Youssef bergabung sejenak bersama adik-adik pantinya yang lain. Dia juga menghampiri Ibrahim yang tengah bermain bola bersama teman-temannya. Melihat Youssef mendekat, Ibrahim memberi tanpa stop. Mereka berlari menuju Youssef dan memeluknya. Youssef sangat gembira dengan perlakuan itu. Bagi mereka, Youssef tidak hanya seorang kakak, tetapi juga teman dan sahabat.
“Aku yakin kelak kalian akan menjadi pemain sepak bola terkenal di seluruh dunia.”
“Wah, Kak.Sungguh?”
“Sungguh. Asal kalian berlatih dengan sungguh-sungguh pula. Usaha takkan menghianati hasil. Bermainlah! Aku akan segera kembali.”
Youssef meninggalkan panti menuju kantor Leon yang berada di cabang Prancis. Di sana, Daniel sudah menunggu. Dia adalah satu-satunya teman Youssef yang paling setia. Keburukan-keburukan serta sisi gelap hidup yang dimiliki Youssef tidak membuatnya menjauh,. Justru Daniel tidak pernah meninggalkannya. Bahkan, saat Youssef harus mendekam dibalik jeruji besi beberapa waktu lalu, Daniel salah satu orang yang tidak pernah meninggalkannya.
“Ada berita penting?” Youssef menyapanya usai keluar dari mobil.
Daniel mengedikkan bahu. Alisnya terangkat jenaka membuat Youssef tertawa. “Masalah hati.”
“Ha ha … masalah hati? Hatinya siapa?”
“Tentu saja hatimu.”
“Kau bukan cenayang bukan?” Youssef meninju lengan Daniel pelan, lalu menepuk pundaknya.
“Menurutmu bagaimana?” goda Daniel.
“Sudahlah! Ayo kita kerja! Jangan menggodaku terus.”
Daniel bekerja di tempat itu bukan karena ia sahabat dekat Youssef . Murni pekerjaan itu ia dapatkan justru sebelum Youssef bergabung di perusahaan Leon cabang Prancis. Daniel menjadi salah satu kaki tangan Youssef yang bisa cukup dipercaya.
Youssef berada di ruang kerjanya. Dia mengecek setiap email yang masuk. Salah satunya yang membuat hatinya bergetar adalah email dari cabang Casablanca, Maroko. Kantor cabang itu memang baru. Leon sendiri yang membukanya di sana. Casablanca mengingatkannya dengan seseorang yang pernah dekat dengannya beberapa waktu lalu. Youssef masih mengingatnya.
Cepat-cepat ia baca keseluruhan dan segera membalas. Ternyata cabang Casablanca membutuhkan penanganan khusus yang tidak sembarangan orang bisa melakukannya. Youssef mendesah panjang. Dia menghubungi ayahnya, menceritakan hal yang tengah terjadi.
“Tanganilah, Nak. Aku yakin kau mampu melakukannya.”
“Tapi Ayah … aku belum tahu seluk beluk ekspansi bisnis.”
“Jangan begitu. Kau harus yakin dengan kemampuanmu. Aku akan menyiapkan segala sesuatunya, kau tinggal berangkat.
Mereka mengakhiri percakapan lewat telepon. Youssef tidak bisa menolak. Dia harus menuju Casablanca dalam waktu beberapa hari ke depan. Itu artinya dia akan bertemu dengan seseorang yang pernah ia temui sebelumnya. Seseorang yang bisa dikatakan sebagai teman atau sahabat.
Youssef baru saja mendarat di Casablanca pagi itu. Dia memang berangkat lebih awal karena harus langsung datang menuju kantor cabang milik Leon.Kota indah yang berada di tepi samudera Atlantik ini memang pernah beberapa kali ia datangi beberapa waktu lalu. Debar-debar itu kembali terasa bersama satu bayang wajah menyapa. Wajah yang begitu anggun, lembut, keibuan dan penuh kasih sayang.
Akal sehatnya berkata dia tidak bisa begitu saja melupakannya meski sudah berulang kali mencoba. Youssef segera menuju kantor Leon di Casablanca. Di sana, beberapa orang sudah menunggunya. Salah satunya adalah senior yang dulu ditugaskan di Spanyol bernama Ziyad Brahimi.
Ziyad begitu piawai menangani beberapa hal yang berhubungan dengan perusahaan. Dia menjelaskan kepada Youssef apa saja yang harus mereka lakukan untuk menangani permasalahan yang dihadapi. Youssef sangat menyukai pemikiran brilian Ziyad.
“Tuan Youssef. Jika boleh saya sarankan sebaiknya Tuan sendiri yang harus menanganinya,” tegas Ziyad.
“Maksudnya?”
“Anda harua menangani kantor cabang ini. Saya akan bicara dengan Tuan Leon agar Anda ditempatkan di sini untuk pengawasan lebih lanjut.”
Youssef mendesah pelan. “Aku belum berpengalaman, Ziyad. Kau saja. Aku tinggal mengawasi.”
“Maaf, Tuan. Saya tidak berani.”
“Mengapa?”
“Anda adalah putra Tuan Leon. Sudah selayaknya Anda yang harua menjadi penerus beliau dalam masalah ini. Saya hanya akan membantu sementara saja sesuai titah Tuan Leon,” terang Ziyad.
“Oh … begitu?” Youssef diam sejenak lalu mengangguk. “Baiklah. Bisakah kau carikan aku tempat tinggal terdekat dengan kantor?”
“Tentu saja, Tuan. Ada beberapa apartemen mewah dekat sini.”
“Tidak, Ziyad. Aku ingin yang biasa saja.”
“Baiklah, Tuan. Saya punya koneksi dengan seseorang. Nanti saya akan menghubunginya untuk menyediakan apartemen yang layak untuk Tuan.”
“Terima kasih banyak, Ziyad.”
Youssef akhirnya tinggal di salah satu apartemen sederhana yang tak jauh dari kantornya. Apartemen itu langsung menghadap ke Samudera Atlantik. Dari sini dia bisa melihat betapa birunya langit Casablanca. Ibarat itu adalah pertanda harapan dan masa depan cerah yang ingin digapai setiap insan. Dari sini pula dia melihat kilau air laut yang tertimpa mentari dari kejauhan. Hatinya menghangat.
Sebiru langit Casablanca. Seperti itu pula harapan, impian, cita-cita, dan cinta kupinta. Sebiru langit tanpa awan dan mendung. Menjadikan tiap saat menjadi lebih indah daripada sebelumnya. Aku sadar terkadang dari balik kelamnya malam, terjalnya hidup, dan liku–liku kehidupan tiada pasti, selalu ada cahaya dan sinar silih berganti menerangi. Begitu pula dengan birunya langit di sini. Casablanca yang indah.
Youssef masih berdiam diri. Menikmati hembusan angin yang masuk melalui celah-celah jendela apartemennya. Bangunan-bangunan bercat putih sepanjang pantai ia lihat bak mozaik yang tertata cantik dan rapi laksana sapaan alam yang saling tegur sapa.
Kau di mana kini? Apakah kau masih di sini? Ataukah kau telah pergi dan tak ada lagi celah di hatimu?










