Lelaki itu melompat dengan gesit di atas pagar kawat yang mengelilingi area terlarang di tengah padang rumput.
“Dimana kamu, Ran?” bisik lelaki itu sambil matanya menatap tajam ke sekeliling. Gudang senjata di sudut ruangan terbuka sedikit, laki-laki itu berjalan dengan hati-hati agar tak mengeluarkan suara sedikitpun.
Ketika sampai di depan pintu, tubuhnya bergetar. Pemandangan yang amat mengerikan terpampang di depan matanya, kepala manusia diletakkan di dalam wadah kaca, matanya melotot.
Namun yang membuatnya merasa lega sekaligus merasa bersalah adalah…kepala itu bukan kepala Kiran.
Kakinya baru mulai melangkah menuju ke ruangan lain, ketika sebuah suara mengejutkannya.
“Bara, akhirnya kau datang juga,” lelaki yang namanya disebut itu memandang ke sekeliling. Dia penasaran, siapakah orang yang sepertinya mengenal dirinya dengan baik.
“Percuma kau mencariku, aku tak akan pernah kau temukan, seperti lima belas tahun yang lalu. Kau pasti masih ingat kan, Bara?”
Spontan lelaki itu berkata, “Gara?”
Seketika Gudang senjata itu menggemakan tawa seorang lelaki yang terdengar mengerikan di telinga.
Suara itu, tawa itu, dan nama yang baru saja ia ucapkan—Gara—adalah bagian dari masa lalu yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Sejak misi rahasia lima belas tahun lalu yang berakhir dengan tragis, nama itu seakan lenyap bersama kehancuran tim Bravo-7.
“Gara, apa yang kau lakukan di sini?” Bara mencoba tetap tenang, meskipun detak jantungnya tak bisa ia kendalikan. Suara yang membalasnya tenang, namun penuh luka dan dendam.
“Aku hanya mengulang cerita yang tak pernah selesai, Bara. Lima belas tahun aku menunggu di sini. Di tempat ini. Menjadi bayangan dari operasi yang kalian tutup dengan kata gagal. Tapi aku tahu, ini bukan kegagalan. Ini pengkhianatan.”
Bara mengepalkan tangannya. Ia teringat misi penyelamatan yang berakhir dengan kehancuran total markas musuh—dan hilangnya Gara, rekan yang dulu ia anggap seperti saudara. Saat itu mereka tak sempat membawa jenazah siapa pun. Semua dianggap tewas. Tapi kini…
“Apa maksudmu… ini semua rekayasa?” tanya Bara dengan suara rendah.
Tiba-tiba lampu di seluruh ruangan padam. Gelap gulita menyelimuti gudang senjata yang luas itu. Bara memicingkan mata, tubuhnya bersiaga penuh. Dari kejauhan terdengar derap langkah—ringan tapi pasti.
Kemudian sebuah layar di dinding menyala sendiri, memperlihatkan rekaman masa lalu—video buram dari drone militer—menunjukkan seorang tentara diseret masuk ke dalam sebuah bunker bawah tanah…dan sosok penyeretnya mengenakan seragam yang sangat dikenalnya.
“Tidak…” bisik Bara. “Itu tidak mungkin…”
“Benar, itu kau, Bara. Atau lebih tepatnya: itu kau, yang memilih menyelamatkan data operasi ketimbang nyawa sahabatmu.”
Bara terpaku. Ingatannya runtuh satu demi satu. Ia memang pernah harus membuat pilihan—dan saat itu ia memilih menyelesaikan misi, bukan menyelamatkan Gara yang tertangkap.
Tiba-tiba, suara tembakan menggema. Bukan darinya. Bara melompat ke belakang peti amunisi, mengambil senjata dari holster kakinya.
“Dimana Kiran?” Bara berteriak.
Suara tawa Gara kembali terdengar. “Kiran, dia di tempat yang sama seperti aku lima belas tahun lalu. Tapi kali ini, kau tidak bisa memilih misi lagi. Kali ini, pilihannya hanya satu: nyawa.”
“Kiran!” Bara berteriak membabi buta.
Dan tepat saat itu, dari balik bayangan, seseorang bertopeng muncul dengan pisau panjang yang diarahkan ke leher Bara.
Juli ke-25
Na











