Setelah pertemuan yang tidak disengaja siang itu, hari-hari selanjutnya tidak lagi sama bagi Syena. Raka bukan hanya sekadar muncul sebagai sosok dari masa lalu, tapi ia juga menjelma menjadi bayangan yang hidup.
Entah apa yang diinginkan, Syena tak menemukan alasan logis ketika Raka mulai mengikuti setiap aktivitasnya, mengintai keberadaannya, bahkan muncul tiba-tiba tanpa diundang di setiap ruang yang seharusnya aman.
Meski tidak menampakkan diri secara terang-terangan, tapi Syena merasa terganggu. Awalnya ia masih mencoba menepis.
“Ini hanya perasaan,” bisiknya pada diri sendiri.
Namun, suatu siang saat ia tengah memandu rombongan wisatawan di sebuah situs cagar budaya, matanya menangkap sosok itu di kejauhan. Berdiri diam di antara kerumunan, sedang menatap lurus ke arahnya.
Syena tercekat. Penjelasannya terhenti di tengah kalimat. Tubuhnya gemetar, fokusnya terpecah.
“Miss Syena, are you okay?” tanya salah satu peserta, mereka merasakan sesuatu yang tak biasa pada diri Syena.
Ia memaksakan senyum. “Yes … I’m fine.”
Namun, tangannya dingin. Suaranya bergetar, setiap ulasan tentang candi tidak lagi terasa hidup. Ia merasa tidak nyaman ketika setiap langkahnya diawasi.
Syena berusaha berpikir positif, “Mungkin kebetulan,” ujarnya. Tapi kenyataan yang tak sejalan dengan pikirannya memaksa memutuskan untuk menghentikan tur hari itu.
“Sorry, I can’t continue today’s tour. I need some rest. We’ll see again by tomorrow.”
“Poor to say, get well soon, Miss,” ucap ketua rombongan. Peserta terlihat kecewa, tapi Syena tidak ingin terlihat tidak profesional. Kesalahan karena tidak fokus akan menjadi titik lemahnya.
Siang itu, ia sedang membawa rombongan wisatawan lokal menjelajahi situs Plandi, situs yang bahkan belum banyak dikenal masyarakat luas, saat ia duduk mencatat di bawah pohon, sambil berbincang dengan warga lokal, ia melihat bayangan berkelebat.
Syena mendengus kasar, meski hanya bayangan, tapi cukup untuk membuat jantungnya berdetak tak karuan, emosinya menggelegak.
“Apa sih maunya?” geram Syena, benar-benar merasa tidak nyaman.
Didera rasa putus asa, ia akhirnya memutuskan mengundurkan diri untuk sementara waktu. Ia ingin menghindar dari Raka, setidaknya hingga situasi membaik.
“Kamu yakin mau mengundurkan diri?” tanya Rozi siang itu. Elena mengangguk dengan berat.
“Nggak sayang? Reputasimu sedang di puncak, lho.”
“Entahlah … aku nggak punya pilihan,” keluh Syena. Rozi mengangguk paham, ia tidak ingin sahabatnya makin terbebani dengan pertanyaan lagi.
Syena melepas name tag-nya, menyerahkan kartu anggota pada Rozi. Langkahnya berat saat melangkah keluar, tapi ia benar-benar tak punya pilihan. Ia hanya berharap setelah ini Raka tak lagi mengganggunya. Ia juga melepas kartu SIM di ponselnya dan mematahkan. Di perjalanan ia membeli kartu baru, ia ingin hidupnya benar-benar terbebas dari masa lalu.
Malam itu, Syena hampir terlelap ketika pintu kontrakannya diketuk. Ia menegakkan badan, alisnya bertaut, siapa yang datang? Ia baru pindah di tempat ini dua hari, tak ada yang tahu keberadaannya.
Pintu kembali diketuk, Syena terdiam. Jarum jam menunjukkan pukul 10. Siapa yang bertamu selarut ini? Pikirannya mulai menebak berbagai kemungkinan.
Ketukan itu kembali terdengar, kali ini lebih keras. Syena keluar dari kamar, memberanikan diri mengintip dari celah kecil. Napasnya tertahan, tubuhnya gemetar seketika saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu. Wajah samar Raka diterangi lampu jalan.
“Syena, tolong buka pintunya. Aku tahu Kamu di dalam.” Suara itu tidak keras, tapi memaksa, seperti tahu bahwa Syena ada di balik pintu.
Syena mundur dengan cepat. Tangannya menutup mulut, menahan suara tangis yang nyaris pecah. Seluruh tubuhnya terasa lemas, bibirnya bergetar merapal doa, meminta pertolongan Tuhannya.
“Aku hanya ingin bicara dan minta maaf, tolong buka pintunya, Syena.” Raka kembali mengetuk, tidak keras tapi cukup membuat Syena membeku. Bayangan kelam melintas tanpa diundang, ketakutan dan trauma yang hingga kini masih dirasakan membuat tubuhnya nyaris tak bisa digerakkan.
“Syena, plis. Aku janji tidak akan menyakitimu, aku hanya ingin bicara.”
Raka seperti tak ingin menyerah. Syena menguatkan hati untuk mengabaikan. Pelahan ia beringsut kembali ke kamar, menyandarkan tubuh di pintu sambil memeluk lutut, menunggu hingga ketukan itu berhenti.
Di luar Raka terus mengetuk, meski tidak kasar, tapi ketukan itu menyeret ingatan Syena pada kejadian lima tahun lalu. Ketakutan dan teror Raka membuatnya memutuskan pergi meninggalkan segalanya, rumah, keluarga, bahkan identitas lamanya.
Ia memilih kota getuk, kota yang asing tapi cukup ramah menyambutnya. Tempat yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh Raka. Harapannya tempat itu bisa memberinya awal baru.
Selama lima tahun ia merasa aman, bahkan ia pikir sudah bebas. Namun, ternyata salah. Entah kebetulan, atau sengaja Raka tetap menemukannya.
*
Syena duduk di tepi tempat tidur. Matanya kosong, menatap dinding tanpa benar-benar melihat.
“Kenapa …?” bisiknya lirih.
Pertanyaan itu menggantung di udara. Kenapa setelah semua perjuangannya membentangkan jarak tetap tak membuatnya bisa terlepas dari bayang kelam masa lalu?
Sejak pertemuan itu bukan hanya bayangan Raka yang mengikuti, tapi kilas balik peristiwa kelam itu terus melintas berulang … ilalang yang bergoyang pelan tertiup angin, senja yang berubah kelabu, tangan yang membekap mulutnya, suara yang tercekik, dan napas berbau alkohol yang memburu.
Ia memejamkan mata, bayangan itu terus mengikuti … membuatnya frustasi. Setelah mencoba kuat dan memasang topeng senyum, ini kali pertama kali ia merasa lelah.
Untuk mengalihkan pikirannya yang kacau, ia membuka ponsel. Iseng membuka galeri. Sebuah photo seorang perempuan dengan burka menarik perhatiannya.
Di tengah rasa putus asanya, tiba-tiba pikiran absurd menggoda, bagaimana jika satu-satunya cara untuk benar-benar bebas adalah menghilang? Jika menjauh ratusan kilometer tak mampu menghapus sisa masa lalu, mungkin pergi ke tempat di mana tidak seorang pun mengenalinya adalah solusi. Di sana tidak ada Raka, tidak ada bayangan kelam, biarlah dia menjadi orang asing di negeri yang asing.
Keputusan itu datang tiba-tiba, ia menghela napas panjang, menatap koper kecil yang belum sempat dibongkar. ia menghapus air matanya, lalu berdiri.
“Kali ini …” gumamnya pelan, “aku tidak akan ditemukan.”
Syena membuka buku yang selama beberapa hari terabaikan. Ia menulis di halaman kosong dengan huruf kapital. dan tinta merah
[7.000 MILES. I’LL GET THE NEW LIFE]
Tempat itu dipilih untuk memulai lagi. Bukan sebagai seseorang yang lari, tapi sebagai seseorang yang memilih hidupnya sendiri. Bukanlah di luar sana, dunia begitu luas, pasti ada tempat dimana seseorang tidak bisa ditemukan masa lalunya.
Setelah memutuskan, Syena merasa bebannya terangkat, sejak pertemuan dengan Raka siang itu, untuk pertama kalinya ia bisa tidur nyenyak kembali. Ia menyiapkan diri untuk perjalanan panjang, memulai eksplorasi di tempat yang baru, me-reset kehidupannya hingga bukan hanya orang lain yang tak mengenalinya, tapi juga dirinya sendiri.










