Home / Fiksi / Cerbung / Syena: Perempuan Bermata Elang (Bab 4)

Syena: Perempuan Bermata Elang (Bab 4)

Syena
This entry is part 5 of 7 in the series Syena: Perempuan Bernama Elang

Sore itu senja datang seperti biasanya. Cahaya keemasan yang menelusup di sela pepohonan, membiaskan bayangan gedung kampus yang memanjang. Namun, bagi Syena sore itu menjadi batas akhir dunianya yang kemudian runtuh tanpa peringatan.

Ia masih mengingatnya dengan jelas. Setelah menghabiskan waktu berjam-jam menyelesaikan laporan hasil riset pertumbuhan ekonomi mikro di negara berkembang, langkahnya terasa ringan saat keluar dari gerbang kampus. Proposal Skripsinya hampir selesai. Kelulusan di depan mata. Syena melangkah dengan langkah ringan.

Hari itu ia mahasiswa terakhir yang meninggalkan gedung tua fakultasnya.

“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga,” ujarnya lega. 

“Semoga proposalnya tidak ada revis gumamnya sambil membereskan buku-bukunya. Ia bahkan sempat tersenyum kecil membayangkan suatu hari nanti sebagai akuntan publik, yang bekerja di belakang meja, membuka laptop dengan tumpukan berkas laporan keuangan yang harus diaudit dengan gaji fantastis.

Syena setengah berlari kecil, menyusuri trotoar, ojek pengkolan biasanya sudah tidak ada setelah magrib. Namun, langkahnya mendadak terhenti. Seseorang berdiri di depan pintu gerbang dengan tatapan tajam. Ia mematung, nyalinya langsung menciut.

Jantungnya berdegup lebih cepat, antara takut dan marah. Tapi hanya dalam hitungan detik, perasaan itu berubah menjadi sesuatu yang dingin dan mengancam.

Senyum Raka terlihat berbeda, bukan lagi senyum yang selama ini ia kenal. Bukan senyum hangat yang dulu ramah. Senyum itu kini tajam, dan dingin. Lebih mirip seringai, seperti binatang buas yang bersembunyi di balik kegelapan, menunggu waktu untuk menerkam.

Naluri Syena meneriakkan tanda bahaya. Tanpa berpikir panjang, ia memutar tubuh, berniat kembali ke dalam kampus. Namun, suasana kampus sudah terlanjur sunyi. Lorong-lorong sepanjang kelas yang kosong tiba-tiba seperti menjelma menjadi bayangan kematian. Tidak ada lagi mahasiswa, tidak ada suara langkah dosen, tidak ada penjaga yang terlihat.

Sebuah tangan besar dan kuat mencengkal lengannya dengan cepat sebelum Syena benar-benar menyadari situasi.

“Mau kemana, Syena?” Suara mengeram berat membuat Syena bergidik.

“Raka, lepaskan ….”

Kalimatnya terpotong, tangan lain membekap mulutnya dengan kasar. Napasnya tersendat, tubuhnya meronta, aroma alkohol dari napas Raka membuatnya ingin muntah. Ia terus meronta, tapi tenaga Raka jauh lebih besar.

“Syena … kenapa Kamu menolak ajakanku bersenang-senang kemarin?” racau Raka. Meski tubuhnya sempoyongan karena pengaruh alkohol,  tapi tenaganya masih sangat kuat

“Biadab Kamu, Raka,” umpat Syena nyaris putus asa. Ia tak menyangka penolakannya akan membuat Raka kehilangan akal sehat.

Pernikahan karena perjodohan yang direncanakan kedua orangtua mereka tinggal seminggu lagi. Namun, Raka meminta haknya sebelum akad halal disematkan. Syena menolak, meski bukan penganut agama yang taat, tapi menjaga marwah dan kesucian sudah dilekatkan dalam prinsip hidupnya sejak kecil.

Syena terus meronta dan berteriak, tapi tenaga besar Raka yang telah dikuasai napsu membuatnya tak berdaya. Tubuhnya diseret, dipaksa menjauh dari gerbang, ke arah belakang bangunan kampus, tempat yang jarang dijamah karena bertahun-tahun hanya dipenuhi ilalang liar setinggi orang dewasa.

Langit senja yang semula indah berubah mencekam, air matanya mengalir deras, bahkan tubuhnya terlalu lemah untuk sekadar berteriak minta tolong. Ilalang liar bergoyang tertiup angin, menutup pandangan, menyembunyikan apa pun yang terjadi di dalamnya.

Syena terus berusaha melawan, ia menendang, mencakar, menggigit apa pun yang bisa ia lakukan. Namun,  kekuatan itu tak berarti apa-apa dibanding Raka yang kesetanan. Suaranya tertahan di balik telapak tangan yang menekan wajahnya.

Dunia terasa runtuh dalam diam. Yang tersisa hanyalah rasa takut yang tak terlukiskan. Hingga kemudian … waktu seperti berhenti, meninggalkan Syena dalam ruang gelap tanpa suara, menyisakan rasa sakit dan kehormatan yang dibawa tanpa rasa berdosa.

Syena tersadar saat langit telah berubah warna. Senja telah digantikan oleh gelap yang pekat. Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya. Suara jengkerik dan binatang malam seolah turut iba. Ia terbaring diam, mengingat potongan puzzle yang terserak,  menatap kosong pada  langit yang tak lagi ia kenali.

Rasa marah yang dalam membuatnya tidak bisa menangis, tidak bisa berteriak, tidak juga bergerak. Ia hanya merasakan sakit di sekujur tubuhnya yang kini terasa asing.

Raka sudah pergi, setelah menuntaskan napsu bejatnya. Ia pergi tanpa satu kalimat pun seperti badai yang memorakporandakan segalanya, lalu menghilang begitu saja.

Pelahan ia mencoba bangkit, tubuhnya terasa lemah, seperti kehilangan seluruh tulangnya. Ia menutup kembali setiap jengkal tubuhnya yang terbuka dengan hati yang hancur, setiap lebam, setiap luka cakar, dan tamparan, seperti aroma Kematian bagi jiwanya.

Setelah memastikan pakaiannya lengkap, ia duduk memeluk dirinya sendiri, mencoba menahan gemetar yang tak kunjung berhenti.

Setelah sedikit merasa lebih baik, pelahan ia berjalan keluar, terseok menahan nyeri, bukan lagi sebagai dirinya yang dulu, sesuatu yang berharga telah dirampas paksa.

***

Syena mengembuskan napas dengan berat, peristiwa itu sudah lima tahun berlalu. Tapi luka sayatnya masih membekas.

Tangannya gemetar, napasnya memburu. Ia terduduk di lantai kamar, memeluk lututnya erat. Dinding kamar terasa menyempit, udara terasa menekan.

“Tidak ….” Ia berbisik lirih, berusaha menepis semua ingatan kelamnya, tapi waktu tak bisa menghentikan.

Malam itu dua hari setelah peristiwa yang melantakkan jiwanya, tanpa pamit ia meninggalkan kota kelahirannya, berharap tidak ada yang peduli. Ia tidak mengadu karena di mata kedua orangtuanya Raka adalah laki-laki bermartabat dengan masa depan cerah, bahkan tak ada celah untuk membuatnya terlihat salah. 

“Raka itu suami idaman, dia lulus perguruan tinggi terbaik, punya pekerjaan mapan, dan yang terpenting dia menyayangi ibunya. Laki-laki yang menyayangi ibunya sudah pasti akan menyayangi istrinya juga.” Begitu selalu kata-kata ibunya saat ia menolak perjodohan.

“Jaman sekarang, susah mencari laki-laki seperti itu.

Ia ingin mempercayai kata-kata ibunya, tapi sejak pertama kali ia tak menemukan sisi baik laki-laki itu. Raka terlalu posesif, dominan, dan selalu merasa benar. Meski ia tidak memungkiri kebaikan Raka yang selalu memuliakan ibunya.

Dengan bekal tabungannya ia membangun kembali dirinya, mengobati lukanya sedikit demi sedikit. Ia mencoba bekerja paruh waktu sebagai pemandu wisata atas ajakan temannya. Pelahan ia belajar dan bertumbuh. Dengan kecerdasan yang dimiliki ia mengajukan bea siswa, mengambil jurusan yang sama sekali berbeda agar bisa mengubur semua yang tersisa dari masa lalunya.

Ia menyibukkan diri dengan mimpi, melakukan  perjalanan, dengan mengunjungi  tempat-tempat sejarah, dan menuangkan dalam narasi. Pekerjaan yang membuatnya jatuh cinta pada dunia pariwisata, hingga ia mendapatkan semua kebanggaan yang ia impikan. Namun, luka itu … tidak pernah benar-benar hilang.

“Allah, kenapa harus bertemu dia lagi?” ucapnya disela isak. Syena menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Batinnya terus bertanya, apakah ia akan terus membiarkan bayangan masa lalu merenggut masa depannya?

Ia sudah menjauh lebih dari 600 kilometer, hidup di kota yang bahkan asing baginya, menata reruntuhan jiwanya di tempat baru. Ia menganggap tidak akan ditemukan oleh mereka dari masa lalunya. Tapi takdir seperti kembali mengajaknya bercanda, dan tanpa ia pernah tahu bahwa semesta sedang menyiapkan takdir baru untuknya.

Syena: Perempuan Bernama Elang

Syena: Perempuan Bermata Elang (Bab 3) Syena: Perempuan Bernama Elang (Bab 5)

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image