal dengan jurang di kiri-kanan tak menyurutkan langkah kami untuk terus menuju puncak.
“Kamu menantang maut, Ran,” ucap Mas Damar, kakak laki-lakiku yang bisa dibilang datuknya para datuk bidang per-hiking-an, saat mengetahui rencana pendakian ke Gunung Crawet.
“Bukan begitu, Mas. Ini nazar kami berlima jika semua telah kembali ke kampung halaman, maka itulah saatnya reuni. Dan sejak sepuluh tahun yang lalu kami telah memutuskan untuk kemping di Gunung Crawet karena memang hanya gunung itu yang belum kami cicipi di wilayah sini.”
Mas Damar terdiam cukup lama.
“Hanya satu pesanku, jangan mengenakan celana dalam jika ingin selamat.”
Mulutku nyaris menyembur kopi yang baru saja kuseruput, batuk tawa bercampur tersedak membuat air mata nyaris keluar saking hebatnya. Ada-ada saja Mas Damar.
Tapi, Mas Damar tidak tertawa. Raut mukanya bahkan terlihat tambah serius, hingga membuat keningku berkerut.
“Randu, kau meragukan kakakmu ini?”
Tidak, Mas Damar tidak sedang bercanda. Ah, tapi … mengapa larangannya terdengar begitu konyol?
“Mengapa tak boleh mengenakan celana dalam, Mas?” tanyaku penasaran. Terbayang betapa amat risih rasa kelak ketika hal itu benar-benar harus kulakukan, meskipun sebenarnya tidak ada yang akan menyadari perbedaannya.
“Karena mereka akan memenggal kepalamu.”
Penjelasan Dedengkot Gunung-Hutan itu langsung membuat bulu kudukku meremang. Benarkah-hanya gara-gara celana dalam-ada yang tega membunuh orang, dengan cara sekejam itu?
“Dah sampai PPA, Ran.” Ucapan Wisnu membuyarkan pendakianku di dunia sebelah, menyadarkanku untuk sebisa mungkin lebih memfokuskan diri pada pendakian sebenarnya di dunia yang kini.
“Randu, ya?”
“Eh, ternyata Mas Jati?” Kuulurkan tangan ke petugas jaga di pos pertama pendakian, yang ternyata adalah karib kental Mas Damar yang dulu selalu mampir ke rumah setiap kali hendak ‘buka jalur’ di gunung apapun wilayah provinsiku.
“Damar sudah memperingatkanmu?”
Aku mengangguk.
“Kamu sudah bilang ke teman-temanmu juga?”
Aku mengangguk lagi, kali ini sambil susah-payah menelan ludah. Masih jelas tawa mereka ketika aku memperingatkan tentang urusan celana dalam itu.
“Berarti kamu sudah tahu resikonya, kan?”
Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.
“Semoga selamat, Randu.”
“Terima kasih, Mas Jati.”
Percakapan singkat penuh masygul dengan Mas Jati dengan cepat terlupakan, berganti dengan pemandangan Gunung Crawet yang memang terkenal memiliki keindahan yang sangat membius.
Angin sore membelai kami yang baru saja berhasil mencapai puncak. Selalu begitu, selalu ada semacam perasaan tak terlukiskan saat memandang alam dari ketinggian seperti ini, membuatku semakin sadar betapa sangat tak berartinya manusia ketika bersandingan langsung dengan semesta yang menghampar tak bertepi.
Senja menjelang berakhir. Itu artinya kami harus turun ke lembah guna mendirikan tenda. Acara kami lanjutkan dengan saling berbagi nostalgia perjalanan sepuluh tahun ketidak bersamaan, dalam ritual wajib api unggun yang menghangatkan.
“Aku kebelet. Sebentar, ya. Eh, lanjut aja ceritanya enggak apa-apa.” Roni beranjak dari duduk, lalu menghilang setengah berlari.
“Enggak seru, ah,” sahut kami hampir berbarengan.
Tak berapa lama, terdengar suara gemerisik dari arah Roni menghilang.
Kami saling bertukar tatap penuh kecurigaan.
Belum lagi sempat menerka-nerka, ketika sesuatu menggelinding ke arah kami. Kepala Roni!
Tanpa dikomando, lintang-pukang semua berhamburan, mengeluarkan daya tercepat pelarian menuju pos pendakian sebelumnya.
Namun ternyata apapun yang telah memenggal Roni itu masih lebih cepat dari kami.
Tubuh-tubuh melayang. Memburu. Diburu. Kepala-kepala beterbangan.
Sebuah hantaman benda tumpul telak menghantam belakang kepalaku, kemudian segalanya menghitam.
Ketika siuman, di hadapanku telah berdiri dua sosok bertombak. Pada posisi agak di depan di atas singgasana berlapis kulit harimau, sesosok gagah duduk penuh wibawa menatapku dengan pandang menyembur kemarahan.
Sosok gagah itu berdada bidang dengan kain bercorak kotak-kotak gelap menutup pinggang hingga lututnya. Di sebelahnya tersandar tombak bermata emas.
Namun ada yang aneh.
Ikat kepalanya!
Tak mirip ikat kepala. Tak lazim pula bila disebut sebagai lambang apapun yang menunjukkan kewibawaan yang ia miliki.
Mendadak, aku ingin tertawa terpingkal-pingkal jika saja sudah tidak sayang lagi dengan kepala satu-satunya milikku.
Kulihat di atas kepala sosok gagah itu bertengger celana dalam terbalik. Karet celana mengikat kepalanya, dengan dua lubang yang biasanya diperuntukan bagi kaki malah digunakan untuk menyembulkan kuncir rambut lebat miliknya.
“Kau tahu mengapa masih hidup?” Suara sosok gagah itu bergema memekakkan telinga, memberi denging amat tak nyaman di gendang pendengaranku.
Aku menggeleng.
“Karena hanya kau yang tidak mengenakan ini,” tudingnya ke celana dalam atau entah apapun itu yang bertengger di kepalanya.
Refleks aku memegang bagian bawah tubuh. Berarti, mereka telah membuka celanaku untuk memeriksanya?
Mereka tertawa melihat gerakanku.
“Mengapa? Mengapa kalian begitu kejam memenggal teman-temanku? Apa salah mereka? Apa benar hanya karena mereka memakai celana dalam?”
“Celana dalam?” Sosok gagah itu meraung, “Kalian menyebut ini celana dalam?”
Aku terperangah melihat reaksi sosok gagah itu, yang begitu marah hanya karena aku menyebut nama segitiga pengaman untuk melindungi area paling pribadi milikku.
“Kalian telah menghina mahkota kebesaran kami. Untuk itulah kalian harus mati.”
Aku tak bisa berkata-kata, antara ingin tertawa juga menangis. Hanya gara-gara celana dalam, empat nyawa sahabatku melayang: Dengan cara yang begitu keji!
Belum sempat aku membela diri ketika kurasakan leherku kembali menjadi sumber ledakan menyakitkan. Semua kembali hitam.
Siuman kedua kali kudapati diri berada di dalam tenda. Tanpa menunggu pagi juga tanpa berkemas dan membawa apapun selain botol mineral, terbirit-birit aku turun gunung.
Sesampainya di PPA, kuceritakan semuanya kepada Mas Jati, yang hanya bisa memandang penuh keprihatinan.
“Akan kuteruskan laporannya kepada pihak yang berwenang.”
Hingga tahun berganti dekade, mayat teman-temanku tak pernah ditemukan. Aku masih trauma bila memandang celana dalam, dan tak pernah memakainya lagi sejak peristiwa itu.
Maret ke-28
Na











